Kamis, 01 Agustus 2019

Hukum Darah Jerawat saat Shalat

PERTANYAAN :

Assalamualaikum ustadz..

Bagaimana hukum orang sholat
Waktu sholat tidak sengaja nekan jerawat dan mengelurkan darah
Apakah darah yang keluar dihukumi Najis atau tidak?
Mohon jawabannya..
Dan kalo bisa disertai dalil2 yang soheh.
Sekian terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya ditafshil/ khilaf :
~ jika darah keluar sendiri, maka sedikit Dan banyak di ma’fu.
~ jika sengaja ditekan maka yg di ma’fu jika sedikit. Jika banyak tidak di ma’fu.

Perinciannya sebagaimana berikut :

1. Kalau darahnya sedikit maka dimakfu.

Hukum Jerawat pecah dalam sholat sebagai berikut:

a- Tidak membatalkan shalat, dengan syarat pecah sendiri serta tidak bercampur dengan lainnya, Apabila ada unsur kesengajaan didalamnya maka menurut qaul ashoh dimakfu ( tidak membatalkan sholat) jika sedikit darah yang keluar sedikit serta tidak bercampur dengan yang lain..
Sedangkan menurut pendapat muqobilul ashaf maka mbatalkan.

تحفة المحتاح ..

وَلَا تَبْطُلُ بِدَمِ نَحْوِ بُرْغُوثٍ وَبَثْرَتِه مَا لَمْ يَكْثُرْ بِقَتْلٍ وَعَصْرٍ ا هـ .

Artinya
shalat tidak batal akibat darah semacam kutu atau jerawat selagi tidak banyak yang akibat ia bunuh dari kutu, atau pencet dari jerawatnya

Ibaroh yang menjelaskan Harus tidak bercampur dengan materi yang lain

نهاية الزين ٤٢
قوله (ودمل) و فصد و حجم و قروح و بواسير و نحو ذلك (و ان كثر) الدم في ذلك و لو تفاحش فى الصورة الاولى على المعتمد مالم يختلط باجنبي مطلقا هذا اذا كان الكثير ( بغير فعله) فلا يعفى عن ذلك اذا كان بفعله

Fokus pada yang ditebalkan

*فإن كثر بفعله قصدا* كأن قتل نحو برغوث في ثوبه أو عصر نحو دمل أو حمل ثوبا فيه دم براغيث مثلا وصلى فيه أو فرشه وصلى عليه أو زاد على ملبوسه لا لغرض كتجمل *فلا يعفى إلا عن القليل على الأصح*

Artinya:
Bila keluarnya akibat ulahnya seperti ia sengaja membunuh kutu di bajunya atau sengaja memencet bisulnya atau ia shalat dengan memakai pakaian atau beralaskan perkara yang ada darah kutunya atau ia mengenakan pakaian berlebih tanpa ada tujuan maka darah-darah yang semacam ini tidak lagi diampuni kecuali bila sedikit menurut pendapat yang ashoh.

b. Batal apabila sengaja.

ويعفى عن دم نحو برغوث ) مما لا نفس له سائلة كبعوض وقمل لا عن جلده

( قوله عن دم نحو برغوث ) الإضافة فيه لأدنى ملابسة لأنه ليس له دم في نفسه وإنما دمه رشحات يمصها من بدن الإنسان ثم يمجها

… ( بغير فعله )

فإن كثر بفعله قصدا كأن قتل نحو برغوث في ثوبه أو عصر نحو دمل أو حمل ثوبا فيه دم براغيث مثلا وصلى فيه أو فرشه وصلى عليه أو زاد على ملبوسه لا لغرض كتجمل فلا يعفى إلا عن القليل على الأصح كما في التحقيق والمجموع

Dan dima’fu (diampuni) darah yang keluar dari binatang semacam kutu, nyamuk yaitu binatang-binatang yang pada dasarnya tidak memiliki darah yang mengalir melainkan berasal dari yang ia hisap dari badan manusia kemudian ia muntahkan tapi tidak kulit binatang tersebut… bila darah tersebut bukan akibat pekerjaannya.

Bila keluarnya akibat ulahnya seperti ia sengaja membunuh kutu di bajunya atau sengaja memencet bisulnya atau ia shalat dengan memakai pakaian atau beralaskan perkara yang ada darah kutunya atau ia mengenakan pakaian berlebih tanpa ada tujuan maka darah- darah yang semacam ini tidak lagi diampuni kecuali bila sedikit menurut pendapat yang shahih seperti keterangan dalam kitab at-Tahqiiq dan al-Majmuu’.

I’aanah at-Thoolibiin I/100

Adapun darah mimisan, bisul Ditafsil :

Bila darahnya sedikit, maka tidak membatalkan shalat. Apabila darah yang keluar banyak dan mengenai sebagian dari badan dan pakaiannya, maka wajib membatalkan shalatnya, meskipun shalat jumat.

فائدة : قال في التحفة : ولو رعف في الصلاة ولم يصبه إلا القليل لم يقطعها ، وإن كثر نزوله على منفصل عنه ، فإن كثر ما أصابه لزمه قطعها ولو جمعة ، وإن رعف قبلها واستمر فإن رجى انقطاعه والوقت متسع انتظره وإلا تحفظ كالسلس اهـ.

“Faidah: Mushannif (pengarang kitab) berkata dalam kitab Tuhfah: “Andai seseorang mimisan didalam shalat, dan darah yang keluar hanya sedikit, maka tidak membatalkan shalatnya. Apabila darah yang keluar banyak hingga mengenai bagian badan yang lain. Apabila darah yang mengenai bagian badan lain sangat banyak, maka seseorang yang sedang shalat itu harus membatalkan shalatnya meski dia sedang shalat jumat. Bila mimisan keluar sebelum shalat dan keluar terus, namun dimungkinkan mimisan berhenti dan waktu shalat masih cukup, maka dianjurkan untuk ditunggu hingga berhenti, apabila tidak mungkin ditunggu hingga berhenti, maka hidung disumpal saat shalat sebagaimana orang yang beser”.

Bughyat al Musytarsyidin Halaman 53

ولو رعف في الصلاة لم تبطل و إن لوث بدنه مالم يكثر

بشرى الكريم 1 /91

Keluar darah dari hidung/mimisan pada waktu shalat tidak membatalkan shalat sekalipun mengenai anggota badan. Dengan sarat darah yang keluar tidak banyak.

Busyral karim 1 /91]

2. Dimakfu baik banyak atau sedikit.

Adapun yang menjelaskan tentang di makfunya darah baik sedikit atau banyak sebagai berikut :

Darah yang keluar dari diri seseorang di waktu shalat karena disebabkan luka seperti jerawat, bisul dan yang lainnya baik sedikit ataupun banyak maka najisnya dima’fu dan shalatnya tetap sah. sebagai mana Abiy Syuja’ berkata dalam kitabnya Al-Iqna’ Juz 1. H.78, sebagaimana berikut.

أما دم الشخص نفسه الذي لم ينفصل كدم الدماميل والقروح وموضع الفصد والحجامة فيعفى عن قليله وكثيره انتشر بعرق أم لا ويعفى عن دم البراغيث والقمل والبقّ ونم الذباب وعن قليل بول الحفاش وعن روثه وبول الذباب لأن ذلك مما تعم به البلوى ويشق الإحترازه عنه ودم البراغيث والقمل رشحات تمصّها من بدن الإنسان وليس لها دم فى نفسها ذد، ذكره الإمام وغيره فى دم البراغيث ومثلها القمل.

Tentang ukuran Sedikit dan banyaknya darah :

Yaitu di kembalikan pada adat kebiasaan,
Jika pada uruf masyarakat di anggap sedikit maka dihukumi sedikit, jika biasanya dianggap banyak maka dihukumi banyak. Jika masih ragu apakah darahnya banyak atau sedikit maka dihukumi sedikit.

Berikut pendapt para ulamak :
– waqila ukuran banyak adalah jika sudah mencapai batasan jelas bagi orang yg melihatnya tanpa perlu memikirkannya.
– waqila ukuranya lebih dari ukuran uang dinar.
– waqila ukuran banyak adalah seukuran telapak tangan keatas,
– waqila lebih daripada itu.
– waqila seukuran dirham bigholi.
– waqila lebih daripada itu.
– waqila ukuran banyak adalah lebih dari ukuran kuku. Wallohu a’lam.

– Kitab I’anah Al-tholibin (1/122) :

والمرجع في القلة والكثرة العرف، وما شك في كثرته له حكم القليل.
(قوله: والمرجع في القلة والكثرة العرف) أي فما عده العرف قليلا فهو قليل، وما عده كثيرا فهو كثير.
وقيل: الكثير ما بلغ حدا يظهر للناظر من غير تأمل وإمعان.
وقيل: إنه ما زاد على الدينار.
وقيل: إنه قدر الكف فصاعدا.
وقيل: ما زاد عليه.
وقيل: إن الدرهم البغلي، أي قدره.
وقيل: ما زاد عليه.
وقيل: ما زاد على الظفر.
اه شرح منظومة ابن العماد.

PEMBAGIAN NAJIS DIANTARANYA :

1. Najis yang dima’fu baik sedikit maupun banyaknya, baik di baju maupun di badan, yaitu : darahnya kutu loncat, kutu rambut, nyamuk, jerawat, nanah, bisul, cacar dan darah tempatnya bekam. di ma’funya najis-najis tersebut dengan dua syarat :

a. Bukan atas perbuatan diri sendiri, jadi misalnya membunuh kutu kemudian darahnya mengotori baju dan banyak darahnya maka tidak dima’fu.

b. Tidak melampaui batas dalam membiarkannya, karena manusia mempunyai kebiasaan mencuci baju,jika baju ditinggalkan tanpa dicuci selama setahun misalnya, dan dibiarkan bertumpuk-tumpuk maka tidak dima’fu.

2. Najis yang sedikitnya dima’fu, jika banyak tidak dima’fu, yaitu : darahnya orang lain dan tanah jalanan yang diyakini najisnya.

3. Najis yang dima’fu bekasnya dan tidak di ma’fu dzatiyahnya, yaitu : bekas istinja’ dan sisa bau atau warna najis yang sulit hilangnya.

4. Najis yang tidak dima’fu dztiyah dan bekasnya, yaitu selain najis-najis yang disebut diatas.

Pembagian najis yang dima’fu :

1. Najis yang dima’fu di air dan baju, yaitu : najis yang tidak terlihat pandangan mata, debu najis yang kering, sedikit asap, rambut, mulutnya kucing dan bayi.yang semisal air adalah benda cair, dan yang semisal baju adalah badan.

2. Najis yang dima’fu di air dan benda cair tapi tidak di ma’fu dibaju dan badan, yaitu : bangkai hewan yang tidak mempunyai darah mengalir, lobang kotoran burung, kotoran ikan, dan cacing yang muncul dalam benda cair.

3. Sebailknya kedua, dima’fu di baju dan badan tapi tidak dima’fu di air dan benda cair, yaitu : darah sedikit, tanah jalanan, ulat sutera jika mati di dalamnya.maka tidak wajib membasuhnya sebagaimana penjelasan al hamawy, sedangkan penjelasan qodhi husain sebaliknya.

4. Najis yang dima’fu pada tempat saja, yaitu : kotoran burung di masjid dan tempat towaf, dan disamakan dengannya yaitu sesuatu yang berada dalam perut ikan yang kecil.

Macam-macam najis dari segi dima’funya :

1. Najis yang dima’fu jika ada di baju dan badan yaitu najis yang sangat kecil yang tidak terlihat oleh mata.

2. Najis yang dima’fu di baju tapi tidak dima’fu jika ada di air, yaitu : seperti darah yang sedikit.

3. Najis yang dima’fu di air tapi tidak dima’fu jika ada di baju : seperti bangkai yang tidak mengalir padanya darah, seperti bangkai lalat dan semut.

4. Najis yang tidak dima’fu sama sekali yaitu selain dari pada najis yang telah disebutkan di atas. Wallohu a’lam bis showab.

– kitab asybah wan nadhoir :



تقسيم النجاسات

أقسامأحدها : ما يعفى عن قليله وكثيره في الثوب والبدن وهو : دم البراغيث والقمل والبعوض والبثرات والصديد والدماميل والقروح وموضع الفصد والحجامة ولذلك شرطان

أحدهما : أن لا يكون بفعله ، فلو قتل برغوثا فتلوث به وكثر : لم يعف عنه

والآخر : أن لا يتفاحش بالإهمال فإن للناس عادة في غسل الثياب ، فلو تركه سنة مثلا وهو متراكم لم يعف عنه قال الإمام : وعلى ذلك حمل الشيخ جلال الدين المحلي قول المنهاج إن لم يكن بجرحه دم كثير .

الثاني : ما يعفى عن قليله دون كثيره وهو : دم الأجنبي وطين الشارع المتيقن نجاسته .

الثالث : ما يعفى عن أثره دون عينه وهو : أثر الاستنجاء ، وبقاء ريح أو لون عسر زواله .

الرابع : ما لا يعفى عن عينه ولا أثره وهو ما عدا ذلك .

تقسيم ثان ما يعفى عنه من النجاسة أقسام :

أحدها : ما يعفى عنه في الماء والثوب وهو : ما لا يدركه الطرف وغبار النجس الجاف وقليل الدخان والشعر وفم الهرة والصبيان . ومثل الماء : المائع ومثل الثوب : البدن

الثاني : ما يعفى عنه في الماء والمائع دون الثوب والبدن وهو الميتة التي لا دم لها سائل ومنفذ الطير وروث السمك في الحب والدود الناشئ في المائع .

الثالث : عكسه ، وهو : الدم اليسير وطين الشارع ودود القز إذا مات فيه : لا يجب غسله صرح به الحموي وصرح القاضي حسين بخلافه

الرابع : ما يعفى عنه في المكان فقط ، وهو ذرق الطيور في المساجد والمطاف كما أوضحته في البيوع ويلحق به ما في جوف السمك الصغار على القول بالعفو عنه لعسر تتبعها وهو الراجح .

التقريرات السديدة ج ١ ص ١٣٠.

أقسام النجاسات المعفو عنها أربعة : ١. ما يعفى عنه في الثوب و الماء و هو ما لا يدرك الطرف .٢. ما يعفى عنه في الثوب دون الماء كقليل الدم.٣. ما يعفى عنه في الماء دون الثوب : الميتة التي لا دم لها سائل كذباب و نمل.٤. ما لا يعفى عنه مطلقا : بقية المجاسات.
Wallahu a’lamu bisshowab..

Sumber: IKABA

Jumat, 05 Juli 2019

Hukum Menempelkan Kaki Saat Shalat Berjamaah

Hukum Menempelkan Kaki Saat Shalat Berjamaah
Hukum Saling Menempelkan Kaki Saat Shalat Berjamaah itu sunnah atau boleh atau wajib atau makruh?
Tren kebiasaan saling menempelkan kaki saat shalat berjamaah antara satu makmum dengan makmum yang lain tidak ada pada zaman Rasulullah, Sahabat Nabi, dan para tabi'in dan tabi'it tabi'in kecuali ada salah satu Sahabat yang tidak dikenal yang melakukan itu. Itupun tidak dilakukan oleh Sahabat-sahabat yang lain menurut beberapa hadits riwayat Anas dan Ma'mar bin Basyir. Juga, para ulama madzhab empat tidak pernah membahas ini. Kebiasaan ini menjadi populer setelah salah satu ulama Wahabi bernama Nasiruddin Albani mewajibkannya. Yang sunnah menurut ulama berdasarkan hadits riwayat Anas adalah meluruskan barisan (shaf) shalat berjamaah dan berusaha tidak terlalu renggang antara satu makmum dengan makmum lainnya

Intinya: hukum meluruskan barisan shaf shalat berjamaah adalah sunnah. Dan hendaknya ada jarak antara kedua kaki seorang makmum dan ada jarak antara satu makmum dengan makmum yang lain. Jaraknya menurut madzhab Syafi'i adalah 1 syibr. Berapa 1 syibr itu dalam sentimeter?

