Senin, 12 November 2018

Contoh Radd dalam Hukum Waris Islam

Contoh Radd dalam Hukum Waris Islam
1. Pengertian Rad dan bagaimana penyelesaiannya

Rad secara harfiyah artinnya mengembalikan, sedangkan menurut istilah adalah kekurangan dalam pokok masalah dan pertambahan dalam jumlah bagian-bagian yang ditetapkan. masalah ini terjadi apabila dalam pembagian warisan terdapat kelebihan harta setelah ahli waris ashab al-furud memperoleh bagianya. Cara radd ini ditempuh bertujuan untuk mengembalikan sisa harta kepada ahli waris yang ada seimbang dengan bagian yang diterima masing-masing secara proporsional.[1]

Caranya adalah mengurangi angka masalah sehingga besarnya sama dengan jumlah bagian yang diterima oleh ahi waris. Apabila tidak ditempuh cara radd, akan menimbulkan persoalan siapa yang berhak menerima kelebihan harta, sementara tidak ada ahli waris yang menerima ‘asabah. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan dikemukakan beberapa contoh :

a. Seseorang meninggal dunia ahli warisnya terdiri dari : anak perempuan dan ibu. Harta warisannya sebesar Rp 12.000.000,- bagian masing-masing adalah:

· Jika tidak ditempuh dengan cara radd :

Ahli waris bag AM 6 HW Rp 1.200.000,- penerimaan
Anak perempuan 1/2 3 3/6 x Rp 12.000.000,- = Rp 6.000.000,-
Ibu 1/6 1 1/6 x Rp 12.000.000,- =Rp2.000.000,-
4 jumlah = Rp 8.000.000,-

Terdapat sisa harta sebesar Rp 12.000.000,- - Rp 8.000.000,- = Rp 4.000.000

· Jika diselesaikan dengan cara radd :

Ahli waris bag AM 6-4 HW Rp 12.000.000,- penerimaan
Anak perempuan 1/2 3 ¾ x Rp 12.000.000,- = Rp 9.000.000,-
Ibu 1/6 1 ¼ x Rp 12.000.000, =Rp3.000.000,
4 jumlah = Rp 12.000.000,-
Anak perempuan yang semula menerima bagian 6.000.000,- berubah mendapat bagian Rp 9.000.000,- dan ibu yang semula menerima bagian Rp 2.000.000,- mendapat bagian Rp 3.000.000,-

b. Harta warisan yang ditinggalkan simati sebesar Rp 8.400.000,- ahli warisnya terdiri dari istri dan ibu.
Bagian masing-masing adalah :

· Jika tidak diselesaikan dengan radd :

Ahli waris bag AM 12 HW Rp 8.400.000,- penerimaan
Istri ¼ 3 3/12 x Rp 8.400.000,- = Rp 2.400.000,-
Ibu 1/3 4 4/12 x Rp 8.400.000,- =Rp2.800.000,-
Jumlah Rp 4.900.000
Terdapat sisa harta warisan sebesar Rp 8.400.000,-Rp 4.900.000, = Rp 3.500.000,-

· Jika diselesaikan dengan radd :

Ahli waris bag AM 12-7 HW Rp 8.400.000,- penerimaan
Istri ¼ 3 3/7 x Rp 8.400.000, = Rp 3.600.000,
Ibu 1/3 4 4/7 x Rp 8.400.000,- =Rp4.800.000
7 jumlah = Rp 8.400.000,-

c. Seseorang meninggal dunia, ahli warisnya terdiri dari : ibu dan 2 saudara seibu. Harta warisan yang ditinggalkan sejumlah Rp 3.6000.000,- bagian masing-masing :

· Jika tidak diselesaikan dengan radd :

Ahli waris bag AM 6 HW Rp 3.000.000,- penerimaan
Ibu 1/6 1 1/6 x Rp 3.600.000, = Rp 6.00.000,
2 sdr seibu 1/3 2 2/6 x Rp 3.600.000, =Rp1.200.000,
3 jumlah = Rp 1.800.000
Terdapat sisa harta sebanyak Rp 3.600.000,- Rp 1.800.000, = Rp 1.800.000,-

· Jika diselesaikan dengan radd :

Ahli waris bag AM 6-3 HW Rp 3.000.000,- penerimaan
Ibu 1/6 1 1/3 x Rp 3.600.000, = Rp 1.200.000,
2 sdr seibu 1/3 2 2/3 x Rp 3.600.000, =Rp2.400.000,
3 jumlah = Rp 3.600.000

Ibu yang semula menerima Rp 600.000,- berubah menjadi, mendapat bagian Rp1.200.000,- dan 2 sdara seibu berubah dari Rp 1.200.000,- menjadi Rp 2.400.000.

Syarat-syarat berlakunya radd :

a.) Adanya pewaris dengan penentuan.
b.) Tidak ada ashobah.
c.) Adanya sisa dari harta peninggalan.
d.) Apabila tidak dipenuhi syarat-syarat ini, maka tidak berlaku radd.

Para pewaris yang menerima radd :

Semua ashabul furud boleh menerima radd, kecuali suami istri. Radd berlaku untuk 8 asbahul furud :

a.) Anak perempuan.
b.) Anak perempuan dari anak laki-laki (cucu perempuan).
c.) Saudara perempuan seayah seibu.
d.) Saudara perempuan seayah.
e.) Ibu.
f.) Nenek yang shahih.
g.) Saudara perempuan seibu.
h.) Saudara laki-laki seibu

Adapun ayah dan kakek- walaupun keduanya termasuk ashabul furudh dalam beberapa keadaan, namun mereka berdua tidak boleh menerima radd. Karena bila mana terdapat ayah atau kakek, maka tidak mungkin terjadi radd dalam masalah itu, karena waktu itu keduanya menjadi ashobah dan mengambil sisanya.

Para pewaris yang tidak boleh menerima radd diantara ashabul furud adalah suami istri saja. Hal ini disebabkan kekerabatan mereka bukan kekerabatan nasabiyah tapi kekerabatan sababiyah. Sebab ini telah terputus dengan kematian maka masing-masing dari suami istri hanya mengambil radhunya saja tanpa tambahan. Adapun sisa harta maka dia dikembalikan lagi kepada ashabul furudh lainya.

2. Perbedaan pendapat para ulama dalam menyelesaikan harta yang terdapat sisa harta
Terhadap penyelesaian masalah dengan cara radd ini, ternyata ada ulama yang tidak setuju sama sekali sebagian ada yang setuju dengan syarat, dan sebagian lagi menyatakan dengan tegas menerima. Dibawah ini akan diuraikan perbedaan pendapat tersebut :

a. Radd atau pengembalian sisa harta warisan bila dilaksanakan hanya terbatas pada ahli waris nasabiyah. Jadi, ahli waris sababiyah-suami atau isteri-tidak dapat menerima radd. Demikian pendapat mayoritas (jumhur) ulama. Mula-mula pendapat ini dikemukakan oleh ali bin abi thalib, kemudian diikuti oleh Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal, Fuqaha Mutaakhirin dari madzhab syafi’iyah, malikiyah, syi’ah zaidiyah, dan syi’ah imamiyah. Dasar hukum yang dipedomaninya adalah :

· Firman Allah SWT :

وَاُوْلُوااْلاَرْحَامِ بِعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِىْ كِتَابِ الله

“dan orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak dari pada yang lain dalam kitab Allah.” (QS Al-Anfal : 75)

Ayat tersebut pada prinsipnya adalah mengatur pembagian warisan kepada ashab al-furud, tetapi kemudian dijadikan dasar penyelesaian masalah radd. Pertimbangannya adalah mereka yang memiliki hubungan darah lebih pantas menerima pengembalian harta sisa, dari pada kaum muslimin yang tidak ada ikatan kekerabatan atau hubungan darah. Karena jika sisa harta itu diserahkan kepada bait al-mal maka kaum muslimin itulah yang akan memanfaatkannya.

· Praktek yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ketika pada suatu saat didatangi oleh seorang perempuan yang menanyakan status budak yang baru saja diserahkan kepada ibunya, dan beberapa hari kemudian ibunya meninggal dunia. atas pertanyaan itu Nabi SAW menegaskan :

وَجَبَ اَجْرُكِ وَرَجَعَتْ اِلَيْكَ فِي اْلمِيْرَاثِ
“kamu pantas menerima pahala, dan budak itu kembali kepadamu dengan jalan pewarisan”

Atas dasar penegasan Nabi SAW tersebut dapat dipahami bahwa penyelesaian pembagian warisan dengan cara radd kepada ahli waris adalah ditunjuk oleh Rosulullah SAW. sebab kalau saja Nabi SAW menyelesaikannya tidak dengan cara radd, maka anak perempuan tersebut hanya berhak menerima separohnya saja. Memang dalam hal ini, tidak ada penjelasan melalui contoh harta lain, tetapi penegasan Rasul bahwa budak itu kembali kepada anak perempuan itu dengan cara pewarisan itu adalah isyarat yang cukup tegas, bahwa beliau setuju dengan cara radd.

Jadi atas dasar alasan-alasan diatas, ahli waris yang berhak menerima pengembalian sisa harta hanyalah ashab al wurud nasabiyah. berikut ini akan diselesaikan contoh penyelesaian radd menurut mayoritas ulama :

a.) Seseorang meninggal dunia ahli warisnya terdiri dari istri, ibu dan saudara seibu. Harta warisannya sebesar Rp 10.800.000,- bagian masing-masing adalah:

Ahli waris bag AM 12 Rp 10.800.000,- penerimaan
Istri 1/4 3 3/12 x Rp 10.800.000, = Rp 2.700.000,
(sisa harta Rp 10.800.000,- - Rp 2.700.000,= Rp 8.100.000,)
Ibu 1/3 4 4/6 x Rp 8.100.000, = Rp 5.400.000,
Sdr.seibu 1/6 2 2/6 x Rp 8.100.000, =Rp2.700.000,
6 jumlah = Rp 10.800.000

b.) Seorang meninggal dunia, harta warisan yang ditinggalkan sebesar Rp 4.800.000,- ahli warisnya terdiri dari suami, saudara perempuan seibu, dan nenek. Bagian masing-masing :
Ahli waris bag AM 6 HW Rp 4.800.000,- penerimaan
Suami 1/2 3 3/6 X Rp 4.800.000, = Rp 2.400.000,
(sisa harta Rp 4.800.000,- - Rp 2.400.000,- = Rp 2.400.000,-)
Sdr seibu 1/6 1 1/2 x Rp 2.400.000, = Rp 1.200.000,
Nenek 1/6 1 1/2 x Rp 2.400.000, =Rp1.200.000,
2 jumlah = Rp 4.800.000,-

b. radd dapat dilakukan dengan mengembalikan sisa semua harta warisan kepada ahli waris yang ada, baik ashab al furud nasabiyah maupun sababiyah. Pendapat ini dikemukakan pleh sahabat ‘Usman bin ‘Affan. Pertimbangannya, logika dan segi praktis pembagian warisan. Ia mengataklan suami dan istri dalam masalah ‘aul bagian mereka ikut terkurangi, maka apabila terdapat kelebihan harta, maka sudah sepantasnya mereka juga diberi hak untuk menerima kelebihan tersebut.

Apabila contoh pada poin (1) menurut pendapat mayoritas ulama. Diselesaikan menurut pendapat ‘Usman maka dapat dihasilkan pembagian sebagai berikut :

(1) Angka asal masalah diturunkan 12 menjadi 9 :
Ahli waris bag AM 12-9 HW Rp 10.800.000,- penerimaan
Istri 1/4 3 3/9 x Rp 10.800.000, = Rp 3.600.000,
Ibu 1/3 4 4/9 x Rp 10.800.000, = Rp 4.800.000,
Sdr seibu 1/6 2 2/9 x Rp 10.800.000, =Rp2.400.000,
9 jumlah = Rp 10.800.000,-
Istri yang semula menerima bagian Rp 2.700.000,- berubah mendapat bagian Rp 3.600.000,- kadi mendapat tambahan sebesar Rp 900.000,-

(2) Angka asal masalah diturunkan dari 6 menjadi 5
Ahli waris bag AM 6-5 HW Rp 4.800.000,- penerimaan
Suami 1/2 3 3/5 x Rp 4.800.000,- = Rp 2.880.000
Sdr.seibu 1/6 1 1/5 x Rp 4.800.000,- = Rp 960.000
Nenek 1/6 1 1/5 x Rp 4.800.000, =Rp960.000,
5 jumlah = Rp 4.800.000,-
Suami yang semula menerima bagian Rp 2.400.000,- mendapat tambahan sebesar Rp 480.000,- hingga menjadi Rp 2.880.000,-

c. Pendapat yang menolak secara mutlaq penyelesaian pembagian warisan dengan cara radd. Demikian pendapat Zaid ibnu Tsabit dan minoritas ulama lainnya. Diantaranya Urwah bin Al Zuhri, Imam Syafi’I, Ibnu Hazm Al Zahiry Al Andalusy, dan para fuqaha malikiyah dan syafi’iyah.

Menurut pendapat ini apabila dalam pembagian warisan terdapat kelebihan harta, tidak perlu dikembalikan kepada ahli waris, tetapi diserahkan ke bait al mal. Kaum musliminlah yang berhak memanfaatkannya. Seperti dikatakan Muhammad Syarbiny, fuqaha Syafi’iyah menegaskan, “baik bait al mal atau kas perbendaharaan negara berfungsi dengan baik atau tidak , hak terhadap kelebihan harta warisan itu berada pada kaum muslimin, dan kepala bait al mal itulah sebagai Nadzir atau penanggung jawab atas kepentingan kaum muslimin”.

Dalam penelitian Fathur Rahman, pendapat tersebut didasarkan pada situasi dan kondisi umat Islam pada waktu itu yang sangat membutuhkan biaya dan bantuan negara melalui wadah bait al mal. Perubahan dan dinamika masyarakat dimana fuqaha’ syafi’iyah hidup tampaknya mengalami perubahan dan kemajuan. Lebih-lebih peranan bait al mal tidak lagi berfungsi secara optimal sehingga dengan kenyataan sosial semacam ini, fuqaha syafi’iyah mengubah pendapatnya. Menurut mereka dalam rangka refungsionalisasi kelebihan harta, sebaiknya dikembalikan saja kepada ashab al furud atau zawi arham jika ada secara proporsional.

Pendapat terakhir cukup praktis dan rasional namun demikian tidak bisa diberlakukan secara mutlak. Karena apabila pada suatu saat kepentingan kaum muslimin sangat membutuhkan pendanaan, yang salah satunya harus dipenuhi misalnya melalui sarana bait al mal, maka kelebihan harta perlu disetor ke bait al mal. Akan tetapi jika kebutuhan umum hanya bersifat subside saja maka cara radd untuk mengembalikan sisa harta kepada ahli waris merupakan cara yang lebih tepat.

Adapun alasan-alasan para ulama yang menolak cara penyelesaian pembagian warisan dengn cara radd adalah:

1.) Allah SWT telah menentukan bagian-bagian tertentu (furud al muqadarah) kepada ahli waris ashab al furud secara pasti (qat’iy). Besar kecilnya bagian tidak perlu ditambah-tambah atau dikurangi (QS An-Nisa : 11-12). Menambah bagian ahli waris melebihi ketentuan yang seharusnya diterima menurut nas, berarti melampaui batas-batas yang digariskan oleh Allah. Padahal terhadap mereka yang melampaui batas Allah memberi ultimatum dalam firman Nya :

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasulnya dan melanggar ketentuan-ketentuannya, niscaya Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, sedangkan ia kekal didalamnya dan baginya siksa yang menghinakan” (QS An Nisa : 14)

2.) Nabi Muhammad SAW telah menegaskan bahwa Allah telah menentukan hak-hak yang dapat diterima oleh seorang ahli waris. Sabda beliau menyatakan :

اِنَّ اللهَ قَدْاَعْطَى كُلَّ دِيْ حَقِّ حَقَّهُ (رواه الترمدي)
“sesungguhnya Allah SWT telah memberi hak kepada pemegang hak“ (HR Tirmidzi)

hadits diatas dikeluarkan setelah turun ayat 14 surat An Nisa. Artinya hadits tersebut bermaksud untuk menguatkan hujjah ayat tersebut oleh karena itu siapapun ada kewajiban dan perlu memperhatikannya didalam melakukan pembagian hartsa warisan

3.) Para ahli waris yang telah menerima bagian tertentu tidak berhak menerima sisa harta warisan, karena tidak ada jalan untuk memilikinya. Untuk itu, sisa harta yang ada harus diselesaikan kepada bait al mal. Seperti halnya harta peninggalan simati yang tidak mempunyai ahli waris sama sekali.

Disusun oleh :
Sofiani Novi Nuryanti (132211078)
Istiqomatun Nikmah (132211094)
Dosen pengampu :
M Nadzir, SHI. MSI
FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG

Kamis, 08 November 2018

Hukum Jimat, Hizib dan Amalan

Hukum Jimat, Hizib dan Amalan
Hukum Jimat baik azimat dari Quran atau bukan, Hizib atau bacaan untuk kesaktian dan Amalan

Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
'Berdoalah kamu, niscya Aku akan mengabulkannya untukmu. (QS al-Mu'min: 60)

Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Di antaranya adalah:<>

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:" كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ''Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan." (HR Muslim [4079]).

Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya) Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut." Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman meoggunakan azimat, misalnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ
Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “'Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan:

"Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya." (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181)

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

A-Marruzi berkata, ''Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu'awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas)." Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, "Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil." Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst." (Al-Adab asy-Syar'iyyah wal Minah al-Mar'iyyah, juz II hal 307-310)

Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW

2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.

3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja." (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).


KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember
Mengamalkan doa-doa, hizib dan memakai azimat pada dasanya tidak lepas dari ikhtiar atau usaha seorang hamba, yang dilakukan dalam bentuk doa kepada Allah SWT. Jadi sebenanya, membaca hizib, dan memakai azimat, tidak lebih sebagai salah satu bentuk doa kepada Allah SWT. Dan Allah SWT sangat menganjurkan seorang hamba untuk berdoa kepada-Nya. Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ
'Berdoalah kamu, niscya Aku akan mengabulkannya untukmu. (QS al-Mu'min: 60)

Ada beberapa dalil dari hadits Nabi yang menjelaskan kebolehan ini. Di antaranya adalah:<>

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الأشْجَعِي، قَالَ:" كُنَّا نَرْقِيْ فِيْ الجَاهِلِيَّةِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ؟ فَقَالَ: اعْرِضُوْا عَلَيّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ
Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat (dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul) tentang hal itu. Rasul menjawab, ''Coba tunjukkan azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-apa selama di dalamnya tidak terkandung kesyirikan." (HR Muslim [4079]).

Dalam At-Thibb an-Nabawi, al-Hafizh al-Dzahabi menyitir sebuah hadits:

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Apabila salah satu di antara kamu bangun tidur, maka bacalah (bacaan yang artinya) Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna dari kemurkaan dan siksaan-Nya, dari perbuatan jelek yang dilakukan hamba-Nya, dari godaan syetan serta dari kedatangannya padaku. Maka syetan itu tidak akan dapat membahayakan orang tersebut." Abdullah bin Umar mengajarkan bacaan tersebut kepada anak­anaknya yang baligh. Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya. (At-Thibb an-Nabawi, hal 167).

Dengan demikian, hizib atau azimat dapat dibenarkan dalam agama Islam. Memang ada hadits yang secara tekstual mengindikasikan keharaman meoggunakan azimat, misalnya:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قاَلَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ الرُّقًى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَالَةَ شِرْكٌ
Dari Abdullah, ia berkata, Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “'Sesungguhnya hizib, azimat dan pelet, adalah perbuatan syirik.” (HR Ahmad [3385]).

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar, salah seorang pakar ilmu hadits kenamaan, serta para ulama yang lain mengatakan:

"Keharaman yang terdapat dalam hadits itu, atau hadits yang lain, adalah apabila yang digantungkan itu tidak mengandung Al-Qur’an atau yang semisalnya. Apabila yang digantungkan itu berupa dzikir kepada Allah SWT, maka larangan itu tidak berlaku. Karena hal itu digunakan untuk mengambil barokah serta minta perlindungan dengan Nama Allah SWT, atau dzikir kepado-Nya." (Faidhul Qadir, juz 6 hal 180-181)

lnilah dasar kebolehan membuat dan menggunakan amalan, hizib serta azimat. Karena itulah para ulama salaf semisal Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah juga membuat azimat.

A-Marruzi berkata, ''Seorang perempuan mengadu kepada Abi Abdillah Ahmad bin Hanbal bahwa ia selalu gelisah apabila seorang diri di rumahnya. Kemudian Imam Ahmad bin Hanbal menulis dengan tangannya sendiri, basmalah, surat al-Fatihah dan mu'awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas)." Al-Marrudzi juga menceritakan tentang Abu Abdillah yang menulis untuk orang yang sakit panas, basmalah, bismillah wa billah wa Muthammad Rasulullah, QS. al-Anbiya: 69-70, Allahumma rabbi jibrila dst. Abu Dawud menceritakan, "Saya melihat azimat yang dibungkus kulit di leher anak Abi Abdillah yang masih kecil." Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah menulis QS Hud: 44 di dahinya orang yang mimisan (keluar darah dati hidungnya), dst." (Al-Adab asy-Syar'iyyah wal Minah al-Mar'iyyah, juz II hal 307-310)

Namun tidak semua doa-doa dan azimat dapat dibenarkan. Setidaknya, ada tiga ketentuan yang harus diperhatikan.

1. Harus menggunakan Kalam Allah SWT, Sifat Allah, Asma Allah SWT ataupun sabda Rasulullah SAW

2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.

3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah itu tidak dapat memberi pengaruh apapun, tapi (apa yang diinginkan dapat terwujud) hanya karena takdir Allah SWT. Sedangkan doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja." (Al-Ilaj bir-Ruqa minal Kitab was Sunnah, hal 82-83).
KH Muhyiddin Abdusshomad

Sumber: NU.OR.ID

***

Menjadikan Ayat Al-Quran sebagai Jimat halal atau haram?

Ilmu hikmah dalam perbendaharaan Islam merupakan salah satu pengetahuan yang hadir bersama dengan Islam itu sendiri. Banyak sekali hadits Rasulullah saw yang menunjukkan betapa ilmu hikmah itu sangatlah penting, karena Komplelksitas kehidupan manusia seringkali membutuhkan solusi yang beragam.<>

Diantara rekaman kejadian itu bisa kita lihat dalam asbabun nuzul dari surat mu'awwidztatin (qul a'udzu birabbil falaq dan qul a'udzu birabbin nas) yang keduanya dibaca Rasulullah saw ketika beliau terkena sihir orang yahudi. Dalam kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, Imam suyuthi menerangkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw sakit parah sehingga dua malaikat mendatanginya dan menunjukkan kepada para sahabat bahwa Labid bin al-A'sham al-Yahudi mengirim sihir kepada Rasulullah saw. Sihir itu berupa gulung-gulungan tali yang disimpan di bawah batu besar di dalam sebuah sumur.

Maka segeralah para sahabat mengambil gulungan yang terdapat dalam sebuah sumur tua yang ternyata airnya mengandung warna merah pacar dan mengambil gulungan yang dimaksud setelah terlebih dahulu mengangkat batu dari dalamnya. Benar saja, tali bergulung-gulung itu tidak dapat diurai simpulnya kecuali setelah Rasulullah saw membaca surat mu'awwidztatin. Dan demikianlah setelah tali itu terurai sakit Rasulullah saw mendadak hilang begitu saja. Tentunya hal ini tidak terlepas dari kekuasaan Allah swt, akan tetapi kekuasaan-Nya itu dihadirkan oleh Rasulullah saw melalui bacaan mu'awwidztatin.

Ilmu hikmah sangat banyak macamnya. Selain dilisankan, sebagaimana ayat-ayat al-qur'an, hizib dan do'a lainnya, ada pula yang dituliskan sebagai azimat. Hal inipun pernah ditanyakan oleh seorang sahabat kepada Rasulullah saw. Dengan spesifik Imam Malik seperti yang dinukil dalam at-Tibyan fi Adabi Hamlatil Qur'an menerangkan bahwa:

وأما كتابة الحروف من القرأن فقال مالك لا بأس به إذا كان فى قصبة أو جلد وخرز عليه وقال بعض أصحابنا اذا كتب فى الخرز قرأنا مع غيره فليس بحرام ولكن الأولى تركه لكونه يحمل على الحدث واذا كتب يصان بما قاله الامام مالك رحمه الله .
Menulis huruf-huruf al-Qur'an itu tidak dilarang (tidak diharamkan), manakala di letakkan dalam botol atau ditaruh dalam bungkus kulit. Sebagian ulama berkata "bahwa tidak dilarang menuliskan al-Qur'an bersamaan dengan yang lain sebagai sebuah azimat, akan tetapi lebih baik dihindari karena akan terbawa ketika hadats. Kecuali jika memang dapat dijaga dan tidak disia-siakan sebagaimana yang diakatakan oleh Imam Malik".

Jika menuliskan huruf-huruf al-Qur'an sebagai sebuah azimat diperolehkan dengan syarat tetap dijaga kehormatannya, maka menggunakan azimat itu sendiri pastilah tidak dilarang.

Sumber: NU.OR.ID

TABARUK DAN JIMAT

Penjelasan tentang tabarruk ini dibahas dalam kitab Mafahim Yajibu an Tushahhah:

ينبغي أن نعلم أن التبرك ليس هو إلا توسلا إلى الله سبحانه وتعالى بذلك المتبرك به سواء أكان أثرا أو مكانا أو شحصا
“Hendaknya kita mengerti bahwa Tabarruk tiada lain hanyalah perantara pada Allah ﷻ dengan menggunakan benda yang dijadikan objek tabarruk. Baik objek itu berupa suatu benda, tempat, atau seseorang” (Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Mafahim Yajibu an Tushahhah, hal. 249)


كنا نرقي في الجاهلية فقلنا يا رسول الله كيف ترى في ذلك؟ فقال اعرضوا علي رقاكم لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك
“Kami melakukan ruqyah di masa jahiliyah (dahulu), lalu kami menanyakan pada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah,bagaimana pendapat anda tentang ruqyah?” Rasulullah menjawab: “berikan padaku ruqyah kalian! Tidak apa-apa dengan ruqyah, selama tidak mengandung kesyirikan” (HR. Muslim)

Persoalan lain yang perlu disikapi dalam fenomena ini adalah menaruh jimat pada tempat yang tidak layak, seperti pada bra dan celana dalam. Jika jimat itu berupa hal-hal yang diangungkan secara syara’ (muadh-dham), seperti di dalam jimat terdapat nama-nama Allah, Rasul, ayat Al-Qur’an, dll, maka perbuatan itu adalah perbuatan yang diharamkan bahkan dapat menyebabkan kekufuran bila ia memang bertujuan menghina terhadap benda yang diagungkan tersebut (Syekh Muhammad bin Salim, Is’ad ar-Rafiq, juz 1, hal. 61).

Hukum Membakar Kalimah Tauhid

Hukum Membakar Kalimah Tauhid
Hukum Membakar Kalimah Tauhid

Membakar atau memendam suatu benda yang terdapat kalimah tauhid, ayat Al-Quran atau hadis adalah boleh dengan tujuan untuk menghormatinya atau agar tidak sampai terjatuh ke tempat terhina. Itulah yang dilakukan ulama salaf.

Membuang Kertas, sobekan koran atau majalah atau buku yang Ada Nama Allah atau Quran atau hadits adalah haram karena termasuk kategori menghina. Cara yang baik adalah dengan memendam kertas seperti itu atau membakarnya atau menghancurkannya dengan mesin/alat penghancur kertas yang ada.

Berikut dalil-dalilnya:

Dalam Syarah Shahih Bukhari, 10/226 dikatakan:
Perintah Utsman untuk membakar kertas mushaf ketika beliau mengumpulkan Alquran, menunjukkan bolehnya membakar kitab yang disitu tertulis nama-nama Allah ta’ala. Dan itu sebagai bentuk memuliakan nama Allah dan menjaganya agar tidak terinjak kaki atau terbuang sia-sia di tanah

أدركت الناس متوافرين حين حرق عثمان المصاحف ، فأعجبهم ذلك ، لم ينكر ذلك منهم أحد
Ketika Utsman membakar mushaf, saya menjumpai banyak sahabat dan sikap Utsman membuat mereka heran. Namun tidak ada seorangpun yang mengingkarinya (HR. Abu Bakr bin Abi Daud, dalam al-Mashahif, hlm. 41).

Dalam Syarah Shahih Bukhari, 10/226 dikatakan:

وفى أمر عثمان بتحريق الصحف والمصاحف حين جمع القرآن جواز تحريق الكتب التي فيها أسماء الله تعالى ، وأن ذلك إكرام لها ، وصيانة من الوطء بالأقدام ، وطرحها في ضياع من الأرض

Perintah Utsman untuk membakar kertas mushaf ketika beliau mengumpulkan Alquran, menunjukkan bolehnya membakar kitab yang disitu tertulis nama-nama Allah ta’ala. Dan itu sebagai bentuk memuliakan nama Allah dan menjaganya agar tidak terinjak kaki atau terbuang sia-sia di tanah

Al-Hasfaki, ulama madzhab hanafi mengatakan,

الْمُصْحَفُ إذَا صَارَ بِحَالٍ لَا يُقْرَأُ فِيهِ : يُدْفَنُ ؛ كَالْمُسْلِمِ
“Mushaf yang tidak lagi bisa terbaca, dikubur, sebagaimana seorang muslim.” (ad-Dur al-Mukhtar, 1:191).

Ulama lain yang memberikan catatan kaki untuk ad-Dur al-Mukhtar mengatakan,


أي يجعل في خرقة طاهرة ، ويدفن في محل غير ممتهن ، لا يوطأ

Maksudnya, lembaran mushaf itu diletakkan di kain yang suci, kemudian dikubur di tempat yang tidak dihinakan (seperti tempat sampah), dan tidak boleh diinjak.

Al-Bahuti mengatakan,

“Jika ada mushaf Alquran yang sudah usang maka dia dikubur, berdasarkan ketegasan dari Imam Ahmad. Imam Ahmad menyebutkan bahwa Abul Jauza mushafnya telah usang. Kemudian beliau menggali di tanah masjidnya lalu menanamnya dalam tanah.” (Kasyaf al-Qana’, 1:137)

إذا احتيج إلى تعطيل بعض أوراق المصحف لبلى ونحوه ، فلا يجوز وضعها في شق أو غيره ؛ لأنه قد يسقط ويوطأ ، ولا يجوز تمزيقها لما فيه من تقطيع الحروف وتفرقة الكلم ، وفي ذلك إزراء بالمكتوب … وإن أحرقها بالنار فلا بأس ، أحرق عثمان مصاحف كان فيها آيات وقراءات منسوخة ولم ينكر عليه

Jika dibutuhkan untuk menghancurkan sebagian kertas mushaf karena sudah usang atau sebab lainnya maka tidak boleh diselipkan di tempat tertentu, karena bisa jadi terjatuh dan diinjak. Tidak boleh juga disobek-sobek, karena akan memotong-motong hurufnya tanpa aturan dan merusak tatanan kalimat, dan semua itu termasuk sikap tidak menghormati tulisan Alquran… jika dibakar denagn api, hukumnya boleh. Utsman membakar mushaf yang ada tulisan ayat Alquran dan ayat yang telah dinasakh (dihapus), dan tidak ada yang mengingkari beliau (al-Itqan fi Ulum Alquran, 2:459).

Kyai Hasyim Asy'ari dalam kitab Tanbihat al-Wajibat menyatakan: "Sesungguhnya menggunakan sesuatu yang diciptakan untuk diagungkan, untuk difungsikan pada hal yang tidak diagungkan, adalah hal yang haram.“


وقد روي حرق الأوراق التي فيها اسم الله تعالى أو فيها آية من القرآن عن بعض السلف منهم عروة بن الزبير وطاووس.

قال الدردير في شرحه على مختصر خليل في بيان أمور الردة: (كإلقاء مصحف بقذر) ولو طاهرا، كبصاق، أو تلطيخه به، والمراد بالمصحف: ما فيه قرآن ولو كلمة، ومثل ذلك تركه به، أي عدم رفعه إن وجده به، لأن الدوام كالابتداء.. ومثل القرآن أسماء الله وأسماء الأنبياء، وكذا الحديث، كما هو ظاهر. انتهى.

قال الخرشي المالكي عند قول خليل: كإلقاء مصحف بقذر... ومثل المصحف أسماء الله وأسماء الأنبياء لحرمتها. انتهى

وفي حاشية قليوبي وعميرة في الفقه الشافعي: ومثل المصحف الحديث وكل علم شرعي، أو ما عليه اسم معظم، ولا بد في غير القرآن من قرينة تدل على الإهانة وإلا فلا.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ، إِنَّ خَيْرَ دِينِكُمْ أَيْسَرُهُ. رواه أحمد والبخاري

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا. رواه البخاري.

Kamis, 01 November 2018

Tawassul Ahmad bin Hanbal dan Madzhab Hambali

Tawassul Ahmad bin Hanbal dan Madzhab Hambali
Tawassul Ahmad bin Hanbal pendiri madzhab Hanbali pada Nabi dan orang saleh saat berdoa juga pandangan ulama madzhab hambali secara umum terkait tawasul, tabaruk (ngalap barokah), istighosah (meminta tolong) dan ziyarah kubur yang secara umum berbeda dengan kaum Salafi Wahabi (Sawah) di bawah pimpinan Ibnu Taimiyah dan diteruskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab.


