Selasa, 08 Agustus 2017

Pembantaian Ulama Sunni Makkah Madinah oleh Wahabi

Tags

Pembantaian Ulama Sunni Makkah Madinah
Abdullah bin Musallim bin Jilawi, mungkin pembantai paling terkemuka di keluarga Ibn Sa’ud, melakukan eksekusi terhadap ribuan orang dan membinasakan para pemimpin agama dan suku dari komunitas Syi‘ah. Mekkah dan Madinah, yang ditaklukkan oleh kelompok Saudi pada 1925..

Judul buku: Wahabisme Sebuah Tinjauan Kritis
Penulis: Hamid Algar
Penerbit: Democracy Project
Tempat/Tahun terbit: Jakarta 2011
Diterjemahkan dari:
Wahhabism: A Critical Essay
(Oneonta, New York; Islamic Publication International, 2002)
Penulis: Hamid Algar
Penerjemah: Rudy Harisyah Alam
Editor: Ihsan Ali-Fauzi
Penyelaras Akhir: Achmad Rifki dan Saidiman

Daftar Isi

Pembantaian Syiah di Al-Ahsa

Mayoritas penduduk Syi‘ah di Al-Ahsa mendapat perhatian khusus: Ibn Sa’ud menunjuk sepupunya, ‘Abdullah bin Musallim bin Jilawi, mungkin pembantai paling terkemuka di keluarga itu setelah Ibn Sa’ud sendiri, untuk menaklukkan penduduk Syi‘ah, yang dia lakukan dengan jalan melakukan eksekusi terhadap ribuan orang dan membinasakan
para pemimpin agama dan suku dari komunitas Syi‘ah. Mekkah dan Madinah, yang ditaklukkan oleh kelompok Saudi pada 1925, kembali mengalami perubahan akibat pemaksaan ajaran dan praktik kaum Wahhabi. Upaya untuk menghancurkan kembali kubah Masjid Nabi gagal, namun sejumlah tempat bersejarah yang selamat pada masa pendudukan pertama kaum Wahhabi kini dihancurkan.[5] (Hal yang menarik adalah sementara ajaran Wahhabi peduli secara berlebihan terhadap “kejahatan” kubah di atas kuburan, namun istana-istana yang dibangun oleh para penguasa Saudi menjulang tinggi melampaui batas-batas yang telah digariskan oleh para pendahulu kelompok
tersebut.)

Atas nama “menyuruh kebaikan dan mencegah kejahatan,” merokok kembali dilarang, para pria dihukum karena tidak memelihara jenggot dengan panjang yang cukup,
musik diharamkan, dan pot-pot bunga dengan warna-warna mencolok yang dianggap
menyalahi kepantasan umum dihancurkan.[6]

Benar bahwa sebagian dari langkah-langkah tersebut ditangguhkan ketika kaum Saudi harus melakukan kompromi dengan sentimen kaum Muslim menyangkut pengelolaan Haramayn.

Namun, tidak dapat dibantah bahwa peran Haramayn yang telah berlangsung selama berabad-abad sebagai pusat kesarjanaan Islam dan pertukaran intelektual,
yang diisi oleh guru-guru dan murid-murid dari tempat-tempat yang jauh, seperti
Asia Tengah, wilayah Melayu-Indonesia, Afrika Subsahara dan India, kini jelas berakhir. Tangan besi Wahhabisme tidak menyisakan apa pun di wilayah tersebut. Dengan pengecualian kelompok-kelompok pengajaran kecil dan agak bersifat bawah
tanah, semua yang kini dapat dijumpai di Mekkah dan Madinah adalah lembaga-
lembaga dakwah Wahhabisme, yang secara absurd dan keliru diberi label universitas-universitas.

Sejarah keluarga Saudi berikutnya, perolehan mereka atas kekayaan minyak dan peralihan dari Inggris ke Amerika sebagai patron asing utama mereka, berada di luar pembahasan tulisan ini. Namun demikian, perlu dibahas upaya-upaya terus menerus
rezim Saudi untuk menyebarkan Wahhabisme di luar Arabia.

Di atas telah dikemukakan bahwa Wahhabisme hanya memiliki sedikit gaung positif di luar semenanjung Arab ketika pertama kali ia muncul. Gambaran yang membingungkan mengenai hal ini telah diciptakan oleh para penulis Barat, yang telah memberikan label Wahhabi kepada sejumlah gerakan Islam yang hanya memiliki sedikit kemiripan,
jikapun ada, dengan sekte Wahhabi. Contoh yang mencolok, misalnya, kelompok Ahl al-Hadits di India. Demikian pula rezim Tsar, para penguasa Soviet dan pasca Soviet, telah memberi label Wahhabi kepada hampir seluruh gerakan perlawanan Islam terhadap kekuasaan Rusia di Kaukasus Utara dan Asia Tengah (Penisbatan ekspansi universal ini kepada Wahhabisme mungkin merupakan contoh paling awal dari kecenderungan Barat untuk mengaitkan setiap dan seluruh gerakan Islam dengan sebuah
sumber yang tunggal dan senantiasa berbahaya). Satu-satunya gerakan pada abad kesembilan belas yang asal-usulnya secara meyakinkan dapat ditelusuri kepada
Wahhabisme adalah pemberontokan kaum Padri di Sumatera, di bawah pimpinan Haji
Miskin, yang pernah berada di Mekkah ketika terjadi pendudukan Wahhabi yang berlangsung sebentar pada tahun 1803.[7]