Baca juga:

- Hukum Menempelkan Kaki Saat Shalat Berjamaah
- Hukum Meluruskan Barisan Shaf Shalat Berjamaah
- Posisi Kedua Kaki Orang yang Shalat

شبر (وحدة طول)
هو وحدة قياس طولي وهي خمسة (5) أصابع.

مقدار الشِّبْر:

عند الحنفية 11.592 سنتيمتر.
المالكية 8.832 سنتيمتر.
وعند الحنابلة والشافعية: 15.456 سنتيمتر.

كتاب حقيقة الدينار والدرهم والصاع والمد لأبي العباس أحمد العزفي السبتي

Berikut hadits yang mendasari dan pendapat ulama tentangnya:



قال الإمام ابن حجر الهيتمي في تحفة المحتاج 2/22 : ويسن أن يفرق بين قدميه بشبر خلافا لقول الأنوار بأربع أصابع فقد صرحوا بالشبر في تفريقهما في السجود.اهـ

وقد نص على هذا جمع من الشافعية ومنهم الإمام المحلي والرملي وغيرهما .

وأما المالكية فالذي وجدته من كلامهم ما يلي :

في منح الجليل للشيخ محمد عليش المالكي: تفريقهما خلاف المعتاد قلة وقار كإقرانهما وإلصاقهما زيادة تنطع . انتهى.

اللزق للقدمين أو لصقهما بقدمي من يصلي عن يمينك أو يسارك لم يقل به أحد من الأئمة الأربعة ، وهو من الهيئات المستحدثة الجديدة في الصلاة ، وما جاء في بعض الروايات مما يتوهم منه ذلك ، ظاهره غير مراد وفسره العلماء بالمحاذاة للقدمين ، يؤيده أيضأً أن لزق الركبتين الوارد في بعض الروايات غير مراد ظاهره أيضاً وهو أمر متعذر كلزق القدمين ، راجع فتح الباري وغيره .

والفقهاء اختلفوا في المسافة بين القدمين أي تباعدهما من المصلي نفسه ، فمنهم من قال قدر شبر ، ومنهم من قال لايزيد عن الوضع المعتاد للوقوف ونحو ذلك . والأمر في ذلك سهل ، لكن اللزق الذي يتكلف له بعض المصلين طول الصلاة مما يسبب إيذاء لمن يصلي بجانبيه فليس من السنة ولا من الفقه ، وهو متعذر أثناء السجود والتشهد والجلوس بين السجدتين .

وقد أفرد هذه المسألة بعض المؤلفين المعاصرين ، من هذه المؤلفات : موضع القدمين من المصلي في الصلاة للدكتور العلامة أحمد محمد نور سيف المكي المالكي مطبوعة بدار البحوث بدبي ، وهو مالكي المذهب ، وتكفي في الموضوع .

وراجع كتاب لا جديد في أحكام الصلاة للشيخ بكر بن عبدالله بن أبي زيد ، مطبوعة وذكر فيه هذه المسألة وهيئات أخرى مستحدثة في الصلاة ، كوضع اليدين أ‘لى الصدر قرب الرقبة وغير ذلك ، وهو مهم ينبغي اقتناؤه مع ماقبله ، خاصة أن الشيخ بكر المذكور من مراجع القوم ، ولايبيعون الكتاب إلا قليلاً .

ووقفت على رسالة مهمة لبعض طلبة العلم من حضرموت غير مطبوعة مفصلة في الموضوع بعنوان : بسط الكف في أحكام تسوية الصف ، تناول المسألة بالتفصيل والدليل مع المناقشة والتعليل ، في حدود مئة صفحة من القطع الكبير . والله أعلم .
كتبه بعجل واختصار الفقير خادم السلف

من فيض القدير 4/5 :
راصوا صفوفكم ) أي صلوها بتواصل المناكب ( وقاربوا بينها ) بحيث لا يسع بين كل صفين صف آخر حتى لا يقدر الشيطان أن يمر بين أيديكم ويصير تقارب أشباحكم سببا لتعاضد أرواحكم ( وحاذوا بالأعناق ) ( 1 ) بأن يكون عنق كل منكم على سمت عنق الآخر يقال حذوت النعل بالنعل إذا حاذيته به وحذاء الشيء إزاؤه يعني لا يرتفع بعضكم على بعض ولا عبرة بالأعناق أنفسها إذ ليس على الطويل ولا له أن ينحني حتى يحاذى عنقه عنق القصير الذي بجنبه ، ذكره القاضي . وظاهر صنيع المصنف أن هذا هو الحديث بتمامه والأمر بخلافه بل بقيته : فوالذي نفسي بيده إني لأرى الشيطان يدخل من خلال الصف كأنها الحذف بحاء مهملة وذال معجمة ، ووهم من قال بمعجمتين غنم سود صغار فكأن الشيطان يتصغر حتى يدخل في تضاعيف الصف قال الزمخشري : سميت به لأنها محذوفة عن المقدار الطويل .

- ( ن عن أنس ) رمز المصنف لصحته ، وظاهر اقتصاره على النسائي أنه تفرد بإخراجه عن الستة وإلا لذكره كعادته وليس كذلك فقد رواه أبو داود في الصلاة باللفظ المزبور .

- - - - - - - - - -
( 1 ) [ وبتعيينه صلى الله عليه وسلم الأعناق لا يبقى شك في أن معنى " المحاذاة " المراد في أحاديث رص الصفوف إنما هو كما فسره العلماء ، ومنهم الإمام المناوي في شرحه المذكور أعلاه : جعلها على سمت وخط واحد ، وليس المراد " إلصاقها " ببعض إذ يستحيل ذلك بالأعناق .
هذا ومع أنه لم يرد الأمر ، لا من النبي صلى الله عليه وسلم ، ولا من الخلفاء الراشدين ، ولا من الأئمة المجتهدين ، " بإلصاق " الأقدام ، فإنا نرى من يأمر الناس بذلك عند تسوية الصفوف !
ورغم حسن نية من يتبع أدعياء العلم هؤلاء ، فلا يخفى ما في عملهم من المساوئ بسبب عدم فهمهم لأحاديث رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وبسبب اعتمادهم على ذلك الفهم الخاطئ دون الرجوع إلى شروح الحديث ولا إلى أقوال الصحابة والأئمة المجتهدين .

فمن تلك المساوئ الاشتغال عن تطبيق السنة المذكورة أعلاه ، أي المحاذاة بالمناكب والأعناق .
ومنها أنهم ينحنون ، وبذلك يتعذر تطبيق تلك السنة على غيرهم كذلك .
ومنها أن المبالغين منهم يتعدون أثناء الصلاة فلا يزالون يمدمدون أقدامهم ليلصقونها بأقدام رفاقهم في الصف ، حتى تصل أقدامهم إلى مكان جارهم أو تحت كتفه أو أكثر ، ولا يخفى ما في ذلك من الانشغال عن تدبر صلاتهم ، وتشويشهم على الغير .

ومنها أن وقفتهم لا تخلو من تفريج القدمين وهو تصنع وتفعل مخالف للسنة والفطرة حيث ورد أنه صلى الله عليه وسلم كان " كما وقف كبر ؟ ؟ " أي بدون تفعل وتصنع في جميع ما يتعلق بوقفته .
ومنها أن الوقفة مع تفريج القدمين إنما هي وقفة التكبر والتحدي ، وليست وقفة العبد المتذلل لربه .
وقد أجري البحث بواسطة برنامج المحدث في الكتب التالية ، ولم يعثر على الأمر بالمحاذاة بين الأقدام : الجامع الصغير ، وزيادة الجامع الصغير ، ومجمع الزوائد . وإنما وجدت كلمة " حاذوا " في مثل الحديث 1366 : " أقيموا الصفوف ، وحاذوا بالمناكب ، وأنصتوا . . . " والحديث 1367 : " أقيموا الصفوف ، فإنما تصفون بصفوف الملائكة ، وحاذوا بين المناكب ، وسدوا الخلل . . . " ولم يرد في أيها الأمر بالمحاذاة بين الأقدام ، وإن فرض وجود الأمر " بالمحاذاة " بين " الأقدام " ، فتكون كالمحاذاة بين الأعناق المذكورة في هذا الحديث ، أي جعلها على سمت وخط واحد كما تم تفصيله أعلاه .

فنسأل الله تعالى أن يوفقنا لفهم واتباع السنة كما وردت ، غير مبدلين ولا مغيرين . آمين . دار الحديث ]

طرح التثريب للإمام العراقي : ( باب الإمامة ) ( الحديث الأول ) عن همام عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم { أقيموا الصف في الصلاة فإن إقامة الصف من حسن الصلاة } . ( فيه ) فوائد : ( الأولى ) فيه الأمر بإقامة الصفوف في الصلاة والمراد بالصف الجنس ويدخل في إقامة الصف استواء القائمين على سمت واحد والتصاق بعضهم لبعض بحيث لا يكون بينهم خلل وتتميم الصفوف المقدمة أولا فأولا وفي صحيح مسلم وغيره عن النعمان بن بشير قال { كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يسوي صفوفنا حتى كأنما يسوي بها القداح حتى رأى أن قد عقلنا عنه ثم خرج يوما فقام حتى كاد أن يكبر فرأى رجلا باديا صدره من الصف فقال : عباد الله لتسون صفوفكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم } وفي سنن أبي داود وغيره عن النعمان { أقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم على الناس بوجهه فقال أقيموا صفوفكم ثلاثا والله لتقيمن صفوفكم أو ليخالفن الله بين قلوبكم قال فرأيت الرجل يلزق منكبه بمنكب صاحبه وركبته بركبة صاحبه وكعبه بكعبه } . فهاتان الروايتان دالتان بمجموعهما على أنه يدخل في إقامة الصف استواء القائمين به وانضمام بعضهم لبعض وفي صحيح البخاري عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم { أقيموا صفوفكم فإني أراكم من وراء ظهري وكان أحدنا يلزق منكبه بمنكب صاحبه وقدمه بقدمه } وفي صحيح مسلم وغيره عن جابر بن سمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم { ألا تصفون كما تصف الملائكة عند ربها ؟ قلنا وكيف تصف الملائكة عند ربها قال يتمون الصفوف المقدمة ويتراصون في الصف }

وفي سنن أبي داود وغيره عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال { أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا , ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله } وفي سنن أبي داود وغيره عن أنس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال { رصوا صفوفكم وقاربوا بينهما وحاذوا بالأعناق فوالذي نفسي بيده إني لأرى الشيطان يدخل من خلل الصف كأنها الحذف } . والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ( الثانية ) هذا الأمر للاستحباب بدليل قوله في تعليله { فإن إقامة الصف من حسن الصلاة } قال ابن بطال هذا يدل على أن إقامة الصفوف سنة لأنه لو كان فرضا لم يجعله من حسن الصلاة لأن حسن الشيء زيادة على تمامه وذلك زيادة على الوجوب قال ودل هذا على أن قوله في حديث أنس { تسوية الصف من إقامة الصلاة أن إقامة الصلاة } .

تقع على السنة كما تقع على الفريضة لما قال ابن بطال في قول أنس ما أنكرت شيئا إلا أنكم لا تقيمون الصفوف لما كان تسوية الصف من السنة التي يستحق فاعلها المدح عليها دل ذلك أن تاركها يستحق الذم والعتب كما قال أنس رحمه الله غير أن من لم يقم الصفوف لا إعادة عليه ألا ترى أن أنسا لم يأمرهم بإعادة الصلاة انتهى . وهذا اللفظ الذي ذكره في حديث أنس وهو قوله { من إقامة الصلاة } . هو لفظ البخاري ولفظ مسلم وغيره { من تمام الصلاة } وقال الشيخ تقي الدين في شرح العمدة قد يؤخذ من قوله { من تمام الصلاة } أنه مستحب لأنه لم يذكر أنه من أركانها ولا واجباتها وتمام الشيء أمر زائد على حقيقته التي لا يتحقق إلا بها في مشهور الاصطلاح قال وقد ينطلق بحسب الوضع على بعض ما لا تتم الحقيقة إلا به انتهى . وهذا مذهب جمهور العلماء من السلف والخلف وهو قول الأئمة الأربعة . وذهب ابن حزم الظاهري إلى وجوبه فقال وفرض على المأمومين تعديل الصفوف الأول والتراص فيها والمحاذاة بالمناكب والأرجل فإن كان نقص كان في آخرها ومن صلى وأمامه في الصف فرجة يمكنه سدها بنفسه فلم يفعل بطلت صلاته فإن لم يجد في الصف مدخلا فليجذب إلى نفسه رجلا يصلي معه فإن لم يقدر فليرجع ولا يصل وحده خلف الصف إلا أن يكون ممنوعا فيصلي ويجزيه ثم ذكر حديث النعمان بن بشير { لتسون صفوفكم أو ليخالفن الله بين وجوهكم } .

قال وهذا وعيد شديد والوعيد لا يكون إلا في كبيرة من الكبائر ثم ذكر قول أنس كان أحدنا يلزق منكبه بمنكب صاحبه وقدمه بقدمه وهو في صحيح البخاري ثم قال هذا إجماع منهم ثم قال وبقولنا يقول السلف الطيب روينا بأصح إسناد عن أبي عثمان النهدي قال كنت فيمن ضرب عمر بن الخطاب قدمه لإقامة الصف في الصلاة قال ابن حزم ما كان رضي الله عنه ليضرب أحدا ويستبيح بشرة محرمة عليه على غير فرض ثم حكى ابن حزم بعث عثمان رضي الله عنه رجلا لذلك وأنه لا يكبر حتى يخبروه باستوائها ثم قال : فهذا فعل الخليفتين بحضرة الصحابة لا يخالفهم في ذلك أحد منهم ثم حكى عن سويد بن غفلة قال كان بلال هو مؤذن رسول الله صلى الله عليه وسلم يضرب أقدامنا في الصلاة ويسوي مناكبنا . ثم قال فهذا بلال ما كان ليضرب أحدا على غير الفرض ثم حكى قولهم لأنس بن مالك أتنكر شيئا مما كان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لا , إلا أنكم لا تقيمون الصفوف قال ابن حزم المباح ليس منكرا انتهى . وقد استدل البخاري بكلام أنس هذا على الوجوب فبوب عليه في صحيحه , باب إثم من لم يتم الصفوف وقال القاضي أبو بكر بن العربي : هذا الوعيد يعني الذي في حديث النعمان لا يكون إلا في ترك واجب وهذا كان يقتضي الوجوب إلا أن الشرع سمح في ذلك . ا هـ

( الثالثة ) ذكر العلماء في معنى إقامة الصف أمورا : ( أحدها ) حصول الاستقامة والاعتدال ظاهر كما هو المطلوب باطنا . ( ثانيها ) لئلا يتخللهم الشيطان فيفسد صلاتهم بالوسوسة كما جاء في ذلك الحديث . ( ثالثها ) ما في ذلك من حسن الهيئة . ( رابعها ) أن في ذلك تمكنهم من صلاتهم مع كثرة جمعهم فإذا تراصوا وسع جميعهم المسجد وإذا لم يفعلوا ذلك ضاق عنهم . ( خامسها ) أن لا يشغل بعضهما بعضا بالنظر إلى ما يشغله منه إذا كانوا مختلفين وإذا اصطفوا غابت وجوه بعضهم عن بعض وكثير من حركاتهم وإنما يلي بعضهم من بعض ظهورهم ( الرابعة ) وجه إيراد المصنف رحمه الله هذا الحديث في باب الإمامة أن الصفوف إنما تحصل مع الجماعة وذلك بالإمام والمأمومين فهي من الأحكام المترتبة على الإمامة وأيضا فتسوية الصفوف من وظائف الإمامة . وفي سنن أبي داود وغيره عن البراء بن عازب قال { كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتخلل الصف من ناحية إلى ناحية يمسح صدورنا ومناكبنا ويقول لا تختلفوا فتختلف قلوبكم وكان يقول إن الله عز وجل وملائكته يصلون على الصفوف الأول } . وروي عن كل من عمر وعثمان رضي الله عنهما { أنه كان يبعث رجالا يسوون الصفوف فإذا أخبروه بتسويتها كبر } وكان علي رضي الله عنه يتعاهد ذلك أيضا ويقول تقدم يا فلان تأخر يا فلان .