توسل الإمام أحمد بن حنبل بالنبي المكرم (صلى الله عليه وسلم) في دعائه

قال أبو إسحاق برهان الدين إبراهيم بن محمد ابن مفلح الحنبلي (المتوفى سنة 884 هـ) في الجزء الثاني من کتاب المبدع شرح المقنع:

قال أحمد في «منسکه» الذي كتبه للمروذي: إنه يتوسل بالنبي (صلى الله عليه وسلم) في دعائه وجزم به في «المستوعب» وغيره.

***


مُقَارَنَةٌ عِلْمِيَّةٌ

فيهَا بَيَانُ أَنَّ ادِّعَاءَ السَّلَفِيَّةِ نُفَاةَ التَّوَسُّلِ انْتِسَابُهُمْ لِمَذْهَبِ أَحْمَدَ زُورٌ وَبُهْتَانٌ (2)


2- أحمدُ بنُ حنبلٍ يُجَوِّزُ التَّأويلَ الَّذي هُوَ مُوَافقٌ لِكِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ وَلُغَةِ الْعَرَبِ لذلك أَوَّلَ قَوْلَهُ تعالى: وَجَاءَ رَبُّكَ والْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا . قال: 'جَاءَ أَمْرُهُ'، وَ في رِوايةٍ: 'جَاءَتْ قُدْرَتُهُ'، معناهُ اللهُ يُظهِرُ يومَ القيامةِ أهوالاً عَظيمةً، هِيَ ءاثارُ قُدرةِ الله، وَلَوْ كَانَ الإمَامُ أَحْمَدُ مُجَسِّمًا كَأَدْعِيَاءِ السَّلَفِيَّةِ في هَذَا الزَّمَانِ لَمَا أَوَّلَ الآيَةَ وَلَكَانَ أَخَذَ بِظَاهِرِهَا. أمَّا الْمُجَسِّمَةُ أَدْعِياءُ السَّلَفِيَّةِ فَيَقُولُونَ: 'التَّأويلُ تَعْطِيلٌ' اهـ والتَّعْطِيلُ هُوَ نَفيُ وُجُودِ اللهِ تعالى أَوْ صِفَاتهِ فَيَكُونُونَ بِذَلِكَ حَكَمُوا عَلَى أَحْمَدَ بِالْكُفْرِ لأَنَّهُمْ جَعَلُوهُ مُعَطِّلاً، فَكَيْفَ بَعْدَ ذَلِكَ يَدَّعُونَ الانْتِسَابَ إِلَيْهِ. وقد حصلَ لِمُفْتي الْمُجَسِّمَةِ أَدْعِيَاءِ السَّلَفِيَّةِ الَّذِي مَاتَ في هذا العَصْرِ وَهُوَ أعْمَى البَصَرِ وَالْبَصِيرَةِ أَنْ دَخَلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ وَقَالَ لَهُ: 'أَنتَ ضِدُّ التَّأويلِ وتُضَلِّلُ منْ يُؤَوِّلُ فَمَا تَقُولُ في قَوْلِهِ تعالى: وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ في الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلا. فَإِنْ أَوَّلْتَ هذا فَقَدْ وَقَعْتَ فيمَا حَرَّمتَ وإنْ تَرَكتَ الآيةَ على ظَاهِرِهَا فقدْ حكمْتَ على نَفْسِكَ بِأنَّكَ كَمَا أَنْتَ في هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنيا أَعْمَى فَأَنْتَ في الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبيلاً، فَلَمْ يَجِدْ هَذَا الْمُشَبِّهُ جَوَابًا وَمَا كَانَ مِنْهُ إلاَّ أنْ شتَمَهُ وأَمَرَ بِإِخْرَاجِهِ.

3- أحمدُ بنُ حنبلٍ يُنزِّهُ الله عنْ أَنْ يَكُونَ مُتَصَوَّرًا، فَقَدْ ثَبَتَ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: 'مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فاللهُ بِخِلافِ ذلِكَ'، رَوَاهُ أبو الْحَسَنِ التَّمِيميُّ الْحَنْبَليُّ في كِتَابِهِ الْمُسَمَّى اعتقادُ الإِمامِ الْمُبَجَّلِ أحمدَ بنِ حَنبلٍ، وَقَوْلُهُ هَذَا مَأخُوذٌ مِنْ قَوْلِهِ: 'لا فِكْرَةَ في الرَّبِّ' رَوَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ الأَنْصَارِيُّ، وَمِنْ قَوْلِهِ تعالى : وَأَنَّ إِلى رَبِّكَ الْمُنْتَهى . [سورة النَّجم، 42] قَالَ الصَّحَابِيُّ الْجَلِيلُ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ في تَفْسِيرِهِ لِهَذِهِ الآيَةِ: 'إِلَيْهِ يَنْتَهي فِكْرُ مَنْ تَفَكَّرَ فَلا تَصِلُ إِلَيْهِ أَفْكَارُ الْعِبَادِ' اهـ. أَمَّا الْمُجَسِمةُ أدْعِيَاءُ السَّلَفِيَّةِ فيقولونَ: 'لاَ نَعْبُدُ شَيْئًا لاَ نَتَصَوَّرُهُ'.

4- أحمدُ بنُ حنبلٍ يُجيزُ التَّبرُّكَ بِقَبْرِ النَّبِيِّ وَمِنْبَرِهِ وآثَارِهِ، فقد سُئِلَ: 'عنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنبرَ النَّبيِّ وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ ويَفْعَلُ بالقبرِ مِثْلَ ذلكَ أو نَحْوَ هذا يُريدُ بِذلكَ التَّقرُّبَ إلى اللهِ جَلَّ وعزَّ' فَقَالَ أَحْمَدُ: 'لا بأْسَ بذلكَ' رواه عنهُ ابنهُ عبدُ اللهِ في كِتَابِ 'العِلَلِ وَمَعْرِفَةِ الرِّجَالِ' الجزءِ الثاني صحيفةَ (35) خَمْس وَثَلاثِينَ مَسْ rel="nofollow" target="_blank"أَلةُ مِائَتَيْنِ وَخَمْسِينَ (250)، كما أنَّ أَحْمَدَ كَانَ يَحْمِلُ شَيْئًا مِنْ شَعَرِ النَّبيِّ لِلتَّبَرُّكِ بِهِ. أَمَّا الْمُجَسِّمَةُ أَدْعِيَاءُ السَّلَفِيَّةِ فَيَقُولُونَ: 'التَّبَرُّكُ شِركٌ' وَيَعْتَبِرُونَ التَّمَسُّحَ بِقَبْرِ النَّبيِّ وتَقْبيْلَهُ شِرْكٌ حَتَّى قَالَ ابنُ تَيْمِيةَ: (اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ لا يُقبّلُهُ ولا يَتَمَسَّحُ بهِ فإنَّهُ مِنَ الشِّرْكِ وَالشِّرْكُ لا يَغْفِرُهُ اللهُ وَلَوْ كَانَ أَصْغَر) اهـ وَهَذَا دَأبُهُ فَإِنَّهُ إِذَا قَالَ قَوْلاً لَمْ يَسْبِقْهُ إِلَيْهِ أَحَدٌ قَالَ 'اتَّفَقُوا' أَوْ 'أَجْمَعُوا' وَلا يَذْكُر اسْمَ عَالِمٍ وَاحِدٍ، وَكُلُّ بَاحِثٍ وَمُحَقِّقٍ مِنْ أَهْلِ الْفَضْلِ والعدل يَعْرِفُ باعَهُ في التَّدْلِيسِ وَالافْتِرَاءِ عَلَى أَئِمَّةِ الْحَديثِ وَأَعْلامِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابعين.

5- أحمدُ بنُ حنبلٍ يُجيزُ التَّوسُّلَ بِالنَّبِيِّ وَالصَّالِحينَ، فَهَا هُوَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ في مَنْسِكِهِ الَّذِي كَتَبَهُ للْمَِرْوَذِيِّ: 'إِنَّهَ يَتَوَسَّلُ بالنَّبيِّ في دُعائِهِ – يَعْني أنَّ الْمُسْتَسْقِيَ يُسَنُّ لهُ في اسْتِسقائِهِ أَن يَتَوَسَّلَ بالنَّبيِّ' اهـ. أَمَّا الْمُجَسِّمَةُ أَدْعِيَاءُ السَّلَفِيَّةِ يقولونَ: 'نداءُ غيرِ الحيِّ الْحَاضِرِ شِرْكٌ' كَمَا هُوَ مَنْصُوصٌ عَلَيْهِ في كَثِيرٍ مِنْ كُتُبِهِمْ وَيُكَفِّرُون الْمُتَوَسِّلِينَ بِالأَنبياءِ وَالصَّالِحِينَ.والعياذ بالله من شرهم.

رابط

***

حُكمُ التوسُّلِ بالصَّالحيْن عند الحنابلة ؟


قال الإمام أحمد بن حنبل : ( هذا رجل يستسقى بحديثه وينزل القطر من السماء بذكره )
قال أبو عبد الله الأردبيلي : سمعت أبا بكر بن أبي الخصيب يقول : ذُكر صفوان بن سليم عند أحمد بن حنبل فقال : هذا رجل يستسقى بحديثه وينزل القطر من السماء بذكره ) أهـ
تهذيب الكمال للحافظ المزي رحمه الله ( 13 / 186 برقم 2882 ، طبعة مؤسسة الرسالة - بيروت الطبعة الأولى ، 1400 - 1980 ، بتحقيق الدكتور بشار عوادمعروف ) في ترجمة صفوان بن سليم المدني

الامام المبجل احمد ابن حنبل يتوسل بعباد الله .

قال ابنه عبد الله في " المسائل " ( 217 ) : " سمعت أبي يقول : حججت خمس حجج منها ثنتين [ راكبا ] و ثلاثة ماشيا ، أو ثنتين ماشيا و ثلاثة راكبا ، فضللت الطريق في حجة و كنت ماشيا ، فجعلت أقول : ( يا عباد الله دلونا على الطريق ! ) فلم أزل أقول ذلك حتى وقعت على الطريق . أو كما قال أبي.
ورواه ايضا بسند صحيح
البيهقي في " الشعب " ( 2 / 455 / 2 ) و
ابن عساكر ( 3 / 72 / 1 ) من طريق عبد الله
وذكرها ابن مفلح في الاداب الشرعية.
بل الالباني صحح ما ورد عن الامام احمد ابن حنبل فقال
في السلسلة الضعيفة و الموضوعة " ( 2 / 109 )
يبدو أن حديث ابن عباس الذي حسنه الحافظ كان الإمام أحمد يقويه ، لأنه قد عمل به ، فقال ابنه عبد الله "الحديث"
المسائل " ( 217 ) :
و رواه البيهقي في " الشعب " ( 2 / 455 / 2 )
ابن عساكر ( 3 / 72 / 1 ) من طريق عبد الله بسند صحيح.

قال الإمَامُ السَّامُري _ يَرْحَمُهُ اللهُ_ في "المُسْتوعِب" (3/88 )
(ولا بَأسَ بالتوسُّل إلى اللهِ تعالى في الإستسقاء بالشيوخ والزهَّاد وأهلِ العلم والفضل والدين من المسلمين. )

قال الإمَامُ تقيُّ الدين الأدَمي _ يرْحمُهُ اللهُ _ في "المُنوّر" (ص/190
(ويُبَاحُ التوسُّلُ بالصُلَحَاء ) .
ُ
قال الإمامُ ابنُ مُفْلح _ يرحمه الله _ في "الفروع" (3/229 )
(ويَجُوزُ التوسُّلُ بصالحٍ ، وقيْلَ يُسْتحبُّ .)

قال الإمَامُ المرْدَاوي _يَرْحَمُهُ اللهُ_ في "الإنْصاف" (2/456 )
(يَجُوز التوسُّل بالرجل الصالح ، على الصحيح من المَذْهَب . وقيل يُسْتَحب قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ فِي مَنْسَكِهِ الَّذِي كَتَبَهُ لِلْمَرُّوذِيِّ : يَتَوَسَّلُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دُعَائِهِ وَجَزَمَ بِهِ فِي الْمُسْتَوْعِبِ وَغَيْرِهِ )

قال الإمامُ الحجّاوي _ يرحمه الله _ في "الإقناع" مع شرحِهِ للإمام البُهوتي (1/546 )
(و لابأس بالتوسل بالصالحين)


وقال الإمامُ ابنُ النجّار _ يرحمه اللهُ _ في "منتهى الإرادات" مع شَرْحِهِ للإمَام الُبهوتي (2/58 )
(وأُبيْحَ التوسُّلُ بالصَالحيْن) .

قال الإمُامُ مرْعيُّ الكرْمي _ يرْحمُهُ اللهُ _ في "غاية المُنْتَهى" مع شرْحه للإمَام الرحيْبَاني (2/316 ):
(وكذا أبيْحَ توسلٌ بصالحيْن )

ابن عماد الحنبلي (1089 هـ): في ترجمة السيد أحمد البخاري
"وقبره يزار ويتبرك به" شذرات الذهب (10/152)


وفي كتاب كشاف القناع لمنصور بن يونس البيهوتي الحنبلي المتوفى سنه 1051هـ الجزء الثاني :
وقال السامري وصاحب التلخيص : لا بأس بالتوسل للاستقاء بالشيوخ والعلماء المتقين . وقال في المذهب : يجوز أن يستشفع إلى الله برجل صالح وقيل للمروذي : إنه يتوسل بالنبي في دعائه وجزم به في المستوعب وغيره ، ثم قال : قال إبراهيم الحربي : الدعاء عند قبر معروف الكرخي الترياق المجرب .


الامام ابن الجوزي الحنبلي
( كتاب مناقب الإمام أحمد ابن الجوزي ص 297)
عن عبد الله بن موسى أنه قال :
خرجت أنا وأبي في ليلة مظلمة نزور « أحمد » فاشتدت الظلمة ، فقال أبي :يا بني تعال حتى نتوسل إلى الله تعالى بهذا العبد الصالح حتى يضاء لنا الطريق ، فمنذ ثلاثين سنة ما توسلت به إلا قضيت حاجتي .
فدعا أبي وأمنت على دعائه ، فأضاءت السماء كأنها ليلة مقمرة حتى وصلنا إليه )اهــ


قال الامام ابن الجوزي في صفة الصفوة ( ص 251 ) في ترجمة معروف الكرخي ( وعن أبي بكر الزجاج قال قيل لمعروف الكرخي في علته أوص فقال إذا مت فتصدقوا بقميصي هذا فاني أحب ان أخرج من الدنيا عريانا كما دخلت إليها عريانا.
اسند معروف عن بكر بن خنيس وعبد الله بن موسى وابن السماك.
وتوفي سنة مائتين وقبره ظاهر ببغداد يتبرك به وكان إبراهيم الحربي يقول قبر معروف الترياقي المجرب.
وإنما اقتصرنا ها هنا على اليسير من أخباره لانا قد جمعنا أخباره ومناقبه في كتاب افردناه لها فمن اراد الزيادة من أخباره فعليه بذلك الكتاب والله الموفق رحمه الله ورضي الله عنه. )

ذكر الامام ابن الجوزي في صفة الصفوة ( ص 83 ) في ترجمة أبو أيوب خالد بن زيد بن كليب الأنصاري ( قال الواقدي : توفي أبو أيوب عام غزا يزيد بن معاوية القسطنطنية في خلافة أبيه معاوية سنة اثنتين وخمسين، وصلى عليه يزيد وقبره بأصل حصن القسطنطنية بأرض الروم، فلقد بلغنا أن الروم يتعاهدون قبره ويزورونه ويستسقون به إذا قحطوا )
وانتظر المنتظم في التاريخ الجزء الخامس في ترجمته .

في مناقب الإمام أحمد لابن الجوزي (610)
ذكر قصة توسل وتبرك الإمام الشافعي بقميص الإمام أحمد ابن حنبل

ذكر ابن ابي يعلى الحنبلي في طبقاته :
وحفر له بجنب قبر إمامنا أحمد فدفن فيه وأخذ الناس من تراب قبره الكثير تبركا به ولزم الناس قبره ليلا ونهارا مدة طويلة ويقرأون ختمات ويكثرون الدعاء ولقد بلغني أنه ختم على قبره في مدة شهور ألوف ختمات "اهـ
طبقات الحنابله في ترجمة الشريف أبي جعفر 2/ 240'

ما قيل في ترجمة ابن عبد الباقي الحنبلي :
وجاء في مشيخة أبي المواهب الحنبلي في ترجمة صاحب المشيخة ابن عبد الباقي ما نصه :
( وكان على قدم الصحابة والسلف والصالحين، عليه نور الولاية والصلاح، ما قرأ عليه أحد إلا فتح الله عليه ، وكان يستسقى به الغيث، وللناس فيه الاعتقاد العظيم، وله وقائع وكرامات.
أخبرني من أثق به أنه كان متصرفا في بلاد نجد ، وكان فيه نفع عظيم ) اهـ

قال الإمام موفق الدين ابن قدامة المقدس الحنبلي المتوفى سنه 620 هـ في كتابه المغني (ج2 : ص439)
: 1483 ) فصل : ويستحب أن يستسقى بمن ظهر صلاحه ; لأنه أقرب إلى إجابة الدعاء ، فإن عمر رضي الله عنه استسقى بالعباس عم النبي صلى الله عليه وسلم . قال ابن عمر : استسقى عمر عام الرمادة بالعباس ، فقال : اللهم إن هذا عم نبيك صلى الله عليه وسلم نتوجه إليك به فاسقنا . فما برحوا حتى سقاهم الله عز وجل .