Pemaksaan dan ekspansi militer lebih lanjut sebagai sarana penyebaran Wahhabisme mulai ditinggalkan ketika pada 1929, pihak Inggris, sebagai patron Ibn Sa’ud, membujuk agar kelompok Ikhwan tidak berupaya menguasai Irak dengan serangan
besar-besaran, metode yang mereka pilih untuk menjaga ketertiban di Timur Tengah.
Berkenaan dengan upaya penyebaran damai, cukup menarik bahwa orang-orang yang bergerak di bidang publikasi bagi rezim Saudi yang tengah bangkit itu adalah dua orang Kristen Arab, yakni Amin Rayhani dan George Antonius. Namun demikian,
seorang pendukung dari kalangan Muslim pun tidak lama muncul. Ia adalah Rasyid Ridha (w. 1935), yang sejak 1909 telah dituduh sebagai pendukung Wahhabisme di tanah kelahirannya, Syria.[8] Setelah mengunjungi Hijaz, yang baru saja ditaklukkan, ia menerbitkan sebuah karya yang memuji penguasa Saudi sebagai penyelamat Haramayn dan pemangku kekuasaan Islam yang otentik. Dua tahun kemudian
ia juga menerbitkan sebuah bunga rampai karya-karya Wahhabi.[9]

Kita mungkin ingat bahwa menyusul peristiwa Perang Dunia I, kekhalifahan Ustmani dihapus dan Syarif Husayn gagal untuk meraih kerajaan Pan-Arab atau pun diterima
oleh kaum Muslim sebagai calon bagi pemimpin kekhalifahan yang berusaha dibangkitkan kembali. Maka, mungkin tidak mengherankan bila orang-orang dengan kecenderungan Salafi seperti Rasyid Ridha, yang dengan perasaan kecewa tengah
mencari-cari seorang pahlawan, mulai mendukung Ibn Sa’ud dan bersimpati pada Wahhabisme.

Bagaimanapun, Salafisme memiliki sejumlah kesamaan dengan Wahhabisme, terutama dalam sikap memandang rendah seluruh perkembangan yang terjadi setelah generasi al-Salaf al-Shâlih (yang umumnya mengacu pada dua generasi pertama kaum Muslim); menolak Sufisme; dan memandang tidak perlu untuk mengikuti secara konsisten salah satu dari empat mazhab Sunni. Sekitar empat dasawarsa setelah penaklukan kaum
Saudi atas Hijaz, gerakan Salafi—terutama di Mesir—mengambil bentuk yang lebih radikal dan mulai menggambarkan kondisi masyarakat Muslim kontemporer sebagai neo-Jahiliyyah.[10]

Catatan Kaki

[5] Mengenai bukti bahwa penghancuran situs-situs bersejarah yang dianggap
disakralkan dari periode paling awal hingga masa sekarang sebagai
kebijakan nyata Wahhabi-Saudi, lihat Elaine Sciolino, “Where the
Prophet Trod, He Begs, Tread Lightly,” New York Times, February 15,
2002. Hal yang khususnya menarik dari artikel ini adalah kutipannya
mengenai fatwa 16626, yang dikeluarkan pada 1994 oleh ‘Abd al-‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz, yang sebagiannya berbunyi: “Diharamkan mengagungkan bangunan dan tempat-tempat bersejarah. Tindakan semacam itu akan mengakibatkan syirik karena orang mungkin akan berpikir bahwa tempat-tempat itu memiliki nilai spiritual.”

[6] Mengenai seluruh perkembangan ini, lihat Said K. Aburish, The
Rise, Corruption and Coming Fall of the House of Saud, London, 1994,
h. 20-27.

[7] Lihat Christian Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant
Economy: Central Sumatra, 1784-1847, London dan Malmö, 1983, h.
128-149.

[8] Mengenai kecenderungan awal Rasyid Ridha terhadap Wahhabisme, lihat David Dean Commins, Islamic Reform: Politics and Social Change in Late Ottoman Syria, Oxford, 1990, h. 129-131.

[9] Rasyid Ridha, al-Wahhabiyyûn wa ‘l-Hijaz, Kairo, 1344/1926; Rasyid Ridha, peny., Majmu‘at al-Tawhid al-Najdiyyah, Kairo, 1346/1928.

[10] Ini dicontohkan terutama oleh Sayyid Qutb (w. 1966) dalam berbagai karyanya, yang terkenal dalam Social Justice in Islam, diterjemahkan oleh John B. Hardie (New York, 2000), dan oleh saudaranya, Muhammad Qutb, dalam karyanya Jâhiliyyât al-Qarn al-‘Isyrîn (Kairo, 1964).

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini. Konsultasi agama kirim via email: alkhoirot@gmail.com

Kirim pertanyaan ke: alkhoirot@gmail.com
Dapatkan buku-buku Islam di sini!
EmoticonEmoticon