المصدر

***



السؤال :

ما الحكم الشرعي في قيام بعض الناس في المساجد بالتضييق على بقية المصلين في مسألة تسوية الصفوف، ورص أصابع الأقدام على بعضها، والتفريج بين الأقدام بشكل كبير؟


الجواب :

الحمد لله، والصلاة والسلام على سيدنا رسول الله
ندب الشارع إلى تسوية صفوف المصلين وسد الفُرَج في صلاة الجماعة؛ والحكمة فيه ترابط قلوب المصلين وجمعهم بنظام واحد؛ وذلك من إقامة الصلاة، فعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ) متفق عليه. قال ابن عبد البر: "وأما تسوية الصفوف في الصلاة فالآثار فيها متواترة من طرق شتى صحاح ثابتة في أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم تسويةَ الصفوف، وعمل الخلفاء الراشدين بذلك بعده" "الاستذكار" (2/ 288).

وقال الخطيب الشربيني: "يُسنُّ سد فُرَج الصفوف، وأن لا يُشرع في صف حتى يَتِمَّ الأولُ، وأن يُفسح لمن يريده، وهذا كله مستحب لا شرط؛ فلو خالفوا صحَّت صلاتهم مع الكراهة" "مغني المحتاج" (1/ 493).

ولكن لا ينبغي أن يُتكلف في هذه المسألة ويُغالى فيها، فقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلَاةِ) رواه أبو داود. قال الإمام الخطابي: "معنى لين المنكب: لزوم السكينة في الصلاة، والطمأنينة فيها لا يلتفت ولا يُحاك بمنكبه منكب صاحبه، وقد يكون فيه وجه آخر، وهو أن لا يمتنع على من يريد الدخول بين الصفوف ليسد الخلل أو لضيق المكان، بل يمكنه من ذلك، ولا يدفعه بمنكبه لتتراص الصفوف وتتكاتف الجموع" "معالم السنن" (1/ 184)، ولكي يحافظ المصلي على اعتداله فقد ذكر الفقهاء أنه ينبغي أن تكون المسافة بين قدمي المصلي مقدار شِبْر، سواء عند القيام أو الركوع أو السجود؛ جاء في "مغني المحتاج" (1/ 375): "يُفرِّقُ الذكرُ ركبتيه وبين قدميه قَدْرَ شِبْر".

وينبغي التنبيه إلى أن منهج النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه الكرام قام على الرحمة والتبشير والتيسير، فلا يجوز لأحد أن يدعي السير على خطاه ثم يقوم بالتضييق على الناس وتنفيرهم من الدين، وإنما الواجب على كل داعية أن يقرب الناس بالحكمة والموعظة الحسنة. والله أعلم

المصدر

***

فقد حث النبي صلى الله عليه وسلم على إقامة الصف في الصلاة، وتسويته وسد الفرج وذلك في أحاديث كثيرة، منها قوله صلى الله عليه وسلم: “سووا صفوفكم فإن تسوية الصفوف من تمام الصلاة” متفق عليه. على أن يراعى أن يقوم المسلم بالعمل بما في الحديث من التراص، ولكن لا يفرج قدمه بصورة تجعل المناكب تتباعد، ويحرص على ألا يشوش على من يصلى بجواره؛ لأنه لا ضرر ولا ضرار في الإسلام. هذا فحوى كلام العلماء، وإليك نص فتواهم

يقول فضيلة الشيخ محمد صالح المنجد ـ من علماء المملكة العربية السعودية:
يجب على المسلمين أن يرصوا صفوفهم و أن يسدوا الفرج بينهم وذلك يكون بمحاذاة المنكب مع المنكب والقدم مع القدم .

عن أنس بن مالك ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” أقيموا الصفوف فإني أراكم خلف ظهري ” .رواه البخاري ومسلم .

وعن عبد الله بن عمر ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” أقيموا الصفوف وحاذوا بين المناكب وسدوا الخلل ولينوا بأيدي إخوانكم ، ولا تذروا فرجات للشيطان ومن وصل صفا وصله الله ومن قطع صفا قطعه الله . . .” .

قال أبو داود : ومعنى ولينوا بأيدي إخوانكم أي : يكون الرجل ليناً منقاداً لأخيه إذا قدمه أو أخره ليستوي الصف . ( عون المعبود )

أبو داود والنسائي وصححه الألباني في صحيح أبي داود .
عن النعمان بن بشير يقول : ” أقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم على الناس بوجهه فقال : أقيموا صفوفكم ثلاثا والله لتقيمن صفوفكم أو ليخالفن الله بين قلوبكم قال : فرأيت الرجل يلزق منكبه بمنكب صاحبه وركبته بركبة صاحبه وكعبه بكعبه ” .

رواه أبو داود وصححه الألباني في صحيح أبي داود .

وهل ينظر الرجل عن يمينه أو يساره حتى يساوي الصف ؟
السنة أن يتوسط الإمام الصف ، فيقف مقابلاً منتصف الصف ، فتبدأ الصفوف من خلف الإمام لا من يمين المسجد ولا من يساره كما يفعل البعض ، بل من خلف الإمام ، ثم يكمل الصف على اليمين واليسار معاً محافظة على السنة في توسط الإمام .

وعلى هذا فمن كان على يمين الصف فإنه ينظر إلى يساره ويحاذي من على يساره ، ومن كان على يسار الصف فإنه ينظر إلى يمينه ويحاذي من على يمنيه .

أما الفرجة بين القدمين فإن المصلي يقف وقوفاً معتدلاً ، فلا يضم قدميه ولا يزيد في المباعدة بينهما لأنه كلما زاد تباعد إلصاق المنكب بالمنكب ، والتراص في الصف يكون في إلصاق القدم بالقدم والكتف بالكتف .

قال الشيخ بكر أبو زيد :
ومن الهيئات المضافة مجدَّداً إلى المصافة بلا مستند : ما نراه من بعض المصلين من ملاحقته مَن على يمينه إن كان في يمين الصف ، ومَن على يساره إن كان في ميسرة الصف ، وليِّ العقبين ليُلصق كعبيه بكعبي جاره .

وهذه هيئة زائدة على الوارد ، فيها إيغال في تطبيق السنة ، وهي هيئة منقوضة بأمرين :
الأول : أن المصافَّة هي مما يلي الإمام ، فمن كان على يمين الصف : فليصافَّ على يساره مما يلي الإمام ، وهكذا يتراصُّون ذات اليسار واحداً بعد واحد على سمت واحد في تقويم الصف ، وسد الفُرَج ، والتراص والمحاذاة بالعنق ، والمنكب، والكعب ، وإتمام الصف الأول فالأول .

أما أن يلاحق بقدمه اليمنى – وهو في يمين الصف – مَن على يمينه ، ويلف قدمه حتى يتم الإلزاق : فهذا غلط بيِّن ، وتكلف ظاهر ، وفهم مستحدث فيه غلو في تطبيق السنة ، وتضييق ومضايقة ، واشتغال بما لم يشرع ، وتوسيع للفُرَج بين المتصافين .

يظهر هذا إذا هوى المأموم للسجود ، وتشاغل بعد القيام لمَلْأ الفراغ ، وليِّ العقب للإلزاق ، وتفويت لتوجيه رؤوس القدمين إلى القبلة .

وفيه ملاحقة المصلي للمصلي بمكانه الذي سبق إليه ، واقتطاع لمحل قدم غيره بغير حق .
وكل هذا تسنُّن بما لم يشرع .
أهـ
ويقول الشيخ عطية صقر ـ رئيس لجنة الفتوى بالأزهر سابقا:
إذَا كَان الإنسان يُصلِّي إمامًا أو منفردًا كان من السنة ألا يَضم قدميه عند القيام في الصلاة، بل يُفرِّج بينهما، وذلك باتفاق الأئمة، أما المَسافة بين القدمين فقدَّرها الحنفية بأربع أصابع، فإن زاد أو نقص كان مكروهًا، وقدَّرها الشافعية بشبر، وقال المالكية والحنابلة يكون التفريج متوسطًا، بحيث لا يضم القدمين ولا يوسعهما كثيرَا حتى يتفاحش عرفًا.

وإذا كان المصلي مأمومًا في صف فمن السنة سدُّ الفُرَج وتراصُّ الصفوف، وجاء في ذلك حديث رواه البخاري ومسلم عن أنس ـ رضي الله عنه ـ قال: أقيمت الصلاة فأقبل علينا رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ بوجهه فقال: ” أقيموا صفوفكم وتراصُّوا، فإني أراكم من وراء ظهْري”، وجاء في رواية البخاري: فكان أحدنا يُلْزِقُ مِنْكَبَه بمِنْكب صاحبه وقَدَمَه بِقَدَمِه. وجاء في رِوَاية أبي داود وابن خُزَيمة في صحيحه عن النعمان بن بشير قوله: فلقدْ رأيت الرجل منا يُلْزِقُ مِنْكَبَه بمِنْكَب صاحبه، وكعبَه بكعبِه.

والكعب هو العَظْم الناتئ في جانِبَي الرجْل عند ملتقى الساق بالقدم؛ لأنَّه هو الذي يُمكن أن يلزق بالذي بجنبه، والقول بأن الكعب هو مؤخر القدم قول شاذ يُنسب إلى بعض الحنفية ولم يُثْبِتْه محقِّقُوهم، كما جاء في الفتح لابن حجر.

وإلْزاق أو لزْق المناكب يتْبعه بسهولة إلْزاق الكعوب، لكن لو تباعدَت المَنَاكِب اقتضى إلْزاق الكُعوب التفريج بين الأقدام بمسافة كبيرة تتفاحش عُرفًا، كما يقول المالكية والحنابلة، وتزيد على الشبر، كما يقول الشافعية وعلى الأصابع الأربعة، كما يقول الحنفية، وذلك مكروه.

وقد يحرص بعض الأشخاص على إلزاق الكعوب، على الرغم من تفاحش المسافة بين قدميه، فهو يُريد فعل سنَّة فيقع في مكروه، إلى جانب مُضايقته لمَن بجواره الذي حاول ضمَّ قدميه لكنه يُلاحقه ويُفَرج بين قدمَيْه بصورة لافتة للنظر، وقد يضع رجله ويضغط عليها ومضايقة المصلِّي تُذهب خشوعه أو تقلِّله، والإسلام نهى عن الضرر والضرار.

وتضرُّر بعض المصلِّين من إلزاق جاره رجْله برجْله ذَكَرَه أحد رواة الحديث، وهو معمر فيما أخرجه الإسماعيلي، حيث قال: ولو فعلت ذلك بأحدهم اليوم لنَفَرٍ كأنه بَغْلٌ شَمُوسٌ. فأرجو التنبُّه لذلك، إبقاءً على المودَّة ومساعدةً على الخشوع في الصلاة.

والله أعلم.

المصدر

***

Hadits dasar


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shallaAllah alaih wasallam: ”Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” ada diantara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan kakinya dengan kaki temannya. (HR. Al-Bukhari)

Ulama Wahabi yang berPendapat wajib ilzaq (tempel kaki) dan menafsiri hadis secara tekstual:

Nasiruddin Albani Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77, dia menuliskan :

وقد أنكر بعض الكاتبين في العصر الحاضر هذا الإلزاق, وزعم أنه هيئة زائدة على الوارد, فيها إيغال في تطبيق السنة! وزعم أن المراد بالإلزاق الحث على سد الخلل لا حقيقة الإلزاق, وهذا تعطيل للأحكام العملية يشبه تماما تعطيل الصفات الإلهية, بل هذا أسوأ منه
Sebagian penulis zaman ini telah mengingkari adanya ilzaq (menempelkan mata kaki, dengkul, bahu) ini, hal ini bisa dikatakan menjauhkan dari menerapkan sunnah. Dia menyangka bahwa yang dimaksud dengan “ilzaq” adalah anjuran untuk merapatkan barisan saja, bukan benar-benar menempel. Hal tersebut merupakan ta’thil (pengingkaran) terhadap hukum-hukum yang bersifat alamiyyah, persis sebagaimana ta’thil (pengingkaran) dalam sifat Ilahiyyah. Bahkan lebih jelek dari itu.

Ulama Wahabi Salafi yg menafsiri hadis ilzaq secara majazi:

1. Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) dalam La Jadida fi Ahkam as-Shalat (Tidak Ada Yang Baru Dalam Hukum Shalat), hal. 13. berpendapat :


وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل وإِلزاق الكعب بالكعب فيه من التعذروالتكلف والمعاناة والتحفز والاشتغال به في كل ركعة ما هو بيِّن ظاهر.

فهذا فَهْم الصحابي – رضي الله عنه – في التسوية: الاستقامة, وسد الخلل لا الإِلزاق وإِلصاق المناكب والكعاب. فظهر أَن المراد: الحث على سد الخلل واستقامة الصف وتعديله لا حقيقة الإِلزاق والإِلصاق
Menempelkan bahu dengan bahu di setiap berdiri adalah takalluf (memberat-beratkan) yang nyata. Menempelkan dengkul dengan dengkul adalah sesuatu yang mustahil, menempelkan mata kaki dengan mata kaki adalah hal yang susah dilakukan.
Inilah yang difahami shahabat dalam taswiyah shaf: Istiqamah, menutup sela-sela. Bukan menempelkan bahu dan mata kaki. Maka dari itu, maksud sebenarnya adalah anjuran untuk menutup sela-sela, istiqamah dalam shaf, bukan benar-benar menempelkan.

Bakr bin Abdullah Abu Zaid–rahimahullah- berkata :

فإِن إِلزاق العنق بالعنق مستحيل, وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر. وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل, وإِلزاق الكعب بالكعب, فيه من التعذر, والتكلف

“Melekatkan pundak dengan pundak dalam setiap berdiri (ketika shalat) termasuk perbuatan takalluf (memberatkan diri) yang sangat jelas. Melekatkan lutut dengan lutut, perkara yang mustahil. Melekatkan mata kaki dengan mata kaki, di dalamya terdapat perkara yang sangat sulit (terwujud) dan memberatkan diri.” [ La Jadida : 11 ].

2. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Fatawa Arkanil Islam hlm. 312.

الصحابة -رضي الله عنهم- فإنهم كانا يسوون الصفوف بإلصاق الكعبين بعضهما ببعض ، أي أن كل واحد منهم يلصق كعبه بكعب جاره لتحقق المحاذاة وتسوية الصف، فهو ليس مقصوداً لذاته لكنه مقصود لغيره كما ذكر بعض أهل العلم، ولهذا إذا تمت الصفوف وقام الناس ينبغي لكل واحد أن يلصق كعبه بكعب صاحبه لتحقق المساواة،وليس معنى ذلك أن يلازم هذا الإلصاق ويبقى ملازماً له في جميع الصلاة.

ومن الغلو في هذه المسألة ما يفعله بعض الناس من كونه يلصق كعبه بكعب صاحبه ويفتح قدميه فيما بينهما حتى يكون بينه وبين جاره في المناكب فرجة فيخالف السنة في ذلك، والمقصود أن المناكب والأكعب تتساوى

“Para sahabat, sesungguhnya mereka meluruskan shaf dan melekatkan dua mata kaki sebagian mereka dengan sebagian yang lain, ARTINYA : sesungguhnya tiap satu dari mereka melekatkan mata kaki dengan mata kaki orang di sampingnya UNTUK MEWUJUDKAN KESETENTANGAN DAN KELURUSAN SHAF. Dan ini (melekatkan mata kaki dan pundak), bukanlah sesuatu yang dimaksudkan. Akan tetapi ia merupakan sesuatu yang dimaksudkan untuk (mewujudkan) sesuatu yang lain, sebagaimana hal ini telah disebutkan oleh para ulama’. Oleh karena itu, jika shaf telah sempurna (penuh) dan manusia telah berdiri, seyogyanya setiap orang untuk menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya untuk merealisasikan kelurusan (shaf). BUKANLAH HAL ITU BERMAKNA, BAHWA SEORANG HARUS MENEMPELKAN(NYA) SECARA TERUS SEPANJANG SHALATNYA.”