رابط

PENDAPAT ULAMA WAHABI NASIRUDDIN ALBANI: KAMI TIDAK MENGIKUTI MADZHAB HAMBALI


ما رأيكم دام فضلكم في هذا الكلام ؟

السائل : السؤال الثاني يقول : ينقل عن الإمام أحمد أنه يجيز التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم، فما صحة ذلك .؟ وما رأيكم .؟.

الشيخ الألباني : أما صحة ذلك فعلى الطريقة الحديثية فلا نستطيع إثباتها ، وليس كل قول ينقل عن إمام من أئمة المسلمين بإمكاننا أن نثبته على طريقة علماء الحديث ، ولكن لا يسعنا إلا أن نعتمد على العلماء الذين سبقونا زمنًا وعلمًا ، لا يسعنا إلا أن نعتمد عليهم فيما ينقلونه من أقوال ومن روايات ؛ حتى يتبين لنا خطؤهم في ذاك النقل ، فكون الإمام أحمد رحمه الله أجاز التوسل بالنبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ، أذكر أنني قرأت ذلك قديمًا في رسالة : (التوسل والوسيلة) ، لشيخ الإسلام ابن تيمية ، فهو ينقل ذلك كقول عن الإمام أحمد ، ومستنده في ذلك حديث الأعمى .
وكما قلت آنفًا: ما دام أن ابن تيمية ينقل ذلك وهو موضع للثقة ، والاعتماد عليه فيما ينقل ، فنحن نقول بما نقل حتى يثبت عندنا ضعف ما نقل ، هذا بالنسبة لجواب السؤال .

لكني أريد أن أذكر شيئًا مهمًا - في اعتقادي - بالنسبة لمثل هذا القول : لا علينا ولا ضرر علينا أن يثبت عن الإمام أحمد هذا القول أو أن لا يثبت ، كلاهما بالنسبة إلينا سواء ؛ ذلك لأننا لسنا أحمديين ، وإنما كما سبق أن قلت آنفًا : نحن نقدر هؤلاء الأئمة ونجلهم ونستفيد من علمهم ومناهجهم ، لكننا لا نُسَلِّم قيادة عقيدتنا وأركاننا لهم ، إلا من تبين لنا أن الحق معهم .

فإذًا : إذا كان هذا النقل من ابن تيمية عن الإمام أحمد أنه كان يجيز ذلك، وأن دليله في ذلك هو حديث الأعمى ، وحين دراسة حديث الأعمى يتبين أنه لا يفيد التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم ، بعد موته ؛ لأن الأعمى إنما توسل بدعاء النبي صلى الله عليه وسلم كما هو مشروح في نفس كتاب ابن تيمية المذكور آنفًا ، وكما كنت زدت بيانًا في رسالتي التوسل أنواعه وأحكامه ، فالحديث - حديث الأعمى- كله يدور على التوسل بجاه النبي صلى الله عليه وسلم ، فإذًا : لا يجوز لنا أن نقول بأنه يجوز التوسل الآن بالرسول ؛ لأنه لا يمكن أن نبلغه ما الذي نحن نريد منه أن يدعو لنا ربه ، ولا نحن نستطيع إذا هو دعا - مثلًا - في حالة البرزخ أن نعرف أنه دعا ، فالقضية في حديث الأعمى لها علاقة بحياته عليه السلام ، ولا علاقة لها بوفاته .

المصدر: موقع تفريغات أشرطة العلامة محمد ناصر الدين الألباني طيب الله ثراه

رابط

Meminta Syafaat dan Tawasul bukan Syirik

Meminta Syafaat dan Tawasul pada Nabi tidak Syirik bahkan dibolehkan berdasarkan hadis sahih riwayat Usman bin Hunaif



عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلًا ضَرِيرًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي فَقَالَ إِنْ شِئْتَ أَخَّرْتُ ذَلِكَ فَهُوَ أَفْضَلُ لِآخِرَتِكَ وَإِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ لَكَ قَالَ لَا بَلْ ادْعُ اللَّهَ لِي فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ وَأَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ وَأَنْ يَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ فَتَقْضِي وَتُشَفِّعُنِي فِيهِ وَتُشَفِّعُهُ فِيَّ قَالَ فَكَانَ يَقُولُ هَذَا مِرَارًا ثُمَّ قَالَ بَعْدُ أَحْسِبُ أَنَّ فِيهَا أَنْ تُشَفِّعَنِي فِيهِ قَالَ فَفَعَلَ الرَّجُلُ فَبَرَأَ

وذكره الحافظ الجزري في " الحصن الحصين " ، والحافظ السيوطي في " الجامع الصغير " ، وشرْحه للمناوي ، و قال الإمام علي القاري :
{ " قوله ( " يا محمد " ) : إلتفات وتضرع لديه ، ليتوجه النبي -- بروحه إلى الله تعالى ، ويُغني السائل عما سواه ، وعن التوسل إلى غير مولاه، قائلاً : " إني أتوجه بك " أي بذريعتك ، الذريعة :الوسيلة ، والباء للاستعانة ، و " إلى ربي في حاجتي هذه " ، وهي المقصودة المعهودة " لتُقضى لي " . ويمكن أن يكون التقدير : ليقضي الله الحاجة لأجلك ، بل هذا هو الظاهر . وفي نسخة : " لتَقضي " بصيغة الفاعل ، أي : لتقضي أنت يا رسول الله الحاجة لي . والمعنى : لتكون سبباً لحصول حاجتي و وصول مرادي ، فالإسناد مجازي .}.انتهى .

قال المجوّزون [وهم جماهير الأئمة] : فقوله في الحديث : " يا محمد ، إني أتوجه بك في حاجتي لتقضى.. : نداء وطلب منه -صلى الله عليه وسلم- ، واستغاثة به وتوسل ، والنبي -صلى الله عليه وسلم-كان غائباً وقال له : " وإن كانت لك حاجة ، فمثل ذلك " ، وحاشا رسول الله -صلى الله عليه وسلم-أن يعلّم أمّته الشرك وقد بُعث لهدمه !!.
Seorang buta menemui Nabi lalu berkata, “Doakan saya agar Allah menyembuhkan saya.” Nabi bersabda, “Jika kau mau, aku akan berdoa untukmu, dan jika kau mau bersabar, itu lebih baik buatmu.” Ia berkata, “Doakanlah.” Lalu Nabi menyuruhnya berwudhu dan memperbagus wudhunya (lalu shalat dua rakaat) dan berdoa dengan doa ini, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu dan menghadap kepadaMu dengan Nabi kami Muhammad, Nabi pembawa rahmat. (Ya Muhammad), sesungguhnya aku menghadap denganmu kepada Tuhanmu (Tuhanku), agar memenuhi keperluanku ini. Ya Allah, jadikanlah ia penolongku (pemberi syafaatku).”




المطلب الخامس : طلب الشفاعة من الشفيع


يُفهم أحياناً من كلام محمد بن عبد الوهاب أن الاعتقاد بشفاعة الأصنام هو ما أشرك به المشركون , وأنهم كانوا يفردون الله تعالى بالربوبية , إلا أنّهم لمّا اعتقدوا بشفاعة الأصنام وجعلوها واسطة بينهم وبين الله تعالى قاتلهم رسول الله -صلى الله عليه وسلم-.

لكنّ المقرر عنده أن اعتقاد الشفاعة ليس شركاً , لكنّ طلبها من الشفيع هو الشرك , وحتى نناقش كلامه لا بد أولاً من : بيان معنى الشفاعة ...

قال الطبري في تفسيره :
( و"الشفاعة" مصدر من قول الرجل: شفع لي فلان إلى فلان شفاعة , وهو طلبه إليه في قضاء حاجته. وإنما قيل للشفيع"شفيع وشافع" لأنه ثنى المستشفع به، فصار به شفعا فكان ذو الحاجة -قبل استشفاعه به في حاجته- فردا، فصار صاحبه له فيها شافعا، وطلبه فيه وفي حاجته شفاعة. ولذلك سمي الشفيع في الدار وفي الأرض"شفيعا" لمصير البائع به شفعا ) .

وقال الأزهري في تهذيب اللغة عند "شفع" :
( والشفاعة: كلام الشَّفيع للملِكِ في حاجة يسألها لغيره..... .
وقال الليث: الشَّفع من العدد: ما كان زوجا، تقول: كان وترا فشفعتُه بآخر.
قال: والشافع: الطالب لغيره يستشفِع به إلى المطلوب. وتقول: تشفْعت لفلان إلى فلان فشفّعني فيه، واسم الطالب شفِيع ) .

وقال الصاحب بن عباد في المحيط عند مادة "شفع" :
(الشفْعُ من العَدَدِ: الزَوْجُ، والجَميعُ: الشفَاعُ. وكذلك الشّافِعُ، وفي الحَديث: " أتِيَ بِشَاةٍ شَافِع " : أي شَفَعَها وَلَدُها وشَفَعَتْه، والمصدرُ: الشفْعُ - بكسْر الشين - ؛ كالضرِّ من الضرة.
والشّافِع من الضأْنِ: كالتَّيْس من المِعْزى . وقيل: هو أيضاً : التَيْسُ بعَيْنه، وأرى انه الذي إِذا ألْقَحَ ألْقَحَ شَفْعاً لا وِتْراً. والشّافِعُ والشَفِيْعُ - جَميعاً - : الطًالِبُ لِغَيْره) .

وقال الفيروزأبادي في القاموس المحيط :
(" لا تَنْفَعُها شَفاعَةٌ " : نَفْيٌ للشافِعِ، أي: مالَها شافِعٌ فَتَنْفَعَها شَفاعَتهُ، وكأميرٍ: صاحِبُ الشَّفاعَةِ، وصاحِبُ الشَّفْعَةِ، بالضم، وهي أن تَشْفَعَ فيما تَطْلُبُ، فَتضُمَّهُ إلى ما عندَكَ فَتَشْفَعَهُ ) .

وقال صاحب "دستور العلماء" 2/159:
(الشفاعة : هي السؤال في التجاوز عن الذنوب من الذي وقعت الجناية في حقه ) .

فالشفاعة فيها ثلاثة أطراف :
- المستشفِع : وهو من يطلب الشفاعة من الشفيع .
- والواسطة : وهو الشفيع الذي يقوم بطلب الحاجة .
- المشفوع عنده (المستشفَع إليه) : وهو من يقوم بتلبية طلب الشفيع والمتوسط في قضاء حاجة المستشفع .

وطلب المستشفع الشفاعة والتوسط عند المشفوع له يسمّى "شفاعة" , وشفاعة الشفيع تكون بطلبه قضاء حاجة المستشفع من المشفوع عنده , والسبب في ذلك هو أنّ الوسيط والشفيع قد أعطي دعاؤه وطلبه الإجابة عند المستشفع إليه , لِمَا له من المكانة الرفيعة , فالأنبياء والأولياء مجابوا الدعاء والطلب , ولهم مكانة عند الله تعالى لم يبلغها غيرهم , ومن كان دعاؤه مستجاباً عند المستشفع إليه , فلا محذور في طلب الشفاعة والدعاء منه .

والشفاعة بهذا المعنى ثابتة بإجماع المسلمين غير شرذمة قليلة لا يعبأ بهم , ومن هذه الشفاعة قول النبي -صلى الله عليه وسلم-فيما رواه مسلم : (ما مِنْ رَجُل مُسْلِم يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلى جَنازَتِهِ أرْبَعُونَ رَجُلا لا يُشْرِكُونَ بِاللّهِ شَيْئاً إلاّ شَفَّعَهُمُ اللّهُ فيهِ) .
فلو طلب إنسان من إخوانه المخلصين أن يقوموا على جنازته ويشفعوا له لكان ممن أحسن لنفسه , فقوله -صلى الله عليه وسلم-: (شفَّعهم اللّه فيه) أي قبلت شفاعتهم فيه , فكان دعاؤهم له وتوسطهم فيه مقبولاً عند الله , فالرجل الذي طلب من إخوانه أن يشفعوا له بالدعاء له يسمّى مستشفعاً , وهؤلاء الأربعون هم الواسطة والشفعاء في مغفرة ذنوب هذا الشخص , والمشفوع عنده هو الذي يلبي طلبهم في قضاء حاجة المستشفع وغفران ذنوبه .

روى النسائي في السنن عن النبي -صلى الله عليه وسلم-أنه قال: ( اشفعوا تُشفَّعوا , ويقضي الله عزَّ وجل على لسان نبيه ما شاء ) .
فالنبي -صلى الله عليه وسلم-يحث الناس على أن يكونوا واسطة وشفعاء للمحتاج , وذلك بطلبهم منه قضاء حاجة ذلك المحتاج , فصاحب الحاجة هو المستشفع , والنبي -صلى الله عليه وسلم-هو المشفوع عنده , والمتوسط عند النبي -صلى الله عليه وسلم-في قضاء حاجة المحتاجة هو الشفيع .

وأما ما ورد من الآيات مما يدل ظاهره على انتفاء الشفاعة مطلقاً كقوله تعالى : (يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمّا رَزَقْناكُمْ مِنْ قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفاعَةٌ وَالْكافِرُونَ هُمُ الظّالِمُونَ) , فهذا محمول على انتفاء الشفاعة للكافرين , وهذا أمر يوافقنا فيه الوهابية .

ولا بد من توضيح أمر بالغ الأهمية , وهو أن اعتقاد الشفاعة في أحد لا يعتبر وحده شركاً , إلا إذا انضم إليه ما يكون موجباً للشرك كاعتقاد المستشفع في الشفيع شيئاً من خصائص الربوبية والألوهية , أو صرف العبادة له , فالوهابية ينسبون المسلمين المعتقدين الشفاعة في الأولياء إلى الشرك بحجة أنّهم اتخذوا وسائط إلى الله تعالى , وتوسيط أحد الخلائق بينك وبين الله تعالى يعتبر شركاً , مع أنّ هذا المعنى ثابت بالنصوص الصحيحة الصريحة , وإذا قلت لهم إنكم بهذا تنكرون الشفاعة , قالوا : نحن لا ننكر الشفاعة لكننا ننكر طلبها من الشفيع , لأن الشفاعة لله جميعاً , فاطلبها من الله تعالى لا من الشفيع!!

مع أن الله تعالى قال لنبيه -صلى الله عليه وسلم-: (وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَ لِلْمُؤمِنينَ وَ الْمُؤْمِناتِ) , فلو طلب المؤمن الشفاعةَ والدعاءَ بالمغفرة من النبي -صلى الله عليه وسلم-, لكان دعاء النبي -صلى الله عليه وسلم-له أنفع من دعائه لنفسه , لقرب النبي من الله تعالى وقبول دعائه واستجابته , فلا يعدّ توسيط النبي -صلى الله عليه وسلم-ودعاؤه لهذا المؤمن وشفاعته فيه شركاً!! إذ لو كان كذلك لكان القرآن آمراً بالشرك! تعالى الله عن ذلك .

فقال تعالى : ((وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُواْ أَنفُسَهُمْ جَآؤُوكَ فَاسْتَغْفَرُواْ اللّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُواْ اللّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا )) النساء: 64 .

فلو جاء مؤمن موحد وطلب من النبي -صلى الله عليه وسلم-أن يستغفر له وجعله واسطة بينه وبين الله تعالى في دعائه له , فلا يقال له: أليس الله سميعاً بدعائك لنفسك؟! أليس الله بصيراً لك؟! أليس الله رحيماً غفوراً لذنوب عباده؟ أليس من الأولى أن تتوجه بالدعاء لنفسك بدلاً من أن تجعل النبي -صلى الله عليه وسلم-واسطة بينك وبين الله تعالى في دعائه لك؟!
لا يقال هذا ولا يصدر إلا من جاهل , لأن دعاء النبي -صلى الله عليه وسلم-له ليس كدعائه لنفسه , فقد حث الشرع المسلمين أن يطلبوا الدعاء من النبي -صلى الله عليه وسلم-, وطلبُ الدعاء هذا من النبي -صلى الله عليه وسلم-هو طلب الشفاعة منه , بأن يكون شفيعاً لهم عند الله تعالى .

***


صحابي يطلب من النبي –صلى الله عليه وسلم– أن يشفع له يوم القيامة!! :

وقد روى الترمذي وأحمد عن أنس –رضي الله عنه- قال :
(سَأَلْتُ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَشْفَعَ لِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، فَقَالَ : أَنَا فَاعِلٌ ..) .
وقد صحح هذا الحديث محدث الوهابية الألباني في صحيح الترغيب والترهيب وغيره

فلم يقل له النبي – صلى الله عليه وسلم -: لماذا تطلب منّي ولا تطلب من الله تعالى وقد قال تعالى : ((وإذا سألك عبادي عنّي فإني قريب))؟! .
ولم يقل له : لقد أشركت كما أشرك الجاهليون , حينما طلبوا من أصنامهم الشفاعة , فقد قال الله تعالى عنهم : ((وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ)) , وقال أيضاً عنهم : ((ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى)) , فكيف أنت تطلب مني الشفاعة والتقريب! , وتجعلني واسطة بينك وبين الله تعالى؟!!
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: لا أحَدَ يَشْفَعُ لأحَدٍ , إلا مِن بَعْدِ أنْ يَأْذَنَ الرَّحْمنُ لِمَنْ يَشاءُ ويَرْضى , فاطلب من الله تعالى أن يشفّعني فيك , ولا تطلب منّي ذلك .
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: أيها المشرك!! , لقد طلبت منّي أمراً لا يقدر عليه إلا الله تعالى , فلا أملك المغفرة والشفاعة , ألم تسمع قول الله تعالى : ((قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا((؟! فكيف تطلبها منّي؟
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: أما سمعت قول الله تعالى : ((أفأنت تنقذ من في النار))؟! فكيف تطلب منّي أن أكون شفيعاً؟
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: أما سمعتني أقول : ((يا فاطمة : أنقذي نفسك من النار))؟ فكيف لي أن أنقذك وأشفع لك؟!
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: أما قرأت قول الله تعالى عن صاحب يس : ((إن يردْن الرحمن بضر لا تغنِ عني شفاعتهم شيئاً ولا ينقذون))؟ فكيف تريدني أن أدفع عنك الضر بشفاعتي؟!! أما فهمت أنّ الآية نصٌ في أن من أراده الله بضر فلا شفيع له؟!
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: لقد خرجت من الإسلام ودخلت في الشرك , لأن الله تعالى يقول : ((يوم لا تملك نفس لنفس شيئاً)) , وأنت جعلتني أملك شيئاً بشفاعتي لك!!
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: يا هذا! أما علمت أنّ الدنيا والآخرة لله تعالى!! فقد قال تعالى : ((وإن لنا للآخرة والأولى)) , فكان الواجب عليك أن تطلب الشفاعة من الله تعالى لا منّي!! .
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: أما دريت أنك أشركت لأن الله تعالى يقول لي : ((ليس لك من الأمر شيء))!! فكيف تجعل لي الوساطة بينك وبين الله تعالى؟!!
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: أيها الرجل! يوم القيمة لا يشفع أحد فيه لأحد , فقد قال تعالى : ((أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ)) , فكيف توسطني لأشفع لك؟!
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: إن الله تعالى نفى الشفاعة لغيره , فاطلبها منه ولا تطلبها منّي فتكون مشركاً , فقد قال تعالى : ((وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ)) .
ولم يقل له النبي -صلى الله عليه وسلم-: ألم تسمعني أقول لأهل بيتي : ((لا أغني عنكم من الله شيئاً))؟ فكيف تريديني أن أغني عنك من الله شيئاً؟!

لم يقل له النبي - صلى الله عليه وسلم - شيئاً من ذلك , ولا يقول ذلك إلا الخوارج أصحاب النحلة الوهابية , لكن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال له : ((أنا فاعل))!! لأن الشفيع ليش شريكاً لله في المغفرة , بل هو شريك للمستشفع في طلب المغفرة من الغفور الرحيم .

فإن قال قائل : إن هذا الطلب للشفاعة في حال حياته ، وهو جائز .
قلت : لا ، بل طلب منه ما ليس في حياته ، وهو الشفاعة يوم القيامة ، وما جاز أن يُطلب منه في الحياة ، جاز أن يُطلب بعد الممات ، ومن ينفي فعليه الدليل , ولم يأتوا إلى الآن بدليل مستقيم .
بل قولهم (إن الطلب نفسه عبادة) ، يقتضي أن لا فرق بين الحياة والممات، لأن العبادة ممنوعة في الحالتين !!
وسيأتي تصريح ابن عبد الوهاب أنّ شرك المشركين كان بإرادتهم الشفاعة وطلبها من الأصنام .

ولمّا قال إخوة يوسف لأبيهم : ((يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ)) يوسف: 97.
لم يقل لهم سيدنا يعقوب : لقد أشركتم بجعلكم إياي واسطة بينكم وبين ربكم , فاطلبوا من الله مباشرة دون أن توسطونني وتطلبوا شفاعتي لكم عند الله تعالى , فإن الله تعالى أرحم بكم منّي وهو قريب منكم مجيبٌ دعاءَ من دعاه.
لكنّه قال لهم : ((سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّيَ)) يوسف: 98.

إلا أنّ الوهابية يرون أن مجرد تشفيع أحد وتوسيطه بينك وبين الله تعالى يعتبر شركاً , لأن مشركي العرب لم يعتقدوا في أصنامهم شيئاً من صفات الربوبية , لكنّهم اتخذوا أصنامهم وسائط وشفعاء ولذلك أشركوا , فقد قال محمد بن عبد الوهاب في كشف الشبهات :
(وأما الجواب المفصل.. فإن أعداء الله لهم اعتراضات كثيرة على دين الرسل يصدون بها الناس عنه ، منها قولهم : نحن لا نشرك بالله ، بل نشهد أنه لا يخلق ولا يرزق ، ولا ينفع ، ولا يضر إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدا - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لا يملك لنفسه نفعا ولا ضرا فضلا عن عبد القادر أو غيره.
ولكن أنا مذنب ، والصالحون لهم جاه عند الله ، وأطلب من الله بهم ، فجاوبه بما تقدم وهو: أن الذين قاتلهم رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مقرّون بما ذكرت ، ومقرون بأن أوثانهم لا تدبر شيئا ، وإنما أرادوا الجاه والشفاعة!) .

فهذا النص يبيّن أنّ إرادة الشفاعة هي موجب شرك المشركين عند الوهابية , لكن المشركين عندما اتخذوا أصنامهم شفعاء لهم , لم يكن مجرد اتخاذ الشفيع هو ما أُدخلهم في الشرك , حتى يقال أن من أراد الشفاعة من الأنبياء والأولياء يعتبر مشركاً , إذ لو كان الأمر كذلك لما ثبتت شفاعة للأنبياء والأولياء والملائكة , ولانتفت الشفاعة من أصلها , لكنّ شرك المشركين كان فيما صاحب الشفاعة من أمور أهمها :

أولاً : أنّ المشركين اعتقدوا الشفاعة في أصنامهم لكونها شريكة لله في استحقاق المعبودية , فكانوا يرون أنّ تلك الأصنام حقيقة بالعبادة كالله تعالى .

إلا أن من اتخذ شفيعاً من الأنبياء والأولياء ممن أذن الله له بالشفاعة لا يرون فيهم استحقاقاً للعبادة , فشتان بين الشفاعة المردودة وبين الشفاعة المقبولة الثابتة .

ثانياً : أنّ المشركين قد صرفوا العبادة لهذه الأصنام حتى تتفضّل عليهم بالشفاعة لهم , فقاموا بعبادتها ليرضوها فتشفع لهم وتهبهم شفاعتها , فكان شركهم في عبادة الأصنام -بالسجود لها والإهلال بها والذبح تقرباً منها..الخ- من أجل الفوز بشفاعتها لا في طلب شفاعتها , فقد قال تعالى : ((وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ)) , فقد بيّنت الآية الكريمة أنّهم عبدوا الأصنام وأشركوا بالله تعالى من أجل نيل شفاعتها , لا أنّ نفس اتخاذها شفعاء هو العبادة والشرك .
وكذلك قوله تعالى : ((ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى)) فيه بيان للعلة الغائية من عبادتهم وشركهم هذه الأصنام وهو الحصول على شفاعتها , فعبدوها لينالوا شفاعتها , لا أن طلبهم شفاعتها هو العبادة لها , فيعبدون هذه الأصنام لتتكرم عليهم بالشفاعة .

أمّا من يطلب الشفاعة من النبي -صلى الله عليه وسلم-فلا يعبده لينال شفاعته , وليس في طلبه الشفاعة من النبي -صلى الله عليه وسلم-شيء من العبادة له .

ثالثاً : ثم إنّ المشركين اتخذوا هذه الأصنام شفعاء دون أن يأذن الله لها , فنسبوا الشفاعة لموجودات لم يأذن الله تعالى لها بالشفاعة , فكيف يجعل المشركون الشفاعة لآلهتهم دون إذن من الله تعالى؟ فقد قال تعالى : ((أَمِ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ شُفَعَاء قُلْ أَوَلَوْ كَانُوا لَا يَمْلِكُونَ شَيْئًا وَلَا يَعْقِلُونَ * قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَّهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ )) الزمر: 43 – 44.
فالشفاعة لا تكون إلا من الله تعالى , وهو سبحانه لم يعطها لمعبوداتهم , فكيف افتروا وقالوا بأن أصنامهم شافعة دون أن يأذن الله لها؟!
أّما الذين يطلبون الشفاعة من النبي -ص- فبناء على الأدلة التي تثبت شفاعته .

رابعاً : إن المشركين اعتقدوا أن شفاعة الأصنام واجبة على الله تعالى لا يستطيع ردّها , بحكم شراكة تلك الأصنام لله تعالى في التدبير , وقد أثبتت ذلك في الباب الأول .

والمسلمون لا يعتقدون أن للأنبياء شفاعدة نافذة واجبة على الله تعالى , بل يرون أنها بإذن من الله تعالى لهم .

ثم إن قياس المؤمنين على المشركين في إرادتهم الشفاعة قياس باطل , نعم.. المؤمنون يريدون شفاعة النبي -صلى الله عليه وسلم-, والمشركون يريدون شفاعة الأصنام , لكنّ استواء الفعلين في السبب الحامل على الفعل لا يوجب استواءهما في الحكم , ويدل على هذه القاعدة دلالة قطعية , أنه لو كان الحامل يوجب الاستواء في الحكم للزم إبطال الشريعة وتساوي الأعمال في الأحكام , وذلك لأن الشريعة جاءت لإخراج العبد عن دائرة هواه حتى يكون بالاختيار عبداً لله , فالمعنى الذي يراعيه المكلف ويحمله على الفعل بالإقدام إن كان مصلحة , وبالإحجام إن كان مفسدة , وإن راعته الشريعة تفضلاً من الله , إلا أنها لم تسترسله مع أغراضه وأهوائه , فلم تبح له سلوك كل طريق يوصله إليها , بل أخذت بلجامه إلى الطرق التي عينتها له , ليتبين بذلك كونه عبداً لا يقدر على شيء , حتى إذا أخذ حظّه من العمل أخذه من تحت يد الشريعة , فالأكل مثلاً يحمل عليه دفع ألم الجوع وسد الرمق , وهو يحصل بكل ما يؤكل من طاهر ونجس حلال أوحرام , وقد عيّنت الشريعة طريقه بالاختيار الحلال الطيب الطاهر , ومثله الشرب الذي يحمل عليه دفع ألم العطش خصته أيضاً بالحلال الطيب , فالآكل والشارب من الحلال الطيب لدفع ألم الجوع والعطش مساو للآكل والشارب من الحرام النجس لدفع ألم الجوع والعطش , فلو كان الاستواء في الحامل موجباً الاستواء في الحكم لما اختلف الحكم للغرض المذكور , فكان الأول آتياً بواجب أو مباح والثاني آتياً بحرام , ولكان الواجب استواءهما في الحلية والحرمة .
وكذلك المتزوج والزاني ومالك اليمين , يحملهم دفع دغدغة المني على الوطء , فلو كان الاشتراك في الحامل مفضٍ إلى الاشتراك في الحكم لزم استواؤهم في الحل والحرمة .
وكذلك العابد والمبتدع مشتركان في الحامل , وهو قصد التقرب مع اختلافهما في الحكم .

فالحكم بالشرك على المؤمنين لمّا أرادوا الجاه والشفاعة , كالحكم بالشرك على المشركين لماّ "أرادوا الجاه والشفاعة" , قياس باطل يفضي إلى تساوي جميع الأعمال المشتركة في الحامل , وبالتالي إلى إبطال الشريعة.

فإن قال وهابي : نحن لا نكفّرهم لمجرد اعتقاد الشفاعة والتوسط في الأنبياء والعلماء , وإنما لأنهم طلبوا منهم الشفاعة , وهذا الطلب هو عبادة لهم فبذلك أشركوا .
قلت : يظهر من كلماتكم تكفير من يتخذ الوسيط والشفيع مطلقاً , وهذا واضح من كلام ابن عبد الوهاب السابق حيث قال : ( ولكن أنا مذنب والصالحون لهم جاه عند الله ، وأطلب من الله بهم ، فجاوبه بما تقدم وهو: أن الذين قاتلهم رسول الله - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مقرون بما ذكرت، ومقرون بأن أوثانهم لا تدبر شيئا، وإنما أرادوا الجاه والشفاعة ) .

وهذا لا ينفي أنّكم تكفرون من طلب الشفاعة من الشفيع بحجّة أنّ ذلك عبادة , فقد قال ابن عبد الوهاب في كشف الشبهات :
( فإذا كانت الشفاعة كلها لله , ولا تكون إلا من بعد إذنه ، ولا يشفع النبي -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- ولا غيره في أحد حتى يأذن الله فيه ، ولا يأذن إلا لأهل التوحيد ، تبين لك أن الشفاعة كلها لله فاطلبها منه ، فأقول : اللهم لا تحرمني شفاعته، اللهم شفعه في ، وأمثال هذا.
فإن قال: النبي - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أعطي الشفاعة وأنا أطلبه مما أعطاه الله؟
فالجواب: أن الله أعطاه الشفاعة ، ونهاك عن هذا فقال : { فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا } [ سورة الجن، الآية:18] فإذا كنت تدعو الله أن يشفع نبيه فيك ، فأطعه في قوله: {فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا} ) .

فهرب من حكمه بالشرك على اعتقاد التشفع والتوسط , إلى الحكم بالشرك على طلب الشفاعة , لأنّ الشفاعة من العقائد المتفق عليها بين المسلمين !! فكيف يكون اعتقاد الشفاعة والوساطة شركاً؟!

لكنّه في النص السابق , يرى أنّ مجرد طلب الشفاعة من الشفيع عبادةٌ وشرك , ويستشهد بقوله تعالى : {فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا}!!

فالوهابية يرون أن الواجب هو طلب الشفاعة من الله تعالى , وأما طلبها من غيره سبحانه فهي الشرك بعينه , فجاء في "التبيان شرح نواقض الإسلام" ص24 :
( والمشركون في قديم الدهر وحديثه , إنما وقعوا في الشرك الأكبر لتعلقهم بأذيال الشفاعة؛ كما ذكر الله ذلك في كتابه , والشفاعة التي يظنها المشركون أنها لهم هي منتفية يوم القيامة , كما نفاها القرآن وأبطلها في عدّة مواضع :
قال تعالى : ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ)) – البقرة:(254) .
وقال تعالى : ((وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ))- الأنعام:(51).
فهذه الشفاعة المنفية هي التي تطلب من غير الله , لأن الله –جل شأنه وعز سلطانه- أثبت الشفاعة في كتابه في عدة مواضع :
كما قال تعالى : ((مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ))-البقرة:(255)
وقال تعالى : ((وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى ))-الأنبياء:(28)
وقال تعالى : ((قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ))-الزمر:(44)
وقال تعالى : ((وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى))-النجم:(26).
فعلى هذا؛ فالشفاعة شفاعتان :
أ‌- شفاعة منفية : وهي التي تطلب من غير الله .
ب‌- شفاعة مثبتة : وهي التي تطلب من الله) .

فهم يرون أن طلب الشفاعة من غير الله تعالى شرك , وهذه الشفاعة منفية , وجاء مثل ذلك في " إعانة المستفيد بشرح كتاب التوحيد" لصالح الفوزان فقال (1/ 238) :
( والشفاعة في كتاب الله جاءت على قسمين: قسم منفي. وقسم مثبت.
فالقسم المنفي: هو الشفاعة التي تطلب من غير الله.
هذه الشفاعة منفية، لأن الشفاعة ملك لله، لا تطلب إلاّ منه ...
والشفاعة المثبتة: هي التي توفر فيها الشرطان:
الشرط الأول: أن تُطلب من الله.
الشرط الثاني: أن تكون فيمن تقبل فيه الشفاعة، وهو المؤمن الموحِّد الذي عنده شيء من المعاصي دون الشرك، فهذا تُقبل فيه الشفاعة بإذن الله) .

فهو يقررّ أن الشفاعة التي تطلب من غير الله تعالى منفية , وذلك لأن الشفاعة ملك لله فلا تطلب إلاّ منه!! , لكنّه نقض هذه القاعدة في الصفحة التي تليها حيث قال :
( الشفاعة العظمى، وهي المقام المحمود، وهي التي تكون من الرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأهل الموقف، إذا طال الوقوف على أهل الموقف التمسوا من يشفع لهم إلى الله في القضاء بينهم، وإراحتهم من الموقف، فيأتون إلى آدم عليه السلام ثمّ إلى الأنبياء نبيًّا نبيًّا كلهم يعتذرون، حتى ينتهوا إلى محمَّد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فيقول: "أنا لها، أنا لها"..)