“Termasuk perbuatan ghuluw (melampaui batas) dalam masalah ini (merapatkan dan meluruskan shaf), apa yang dilakukan oleh sebagian manusia, berupa melekatkan mata kakinya dengan mata kaki sahabatnya, dan membuka kedua kakinya (ngangkang) di antara keduanya, sehingga terjadi celah/jarak antara pundaknya dengan pundah temannya. Maka dia telah menyelisihi sunnah dalam hal itu. Padahal yang dimaksud, pundak-pundak dan mata kaki-mata kaki itu bisa lurus (bukan melaekatnya).” [ Fatawa Arkanil Islam : 312 ].

3, Shalih Al-Fauzan Al-Mulakhash Al-Fiqhi : 124 ].

وليس معنى رص الصفوف ما يفعله بعض الجهال اليوم من فحج رجليه حتى يضايق من بجانبه؛ لأن هذا العمل يوجد فرجا في الصفوف، ويؤذي المصلين، ولا أصل له في الشرع

“Bukanlah makna merekatkan shaf, apa yang dilakukan oleh sebagai orang-orang bodoh di hari ini berupa perenggangan (ngangkang) kedua kakiya sampai menyempitkan orang yang di sisinya. Karena sesungguhnya amalan ini akan didapatkan celah di dalam shaf, menganggu orang yang shalat, serta tidak ada asalnya dalam syari’at.” [ Al-Mulakhash Al-Fiqhi : 124 ].

PENDAPAT ULAMA KLASIK

Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H.) Fathu al-Bari, hal.6/ 282) menuliskan:

حديث أنس هذا: يدل على أن تسوية الصفوف: محاذاة المناكب والأقدام
Hadits Anas ini menunjukkan bahwa yang dimaksud meluruskan shaf adalah lurusnya bahu dan telapak kaki.


Ibnu Hajar (w. 852 H) Fathu al-Bari, hal. 2/211] menuliskan:


الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ
Maksud hadits ”ilzaq” adalah menekankan dalam meluruskan shaf dan menutup celah.

Memang di sini beliau tidak secara spesifik menjelaskan harus menempelkan mata kaki, dengkul dan bahu. Karena maksud haditsnya adalah untuk menekankan dalam meluruskan shaf dan menutup celahnya.

Al-Khatthabi (w. 388 H.) Ma’alim Al-Sunan, jilid 1, hlm. 184) menyatakan:

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خياركم ألينكم مناكب في الصلاة. قلت معنى لين المنكب لزوم السكينة في الصلاة والطمأنينة فيها لا يلتفت ولا يُحاك بمنكبه منكب صاحبه. وقد يكون فيه وجه آخر وهو أن لا يمتنع على من يريد الدخول بين الصفوف ليسد الخلل أو لضيق المكان، بل يمكنه من ذلك ولا يدفعه بمنكبه لتتراص الصفوف وتتكاتف الجموع
Dari Ibnu Abbas, yang berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Yang paling baik di antara kalian adalah yang paling lentur pundaknya di dalam shalat.” Saya (Al-Khatthabi) berkata, “Arti lenturnya pundak adalah tetap tenang dan tumakninah dalam shalat. Tidak menoleh kanan-kiri. Tidak menempelkan pundaknya ke pundak kawannya. Ada arti lain, yaitu tidak menghalangi seseorang yang ingin masuk ke dalam barisan untuk menutup celah atau karena sempitnya tempat. Ia bahkan harus memberi ruang kepada temannya. Tidak menolaknya dengan pundaknya. Hal ini agar barisan menjadi lurus.” (

Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri Al-Hindi menyatakan :

أي أن لا يَتْرُكَ في البين فرجةً تَسَعُ فيها ثالثًا. بقي الفصل بين الرجلين: ففي «شرح الوقاية» أنه يَفْصِلُ بينهما بقدر أربع أصابع، وهو قول عند الشافعية، وفي قولٍ آخر: قدر شبر.
“Artinya : Janganlah seorang meninggalkan celah/jarak di antara (dia dan orang di sampingnya) yang bisa digunakan untuk satu orang ketiga di dalamnya. Telah tetap adanya jarak antara kedua kaki. Di dalam “Syarh Al-Wiqayah” : Sesungguhnya seorang menyela di atara keduanya seukuran EMPAT JARI. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’iyyah. Dalam pendapat lain, : satu jengkal.” [ Faidhul Bari : 2/302 ].

HADITS PENDUKUNG

خياركم أَلينكم مناكب في الصلاة
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling lunak/lembut pundaknya di dalam shalat.” [ HR. Abu Dawud ].

Menurut Al-Khathabi –rahimahullah- Kalimat “paling lembut pundaknya”, maknanya :

ومعناه لزوم السكينة في الصلاة, والطمأْنينة فيها, لا يلتفت ولا يحاك منكبه منكب صاحبه
“Terus menerus tenang dalam shalat, tidak menoleh dan pundaknya tidak memotong (mengoyang) pundak orang lain.” [ Ma’alim Sunan lewat “La Jadida” : 14 ].

Menurut Al-Munawi –rahimahullah- :

ولا يُحاشر منكبُهُ منكبَ صَاحِبه
“Pundaknya jangan sampai berdesakan dengan pundak sahabatnya.”[Faidhul Qadir : 3/466].

JARAK YANG DIANJURKAN ANTARA MAKMUM

Bughyatul Mustarsyidin” (140) :

وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق
“Dan jarak yang dianggap (diakui) dalam lebar shaf-shaf dengan apa yang seorang bisa mempersiapkan dan mengatur shalat. Dan ia adalah apa yang secara adat mencukupi mereka, orang-orang yang bershaf tanpa berlebihan dalam keluasan dan kesempitan.”

Kamis, 20 Juni 2019

Nazhom Lagu Amsilat Tashrif

Nazhom Lagu Amsilat Tashrif dalam bentuk istilahi dan lughowi
Bidang: Ilmu shorof (morfologi). Cara mentashrif
Ilmu shorof adalah bagian dari ilmu bahasa Arab di samping ilmu nahwu


مختصر نظم أمثلة التصريفية

1. فَعَلَ – فَعَلاَ – فَعَلُوا – فَعَلَتْ – فَعَلَتاَ – فَعَلْنَ – فَعَلتَ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُمْ – فَعَلْتِ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُنَّ – فَعَلْتُ – فَعَلْناَ

2. فَعَلَ (فِعِلْ مَاضِ) يَـفْعُلُ (فِعِلْ مُضارِعْ) فَعْلاً (مَصْدَرْ) وَمَفْعِلاً (مصدر مِيْمْ) فَهُوَ (إسِمْ ضَمِيرْ) فَاعِلٌ (إسِمْ فاعِلْ) وَذَاكَ (إسم إشَارَةْ) مَـفْعُوْلٌ (إسِمْ مَفْعُولْ) أُفْـعُلْ (فِعِلْ أمَـرْ) لاَتـَـــفْعُلْ (فِعِلْ نَهِى) مَفْعَلٌ (إسِمْ زَمَنْ) مَفْعَلٌ (إسِمْ مَكَانْ) مِفْعَلٌ (إسِمْ ألة)

3. فَعَلَ – فَعَلاَ – فَعَلُوا – فَعَلَتْ – فَعَلَتاَ – فَعَلْنَ – فَعَلتَ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُمْ – فَعَلْتِ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُنَّ – فَعَلْتُ – فَعَلْناَ

4. هُـوَ_ هُـمَا_ هُمْ… هِيَ_ هُمـَا_ هُنَّ… أنْتَ _أَنْـتُـمَا_ أَنْـتُمْ… أَنْتِ_ أَنْـتُـمَا_ أَنْـتُـنَّ… أَناَ _ نَـحْنُ

5. أُفْعُلْ_ أُفْعُلاَ _أُفْعُلُوْا 4 ×… أُفْعُلِيْ _أُفْعُلاَ _أُفْعُلْنَ 2×

6. لِـيَلِيَنْ _ لِـيَلُنْ. لِـتَلِيَنْ _ _ 2×. لِـيَنْ _ لُنْ لِنْ _ _ 2×

7. نَـصَرَ _نـَصَرَا _نَصَرُوْا .. نَصَرَتْ _نَصَرَتاَ _نَصَرْنَ .. نَصَرْتَ _ نَصَرْتُمَا_ نَصَرْتُمْ.. نَصَرْتِ _ نَصَرْتُمَا نَصَرْتُنَّ.. نَصَرْتُ_ نَصَرْناَ

8. نَصَرَ (Wis Nulung) يَـنْصُرُ (bakal Nulung) نَصْرًا (kelawan Nulung) وَمَنْصَرًا (lan kelawan Nulung)
فَهُوَ ناَصِرٌ (yo iku wongkang Nulung) وَذَاكَ مَنْصُوْرٌ (mengkunu wongkang den tulung)
أُنْـصُـرْ (nulungo siro) لاَتَـنْصُرْ (ojo nulung siro)2× مَنْصَرٌ (zamane nulung) مَنْصَرٌ (panggonane nulung)
مِنْصًرٌ (Parabote nulung).

9. فَعَلَ – فَعَلاَ – فَعَلُوا – فَعَلَتْ – فَعَلَتاَ – فَعَلْنَ – فعلتَ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُمْ – فَعَلْتِ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُنَّ – فَعَلْتُ – فَعَلْناَ

10. إيـَّاهُ _ إياَّهُمَا _ إيَّاهُمْ… إياَّهَا _ إيَّاهُمَا _ إِياَّهُنَّ… إياَّكَ_ إيَّاكُمـَا_ إيَّاكُـمْ… إيَّاكِ_ إيَّاكُمـَا_ إيَّاكُـنَّ… إِياَّيَ _ إِيَّانَا

11. أُفْعُلْ _أُفْعُلاَ _أُفْعُلُوْا 4 ×… أُفْعُلِيْ_ أُفْعُلاَ_ أُفْعُلْنَ 2×

12. لِـيَلِيَنْ _ لِـيَلُنْ. لِـتَلِيَنْ _ _ 2×. لِـيَنْ _ لُنْ لِنْ _ _ 2×

13. لِـيَلِيَنْ _ لِـيَلُنْ. لِـتَلِيَنْ _ _ 2×. لِـيَنْ _ لُنْ لِنْ _ _ 2×

14. ضَرَبَ_ ضَرَبَا_ ضَرَبُوْا… ضَرَبَتْ_ ضَرَبْتاَ_ ضَرَبْنَ… ضَرَبْتَ_ ضَرَبْـتُـمَا_ ضَرَبْـتُمْ… ضَرَبْتِ_ ضَرَبْـتُـمَا_ ضَرَبْـتُنَّ… ضَرَبْتُ_ ضَرَبْـنَا

15. ضَرَبَ (Wis mukul) يَضرِبُ (bakal mukul) ضَرْبًا (kelawan mukul) وَمَضْرَبًا (lan kelawan mukul)
فَهُوَ ضَارِبٌ (yo iku wongkang mukul) وَذَاكَ مَضْرُوْبٌ (mengkunu wongkang den pukul)
إضْرِبْ (mukulo siro) لاَتَضْرِبْ (ojo mukul siro)2x مَضْرِبٌ (zamane mukul) مَضْرِبٌ (panggonane mukul)
مِضْرَبٌ (Parabote mukul).

16. فَعَلَ – فَعَلاَ – فَعَلُوا – فَعَلَتْ – فَعَلَتاَ – فَعَلْنَ – فعلتَ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُمْ – فَعَلْتِ – فَعَلْتُماَ – فَعَلْـتُنَّ – فَعَلْتُ – فَعَلْناَ

17. بـِهِ – بِـهِمَا – بِـهِمْ… بِـهَا – بِـهِمَا– بِـهِنَّ… بِكَ – بِكُمَا – بِكُم… بِكِ– بِكُمَا – بِكُنَّ… بِـيْ – بـِـنَا

18. أُفْعُلْ _أُفْعُلاَ _أُفْعُلُوْا 4 ×… أُفْعُلِيْ_ أُفْعُلاَ_ أُفْعُلْنَ 2×

19. لِـيَلِيَنْ _ لِـيَلُنْ. لِـتَلِيَنْ _ _ 2×. لِـيَنْ _ لُنْ لِنْ _ _ 2×

20. لِـيَلِيَنْ _ لِـيَلُنْ. لِـتَلِيَنْ _ _ 2×. لِـيَنْ _ لُنْ لِنْ _ _ 4×

VIDEO: CONTOH CARA MELAGUKAN

Minggu, 12 Mei 2019

Habib Umar bin Hafidz: Begini Metode Dakwah Rasulullah

Teks Lengkap Ceramah Habib Umar bin Hafidz di JIC

"Islam Kita Menyatukan, Bukan Memecah Belah Umat"

Alhamdulillah segala puji milik Allah yang telah memilih kalian untuk memikul amanah yang agung ini. Semoga Allah menolong kalian agar bisa menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Wahai Allah rekatkanlah hati dan sanubari-sanubari kami ini dengan hati dan sanubari orang-orang yang dekat dan Engkau cintai dengan sanad yang kuat yang tersambung kepada mereka.

Hakikat keistimewaan dalam Islam adalah dengan memerdekakan nafsu kita dan juga memerdekakan orang lain dari jajahan nafsu-nafsu mereka sendiri. Allah telah menyebutkan kepada kita tentang perkara dakwah di jalan Allah dengan cara/metode dakwah yang diterima oleh Allah Swt. yang bermanfaat bagi masyarakat.

Pertama, memenuhi hati dengan pengagungan kepada Allah hingga ia takut dan berharap hanya kepada Allah Swt. Sesungguhnya Allah Swt mengatur slogan ini di lidahnya para rasul seperti tercantum dalam Al-Qur'an:


وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam." (QS. asy-Syu'ara ayat 109, 127, 145, 164 dan 180).

Allah memuji orang-orang yang menyampaikan risalah-Nya dengan takut hanya kepada Allah dan menjadikan Allah sebaik-baik perlindungan:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا
"(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai perlindungan." (QS. al-Ahzab ayat 39).

Sesungguhnya yang patut menyandang dakwah di jalan Allah adalah orang yang hatinya berharap dan takut hanya kepada Allah. Dan selama di dalam hatinya masih ada titik harapan kepada selain Allah maka pasti dia tidak akan selamat dari kekacauan dalam dakwahnya. Baik disadari maupun tanpa disadari ada kepentingan demi sesuatu yang diharapkan selain Allah atau demi kekhawatiran selain khawatir kepada Allah.

Dan kita pun membaca wahyu Allah di dalam metode dakwah yang benar, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun:

اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا
"Pergilah kalian berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya di telah melampaui batas. Maka berbicaralah kepadanya dengan penyampaian yang lembut." (QS. Thaha ayat 43-44).

Sesungguhnya akal-akal yang berpikiran bahwa 'sesungguhnya engkau belum melaksanakan nahi munkar apabila engkau tidak berucap dengan kata-kata yang kasar dan keras", maka ucapan dan pemikiran itu bertentangan dengan wahyu Allah. Lihat wahyu Allah tentang metode dakwah ini, ketika mengatakan Fir'aun telah berbuat hal-hal yang jahat dan melewati batas, seharusnya setelah kalimat ini 'kasari dia atau bunuh dia atau habisi dia', bukan. Melainkan "فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا". Justru metode dakwah kalian adalah dengan ucapan dan penyampaian yang lembut.

Adapun metode hati adalah dengan harapan dan optimisme "لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ". Mudah-mudahan ia menjadi ingat Allah atau takut kepada Allah sehingga ia menjadi sadar.

Di dalam ayat yang lain, Allah memerintahkan:

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ. فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَىٰ أَنْ تَزَكَّىٰ. وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ
"Pergilah kepada Fir'aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri? Dan kamu akan kubimbing ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepadaNya?" (QS. an-Nazi'at ayat 17-19).