فقد اعترف بأن أهل الموقف يلتمسون من يشفع لهم إلى الله تعالى!! ويطلبون الشفاعة من الأنبياء نبياً نبياً! فهل أصبح أهل الموقف مشركين بذلك؟! حيث طلبوا الشفاعة -وهي: "ملك لله، لا تطلب إلاّ منه" كما قال الفوزان- من غير الله تعالى!
وهل أشرك سيدنا أنس -كما مر- عندما طلب من النبي - صلى الله عليه وسلم - أن يشفع له يوم القيامة؟!
وهل أقرّه النبي - صلى الله عليه وسلم - على الشرك عندما قال له : (أنا فاعل) .

فقولهم بأن طلب الشفاعة من غير الله تعالى شرك قول باطل , لأن الشفاعة في مقدور الشفيع لا خارجة عن قدرته , فقد بينّا معنى الشفاعة وأنّها طلب الشفيع من المشفوع عنده أن يقضي حاجة المستشفع , وهذا الدعاء هو مقدور للشفيع , ومعلوم أن النبي - صلى الله عليه وسلم - في المعاد حي كحاله في الدنيا ، هو وجميع البشر ، فلا مانع في ذلك اليوم أن يتسبّب ويُخرج و ينقذ من الشدة ، لأنه حي حاضر , وحينئذ يكون اعتراض الوهابية على البوصيري في بردته مردودٌ حتى على أصولهم .

فحُكْمُ الوهابية بالشرك على من طلب الشفاعة من الشفيع –وهي أمر مقدور له- يتناقض مع ما قرروه من أنّ الشرك يكون في طلب ما لا يقدر عليه إلا الله تعالى!! .

وقد بيّن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنّ المؤمنين يوم القيامة يطلبون من يتوسط لهم عند الله تعالى , فقال :
(يُحْبَسُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُهِمُّوا بِذَلِكَ , فَيَقُولُونَ: لَوْ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا فَيُرِيحُنَا مِنْ مَكَانِنَا , فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ: أَنْتَ آدَمُ أَبُو النَّاسِ خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَأَسْكَنَكَ جَنَّتَهُ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلَائِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَيْءٍ , لِتَشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا..) .

ثم يأتون سيدنا نوحاً فسيدنا إبراهيم فسيدنا موسى فسيدنا عيسى , ثم يأتون سيدنا محمداً -صلى الله عليه وسلم-فيشفع لهم , فيقول : (فَإِذَا رَأَيْتُهُ –أي الله تعالى- وَقَعْتُ سَاجِدًا فَيَدَعُنِي مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَدَعَنِي , ثُمَّ يَقُولُ ارْفَعْ مُحَمَّدُ , وَقُلْ يُسْمَعْ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ وَسَلْ تُعْطَ , قَالَ فَأَرْفَعُ رأْسِي فَأُثْنِي عَلَى رَبِّي بِثَنَاءٍ وَتَحْمِيدٍ يُعَلِّمُنِيهِ , قَالَ ثُمَّ أَشْفَعُ , فَيَحُدُّ لِي حَدًّا فَأَخْرُجُ فَأُدْخِلُهُمْ الْجَنَّة) . متفق عليه .

ففي هذا الحديث أراد المؤمنون أن يستشفعوا إلى ربهم تبارك وتعالى , فيجعلوا أحد الأنبياء وسيطاً وشفيعاً لهم إلى الله تعالى ليرتاحوا من مكانهم , فطلبوا الشفاعة من سيدنا آدم ثم من سيدنا نوح فسيدنا إبراهيم فسيدنا موسى فسيدنا عيسى –عليهم السلام- , ولم يقل لهم أحد الأنبياء لقد أشركتم بطلبكم الشفاعة منّا , بل كل واحد من الأنبياء وجّههم لطلب الشفاعة من غيره ممن هو أقرب عند الله تعالى , ثم طلبوا الشفاعة من سيّد الأولين والآخرين -صلى الله عليه وسلم-, فلم يقل لهم : أيها المشركون.. إن الله تعالى أعطاني الشفاعة ونهاكم عن هذا فقال : { فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا }!!! , كما قال ابن عبد الوهاب!!

ولم يقل النبي - صلى الله عليه وسلم -: لقد أشركتم بدعائكم إياي أن أشفع لكم , وجعلكم إياي واسطة بينكم وبين ربكم , وطلبُكم هذا مني مستلزم لحركة قلوبكم نحوي بالحب والخوف والرجاء , فقد عبدتموني من دون الله , فكان حالكم كحال المشركين الأولين , الذين قالوا : ((ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى)) , والذين قال الله تعالى فيهم : ((وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ)) , فدعاؤكم وطلبكم مني أن أشفع لكم , عبادةٌ لي من أجل أن تنالوا شفاعتي , فوقعتم بما وقع فيه أهل الجاهلية الأولى!! .

ولم يقل النبي - صلى الله عليه وسلم -: لماذا تجعلونني كالحاجب الذي يكون بين الملك وبين رعيته , فأرفع إلى الله حوائجكم , فأنتم تسألونني وأنا أسأل الله!! , كما أنّ الوسائط عند الملوك يسألون الملوك حوائج الناس لقربهم منهم , معتقدين أن طلب الناس من الوسائط أنفع لهم من طلبهم من الملك , لكونهم أقرب إلى الملك من الطالب , فقد أشركتم بجعلكم إياي شفيعاً ووسيطاً , ألم تقرؤوا قول الله تعالى : ((فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا)) , ألم تقرؤوا قول الله تعالى : ((وإذا سألك عبادي عنّي فإني قريب)) ؟!

ولم يقل النبي - صلى الله عليه وسلم -: إن دعاءكم إياي أن أشفع لكم شرك وعبادة لي , فإن الله تعالى سميع بصير لكم , وهو أرحم بكم منّي , وهو اللطيف بعباده , فاطلبوا منه مباشرة دون أن تدعوني لأشفع لكم وأسأل لكم الراحة من هول الموقف , وربكم تعالى هو أرحم الراحمين وأجود من سئل وأرحم من أعطى , وهو أقرب إليكم من حبل الوريد , فاطلبوا منه مباشرة ولا تجعلونني واسطة أطلب لكم! .

ولم يقل النبي - صلى الله عليه وسلم -: ليس بمقدوري أن أريحكم من مكانكم ومن هول الموقف أو أن أدخل أحداً الجنّة , بل هو بأمر الله تعالى فاسألوه وحده ولا تسألوني , فاستغاثتكم بي لأكون شفيعاً ووسيطاً لكم شرك , فأنتم قد اعتقدتم في نبيّكم ملكية الوجود والتصرف مع الله تعالى , فلم تجردوا قلوبكم عن الوسائط والشفعاء , ولم تفردوا ربكم بالطلب والدعاء , بل طلبتم من نبيّكم ودعوتموه أن يسأل لكم ربّكم , بدلاً من أن تجردوا قلوبكم لربكم وتفردوه بالطلب والدعاء , فيجب عليكم أن تحققوا التفريد والتجريد وإلا كنتم كعبّاد الأصنام!! .

ولم يقل النبي - صلى الله عليه وسلم -: إن دعاءكم إياي أن أشفع لكم وأريحكم من مكانكم لن ينفع , ولا ينفع الإنسان إلا ما عمل هو , ومنزلة الأنبياء لهم وليست لكم , ثم إن الدعاء والاستغاثة عبادة , فأنتم قد صرفتم العبادة لي من دون الله!!! .

ولم يقل النبي - صلى الله عليه وسلم -: أيها المشركون.. لولا ما قام بقلوبكم في نبيّكم من اعتقاد جلب النفع ودفع الضرّ لما انجذبت قلوبكم ومالت إلى ما سوى ربّكم وجعلتموه وسيطاً لكم وشفيعاً , ولولا أنّ قلوبكم تألهني وتميل إليّ لما دعوتموني واستغثتم بي لأشفع لكم , ولولا حبّكم إياي واعتقادكم أنّي أقضي حاجاتكم وخوفكم أن لا تحصلوا عليها ورجائكم إياي , لما تركتم التوجه إلى خالقكم مباشرة وجعلتموني واسطة لكم!! .

لم يقل لهم النبي - صلى الله عليه وسلم - شيئاً من ذلك , بل لبّى طلبهم ودعاءهم إياه أن يشفع لهم , ثم سأل الله تعالى حاجة أولائك المؤمنين وأراحهم من مكانهم .

فإن قال وهابي : إن هؤلاء المؤمنين طلبوا من النبي - صلى الله عليه وسلم - الشفاعة في الآخرة وليس في الدنيا , فطلب الشفاعة في الآخرة ليس شركاً بخلاف طلبها في الدنيا .

قلت : إن كلام ابن عبد الوهاب يدلّ على أنّ طلب الشفاعة من الشفيع شرك مطلقاً , لأن الشفاعة كلها لله , ولا تكون إلا من بعد إذنه ، ولا يشفع النبي - صلى الله عليه وسلم - ولا غيره في أحد لا في الدنيا ولا في الآخرة حتى يأذن الله فيه , ويرى أنّ الواجب هو أن تطلب الشفاعة من الله تعالى وليس من الشفيع , وما كان شركاً في الدنيا فهو شرك في الآخرة , وما لم يكن شركاً في الدنيا فليس بشرك في الآخرة .

مع أن النبي - صلى الله عليه وسلم- حي في قبره يصلي , وتعرض عليه أعمال أمته , وقد ثبت أن أحد الصحابة طلب الشفاعة من النبي -صلى الله عليه وسلم-في الدنيا , فقد روى الترمذي عن أنس –- قال : (سألت النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يشفع لي يوم القيامة , فقال : " أنا فاعل "..) .
فقد طلب شفاعة النبي - صلى الله عليه وسلم - وهو في الدنيا لا في الآخرة , وهذه الشفاعة رحمة من الله تعالى وكرامة للشفيع , وليس جهلاً ولا عجزاً منه تبارك وتعالى .

فإن قال الوهابي : إنّ طلب هذا الصحابي من النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يشفع له إنما كان في حياة النبي -صلى الله عليه وسلم- , فكيف تطلبون الشفاعة من النبي -صلى الله عليه وسلم- بعد انتقاله إلى الآخرة؟! فإن الشرك هو أن تطلب الشفاعة من النبي -صلى الله عليه وسلم- بعد وفاته , فإن المصحح لطلب الشفاعة منهم في الدنيا هو إدراكهم طلب المستشفع , وقدرتهم على التشفع والدعاء له , أما الميت فلا إدراك له ولا قدرة على الطلب , فيكون طلب الشفاعة منهم بعد وفاتهم شركاً بالله تعالى .

قلت: يدل كلام إمامكم النجدي أن مجرد طلب الشفاعة من الشفيع يعتبر شركاً كما سبق , وطلب الشفاعة من الميّت لو كان معناه عبادته ، لكان الطلب من الشفيع الحي عبادة له أيضاً.
ثمّ إنّ انتقال الأنبياء والأولياء إلى الدار الآخرة لا يعني أنّهم لا يدركون ولا يستطيعون الدعاء , وسيتبين فيما يلي إدراك الأموات وسماعهم خطاب الأحياء , وقدرتهم على القيام ببعض الأعمال الصالحة , ليتضح أنّه لا وجه للتفريق بين طلب الشفاعة من الشفيع حال حياته أو بعد وفاته , ولو سلمنا أنهم جمادات لا يسمعون ولا يدركون لما كان الطلب منهم شركاً كما سبق بيانه .

وقد ورد في حديث صحيح أنّ أحد الصحابة طلب من النبي -صلى الله عليه وسلم- أن يدعو لهم بالسقيا , فقال الإمام الحافظ ابن حجر العسقلاني في فتح الباري (2/495) :
( وَرَوَى اِبْن أَبِي شَيْبَة بِإِسْنَادٍ صَحِيح مِنْ رِوَايَة أَبِي صَالِح السَّمَّانِ عَنْ مَالِك الدَّارِيّ - وَكَانَ خَازِن عُمَر - قَالَ "أَصَابَ النَّاس قَحْط فِي زَمَن عُمَر فَجَاءَ رَجُل إِلَى قَبْر النَّبِيّ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فَقَالَ : يَا رَسُول اللَّه اِسْتَسْقِ لِأُمَّتِك فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا ، فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَام فَقِيلَ لَهُ : اِئْتِ عُمَر " الْحَدِيث . وَقَدْ رَوَى سَيْف فِي الْفُتُوح أَنَّ الَّذِي رَأَى الْمَنَام الْمَذْكُور هُوَ بِلَال بْن الْحَارِث الْمُزَنِيُّ أَحَد الصَّحَابَة ) .

ولا تغتر بما طنطن به بعض الوهابية ودندن حول هذا الحديث , فليس بعد مقال المتقدمين مقال , فقد تعدّى بعض المتعالمين في هذا العصر على أحاديث النبي -صلى الله عليه وسلم- , وخالفوا أحكام الأئمة المتقدمين والفحول السالفين , متوهمين أنهم بلغوا رتبة لم يبلغها غيرهم , وأنهم فاقوا الأئمة الحفاظ وأتوا بما لم تستطعه الأوائل , فإلى الله المشتكى .

وقد أورد هذا الحيث مجموعة من الأئمة دون أن ينبهوا على أنّ فعل ذلك الرجل شرك , وكيف لهم أن يوردوا في مصنفاتهم شركاً ثم يسكتوا عليه؟


***

المطلب السادس : بعض الأدلة الشرعية في أن الاستغاثة وطلب الشفاعة من النبي -صلى الله عليه وسلم- ليست شركًا:

1- قال تعالى : { لا يملكون الشفاعة إلا من اتخذ عند الرحمن عهداً } " مريم 87" .
قال المفسرون : العهد هو قول : لا إله إلا الله محمد رسول الله .
وقيل معناه : لا يشفع الشافعون إلا لمن اتخذ عند – أي – مع الرحمن عهدا ، يعني المؤمنين أهل لا إله إلا الله .
وقيل : ملّك الله المؤمنين الشفاعة ، فلا يشفع إلا من شهد لا إله إلا الله . أي لا يشفع إلا مؤمن .
وعلى كل حال ، فقد أخبر الله تعالى أنه ملّك المؤمنين الشفاعة ، فطلبُها ممّن يملكها -بتمليك الله- لا مانع منه ، كمن طلب المال وغيره ممن ملّكه الله له .
و مراد المنادي له والمتوسل به -صلى الله عليه وسلم-، إنما هو الشفاعة ، وشفاعته صلى الله عليه و على آله وسلم هي الدعاء [للمتوسّل]، وهو حاصل له ولسائر الموتى من المؤمنين ، كما ورد في الأحاديث الصحيحة .

والدعاء من الحي والميت هو شفاعةٌ ، كما ورد في صلاة الجنازة أن الداعي يقول : (وقد جئناك راغبين إليك شفعاء له بين يديك) . واستغفارهم شفاعة و دعاء ، كما هو ظاهر .

وأما الأحاديث الصحيحة في طلب الصحابة الكرام منه صلى الله عليه و على آله وسلم ولم ينكرها عليهم ، فكثيرة شهيرة ولم يقل لهم : حتى يأذن الله لي ، وأنتم طلبتم مني قبل الإذن فقد أشركتم !!.

فدلّ على أن ذلك جائز مطلقاً في حال حياته وموته -صلى الله عليه وسلم-، لأنه -صلى الله عليه وسلم-بعد موته حيّ في قبره بالاتفاق , وسيأتي مزيد بيان لذلك عند الكلام على سماع الأموات .

قال ابن رجب الحنبلي : {وقد صحّ عرْضُ الأعمال كلها على رسول الله صلى الله عليه و على آله وسلم لأنه لهم بمنزلة الوالد ، خرّج البزار في " مسنده " ، قال رسول الله صلى الله عليه و على آله وسلم : " حياتي خير لكم تُحدثون ويحدث لكم ، و وفاتي خير لكم ، تُعرض عليّ أعمالكم ، فما رأيت من خير حمدت الله عليه ، وما رأيت من شر استغفرتُ الله لكم "} .

وهذا الحديث خرّجه البزار في مسنده و حسّنه الحافظ العراقي في "طرح التثريب" وصحّحه الحافظ الهيثمي في "مجمع الزوائد" و الإمام القسطلاني في "إرشاد الساري شرح صحيح البخاري"، و كذلك صحّحه الحافظ السيوطي في "الخصائص" والإمام مُلاّ علي قاري و الشهاب الخفاجي في شرحيهما على "الشفا" ، و غيرهم من الحفاظ , فمن ثبت عنده الحديث ساغ أن يستدل به بلا ريب .