Bahkan cara ini diajarkan oleh Allah melalui wahyu kepada para rasulNya. Ketika Nabi Musa disampaikan pengaduan dari kaumnya tentang Fir'aun yang mengganggu mereka jauh sebelum datangnya Nabi Musa, maka jawab Nabi Musa:

اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah diperuntukkan kepada siapa yang dihendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. al-A'raf ayat 128).

Sesungguhnya perkara amar ma'ruf nahi munkar adalah kewajiban yang penting dan agung sampai hari kiamat. Tapi bagaimana metode dan caranya? Yakni amar ma'ruf dengan cara yang ma'ruf, dan nahi munkar pun dengan cara yang ma'ruf. Apabila engkau memerintahkan orang lain untuk berbuat hal yang ma'ruf (baik) maka perintahkan dengan cara yang ma'ruf. Dan apabila engkau mencegah orang lain dari perbuatan yang mungkar maka cegahlah mereka dengan cara yang ma'ruf, bukan mencegah kemungkaran dengan cara yang mungkar.

Ketika beberapa ulama salaf dahulu menyaksikan bagaimana masyarakat menggosipkan Hajjaj yang banyak membunuhi dan mendzalimi ummat Islam, dengan cara menggosip (ghibah) di belakang dan kenyataannya tidak menghasilkan apa-apa. Maka para ulama salaf berkata, "Sesungguhnya Allah akan menuntut apa yang dilakukan Hajjaj, sebagaimana Allah juga akan menuntut orang-orang yang menggosipkan dan mencaci maki Hajjaj atas kedzalimannya."

Dulu di masa Hajjaj, ada sekelompok sahabat Rasulullah Saw., anak-didik Rasulullah Saw., mereka tidak memahami makna mencegah dari kemungkaran dengan memaki Hajjaj, atau mengeluarkan kata-kata yang tidak baik kepada Hajjaj, atau memprovokasi massa untuk melakukan revolusi menggulingkan Hajjaj. Bukan itu yang mereka pahami dari makna 'Nahi Munkar' tersebut. Seperti sahabat Abdullah bin Umar Ra. dan para sahabat yang lain berpendirian demikian, mereka tidak ada satupun yang mendukung Hajjaj atas kedzaliman dan kemungkaran yang dia lakukan dan mereka juga tidak mencaci maki Hajjaj.

Siapa gerangan pemimpin dari semua manusia yang melakukan praktik amar ma'ruf nahi munkar? Siapa pula orang yang paling mengenal takut kepada Allah? Dan siapakah yang paling mengenal kecemburuan di dalam agama Allah? Sesungguhnya dialah Nabi Muhammad Saw.

Sebutkan, cacian apa yang pernah keluar dari lidah Rasulullah Saw. yang ditujukan kepada orang-orang musyrikin Mekkah yang dahulu pernah mengganggunya? Cacian apa yang pernah keluar dari lidah Rasulullah terhadap orang-orang munafik Madinah yang dahulu hidup di Madinah bersama Nabi? Pernahkah kita mendengar cacian Nabi Muhammad Saw. terhadap orang-orang Yahudi yang sering menggugurkan perjanjian dan kesepakatan bersama terhadap ummat Islam?

Sesungguhnya Nabi Saw. tidak menyibukkan diri dari hal demikian dan Nabi Saw. pun tidak berhenti untuk mengajak mereka (ke jalan Allah Swt.). Dan Nabi Muhammad Saw. mendirikan jihad terhadap orang-orang tersebut tetapi dengan aturan dan koridor kenabian yang diatur di dalam sunnahnya. Ketika ada satu kelompok Yahudi yang berkhianat atas suatu janji, maka yang diusir hanya satu kelompok Yahudi itu, bukan ditimpakan atas seluruh kaum Yahudi.

Dan kita semua mencintai amar ma'ruf nahi munkar dan jihad di jalan Allah, kita hidup atas hal tersebut dan rela mati untuknya, tetapi dengan cara dan metode Rasulullah Saw., Khulafaur Rasyidin dan Salafus Shalih. Dikatakan kepada Nabi Muhammad, "Ya Rasulullah, sumpahi mereka kaum musyrikin yang menyerang kita sebab mereka telah membunuh lebih dari 70 orang, juga telah membelah perut salah seorang sahabat Rasulullah, melukai dan menumpahkan banyak darah serta melakukan banyak kejahatan." Namun Nabi Saw. malah menjawab:

إنّيْ لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا؛ وَلَكِنْ بُعِثْتُ دَاعِيًا وَرَحْمَةً، اللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Sesungguhnya aku tidak diutus menjadi tukang laknat, akan tetapi aku diutus untuk mengajak kebaikan dan rahmat. Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka belum tahu.”

Ketika ummat Islam baru pulang dari peperangan, ada orang-orang munafik memprovokasi umat Islam dengan mengatakan, "Kalau betul Nabi kalian ini Nabi yang benar maka kalian tidak akan kalah perang, kalian pasti akan menang." Maka Sayyidina Umar bin Khattab Ra. yang mendengar ucapan tersebut menjadi geram, lalu menghadap Rasulullah Saw. untuk meminta ijin membunuh mereka untuk menyelesaikan masalah ini.

Nabi Saw. menjawab, "Wahai Umar sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) mengucap La ilaha illallah."

Sayyidina Umar bin Khattab Ra. lalu berkata, "Sesungguhnya lidah mereka mengucap La ilaha illallah, tetapi hati mereka tidak."

Maka Nabi Saw. bersabda, "Saya tidak diperintahkan untuk memeriksa hati manusia."

Adapun kepada orang-orang Yahudi yang Sayyidina Umar meminta ijin membunuh mereka, Nabi Saw. berkata, "Saya punya perjanjian dengan mereka, bagaimana saya akan menggugurkannya dengan membunuhi mereka? Selama mereka mengucapkan omongan dan provokasi secara diam-diam dan mereka tidak membatalkan perjanjian ini, maka saya tidak punya jalan untuk membatalkan perjanjian ini."

Kemudian di masa tersebut ada seorang anak kecil dari keturunan Yahudi, yang mana anak kecil ini memiliki keistimewaan bisa mengetahui isi hati orang-orang dan hal yang ghaib dan membicarakannha di tengah-tengah masyarakat. Ibnu Shayyad namanya dan dikenal dengan Dajjal. Sayyidina Umar meminta ijin membunuhnya daripada membuat fitnah. Tapi Nabi menjawab, "Kalau benar Ibn Shayyad itu Dajjal, maka kau tidak akan mampu membunuhnya. Sebab sudah kusabdakan di akhir jaman nanti akan datang Dajjal yang akan melakukan hal ini dan hal itu. Kalau engkau melakukan itu berarti sabdaku tidak benar dan bohong. Kalau memang ternyata dia Dajjal, maka tidak ada kebaikan bagimu ketika membunuh anak ini."

Dalam arti sesungguhnya kemarahan dan kecumburan yang seharusnya hanya untuk Allah, apabila dijadikan bukan karena Allah maka justru akan menarik orang-orang tersebut di luar jalan Allah Swt. Maka sesungguhnya tempat kemarahan, kecemburuan dan ketegasan karena Allah Swt. terhadap orang kafir tersebut, dengan cara tidak membiarkan kemungkaran-kemungkaran tersebut menyebar pada diri kita, keluarga kita dan dari dalam rumah kita.

Bukan seseorang yang mengklaim dia tegas dan marah karena Allah tetapi dia bersalaman dengan wanita yang bukan mahramnya, kemudian melakukan hal-hal yang tidak sesuai syariat Allah, terbukanya aurat bagi kaum wanitanya. Namun ketika melihat ada orang-orang yang di luar sana melakukan kemungkaran tersebut dia marah, dia bangkit, kemarahan dan emosinya siap melakukan kekerasan, sedangkan kesalahan yang ada pada keluarganya sendiri dia hanya diam seribu bahasa. Bukan itu yang dimaksud marah karena Allah Swt.

Ada salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang meminum minuman keras. Kemudian dibawa ke hadapan Rasulullah, dan dihukum cambuk 41 kali. Kemudian setelah itu dia melakukan lagi dan tertangkap lagi dan dicambuk 41 kali untuk kedua kalinya. Sampai dengan yang ketiga kalinya dia tertangkap lagi dan dicambuk, sehingga ada orang yang mencaci makinya.

Nabi yang mendengar caci maki itu kemudian bersabda, "Tidak, ini sudah melewati batas. Jangan mencaci maki dia. Dia sudah dihukum cambuk 41 kali. Janganlah kalian menjadi antek setan yang menjerumuskan saudaramu yang Muslim lebih jauh kepada Allah Swt." Bahkan orang itu dipuji oleh Nabi Saw., "Ketahuilah, bagaimanapun dia tetap cinta kepada Allah dan RasulNya."

Nabi Muhammad Saw. menyetujui, mengikrarkan dan menetapkan ini hukum Islam harus ditegakkan atas peminum minuman keras, tapi Nabi Saw. pun tidak memperkenankan seorang Muslim mencaci Muslim lainnya. Ini adalah timbangan kenabian.

Sayyidina Umar Amirul Mu'minin Ra. ketika menjabat sebagai Khalifah, pernah berpatroli di perumahan Kota Madinah. Ia mendapati ada sebagian pemuda yang sedang berkumpul di dalam rumah meminum minuman keras. Langsung saja ia datangi rumah tersebut dengan menaiki dinding dan langsung memarahi atas apa yang mereka lakukan.

Salah seorang dari mereka lalu berkata, "Wahai Airul Mu'minin, sesungguhnya kami mengakui telah melakukan satu kesalahan. Tapi kamu wahai Amirul Mu'minin, saat ini telah melakukan tiga kesalahan. Pertama, Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain," (QS. al-Hujurat ayat 12) sedangkan engkau telah memata-matai kami. Kedua, Allah berfirman, "Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya," (QS. al-Baqarah ayat 189) sedangkan engkau bertamu melalui jalan dinding. Ketiga, Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlan kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta ijin dan memberi salam kepada penghuninya," (QS. an-Nur ayat 27) Sedangkan engkau tidak melakukan hal itu."

Kemudian Sayyidina Umar pun berkata, "Baiklah, mari kita sama-sama bertaubat kepada Allah." Akhirnya beliau pun pergi meninggalakan mereka.

Dan ketika melihat itu Sayyidina Umar pun tidak jadi menghukum mereka. Padahal Sayyidina Umar adalah orang yang disabdakan Nabi Saw. dengan sifat, "Sesungguhnya Allah menjadikan yang haq (kebenaran) di dalam hati dan ucapan Umar bin Khaththab."

Dan yang mengharamkan mereka (para pelaku maksiat) pada masa sekarang ini adalah mereka yang suka memata-mati orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, mencaci maki orang lain, dan melakukan hal-hal mungkar lainnya meskipun dengan dalih untuk menghilangkan kemungkaran. Dan hal-hal seperti ini semuanya adalah hal yang diharamkan di dalam agama Islam. Siapapun dia, dari anggota partai manapun, dari organisasi manapun dan dari kelompok manapun, tetap haram melakukan hal-hal tersebut.

Barangsiapa yang ingin membela dan berjuang untuk agama Islam, maka wujudkan perjuangan dan pembelaan tersebut dengan kesungguhan kepada Allah Swt. dan peneladanan terhadap Nabi Muhammad Saw. Dan barangsiapa yang ingin mencegah orang lain dari kemungkaran, jangan karena salah kaprah hingga justru menimbulkan kemungkaran-kemungkaran lainnya yang bahkan lebih besar.

Dahulu, sekitar 50 tahun yang lalu di sebuah wilayah, saat itu sedang digembar-gemborkan revolusi diantara negara-negara Islam. Sehingga ada beberapa ulama yang terpengaruh dengan bujukan revolusi hingga ikut-ikutan terhadap jamaah dan kelompok yang mengatasnamakan Islam tersebut di dalam memperjuangkan revolusi bagi kaum Muslimin. Dan setelah memenangkan revolusi itu, kemudian masuk pengaruh politik dan lain sebagainya, hingga dia dan kelompok yang tadinya berperan dalam revolusi dalam negara tersebut malah akhirnya jadi korban politik dan dipenjarakan di penjara khusus. Penjara yang sangat ketat bahkan untuk buang hajat pun hanya dibolehkan di waktu-waktu yang sudah ditentukan.

Hingga dia menulis sebuah surat, "Dahulu sebelum revolusi, kita mencari dan menuntut kebebasan untuk berbicara. Namun setelah revolusi, kami menuntut kebebasan hanya sekadar untuk buang hajat." Artinya, apa yang mereka cita-citakan dahulu tidak sesuai dengan hasil yang mereka terima.

Dan saya (Habib Umar bin Hafidz) sempat berjumpa dengan tokoh tersebut di penghujung akhir hayatnya. Saat itu hatinya benar-benar dipenuhi dengan pengagungan dan penghormatan kepada orang-orang yang shalih dan mulia yang menempuh jalan thariqah orang-orang yang tidak mau menodai tangan mereka dengan darah dan menodai lisan mereka dengan caci makian terhadap orang lain.

Ketahuilah, kita sekarang berada di hadapan sebuah perkara yang agung dan penting. Dan keberadaan kita adalah untuk mengevakuasi dan menyelamatkan ummat. Dan di hadapan kita adalah sebuah jalan tempuh dan metodenya orang-orang shalih. Jalan mereka adalah Ahlussunnah wal Jama'ah.

Adalah mereka orang-orang yang mengagungkan sunnah Nabi Saw. dengan mengagungkan ucapan Rasulullah Saw., mengagungkan setiap detail perbuatan Rasulullah Saw., bahkan diamnya Rasulullah Saw. dan semua keadaan Rasulullah Saw. mereka agungkan, terobsesi dan mengidolakannya. Inilah makna Ahlussunnah. Sedangkan makna al-Jama'ah, adalah hati mereka satu sama lain saling menghormati, saling mencintai dan saling menjaga persatuan.

Dan mereka orang-orang yang menempuh jalan istiqamah, jalan yang lurus ini, mereka tidak terpengaruh dengan arus manapun seberapapun derasnya ataupun hembusan angin yang mengarah ke kanan atau kiri, mereka tetap konsekuen atas fatwa yang mereka ucapkan.

Adapun orang-orang yang terpengaruh dengan hembusan kanan ikut ke kanan, hembusan kiri ikut ke kiri, maka orang yang semacam itu setiap kali ada perubahan pendiriannya juga ikut berubah. Hari ini berfatwa, besok saat ada perubahan ia sampaikan lagi fatwa yang bertentangan dengan fatwa yang pertama. Berubah lagi keadaan ia sampaikan fatwa yang berbeda lagi dengan sebelumnya, begitu seterusnya tidak konsisten.

Mari kita bangkit untuk mengevakuasi dan menyelamatkan ummat. Dan maksud atau tujuan dari perkataan ini, saat ini, bukanlah untuk menyibukkan diri mencaci kelompok yang berbeda dengan kita, berbeda cara dengan kita. Melainkan untuk memberikan penjelasan kepada kita, agar menjadi terang dan jelas metode yang benar ini.

Dan di hadapan kalian ini adalah ada sebuah risalah, risalah masjid. Yang mana risalah itu untuk mengajak manusia kepada ilmu dan dakwah ke jalan Allah Swt. Maka kita harus bisa mengayomi semuanya. Membawa semuanya ke jalan Allah Swt. dengan cara yang benar.

Dan kalian berinteraksi dengan orang-orang ahli politik dan yang tidak berkecimpung dalam politik, juga berinteraksi dengan orang-orang yang telah terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran di luar Islam, atau berinteraksi dengan orang-orang yang berpikiran benar, berinteraksi dengan orang-orang yang suka maksiat, juga berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat. Tetapi yang sesuai dengan koridor yang diatur di dalam metode kenabian dan juga tolak ukur dan timbangan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. agar tidak kebablasan.