والأحاديث في حياة الأنبياء عامة، و حياة نبينا صلى الله عليه و سلم في قبره خاصة، كثيرة و هي صحيحة كما صرّح به الأئمة الحفاظ: كالبيهقي و ابن حجر العسقلاني ( انظر شرح الحديث 3185 في "فتح الباري") والسيوطي و غيرهم .

وقال الشيخ العلامة المحدّث السيد عبد الله بن الصدّيق الغمّاري في "الرد المحكم المتين":
{ وأنا أذكر هنا خلاصة وجيزة جامعة كتبها شقيقنا الحافظ المجتهد السيد أحمد محمد الصدّيق الغمّاري، قال حفظه الله: الأنبياء أحياء في قبورهم، وأجسادهم لا تبلى، الإجماع منعقد على هذا كما حكاه غير واحد منهم ابن حزم والسخاوي في "المقاصد الحسنة" وغيرهما، للنصوص الصحيحة الصريحة والدلائل الكثيرة القاطعة، فمن أفتى بفناء أجسادهم فقد خرق الإجماع، وكذّب بما صح عن الله ورسوله. فقد ذكر الله تعالى في غير آية أن الشهداء أحياء في قبورهم، وأجمع المسلمون على أن الأنبياء أرفع درجة من الشهداء. وصحّ عن النبي -بطريق التواتر- أن الأنبياء أحياء في قبورهم وأن أجسادهم لا تبلى، و نصّ على التواتر: الكتاني والسيوطي في "إتحاف الأذكياء بحياة الأنبياء". وقد نصّ الإمام القرطبي على أن الموت ليس بعدم محض وإنما هو انتقال من حال إلى حال، فموت الأنبياء إنما هو راجع إلى أنهم غُيّبوا عنا بحيث لا ندركهم وإن كانوا موجودين أحياء *، وذلك كالحال في الملائكة فإنهم أحياء موجودون ولا نراهم. ويحقق ما ذكره هؤلاء الأئمة من تواتر الأحاديث الدالة على حياة الأنبياء، أن حديث عرض الأعمال عليه صلى الله عليه وآله وسلم واستغفاره لأمته وَرَد من عشرين طريقاً، وحديث "إن الله حرّم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء" ورد من طرق كثيرة جمعها الحافظ المنذري في جزء مخصوص ذكره في اختصاره لسنن أبي داود، وحديث الإسراء وإخباره صلى الله عليه وسلم فيه أنه رأى الأنبياء يصلّون، وغير ذلك مما هو صريح في حياتهم ورد من طرق أربعين صحابياً، ذكرهم الكتاني. ومنها حديث « مررتُ على موسى وهو قائم يصلي في قبره » أخرجه مسلم. وحديث صلاته صلى الله عليه وسلم بالأنبياء واجتماعه بهم [في الإسراء] كما تقدم وأنها متواترة وورد من ثلاثة طرق عند عبد الرزاق والطبراني..} اهـ .

- وقد ذكر ابن القيم كلام الإمام القرطبي عن حياة الأنبياء في كتابه "الروح" ص33 مستشهدا به موافقا عليه.

2- قال تعالى : (ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله تواباً رحيماً ) .
وتخصيصها بما قبل الموت تخصيص بدون حجة , وترك المطلق على إطلاقة مما اتفق عليه أهل الحق ، والتقييد لا يكون إلا بحجة , ولا حجة هنا تقيد الآية ، بل فقهاء المذاهب حتى الحنابلة على شمول الآية لما بعد الموت , والأنبياء أحياء في قبورهم) .

3- عن عثمان بن حنيف رضي الله عنه : " أن رجلاً ضرير البصر أتى النبي (صلى الله عليه وسلم ) فقال: ادع الله أن يعافيني قال: إن شئت دعوت وإن شئت صبرت فهو خير لك، قال: فادعه، قال : فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعو بهذا الدعاء: ((اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة يا محمد إني توجهت بك إلى ربي في حاجتي هذه لتُقضى لِي اللهم فشفعه في ))
رواه الإمام أحمد والترمذي وابن ماجة والحاكم وابن خزيمة في صحيحه والطبراني وابن السني .وصححه الطبراني وابن خزيمة والترمذي والحاكم ووافقه الذهبي وقالا على شرط البخاري.

ولا يخفى أن هذا الحديث من دلائل نبوته صلى الله عليه و على آله وسلم ومعجزاته ، حيث أن رجلا أعمى أبصر ببركته صلى الله عليه و على آله وسلم كما كان عيسى بن مريم يبرئ الأكمه والأبرص ، ويحيي الموتى بإذن الله .
وترجم له المحدّثون بـقولهم: " باب من له إلى الله حاجة ، أو إلى أحد من خلقه " .

وذكره الحافظ الجزري في " الحصن الحصين " ، والحافظ السيوطي في " الجامع الصغير " ، وشرْحه للمناوي ، و قال الإمام علي القاري :
{ " قوله ( " يا محمد " ) : إلتفات وتضرع لديه ، ليتوجه النبي -- بروحه إلى الله تعالى ، ويُغني السائل عما سواه ، وعن التوسل إلى غير مولاه، قائلاً : " إني أتوجه بك " أي بذريعتك ، الذريعة :الوسيلة ، والباء للاستعانة ، و " إلى ربي في حاجتي هذه " ، وهي المقصودة المعهودة " لتُقضى لي " . ويمكن أن يكون التقدير : ليقضي الله الحاجة لأجلك ، بل هذا هو الظاهر . وفي نسخة : " لتَقضي " بصيغة الفاعل ، أي : لتقضي أنت يا رسول الله الحاجة لي . والمعنى : لتكون سبباً لحصول حاجتي و وصول مرادي ، فالإسناد مجازي .}.انتهى .

قال المجوّزون [وهم جماهير الأئمة] : فقوله في الحديث : " يا محمد ، إني أتوجه بك في حاجتي لتقضى.. : نداء وطلب منه -صلى الله عليه وسلم- ، واستغاثة به وتوسل ، والنبي -صلى الله عليه وسلم-كان غائباً وقال له : " وإن كانت لك حاجة ، فمثل ذلك " ، وحاشا رسول الله -صلى الله عليه وسلم-أن يعلّم أمّته الشرك وقد بُعث لهدمه !!.

فدلّ أن النداء له والطلب منه - صلى الله عليه وسلم- ليس بشرك ، كما يعنيه الوهابية .

وأجاب ابن تيمية عن هذا الحديث بجواب غريب عجيب! وهو أن الأعمى صوّر صورة النبي -- في ذهنه! وخاطَبها كما يخاطب الإنسان من يتصوره ممن يحبه أو يبغضه!! ، وإن لم يكن حاضراً!
وهذا عجيب جداً!! فإن نداء الصورة والطلب منها مع كونها وهمية خيالية ، أقوى في الحجة على المانع , مع كون ذلك خلاف الأصل , إذ الأصل في مثل هذه لصيغة "يا محمد" الطلب!

فهذا الحديث الصحيح المجمع على صحته , دليل لمن يجوّز نداء النبي -- في غيبته وبعد موته .

4- والدليل على أن هذا الحديث عامّ للحياة و بعدها : ما رواه البيهقي ، والطبراني بسند صحيح عن عثمان بن حنيف راوي الحديث الأول : أن رجلا كان يختلف إلى عثمان بن عفان في حاجة له فكان عثمان لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته فلقي عثمان بن حنيف فشكا ذلك إليه فقال له عثمان بن حنيف: ائت الميضأة فتوضأْ ثم ائت المسجد فصلّ فيه ركعتين ثم قلْ: اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي فيقضي لي حاجتي ، وتذكر حاجتك ، و رُحْ إليّ حتى أروح معك، فانطلق الرجل فصنع ما قال له، ثم أتى باب عثمان، فجاء البوّاب حتى أخذ بيده فأدخله على عثمان بن عفان فأجلسه معه على الطنفسة وقال: حاجتك؟ فذكر حاجته فقضاها له؛ ثم إن الرجل خرج من عنده فلقي عثمان بن حنيف فقال له: جزاك الله خيراً، ما كان ينظر في حاجتي ولا يلتفت إليّ حتى كلمتَه فيّ، فقال عثمان بن حنيف: والله ما كلمتُه ولكن شهدتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم وأتاه رجل ضرير فشكا إليه ذهاب بصره فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: ائت الميضأة فتوضأ ثم صلّ ركعتين ثم ادْعُ بهذه الكلمات. فقال عثمان بن حنيف: فوالله ما تفرقنا وطال بنا الحديث حتى دخل علينا الرجل كأنه لم يكن به ضرر قط.}.اهـ

5- روى الحاكم في " المستدرك " ، وأبو عوانة في " صحيحه " ، والبزار بسند صحيح عن النبي صلى الله عليه و على آله وسلم أنه قال : {إذا انفلتت دابة أحدكم بأرض فلاة ، فلْيناد : يا عباد الله احْبِسوا ، فإن لله حاضراً سيجيبه} .اهـ

وقد ذكر هذا الحديث: ابنُ تيمية في كتاب " الكلم الطيب "( فصل: في الدابة تنفلت) عن أبي عوانة ، و ابن القيم في " الكلم الطيب " له أيضا ، و الإمام النووي في " الأذكار " ، والحافظ الجزري في " الحصن الحصين " وغيرهم ممن لا يُحصى من المحدّثين ، وهذا اللفظ رواية ابن مسعود رضي الله تعالى عنه مرفوعاً .

وأما قول الوهابية : "إن هذا نداء لحاضر" فكذب ظاهر ، فإن عباد الله المدعُوّين - وإن كانوا حاضرين بالنسبة لعلم الله الذي لا يغيب عنه شيء- ، فهم غائبون بالنسبة لمن يناديهم .

وكذلك الأنبياء والصالحون وأهل القبور ، فإنهم أحياء في قبورهم، وأرواحهم موجودة , ولكن غائبون بالنسبة لمن يناديهم .ولهذا أمر النبي صلى الله عليه و على آله وسلم أمته أن ينادوهم ويخاطبوهم مخاطبة الحاضرين مع أنهم غائبون عن العين ، بل ربما يُسمع منهم ردّ السلام وقراءة القرآن والأذان من داخل قبورهم ، كما ذكر ابن تيمية في " اقتضاء الصراط المستقيم " .

ومما قاله ابن تيمية فيه (2/227):
{ ولا يدخل في هذا الباب : ما يُروى من أن قوما سمعوا ردّ السلام من قبر النبي صلى الله عليه وسلم ، أو قبور غيره من الصالحين . وأن سعيد بن المسيب كان يسمع الأذان من القبر ليالي الحرة ونحو ذلك . فهذا كله حق ليس مما نحن فيه ، والأمر أجلّ من ذلك وأعظم..}.
وهذا كاف للرد على الوهابية في إثبات الفعل والإدراك للأموات .

فليس نداء النبي -صلى الله عليه وسلم- وخطابُه أقل من عباد الله الذين أَمر نبينا صلى الله عليه و على آله وسلم أن نناديهم ونستعين بهم في ردّ الدابة ، ولكن مقصوده صلى الله عليه و على آله وسلم هو التسبّب ، فإن الله ربط الأمور بالأسباب ، والنبي صلى الله عليه و على آله وسلم أفضل الوسائل والأسباب ، خصوصاً يوم القيامة .
ولكون النبي صلى الله عليه وسلم حاضراً مع موته، شُرع لنا خطابُه والتسليم عليه في الصلاة ، وهو قولنا : "السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته" . ولولا ذلك لكان هذا الخطاب عبثاً ، وحاشا هذه الشريعة الغراء العبث فيها .

6- قال الهيثمي في "مجمع الزوائد": { (باب ما يقول إذا انفلتت دابته أو أراد غوثا أو أضل شيئا) عن عتبة بن غزوان عن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا أضل أحدكم شيئا أو أراد عونا وهو بأرض ليس بها أنيس فلْيقل: يا عباد الله أعينوني [و في نسخة:أغيثوني] ، فإن لله عبادا لا نراهم ". وقد جُرّب ذلك.
رواه الطبراني ورجاله وُثّقوا على ضعف في بعضهم إلا أن يزيد بن علي لم يدرك عتبة.
وعن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إن لله ملائكة في الأرض سوى الحفظة يكتبون ما يسقط من ورق الشجر فإذا أصاب أحدكم عرجة بأرض فلاة فلْيناد: أعينوا عبادَ الله" .رواه الطبراني ورجاله ثقات.}.اهـ

فهبْ أن عباد الله المدعُوّين حاضرون –كما قال الوهابية- ، ولكن لماّ لم يرهم الداعي لهم ، كيف يهتدي إلى الطريق؟ ، أو كيف يحصل له مقصوده في مثل الهداية إلى الطريق وهو لم يرهم؟ وكيف حصلت له الهداية بمجرد هذا الكلام لولا أنهم وسيلة و سبب ، و الله هو الفعال ؟!
فكذلك خطاب النبي صلى الله عليه و على آله وسلم ، أقل مراتبه أن يكون كالملائكة ، مع أنه -صلى الله عليه وسلم-أفضلهم وأقربهم وسيلة عند ربه تعالى .
وقد عمل بهذا الحديث مجموعة من الأئمة المتفق على إمامتهم , منهم :
- الإمام الطبراني : فبعد أن ذكر هذا الحديث قال :(وقد جرب ذلك) .
- الإمام أحمد بن حنبل : ففي المسائل وشعب الإيمان : قال عبد الله بن الإمام أحمد : سمعت أبي يقول: حججت خمس حجج منها اثنتين راكباً ، وثلاثة ماشياً ، أو ثنتين ماشياً وثلاثة راكباً ، فضللت الطريق في حجة وكنت ماشياً فجعلت أقول : يا عباد الله دلونا على الطريق ، فلم أزل أقل ذلك حتى وقعت على الطريق ، أو كما قال أبي .
- الإمام النووي وبعض شيوخه الكبار في العلم : حيث قال في الأذكار
(حكى لي بعض شيوخنا الكبار في العلم أنه انفلتت له دابة أظنها بغلةوكان يعرف هذا الحديث فقاله، فحبسها الله عليهم في الحال، وكنت أنا مرةً مع جماعة فانفلتت منا بهيمة وعجزوا عنها فقلته فوقفت في الحال يغير سوى هذا الكلام) .
فهل كان هؤلاء الأئمة يجهلون الشرك من التوحيد؟!

7- روى البيهقي و ابن أبى شيبة عن مالك الدار رضي الله تعالى عنه - وكان خازن عمر رضي الله تعالى عنه- قال :
{أصاب المدينة قحط في زمن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه ، فجاء رجل إلى قبر رسول الله صلى الله عليه و على آله وسلم فشكا له فقال : يا رسول الله إسْتسق لأمتك فإنهم قد هلكوا .
فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال : " ائت عمر وأقْرئه السلام وأخبره أنهم مُسْقَوْن" الحديث .}اهـ
وقد ذكر ابن تيمية هذا الحديث في " اقتضاء الصراط المستقيم " وأقرّه ولم ينكره , فقال (2/228) :
{ وكذلك أيضا ما يُروى : " أن رجلا جاء إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم ، فشكا إليه الجدب عام الرمادة ، فرآه وهو يأمره أن يأتي عمر ، فيأمره أن يخرج يستسقي بالناس" ؛ فإن هذا ليس من هذا الباب . ومثل هذا يقع كثيرا لمن هو دون النبي صلى الله عليه و سلم ، و أعرِف من هذا وقائع.
وكذلك سؤال بعضهم للنبي صلى الله عليه وسلم [ يعني في قبره] - أو لغيره من أمته- حاجةً فتُقضى له ، فإن هذا قد وقع كثيرا ، وليس هو مما نحن فيه . وعليك أن تعلم : أن إجابة النبي صلى الله عليه وسلم أو غيره لهؤلاء السائلين ، ليس مما يدل على استحباب السؤال ، فإنه هو القائل صلى الله عليه وسلم : « إن أحدهم ليسألني المسألة فأعطيه إياها ، فيخرج بها يتأبطها نارا " ، فقالوا : يا رسول الله ، فلم تعطيهم؟ قال : " يأبون إلا أن يسألوني ، ويأبى الله لي البخل ».
وأكثر هؤلاء السائلين الملحّين [عند قبره]-لِماَ هم فيه من الحال- لو لم يُجابوا لاضطرب إيمانهم ، كما أن السائلين به في الحياة كانوا كذلك ، وفيهم من أُجيب وأُمر بالخروج من المدينة ..}. اهـ كلامه.

أورد الحافظ ابن كثير القصة في" البداية والنهاية" ( 7 / 91 ، 92 ) ، عن الحافظ أبي بكر البيهقي بإسناده إلى أبي صالح عن مالك . وقال ابن كثير : « وهذا إسناد صحيح » ( 7 / 92 ).

ولا يخفى أن هذه المسألة والسؤال والشكوى للنبي صلى الله عليه و على آله وسلم وقعت في زمن الصحابة وخير القرون ، فلو كان ذلك ممنوعاً لم يفعله الصحابي الذي هو أعلم بالدين من سائر علماء المسلمين ، ولم يُنكَر عليه مع وجود الصحابة الكرام ، فعُلم أن هذا أمر معلوم عندهم جوازُه واستحبابه ، و إلا لنُقل عن واحد منهم إنكاره .




8- ذكر الحافظ ابن عساكر في " تاريخه " ، و ابن الجوزي في " مثير الغرام الساكن " ، والإمام هبة الله في " توثيق عرى الإيمان " عن العُتبي التابعي الجليل : أن أعرابياً جاء إلى قبر النبي صلى الله عليه و على آله وسلم فقال : السلام عليك يا رسول الله ، [ وفي رواية ذكرها الطبري أنه قال : ويا خير الرسل سمعتُ الله يقول : { ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله تواباً رحيما } وقد جئتُك مستغفراً من ذنبي مستشفعاً [أي متوسلا] بك إلى ربي .
ثم أنشد :
يا خير من دُفنت في القاع أعظمه ***** فطاب من طيبهن القاع و الأكم
نفسي الفداء لقبر أنت ساكنه ****** فيه العفاف وفيه الجود و الكرم
قال العُتبي : فحملتني عيناي ، فرأيت النبي صلى الله عليه و على آله وسلم في النوم وقال : " يا عُتبيّ ، إلْحق الأعرابي فبشّرْه بأن الله غفر له " .اهـ

وقد تلقى علماء الأمة كلها هذا الأثر بالقبول مع أنه ضعيف السند , فليس مما يرد بجرة قلم ، وذكره أئمة المذاهب الأربعة في المناسك مستحسنين له . وفيه نداء النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم و طلب الشفاعة منه في الدنيا .
وسيأتي نقل نصوص العلماء سيما من الحنابلة لهذا الأثر.

وقال ابن تيمية في " اقتضاء الصراط المستقيم "(2/272) :
{ .. ولهذا استحب طائفة من متأخري الفقهاء من أصحاب الشافعي و أحمد ، مثلَ ذلك ، واحتجوا بهذه الحكاية [حكاية العتبي] التي لا يثبت بها حكمٌ شرعي ، لا سيما في مثل هذا الأمر الذي لو كان مشروعا مندوبا لكان الصحابة والتابعون أعلم به وأعمل به من غيرهم ، بل قضاء حاجة مثل هذا الأعرابي وأمثاله لها أسباب قد بُسطت في غير هذا الموضع .
[...].. وقد يفعل الرجل العملَ الذي يعتقده صالحًا ، ولا يكون عالمًا أنه منهيّ عنه ، فيُثاب على حسن قصده ، ويُعفى عنه لعدم علمه، وهذا باب واسع .
[...].. ثم الفاعل قد يكون متأوّلا , أو مخطئا مجتهدا , أو مقلّدا ، فيُغفر له خطؤه ويُثاب على ما فعله من الخير المشروع المقرون بغير المشروع ، كالمجتهد المخطئ... }.

وذكره ابن عبد الهادي- تلميذُه- عنه في "الصارم المنكي".

فلو فرضنا أن أحداً لم يتّبع تلك الأحاديث الصحيحة والآثار الصريحة في طلبه منه -- في الدنيا والآخرة ، وقلنا بقول ابن تيمية أنه منهيّ عنه أَوْ ليس مستحباً كما قال في "اقتضاء الصراط"، لكن أليس ابن تيمية أعذر المتأوّل والمخطئ والمجتهد والمقلّد , وقال إنه يُغفر له ويثاب على فعله ؟! فمالكم تكفّرون مخالفيكم معاشر الوهابية؟!!

فلْنجعل ما يفعله المستغيثون بالنبي -- من هذا القبيل [أي متأولين أو مجتهدين مخطئين] فلا نكفّرهم ، فكيف يحلّ لمن يؤمن بالله واليوم الآخر أن يكفّر المسلمين لذلك! فقبّح الله تعالى الجهل و الجرأة أين تصل بصاحبها !!.

9- ذكر الإمام القسطلاني في " المواهب اللدنية " ، و السمهودي في " الوفا" قالا :{ روى أبو سعد السمعاني عن علي كرم الله وجهه أن أعرابياً قدم علينا بعد دفن رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم بثلاثة أيام فرمى بنفسه على قبره ، وحثا من ترابه على رأسه وقال : يا رسول الله ، قلتَ فسمعنا قولك ، و وعيت عن الله فوعينا عنك . وكان فيما أنزل إليك : { ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله تواباً رحيماً } ، وقد ظلمت نفسي وجئتك تستغفر لي . فنودي من القبر : " غُفر لك " }.اهـ

أقول : و يعضد هذا الأثرَ ، الأثرُ المتقدم الذي تلقاه الأئمة بالقبول.

10- ذكر القاضي عياض في " الشفا " بسند حسن أن الإمام مالك بن أنس تناظر مع أبي جعفر المنصور ، فقال الإمام مالك : يا أمير المؤمنين ، إن الله أدّب أقواماً فقال : { لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي .. } ، ومدح قوماً فقال : { إن الذين يغضون أبصارهم عند رسول الله …} .وإن حُرمته ميتاً كحرمته حياً . فاستكان لها أبو جعفر و قال : يا أبا عبد الله ، أستقبلُ القبلة فأدعو ، أم أستقبل رسولَ الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ؟ ، فقال مالك رحمه الله تعالى : و لِم تصرف وجهك عنه وهو وسيلتك ووسيلة أبيك آدم ؟! بل استقْبِلْه وتشفّعْ به فيشفّعْه الله ، قال الله تعالى : { ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله تواباً رحيماً } الآية .}.اهـ

قال الإمام الزرقاني في (شرح المواهب اللدنية) عن هذه القصة:
«الحكاية المذكورة رواها أبو الحسن على بن فهر في كتابه فضائل مالك بإسناد لا بأس به بل قيل إنه صحيح » اهـ من (نصرة الإمام السبكي) ص 61 .
وقال الإمام ابن حجر في (الجوهر المنظم) عن هذه القصة أيضاً:
«وقد جاءت بالسند الصحيح الذي لا مطعن فيه »ا.هـ انظر (نصرة الإمام السبكي) ص 195.
وذكر شيخ الإسلام تقي الدين السبكي هذه القصة في (شفاء السقام) نقلا عن القاضي عياض ثم قال:
«وقد ذكر القاضي عياض إسنادها وهو إسناد جيد » اهـ ص 129 .
ويقول الإمام المحدث محمد زاهد الكوثري عن هذه القصة في رسالته (مَحْق التقوّل في مسألة التوسل):
«وأما قول مالك لأبي جعفر المذكور فهو ما أخرجه القاضي عياض في (الشفا بتعريف حقوق المصطفى) بسند جيد » اهـ (انظر مقالات الكوثري ص 392 ).
وذهب الحافظ السيد عبد الله الغماري إلى أن في إسناد هذه القصة ضعفا لكنه لا يسقطها عن درجة الاحتجاج فقال في كتابه (الرد المحكم المتين):
«فهذه الحكاية عن الإمام مالك صريحة في جواز التوسل بل استحبابه، وهي وإن كانت ضعيفة الإسناد- وادعاء ابن تيمية كذبها مردود عليه ولا كرامة– فقد تلقاها أهل المذهب بالقبول و عملوا بمقتضاها، وناهيك بالقاضي عياض حيث استدل بها ولم يعقبها بما يخالفها. ولهذا لا يُحفظ عن أحد من المالكية قولٌ بمنع التوسل بالنبي r أو كراهته بل كلهم متفقون على جوازه واستحبابه » ا.هـ ص 95.

11- ذكر ابن الجوزي في كتابه " الوفا في فضائل المصطفى" -صلى الله عليه وسلم-، بسنده إلى أبي بكر المقرئ والطبراني وأبي الشيخ قالوا :
" كنا في حرم رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وكنا في حالة قد أثّر فينا الجوع ، فواصلنا ذلك اليوم .
فلما كان وقت العشاء ، حضرتُ قبر النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وقلت : يا رسول الله الجوع الجوع ، وانصرفت . قال أبو بكر : فنمت وأبو الشيخ ، والطبراني جالس ينظر في شيء ، فحضر بالباب علويّ فدقّ الباب ، ففتحنا له ، فإذا معه غلامان مع كل غلام زنبيل فيه شيء كثير ، فجلسنا فأكلنا ، فولى وترك الباقي عندنا . فلما فرغنا من الطعام ، قال العلوي : يا قوم ، شكوتم إلى رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم ؟ فإني رأيته في المنام فأمرني بحمل شيءٍ إليكم .}. انتهى .
وذكر هذا الأثر جماعةٌ من المحدّثين ، وذكر مثله ابن تيمية في " اقتضاء الصراط المستقيم " فقال : { وكذلك حُكي لنا أن بعض المجاورين بالمدينة ، جاء إلى عند قبر النبي -- فاشتهى عليه نوعا من الأطعمة ، فجاء بعض الهاشميين إليه ، فقال : إن النبي -- بعث لك ذلك وقال لك : اخرجْ من عندنا ، فإن من يكون عندنا لا يشتهي مثل هذا . وآخرون قُضيت حوائجهم ولم يقل لهم مثل هذا ، لاجتهادهم أو تقليدهم ، أو قصورهم في العلم ، فإنه يُغفر للجاهل ما لا يغفر لغيره ..}. انتهى .

12- ذكر ابن الجوزي في كتابه " صفة الصفوة " بسنده إلى أبى الخير التيناتي قال : {دخلت مدينة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأنا بفاقة [ أي بفقر] فأقمت خمسة أيام ما ذقت ذواقاً ، فتقدّمت إلى القبر الشريف وسلّمت على النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله تعالى عنهما وقلت : أنا ضيفك الليلة يا رسول الله . وتنحّيت فنمت خلف المنبر ، فرأيت في المنام النبيَّ صلى الله عليه وعلى آله وسلم وأبا بكر عن يمينه وعمر عن شماله ، وعلي بن أبي طالب بين يديه . فحرّكني علي رضي الله تعالى عنه وقال : قُم ، لقد جاء رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم . فقمت فقبّلت بين عينيه ، فدفع إليّ رغيفاً فأكلت بعضه ، فانتبهت فإذا النصف الآخر بيدي. } . انتهى

13- ذكر ابن تيمية في " الكلم الطيب " والحافظ ابن أبي جمرة في " شرح مختصر البخاري " وغيرهما أن ابن عمر رضي الله تعالى عنه خدرت رجله ، فقيل له : اذْكُر أحب الناس إليك. فقال : يا محمد ، فذهب الخَدَر عن رجله.
وقال الإمام النووي في "الأذكار" (ص305) :
{ (باب ما يقوله إذا خدرت رجله)- روينا في كتاب ابن السني عن الهيثم بن حنش قال : " كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله ، فقال له رجل : اذكر أحب الناس إليك ، فقال : يا محمد (صلى الله عليه وسلم) ، فكأنما نشط من عقال ".
وروينا فيه عن مجاهد قال : " خدرت رِجْل رَجُل عند ابن عباس ، فقال ابن عباس رضي الله عنهما : اذكر أحب الناس إليك ، فقال : محمد (صلى الله عليه وسلم) فذهب خدره .}.اهـ

فلو كان نداء الغائب و الميت ممنوعاً ، لكان هذا الصحابي الجليل أحق بالمنع من ذلك ! ولهذا ذكر مثل هذا الأثر ابنُ تيمية وابنُ القيم و غيرهما في الأذكار التي يُسن استعمالها , حيث قال ابن تيمية في كتابه "الكلم الطيب" ص 173 :
{ فصل: ( في الرٍّجْل إذا خدرت ): عن الهيثم بن حنش قال : كنا عند عبد الله بن عمر رضي الله عنهما فخدرت رجله فقال له رجل : اذكر أحب الناس إليك فقال : يا محمد؛ فكأنما نشط من عقال.}.اهـ

وقال الإمام البخاري في "الأدب المفرد": { باب ( ما يقول الرجل إذا خدرت رجله ) ؛ حدثنا أبو نعيم قال : حدثنا سفيان ، عن أبي إسحاق ، عن عبد الرحمن بن سعد قال : خدرت رِجْل ابن عمر ، فنص لابن تيمية في عدم تكفير المستغيث بالنبي –صلى الله عليه وسلم- بعد وفاته :


ولْنقدّمْ عبارة ابن تيمية لأنه - عند هؤلاء- تطمئن قلوبهم بأقواله أكثر من اطمئنانها بالآيات القرآنية والأحاديث الصحيحة النبوية , وكلام جميع أئمة السلف والخلف!! .
فقال ابن تيمية في "اقتضاء الصراط المستقيم" :
{ وكذلك أيضا ما يروى: أن رجلا جاء إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فشكا إليه الجدب عام الرمادة، فرآه وهو يأمره أن يأتي عمر، فيأمره أن يخرج يستسقي بالناس فإن هذا ليس من هذا الباب , ومثل هذا يقع كثيرا لمن هو دون النبي صلى الله عليه وسلم، وأعرف من هذا وقائع.
وكذلك سؤال بعضهم للنبي صلى الله عليه وسلم، أو لغيره من أمته حاجة فتقضى له، فإن هذا قد وقع كثيرا، وليس هو مما نحن فيه.
وعليك أن تعلم أن إجابة النبي صلى الله عليه وسلم أو غيره لهؤلاء السائلين، ليس مما يدل على استحباب السؤال، فإنه هو القائل صلى الله عليه وسلم: "إن أحدهم ليسألني المسألة فأعطيه إياها، فيخرج بها يتأبطها نارا
فقالوا: يا رسول الله، فلم تعطيهم؟ قال: يأبون إلا أن يسألوني، ويأبى الله لي البخل".
وأكثر هؤلاء السائلين الملحين لما هم فيه من الحال، لو لم يجابوا لاضطرب إيمانهم، كما أن السائلين به في الحياة كانوا كذلك، وفيهم من أجيب وأمر بالخروج من المدينة.
فهذا القدر إذا وقع يكون كرامة لصاحب القبر، أما أن يدل على حسن حال السائل، فلا فرق بين هذا وهذا}. انتهى.

فدلّ كلامه هذا على أن السائلين للحاجات من النبي -- أوغيره: لا يُستحب لهم ذلك عنده ، - ولكن عند غيره من العلماء يُستحب ذلك- ، ولم يقل أحدٌ -بناء على قول الشيخ- أن فاعل غير المستحب يكون كافرا ولا آثما ، ويدل عليه قولُه : ((لو لم يجابوا لاضطرب إيمانهم)) ، فأثبت لهم الإيمان ولم ينفه عنهم , لكن الحجة في أن إتيان قبر النبي -صلى الله عليه وسلم-كان بعلم الصحابة والتابعين , ولم ينكروه على فاعله . (1)


وهناك نصوص أخرى لابن تيمية واضحة في عدم تكفير من يطلب من النبي -صلى الله عليه وسلّم- , سأذكرها لاحقًا إن شاء الله تعالى .
-------------------------------
1- نقلًا عن : نحت حديد الباطل وبرده , ومحق التقول في مسألة التوسل , ومفاهيم يجب أن تصحح , بتصرف فيها .
قال له رجل : اذْكُر أحب الناس إليك ، فقال : يا محمد }.اهـ



و على افتراض أن الأثر ضعيف، فقد نقله الإمام البخاري –و هو من أئمة السلف- في كتابه هذا –و هو كتاب أذكار و دعوات- داعيا الناس إلى العمل به، و لم يقُل أن هذا شرك و لا بدعة؛ فهل كان يجهل الشرك ؟!! أم كان يدعو إلى الشرك ؟!! .. نعوذ بالله من الخذلان!!

وذكر ابن الأثير في " تاريخه "الكامل في التاريخ-الذي ذكر أنه اختصره من تاريخ ابن جرير السني الطبري- : أن الصحابة الكرام رضي الله تعالى عنهم كان شعارهم في الحرب : " يا محمد " .
وذكر مثله الواقدي في كتابه " فتوح الشام ".
وذكر السيوطي في " شرح الصدور " عن ابن الجوزي بسنده إلى بعض التابعين : أنهم لما أمرهم الكفار وراودهم على الكفر وامتنعوا ، غلوا لهم زيتاً في قِدْر فألقوهم فيه ، فنادوْا : " يا محمداه " .
ولا شك أن هذا النداء في هذه المواضع المهلكة ، ما هو إلا توسل به -- ، وطلب لشفاعته -- ، و إلا فلا معنى لندائه .

وفي ترجمة سعيد بن عامر بن حذيم الصحابي رضي الله تعالى عنه قال :{ شهدت مصرع خبيب وقد بضعت قريش لحمه ، ثم حملوه على جذعه ، ثم نادى : " يا محمد " . فما ذكرت ذلك و تركي نصرتَه وأنا مشرك إلا ظننت أن الله لا يغفر لي بذلك الذنب أبداً ، فتصيبني تلك الغنطة..} إلى آخر الأثر .

فهذا يدل على أن نداء النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم في الشدائد أمر معهود ، لأن خبيباً رضي الله تعالى عنه فعل ذلك في مكة والنبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم في المدينة حينئذ ، والله تعالى أعلم .