Melalu masjid-masjid ini mari kita jadikan sarana untuk mengakurkan, mendamaikan serta memperbaiki keadaan masyarakat. Dan untuk menenangkan hati masyarakat serta membantu masyarakat dengan ilmu, pikiran, sedekah dan infaq kita melalui masjid. Dan hidupkan kembali sunnah untuk menyambangi, menjenguk dan membantu orang yang sedang sakit. Pikirkan bagaimana menarik orang-orang yang belum mengenal masjid agar menjadi segan datang ke masjid.

Dengan tugas penting ini, maka banyak orang yang akan mengambil manfaat dan terselamatkan dari kegelapan. Justeru dengan hal semacam ini akan mempunyai pengaruh dan andil besar di dalam menolak balak dan musibah dari ummat Islam. Dan sesungguhnya manakala metode ini dijalankan, maka manfaat yang kalian berikan bukan hanya untuk masyarakat Indonesia tapi menyebar ke seluruh lapisan masyarakat yang ada di dunia ini. Sebab Nabi Muhammad Saw. diutus bukan hanya untuk di wilayah tertentu melainkan untuk alam seluruhnya, maka luaskan manfaat dan semangat kita untuk mereka semua.

Semoga Allah menganugerahkan kita sebaik-baiknya peneladanan terhadap Nabi Muhammad Saw. Dan mengikuti metode Nabi Muhammad Saw. Dan Allah memperkuat hubungan dan sanad antara kita dengan Nabi Muhammad Saw. Dan Allah jadikan kita semua termasuk orang-orang yang menggembirakan Nabi Muhammad Saw. Dan semuanya dikumpulkan di barisan Nabi Muhammad Saw.

Sesungguhnya barusan para guru kita dan para wakil kita telah duduk bersama, bersepakat untuk kemaslahatan ummat yang perlu segera kita realisasikan bersama. Dan semua poin-poin yang telah kita sepakati tadi adalah benih yang akan membuahkan menolak balak dan musibah dari ummat ini dan mendatangkan kemanfaatan yang besar, apabila benih ini kita sirami dengan tiga hal; kejujuran, keikhlasan dan kesungguhan.

Semoga Allah memberkahi benih yang baru saja kita tanami bersama. Memberikan taufiq di dalam menyiraminya. Dan memberkahi buah yang akan keluar darinya. Dan Allah perlihatkan kepada kita semua buah darinya, di dunia dan akhirat. Aamiin.


*Disampaikan oleh Habib Umar bin Hafidz dalam acara Jalsatuddu'at I di Jakarta Islamic Center (JIC), Jakarta Utara, Ahad 15 Oktober 2017.

Sumber: NU.OR.ID

Minggu, 28 April 2019

Rambut Wanita Terlihat Sedikit Saat Shalat

ketika rambut perempuan sedikit terlihat pada saat shalat berlangsung, apakah hal tersebut dapat membatalkan shalatnya?

Menurut mazhab Syafi’i, bagian aurat yang terlihat pada saat shalat, baik yang terlihat adalah sedikit ataupun banyak—termasuk sedikit rambut perempuan—adalah hal yang membatalkan shalat. Sehingga ia wajib untuk mengulang kembali shalatnya, sebab shalat yang ia lakukan pada saat terbuka auratnya dianggap shalat yang tidak sah. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Hawasyi as-Syarwani:


قول المتن: (ما سوى الوجه والكفين) أي حتى شعر رأسها وباطن قدميها ويكفي ستره بالأرض في حال الوقوف فإن ظهر منه شئ عند سجودها أو ظهر عقبها عند ركوعها أو سجودها بطلت صلاتها

“Wajib menutup seluruh tubuh saat shalat bagi perempuan kecuali wajah dan dua telapak tangan. Maksudnya, juga mencakup rambut dari perempuan dan bagian dalam telapak kaki perempuan. Menutup telapak kaki dengan tanah dianggap cukup dalam keadaan berdiri. Jika tampak sedikit dari telapak kaki perempuan saat sujud, atau tumitnya terlihat saat ruku’ atau sujud, maka shalatnya menjadi batal.” (Syekh Abdul Hamid as-Syarwani, Hawasyi as-Syarwani, juz 2, hal. 112)

Berbeda halnya menurut mazhab selain Syafi’i, seperti halnya dalam mazhab Hanbali (mazhab Ahmad ibnu Hanbal) atau mazhab Hanafi, yang membedakan antara aurat yang terlihat sedikit atau banyak. Jika aurat yang terlihat hanya sedikit, maka shalatnya tidak batal. Namun jika aurat yang terlihat cukup banyak, maka shalatnya menjadi batal. Seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Qudamah:


ـ (فصل) فان انكشف من العورة يسير لم تبطل صلاته نص عليه أحمد وبه قال أبو حنيفة وقال الشافعي تبطل لانه حكم تعلق بالعورة فاستوى قليله وكثيره كالنظرة

“Pasal. Jika sedikit aurat terbuka saat shalat, maka shalatnya tidak batal. Hukum ini dijelaskan oleh Imam Ahmad, dan Imam Abu Hanifah juga berpendapat demikian. Sedangkan Imam Syafi’i berpandangan bahwa shalatnya menjadi batal, sebab permasalahan ini berhubungan dengan aurat, maka sedikit atau banyak menempati hukum yang sama, seperti halnya dalam permasalahan memandang aurat.” (Syekh Ibnu Qudamah, Al-Mughni, juz 2, hal. 280)

Aurat yang sedikit pada referensi di atas berlaku secara umum, sehingga juga berlaku pada bagian rambut bagi perempuan, maka ketika terlihat sedikit dari bagian rambut mereka, shalatnya tetap sah alias tidak wajib diulang dalam pandangan mazhab Hanbali dan Hanafi. Seperti yang ditegaskan oleh salah satu ulama terkemuka mazhab Hanbali, Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah:


مسألة : سئل عن المرأة إذا ظهر شيء من شعرها في الصلاة هل تبطل صلاتها أم لا ؟
أجاب : إذا انكشف شيء يسير من شعرها وبدنها لم يكن عليها الإعادة عند أكثر العلماء وهو مذهب أبي حنيفة وأحمد . وإن انكشف شيء كثير أعادت الصلاة في الوقت عند عامة العلماء الأئمة الأربعة وغيرهم والله أعلم

“Soal: Syekh Taqiyuddin ditanyai tentang perempuan yang tampak sedikit dari rambutnya saat shalat, apakah batal atau tidak?”

Beliau menjawab: “Jika sedikit dari rambut perempuan atau bagian tubuhnya terbuka saat shalat maka tidak perlu baginya untuk mengulang kembali shalatnya menurut mayoritas ulama yang meliputi mazhab Abu Hanifah dan Ahmad. Namun jika yang terbuka adalah bagian yang cukup banyak maka wajib mengulang shalat pada waktu shalat tersebut masih ada, menurut para ulama secara umum yaitu mazhab empat dan mazhab yang lain. Waalahu a’lam.” (Syekh Taqiyuddin bin Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra, Juz 2, Hal. 56)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam menyikapi persoalan status shalat perempuan yang terlihat rambutnya, terjadi perbedaan antar-mazhab. Yaitu mazhab Syafi’i yang berpendapat batal dan mazhab ahmad serta mazhab Hanafi yang berpendapat tetap sah ketika rambut terlihat hanya sedikit.[]

Sumber: nu.or.id

Sabtu, 13 April 2019

Dalil Perempuan Haram Bepergian Tanpa Mahram atau Teman Sesama Wanita

Dalil Perempuan Haram Bepergian Tanpa Mahram atau Teman Sesama Wanita dan pendapat para ulama tentang soal ini beserta sejumlah pengecualian

الآثار الواردة في سفر المرأة بدون محرم:

وردت آثار كثيرة عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- تتكلم عن سفر المرأة بدون محرم، منها:

1. عن ابن عمر -رضي الله عنهما- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تسافر المرأة ثلاثة أيام، إلا مع ذي محرم»(7). وفي رواية: «فوق ثلاث»(8).

2. وعن أبي سعيد الخدري -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر، أن تسافر سفراً يكون ثلاثة أيام فصاعداً، إلا ومعها أبوها، أو أخوها، أو زوجها، أو ابنها، أو ذو محرم منها»(9). وفي رواية: «إلا مع زوجها، أو ذي محرم منها»(10). وفي رواية: «إلا مع ذي رحم»(11).

قال الترمذي: "والعمل على هذا عند أهل العلم، يكرهون للمرأة أن تسافر، إلا مع ذي محرم"(12).

3. وعن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «لا تسافر امرأة مسيرة يوم وليلة، إلا ومعها ذو محرم»(13). وفي رواية: «مسيرة يوم تام»(14). وفي رواية: «لا تسافر امرأة فوق يومين»(15). وفي رواية: «مسيرة يومين أو ليلتين»(16).

4. وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: «لا تسافر امرأة، إلا ومعها ذو محرم»، وجاء النبيَ -صلى الله عليه وسلم- رجلٌ، فقال: إني اكتتبت في غزوة كذا وكذا، وامرأتي حاجَّة؟ قال: «فارجع، فحج معها»(17).

5. وعن أبي سعيد -رضي الله عنه- رواية يبلغ به النبي -صلى الله عليه وسلم-: «لا تسافر المرأة ثلاثة أيام، إلا ومعها ذو محرم»(18).

6. وعن ابن عباس -رضي الله عنهما- أنه قال: جاء رجل إلى المدينة، فقال النبي -صلى الله عليه وسلم-: «أين نزلت؟». قال: على فلانة. قال: «أغلقت عليك بابها؟ لا تحُجَّن امرأة، إلا ومعها ذو محرم»(19). قال ابن بطال: "وسيأتي في كتاب الجهاد في باب: من اكتتب في جيش فخرجت امرأته حاجة، أن معنى قوله عليه السلام: «ارجع فاحجج مع امرأتك» أنه محمول على الندب، لا على الوجوب"(20).

7. وعن أبي أُمامة الباهلي -رضي الله عنه- قال: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «لا يحل لامرأة مسلمة أن تحج، إلا مع زوج أو ذي محرم»(21).

قال العلماء: اختلاف الألفاظ المروية في هذا الباب؛ لاختلاف السائلين واختلاف المواطن، ولم يُرِد التحديد.(22)

قال النووي: "وليس في النهي عن الثلاثة تصريح بإباحة اليوم والليلة أو البريد، قال البيهقي: كأنه -صلى الله عليه وسلم- سُئِل عن المرأة تسافر ثلاثاً بغير محرم؟ فقال: لا، وسُئِل عن سفرها يومين بغير محرم؟ فقال: لا، وسئل عن سفرها يوماً؟ فقال: لا. وكذلك البريد، فأدى كل منهم ما سمعه، وما جاء منها مختلفاً عن رواية واحد فسمعه في مواطن، فروى تارة هذا، وتارة هذا، وكله صحيح، وليس في هذا كله تحديد لأقل ما يقع عليه اسم السفر، ولم يُرِد -صلى الله عليه وسلم- تحديد أقل ما يسمى سفراً، فالحاصل أن كل ما يسمى سفراً، تنهى عنه المرأة بغير زوج أو محرم، سواء كان ثلاثة أيام أو يومين أو يوماً أو بريداً أو غير ذلك؛ لرواية ابن عباس المطلقة، وهي آخر روايات مسلم السابقة: «لا تسافر امرأة، إلا مع ذي محرم»، وهذا يتناول جميع ما يسمى سفراً"(23). وقال المنذري: "ويحتمل أن يكون هذا كله تمثيلاً لأوائل الأعداد، فاليوم أول العدد، والاثنان أول التكثير، والثلاث أول الجمع، وكأنه أشار إلى أن مثل هذا في قلة الزمن لا يحل فيه السفر، فكيف بما زاد؟"(24). وقد نقل ابن بطال عن بعض العلماء قوله: "وأما اختلاف الآثار في يوم وليلة، وفي ثلاثة أيام، وقد روى في يومين، فالمعنى الذي تأتلف عليه هذه الأخبار أنها كلها خرجت على جواب سائلين مختلفين، كأن سائلاً سأله -صلى الله عليه وسلم-: هل تسافر المرأة يوماً وليلة مع غير ذي محرم؟ فقال: لا، ثم سأله آخر عن مثل ذلك في يومين، فقال: لا، ثم سأله آخر عن مثل ذلك في ثلاث، فقال: لا، فروى عنه -صلى الله عليه وسلم- كل واحد ما سمع، وليس بتعارض ولا نسخ؛ لأن الأصل ألا تسافر المرأة أصلاً، ولا تخلو مع غير ذي محرم، لأن الداخلة عليها في الليلة الواحدة كالداخلة عليها في الثلاث، وهى علّة المبيت والمغيب على المرأة في ظلمة الليل، واستيلاء النوم على الرفقاء، فيكون الشيطان ثالثهما، فقويت الذريعة وظهرت الخشية على ناقصات العقل والدين، وقد قال -صلى الله عليه وسلم-: «لا يخلون رجل بامرأة، ليست بذي محرم منه»(25).

وفي هذا بيان للحكمة التي من أجلها حرم على المرأة أن تسافر من غير محرم، وقال الباجي أيضاً: "وقوله صلى الله عليه وسلم: «أن تسافر مسيرة يوم وليلة، إلا مع ذي محرم» يريد -والله أعلم- لأن المرأة فتنة، وانفرادها سبب للمحظور؛ لأن الشيطان يجد السبيل بانفرادها، فيغري بها، ويدعو إليها"(26).

أقوال العلماء في شرح حديث النهي عن سفر المرأة بدون محرم:

قوله صلى الله عليه وسلم: «لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر» بمعنى التغليظ. يريد أن مخالفة هذا ليست من أفعال من يؤمن بالله، ويخاف عقوبته في الآخرة.(27)

قوله صلى الله عليه وسلم: «إلا مع ذي محرم» يحتمل معنيين:

أحدهما: أن لا تسافر هذه المسافة مع إنسان واحد، إلا أن يكون ذا محرم منها؛ لأنه مأمون عليها.

والمعنى الثاني: أن لا تنفرد في مثل هذا السفر دون ذي محرم منها؛ لأنه يحفظها ويجري إلى صيانتها؛ لما ركب في طباع أكثر الناس من الغيرة على ذوي محارمهم والحماية لهم.(28)

وقد ذكر العلماء أن المحرم المذكور في الآية إما محرماً لها من النسب، أو محرماً من الرضاع، أو محرماً من المصاهرة، فكل هؤلاء يجوز لها المسافرة معهم. قال النووي: "قوله صلى الله عليه وسلم: «إلا ومعها ذو محرم» فيه دلالة لمذهب الشافعي والجمهور، أن جميع المحارم سواء في ذلك، فيجوز لها المسافرة مع محرمها بالنسب، كابنها وأخيها وابن أخيها وابن أختها وخالها وعمها، ومع محرمها بالرضاع، كأخيها من الرضاع وابن أخيها وابن أختها منه ونحوهم، ومع محرمها من المصاهرة كأبي زوجها وابن زوجها، ولا كراهة في شيء من ذلك، وكذا يجوز لكل هؤلاء الخلوة بها، والنظر إليها من غير حاجة، ولكن لا يحل النظر بشهوة لأحد منهم، هذا مذهب الشافعي والجمهور، ووافق مالك على ذلك كله إلا ابن زوجها، فكره سفرها معه؛ لفساد الناس بعد العصر الأول، ولأن كثيراً من الناس لا ينفرون من زوجة الأب نفرتهم من محارم النسب، قال: والمرأة فتنة، إلا فيما جبل الله تعالى النفوس عليه من النفرة عن محارم النسب، وعموم هذا الحديث يرد على مالك"(29). وقال في الديباج على مسلم: "قال العلماء: ولا فرق بين محرمها كأبيها وأخيها وبين محرمه كأمه وأخته"(30). لكن الزيلعي قد قال: "ولها أن تخرج مع كل محرم إلا أن يكون مجوسياً؛ لأنه يعتقد إباحة مناكحتها. ولا عبرة بالصبي والمجنون؛ لأنه لا تتأتى منه الصيانة، والصبية التي بلغت حد الشهوة بمنـزلة البالغة، حتى لا يسافر بها من غير محرم"(31).

وقد نقل النووي عن الباجي جواز أن تسافر الكبيرة بدون محرم على أي حال، ثم ردَّ عليه، فقال: "قال الباجي: هذا عندي في الشابة، وأما الكبيرة غير المشتهاة، فتسافر كيف شاءت في كل الأسفار بلا زوج ولا محرم. وهذا الذي قاله الباجي لا يوافق عليه؛ لأن المرأة مظنة الطمع فيها ومظنة الشهوة، ولو كانت كبيرة، وقد قالوا: لكل ساقطة لاقطة. ويجتمع في الأسفار من سفهاء الناس وسقطهم من لا يرتفع عن الفاحشة بالعجوز وغيرها؛ لغلبة شهوته، وقلة دينه ومروءته، وخيانته، ونحو ذلك(32)". وقال محمد شمس الحق العظيم آبادي: "ولفظ امرأة عام في جميع النساء، ونقل عياض عن بعضهم أنه في الشابة، أما الكبيرة التي لا تشتهى، فتسافر في كل الأسفار بلا زوج ولا محرم. قال ابن دقيق العيد: وهو تخصيص للعموم بالنظر إلى المعنى"(33). والظاهر -والله أعلم- هو القول بالحرمة، كما قال النووي؛ سداً للذريعة، وخاصة في هذا الزمان الذي كثرت فيه الفاحشة إلى حد لم يكن يخطر على بال كثير من المتقدمين.

وقوله صلى الله عليه وسلم: «مسيرة يوم وليلة»، وقد روى عبد الله بن ميسرة: «ثلاثة أيام»، وروي: «مسيرة يومين»، وقد تُعُلِّق بهذا وجُعِل حداً في سفر القصر، ولا يَمتنع أن يُمنع من ذلك في ثلاثة أيام، ثم في يومين، ثم في يوم وليلة، وليس بين الأحاديث على هذا اختلاف، ولو بدا فمنع من ذلك في يوم وليلة، لاقتضى ذلك منعه في يومين، وفي ثلاثة، فإذا ورد بعد ذلك منعه في يومين وفي ثلاثة، فليس بخلاف لما تقدم، بل هي تأكيد له.(34)

ويحمل قوله: يوماً، على أن المراد به اليوم بليلته.(35)

قال النووي: "قوله: "فقال رجل: يا رسول الله! إن امرأتي خرجت حاجَّة، وإني اكتتبت في غزوة كذا وكذا؟ قال: «انطلق فحج مع امرأتك». فيه تقديم الأهم من الأمور المتعارضة؛ لأنه لما تعارض سفره في الغزو وفي الحج معها، رُجِّح الحج معها؛ لأن الغزو يقوم غيره في مقامه عنه، بخلاف الحج معها"(36).

تقسيم سفر المرأة بدون محرم:

1. سفر المرأة بدون محرم لغير حاجة ولا ضرورة، وإنما لمباح.

2. سفر المرأة بدون محرم لضرورة، أو حاجة مُنـزَّلة مَنـزِلة الضرورة، كالتي أسلمت، تسافر من دار الحرب إلى دار الإسلام.

3. خروجها في سفر طاعة، سواء كانت طاعة واجبة كحج الفريضة، أو طاعة غير واجبة كحج التطوع وسفر الزيارة والتجارة ونحو ذلك من الأسفار التي ليست بواجبة.

وإليك التفصيل في هذه الأسفار، كالآتي:

حكم السفر بدون محرم:

أما سفر المرأة بدون محرم لغير حاجة، فلا إشكال في حرمته؛ لما تقدم من الأحاديث.

قال المباركفوري: "لا تسافر المرأة مسيرة يوم وليلة، إلا مع ذي محرم، والعمل على هذا عند أهل العلم: يكرهون للمرأة أن تسافر إلا مع ذي محرم"(37). وقد ذكر النووي خلافاً بين العلماء في سفر المرأة للتجارة بدون محرم، وهو من الأسفار المباحة، وسيأتي الكلام عليه، إن شاء الله تعالى. وقد نقل ابن حجر عن البغوي قوله: "م يختلفوا في أنه ليس للمرأة السفر في غير الفرض، إلا مع زوج أو محرم إلا كافرة أسلمت في دار الحرب أو أسيرة تخلصت. وزاد غيره أو امرأة انقطعت من الرفقة فوجدها رجل مأمون فإنه يجوز له أن يصحبها حتى يبلغها الرفقة"(38).

وأما سفر المرأة التي أسلمت، من دار الحرب إلى دار الإسلام، وليس لها محرم، فهو سفر واجب عليها، إن كان في بقائها في دار الحرب، فتنةٌ لها عن دينها.

قال النووي: "وقد قال القاضي: واتفق العلماء على أنه ليس لها أن تخرج في غير الحج والعمرة، إلا مع ذي محرم، إلا الهجرة من دار الحرب، فاتفقوا على أن عليها أن تهاجر منها إلى دار الإسلام، وإن لم يكن معها محرم؛ لأن إقامتها في دار الكفر حرام، إذا لم تستطع إظهار الدين، وتخشى على دينها ونفسها"(39). قال ابن بطال: "وفي قوله: «لا يحل لامرأة»، شاهد أنه إنما نهاها عن السفر الذي لا يلزمهن، ولهن استحلاله وتركه، فمنعهن صلى الله عليه وسلم من الأسفار المختارة، إلا الضرورية الجماعية التي لا تعدم فيها المرافقة، ألا ترى اشتراط مالك خروجها للحج في جماعة المرافقين... ولا تتفق الأعين كلها على الغفلة، ولا تجتمع على النوم في وقت واحد، فلا بد من وجود المراقبة من الجماعة، فضعف الخوف بحضور الكثرة"(40).

وأما سفر المرأة من دون محرم لفعل طاعة عموماً، ففي ذلك خلاف بين العلماء، سواء كانت الطاعة واجبة أم مستحبة.

فأما الطاعة الواجبة فكالحج، لمن لم تكن قد حجت، فمنهم من اشترط لسفرها المحرم، وهو ما ذهب إليه أبو حنيفة، والحسن البصري، والنخعي، وجماعة من أصحاب الحديث، وأصحاب الرأي. ومنهم من لم يشترط ذلك، وهو ما ذهب إليه عطاء، وسعيد بن جبير، وابن سيرين، ومالك، والأوزاعي، والشافعي في المشهور عنه، ولكنهم اشترطوا الأمن على نفسها، وذلك واقع في نظرهم بالزوج، أو المحرم، أو نسوة ثقات.

قال النووي: "وأجمعت الأمة على أن المرأة يلزمها حجة الإسلام، إذا استطاعت... لكن اختلفوا في اشتراط المحرم لها، فأبو حنيفة يشترطه لوجوب الحج عليها، إلا أن يكون بينها وبين مكة دون ثلاث مراحل، ووافقه جماعة من أصحاب الحديث وأصحاب الرأي، وحكي ذلك أيضاً عن الحسن البصري، والنخعي، وقال عطاء وسعيد بن جبير وابن سيرين ومالك والأوزاعي والشافعي في المشهور عنه: لا يشترط المحرم، بل يشترط الأمن على نفسها، قال أصحابنا: يحصل الأمن بزوج أو محرم أو نسوة ثقات، ولا يلزمها الحج عندنا إلا بأحد هذه الأشياء، فلو وجدت امرأة واحدة ثقة لم يلزمها، لكن يجوز لها الحج معها، هذا هو الصحيح، وقال بعض أصحابنا: يلزمها بوجود نسوة أو امرأة واحدة، وقد يكثر الأمن ولا تحتاج إلى أحد، بل تسير وحدها في جملة القافلة وتكون آمنة، والمشهور من نصوص الشافعي وجماهير أصحابه، هو الأول"(41)، وبنحو ذلك قال محمد شمس الحق العظيم آبادي(42)، وقال ابن بطال: "قال مالك والأوزاعي والشافعي: تخرج المرأة في حجة الفريضة، مع جماعة النساء في رفقة مأمونة، وإن لم يكن معها محرم، وجمهور العلماء على جواز ذلك، وكان ابن عمر يحج معه نسوة من جيرانه، وهو قول عطاء وسعيد بن جبير وابن سيرين والحسن البصري، وقال الحسن: المسلم محرم، ولعل بعض من ليس بمحرم أوثق من المحرم. وقال أبو حنيفة وأصحابه: لا تحج المرأة إلا مع ذي محرم. وهو قول أحمد وإسحاق وأبي ثور"(43).

وأما سفر المرأة من دون محرم لفعل طاعة غير واجبة، كخروجها لحج التطوع وسفر الزيارة، وهو من الأسفار المستحبة، أو سفر التجارة، وهو من الأسفار المباحة، فقد اختلف العلماء في ذلك أيضاً. قال النووي: "واختلف أصحابنا في خروجها لحج التطوع وسفر الزيارة والتجارة ونحو ذلك من الأسفار التي ليست واجبة، فقال بعضهم: يجوز لها الخروج فيها مع نسوة ثقات، كحجة الإسلام، وقال الجمهور: لا يجوز إلا مع زوج أو محرم، وهذا هو الصحيح؛ للأحاديث الصحيحة"(44).

الأدلة على حكم السفر بدون محرم لحج الفريضة:

أولاً: أدلة من قال من العلماء باشتراط المحرم في سفر حج الفريضة:

استدل الحنفية ومن وافقهم، على اشتراط المحرم للمرأة في سفر حج الفريضة بأدلة، منها:

1. حديث ابن عباس -رضي الله عنهما- المتقدم وفيه: «لا تحُجَّن امرأة، إلا ومعها ذو محرم»(45)، وكذا حديث: «لا يحل لامرأة مسلمة أن تحج، إلا مع زوج، أو ذي محرم»(46)، وكلاهما قد تقدم.

2. واستدلوا أيضاً بعموم ما تقدم من نهيه صلى الله عليه وسلم عن سفر المرأة دون محرم.

3. واستدلوا أيضاً بأنها في السفر بدون محرم يخاف عليها الفتنة، وتزداد هذه الفتنة بانضمام غيرها إليها(47)، وسد باب الفتنة واجب؛ فوجب منعها من السفر بدون محرم، وهذا ما ذكره الكشميري في العرف الشذي.(48)

ثانياً: أدلة من قال من العلماء بعدم اشتراط المحرم في سفر حج الفريضة:

وأما مالك ومن وافقه من القائلين بعدم اشتراط المحرم على المرأة في سفر الحج، فقد استدلوا على ذلك بأدلة منها:

1. قوله تعالى: ﴿وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً﴾ [آل عمران: 97]، فقد دخلت المرأة في عموم هذا الخطاب، ولزمها فرض الحج، ولا يجوز أن تمنع المرأة من الفروض، كما لا تمنع من الصلاة والصيام.(49) ولم يجعلوا المحرم لها من لوازم أو شروط الاستطاعة.

وقد حمل هؤلاء، الأحاديث المتقدمة في نهي المرأة عن السفر بدون محرم، على سفرٍ غير واجبٍ عليها.(50)

2. واستدلوا أيضاً بالقياس على سفرها من دار الكفر إلى دار الإسلام إذا أسلمت فيه بغير محرم. قالوا: وكذلك كل واجب عليها أن تخرج فيه.(51) لكن النووي قد ردَّ على هذا فقال: "والفرق بينهما أن إقامتها في دار الكفر حرام، إذا لم تستطع إظهار الدين، وتخشى على دينها ونفسها، وليس كذلك التأخر عن الحج، فإنهم اختلفوا في الحج هل هو على الفور أم على التراخي؟"(52). وقد نقل ابن حجر عن صاحب المغني الرد عن ذلك أيضاً بأنه سفرٌ للضرورة، فلا يقاس عليه حالة الاختيار، ولأنها تدفع ضرراً متيقناً، بتحمل ضرر متوهم، وليس كذلك السفر للحج.(53)

قال محمد شمس الحق العظيم آبادي: "وسبب هذا الخلاف: مخالفة ظواهر الأحاديث؛ لظاهر قوله تعالى: ﴿وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً﴾ [آل عمران: 97]؛ لأن ظاهره الاستطاعة بالبدن، فيجب على كل قادر عليه ببدنه، ومن لم تجد محرماً قادرة ببدنها، فيجب عليها، فلما تعارضت هذه الظواهر اختلف العلماء في تأويل ذلك، فجمع أبو حنيفة ومن وافقه بأن جعل الحديث مبيناً الاستطاعة في حق المرأة، ورأى مالك ومن وافقه أن الاستطاعة: الأمنية بنفسها، في حق الرجال والنساء، وأن الأحاديث المذكورة لم تتعرض للأسفار الواجبة. وقد أجيب أيضاً بحمل الأخبار على ما إذا لم تكن الطريق آمناً، ذكره الزرقاني"(54).

ثالثاً: أدلة من قال من العلماء بجواز سفر المرأة مع النسوة الثقات:

استُدِلَّ على جواز أن تسافر المرأة مع النسوة الثقات بحديث البخاري قال: وقال لي أحمد بن محمد حدثنا إبراهيم عن أبيه عن جده: أذن عمر -رضي الله عنه- لأزواج النبي -صلى الله عليه وسلم- في آخر حجة حجها، فبعث معهن عثمان بن عفان، وعبد الرحمن ابن عوف.(55)

قال ابن حجر: "ومن الأدلة على جواز سفر المرأة مع النسوة الثقات إذا أمن الطريق - أول أحاديث الباب، لاتفاق عمر، وعثمان، وعبد الرحمن بن عوف، ونساء النبي -صلى الله عليه وسلم- على ذلك، وعدم نكير غيرهم من الصحابة عليهن في ذلك، ومن أبى ذلك من أمهات المؤمنين، فإنما أباه من جهة خاصة -كما تقدم- لا من جهة توقف السفر على المحرم"(56).

الخلاصة:

يتلخص هذا البحث في الآتي:

1. اختلف العلماء في تحديد مسافة السفر على أقوال: فقيل: يوم وليلة، وقيل: يومين، وقيل: ثلاثة أيام، وقيل: قليل السفر وكثيره سواء. وسبب هذا الخلاف اختلاف ألفاظ الحديث الدالة على ذلك ففي بعضها «يوم وليلة»، وفي بعضها «يومين أو ليلتين»، وفي بعضها «فوق يومين»، وفي بعضها «ثلاثة أيام»، وفي بعضها «فوق ثلاث»، وفي بعضها الإطلاق من دون تقييد. واختلاف الألفاظ المروية في هذا الباب؛ إنما كان لاختلاف السائلين، واختلاف المواطن، ولا تعارض بينها؛ لأن هذه الروايات جميعاً داخلة تحت رواية اليوم والليلة؛ فإذا كانت مسيرة اليوم والليلة تسمى سفراً فبالأولى والأحرى مسيرة اليومين والثلاث وما زاد.

2. وردت آثار كثيرة عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- في النهي عن سفر المرأة بدون محرم، فمنها ما نهى عن سفرها عموماً بدون محرم، ومنها ما نهى عن سفرها في الحج بدون محرم.

3. النهي عن سفر المرأة بدون محرم؛ إنما كان لأجل ضعفها. قال ابن العربي: "النساء لحم على وضم، كل أحدٍ يشتهيهن، وهن لا مدفع عندهن، بل الاسترسال فيهن أقرب من الاعتصام، فحصَّن الله عليهن بالحجاب، وقطع الكلام، وحرم السلام، وباعد الأشباح، إلا مع من يستبيحها، وهو الزوج، أو يمنع منها، وهو أولو المحارم. ولما لم يكن بد من تصرفهن أذن لهن فيه، بشرط صحبة من يحميهن، وذلك في مكان المخالفة، وهو السفر مقر الخلوة ومعدن الوحدة"(57).

4. يقسم سفر المرأة بدون محرم -بالنظر إلى سببه- على أقسام، كالآتي:

أ‌- سفرها لغير حاجة ولا ضرورة، وإنما لمباح، وهذا لا إشكال في حرمته.

ب‌- سفرها لضرورة، أو حاجة مُنـزَّلة مَنـزِلة الضرورة، وهذه يجب عليها السفر.

ج‌- سفرها لطاعة، سواء كانت طاعة واجبة، أو طاعة غير واجبة، وهذان النوعان فيهما خلاف بين العلماء، فأما الأول: فأبو حنيفة يشترط المحرم لسفرها، وأما مالك والشافعي في المشهور عنه فلم يشترطوا ذلك، ولكنهم اشترطوا الأمن على نفسها، ولو بنسوة ثقات. وأما الثاني: فالجمهور على أنه لا يجوز السفر، إلا مع زوج أو محرم، وقيل: يجوز لها ذلك مع نسوة ثقات.

الترجيح:

من خلال النظر في أدلة هذه الأقوال يلاحظ أن الراجح من جهة الدليل، هو ما قاله الحنفية، وهو القول بحرمة سفرها بدون محرم؛ للآتي:

1. الأحاديث التي استدلوا بها صريحة -بعمومها- في منع المرأة من سفر الحج -على العموم- سواء كان هذا في حج الفريضة، أم في حج النافلة.

2. لأن قولهم هو الأقرب من جهة النظر إلى روح الشريعة، وذلك من جهة صيانة المرأة، والحفاظ عليها من الفتن، ولا شك أن سفر المرأة بدون محرم -ولو لأداء فريضة- سيعرضها للفتنة، وماذا ترجو المرأة من الحج، إذا كانت قد تعرضت بسببه إلى الفتنة؟ وقد عُلِم من علم الأصول أن درء المفسدة مقدم على جلب المصلحة.

3. ولأن أدلة الأقوال الأخرى يمكن الرد عليها، وذلك كالآتي:

أما ما استدل به من جوَّز أن تسافر المرأة مع النسوة الثقات، وهو إذن عمر -رضي الله عنه- لأزواج النبي -صلى الله عليه وسلم- بالحج، وبعثه لهن مع عثمان بن عفان، وعبد الرحمن بن عوف؟.

فالجواب عنه: أن أزواج النبي -صلى الله عليه وسلم- هن أمهات المؤمنين، فهم محارم لهن، وقد قال تعالى: ﴿النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ﴾ [الأحزاب: 6]، وهذا على أحد القولين عند العلماء. قال القرطبي: "واختلف في كونهن كالأمهات في المحرم، وإباحة النظر على وجهين"(58). وأما على القول الآخر، فلا تعارض -على فرض أن الصحابة أقروا ذلك- لأنه من العام والخاص، ولا تعارض بينهما، فيكون هذا خاصاً بأزواج النبي، صلى الله عليه وسلم.

وأما ما استدل به من ذهب إلى عدم اشتراط أن تسافر المرأة بالمحرم، وهو قوله تعالى: ﴿وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً﴾ [آل عمران: 97]، فالآية قد قيدت الوجوب بالاستطاعة، وأفادت أن من لم يستطع، فلا وجوب عليه، ولم تقيِّد هذه الآية الاستطاعة، بنوعٍ معينٍ، فمن خصص الاستطاعة المطلوبة بنوع ما من أنواع الاستطاعة، ولم يدخل المحرم في ذلك، فقد خصص الآية بغير مخصص، وهو تحكم بغير دليل لا يجوز.

وأما ما استدلوا به من القياس على سفرها من دار الكفر إلى دار الإسلام، إذا أسلمت فيه بغير محرم. ففي ردَّ النووي وصاحب المغني عليهم بما يكفي.

تخريج:

وعلى ذلك كله يقال:

إن الأصل في سفر المرأة بدون محرم هو الحرمة، سواء كان سفرها هذا لدراسة علمٍ محرم، أو لدراسة علم مباح، ولا ضرر على الناس في الجهل به، أو كان لدراسة علم واجب على الكفاية(59)، أو كان لدراسة علم واجب عليها على جهة العين، ولا يقوم أحد مقامها، إلا أنه في هذه الحالة الأخيرة، يجب على الدولة المسلمة أن تتكفل بتكاليف سفر محرمها معها، فإن كانوا في دولة غير مسلمة، فيجب على جماعة المسلمين فيها، أن يتقاسموا فيما بينهم هذه التكاليف. وهذا كله مشروطٌ بأن لا يكون في سفرها هذا فتنة لها.

والله تعالى أعلى وأعلم، وإليه المرجع والمآب، وهو حسبنا ونِعم الوكيل، والحمد لله رب العالمين، وهو الهادي إلى سواء السبيل، وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

كتبه الفقير إلى عفو ربه العلي: علي بن عبد الرحمن بن علي دبيس.

الأحد - 10 شوال 1428هـ، 21/ 10/ 2007م.

راجعه: يونس عبد الرب فاضل الطلول.

رابط

Hukum Wanita Bepergian Tanpa Mahram untuk Kerja, Belajar atau Seminar

Hukum Wanita Bepergian Tanpa Mahram atau tanpa ditemani wanita yang dapat dipercaya untuk Kerja, Belajar atau Seminar atau perjalanan apapun yang dibolehkan alias bukan perjalanan maksiat apakah boleh atau tidak boleh? Ada beberapa pendapat sebagaimana dikutip oleh Dr. Yusuf Qardhawi.

Gambar berikut adalah fatwa Mufti Mesir Dr Shauqi Allam atas bolehnya wanita bepergian sendirian apabila kondisi aman.
Fatwa Mesir bolehnya wanita bepergian sendirian

بسم الله، والحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد :

على المرأة أن تستأذن زوجها عند خروجها من المنزل إذا أردت أن تذهب لمكان لا يعرفه الزوج وليس لديها أذن عام بالخروج إلى مثل هذا المكان أما خروجها لحاجتها اليومية كالعمل وغيره فيكفي الاتفاق بين الزوجين على ذلك ولا تحتاج إلى إذن خاص مادام هذا العمل متكررا .

أما سفرها دون محرم فالأصل عدم جوازه وقد أباحه بعض الفقهاء – بشرط إذن الزوج – إذا كان في صحبة آمنة تأمن فيها المرأة على نفسها وعرضها ، وهذا يشمل كل سفر، سواء كان واجبًا كالسفر لزيارة أو تجارة أو طلب علم أو نحو ذلك. والأحوط أن تمكث المرأة خلال فترة المؤتمر عند أسرة مسلمة أو يسافر معها محرم ، أمنا لها .

يقول الشيخ الدكتور يوسف القرضاوي :

الأصل المقرر في شريعة الإسلام ألاّ تسافر المرأة وحدها، بل يجب أن تكون في صحبة زوجها، أوذي محرم لها.

ومستند هذا الحكم ما رواه البخاري وغيره عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: ” لا تسافر المرأة إلا مع ذي محرم، ولا يدخل عليها رجل إلا ومعها محرم “.

وعن أبي هريرة مرفوعًا: ” لا يحل لامرأة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة يوم وليلة ليس معها محرم ” (رواه مالك والشيخان وأبو داود والترمذي وابن ماجة عن أبي هريرة).

وهذه الأحاديث وغيرها تشمل كل سفر، سواء كان واجبًا كالسفر لزيارة أو تجارة أو طلب علم أو نحو ذلك.

وليس أساس هذا الحكم سوء الظن بالمرأة وأخلاقها، كما يتوهم بعض الناس، ولكنه احتياط لسمعتها وكرامتها، وحماية لها من طمع الذين في قلوبهم مرض، ومن عدوان المعتدين من ذئاب الأعراض، وقطاع الطرقات، وخاصة في بيئة لا يخلو المسافر فيها من اجتياز صحار مهلكة، وفي زمن لم يسد فيه الأمان، ولم ينتشر العمران.

ولكن ما الحكم إذا لم تجد المرأة محرمًا يصحبها في سفر مشروع: واجب أو مستحب أو مباح ؟ وكان معها بعض الرجال المأمونين، أو النساء الثقات، أو كان الطريق آمنًا.

لقد بحث الفقهاء هذا الموضوع عند تعرضهم لوجوب الحج على النساء . مع نهي الرسول – صلى الله عليه وسلم – أن تسافر المرأة بغير محرم.

( أ )فمنهم من تمسك بظاهر الأحاديث المذكورة، فمنع سفرها بغير المحرم، ولو كان لفريضة الحج، ولم يستثن من هذا الحكم صورة من الصور.

( ب )ومنهم من استثنى المرأة العجوز التي لا تشتهي، كما نقل عن القاضي أبي الوليد الباجي، من المالكية، وهو تخصيص للعموم بالنظر إلى المعنى، كما قال ابن دقيق العيد، يعني مع مراعاة الأمر الأغلب فتح الباري ج 4 ص 447.

( ج )ومنهم من استثنى من ذلك ما إذا كانت المرأة مع نسوة ثقات . بل اكتفى بعضهم بحرة مسلمة ثقة.

( د )ومنهم من اكتفى بأمن الطريق . وهذا ما اختاره شيخ الإسلام ابن تيمية.
ذكر ابن مفلح في (الفروع) عنه قال: تحج كل امرأة آمنة مع عدم المحرم، وقال: إن هذا متوجه في كل سفر طاعة .. ونقله الكرابيسي عن الشافعي في حجة التطوع . وقال بعض أصحابه فيه وفي كل سفر غير واجب كزيارة وتجارة. (انظر: الفروع ج 3، ص 236، 237، ط.ثانية).

ونقل الأثرم عن الإمام أحمد: لا يشترط المحرم في الحج الواجب، وعلل ذلك بقوله: لأنها تخرج مع النساء، ومع كل من أمنته.
بل قال ابن سيرين: مع مسلم لا بأس به.
و قال الأوزاعي: مع قوم عدول.
و قال مالك: مع جماعة من النساء.
و قال الشافعي: مع حرة مسلمة ثقة . وقال بعض أصحابه: وحدها مع الأمن. (الفروع ج 3، ص 235 – 236).

وإذا كان هذا قد قيل في السفر للحج والعمرة، فينبغي أن يطرد الحكم في الأسفار كلها، كما صرح بذلك بعض العلماء (فتح الباري ج 4 ص 447، ط. مصطفى الحلبي) . لأن المقصود هو صيانة المرأة وحفظها وذلك متحقق بأمن الطريق، ووجود الثقات من النساء أو الرجال.
والدليل على جواز سفر المرأة من غير محرم عند الأمن ووجود الثقات:

أولاً:ما رواه البخاري في صحيحه أن عمر رضي الله عنه أذن لأزواج النبي – صلى الله عليه وسلم – في آخر حجة حجها، فبعث معهن عثمان بن عفان وعبد الرحمن، فقد اتفق عمر وعثمان وعبد الرحمن بن عوف ونساء النبي – صلى الله عليه وسلم – على ذلك، ولم ينكر غيرهم من الصحابة عليهن في ذلك . وهذا يعتبر إجماعًا. (المصدر السابق).

ثانيًا:ما رواه الشيخان من حديث عدي بن حاتم، فقد حدثه النبي – صلى الله عليه وسلم – عن مستقبل الإسلام وانتشاره، وارتفاع منارة في الأرض. فكان مما قال: ” يوشك أن تخرج الظعينة من الحيرة (بالعراق) تؤم البيت لا زوج معها، لا تخاف إلا الله … إلخ ” وهذا الخبر لا يدل على وقوع ذلك فقط، بل يدل على جوازه أيضًا، لأنه سبق في معرض المدح بامتداد ظل الإسلام وأمنه.

هذا ونود أن نضيف هنا قاعدتين جليلتين :

أولأً: أن الأصل في أحكام العادات والمعاملات هو الالتفات إلى المعاني والمقاصد بخلاف أحكام العبادات، فإن الأصل فيها هو التعبد والامتثال، دون الالتفات إلى المعاني والمقاصد . كما قرر ذلك الإمام الشاطبي ووضحه واستدل له.

الثانية: إن ما حرم لذاته لا يباح إلا للضرورة، أما ما حرم لسد الذريعة فيباح للحاجة . ولا ريب أن سفر المرأة بغير محرم مما حرم سدًا للذريعة.

كما يجب أن نضيف أن السفر في عصرنا، لم يعد كالسفر في الأزمنة الماضية، محفوفًا بالمخاطر لما فيه من اجتياز الفلوات، والتعرض للصوص وقطاع الطرق وغيرهم.
بل أصبح السفر بواسطة أدوات نقل تجمع العدد الكثير من الناس في العادة، كالبواخر والطائرات، والسيارات الكبيرة، أو الصغيرة التي تخرج في قوافل . وهذا يجعل الثقة موفورة، ويطرد من الأنفس الخوف على المرأة، لأنها لن تكون وحدها في موطن من المواطن.

ولهذا لا حرج أن تسافر مع توافر هذا الجو الذي يوحي بكل اطمئنان وأمان. أ.هـ

وإليك فتوى المجلس الأوربي للبحوث والإفتاء :

استئذان المرأة عند الخروج من المنزل أمر واجب على المرأة إذا أرادت الخروج من منزلها أن تعلم زوجها بذلك. والخروج من المنزل بالنسبة للمرأة إن كان للعمل أو الدراسة أو لقضاء شؤون المنزل والأولاد فإن هذا الخروج لا يحتاج إلا إلى موافقة عامة من الزوج، ولا تحتاج الزوجة أن تستأذن في كل مرة، وهذا أمر يحكمه العرف.

أما إذا كان هذا الخروج إلى زيارة أسرة غير معروفة عند الزوج، أو أن هذا الخروج يترتب عليه مبيت خارج بيت الزوجية، فهذا لا بد فيه من إذن وموافقة الزوج. فإن لم يوافق لا يصح للمرأة الخروج.

والخلق الإسلامي يقتضي أن الرجل أيضاً إذا أراد أن يسافر أو يبيت خارج المنزل أن يخبر زوجته بذلك؛ لأن من حقها أيضاً أن تعرف مكان زوجها عند غيابه من المنزل.

أما سفر المرأة دون محرم فالأصل فيه عدم الجواز لما ورد في ذلك من أحاديث ، قال فيها بعض أهل العلم بعدم جواز سفر المرأة وحدها.

وقيد آخرون جواز السفر بوجود رفقة مؤمنة من الرجال أو من الرجال والنساء معاً. والنهي في الحديث معلل بالخوف على المرأة من الأذى الذي قد يلحقها، وبالفتنة إذا سافرت وحدها، خاصة وأن مخاطر الأسفار قديماً كثيرة. وأمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه أذن لأمهات المؤمنين أن يسافرن إلى الحج مع الرفقة المؤمنة، وأرسل معهن عثمان بن عفان وعبدالرحمن بن عوف أخرجه البخاري (رقم: 1761) والبيهقي (4/326-327).

هذا في السفر الذي تسافره المرأة من مدينة إلى أخرى أو من بلد إلى آخر وتصل في نفس اليوم الذي سافرت فيه حيث تجد الرفقة الآمنة. أما إذا كان السفر يتطلب مبيتاً في الطريق كالفنادق، أو أن السفر للقيام بعمل معين يتطلب إقامة مدة معينة، فالأصل في هذه الحالة أن تسافر المرأة مع محرم لها، أو تقيم المدة المطلوبة مع أسرة مسلمة في ذلك البلد، سداً لذريعة الفتنة أو الأذى الذي قد يحصل للمرأة. أ.هـ

وتقول الدكتورة سعاد صالح أستاذ الفقه بجامعة الأزهر :

اختلف الفقهاء في اشتراط المحرم لسفر المرأة، فمذهب الحنفية والحنابلة على ضرورة وجود المحرم؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: “لا تسافر امرأة فوق ثلاث إلا مع زوج أو محرم”. وذهب الشافعية والمالكية إلى عدم اشتراط المحرم والاكتفاء بالنسوة الثقات، واشتراط المحرم كان نتيجة عدم الأمان في الطريق طريق السفر وفي وسيلة السفر،ومع تقدم هذه الوسائل فإننا نرجح مذهب الشافعية والمالكية بشرط أن يكون السفر بإذن الزوج إن كانت متزوجة أو بإذن الولي إن لم تكن متزوجة.

والله أعلم.

رابط