FPI: Preman berkedok Agama (2)

FPI: Preman berkedok Agama (2) Penuturan seorang pemimpin redaksi majalah kampus IAIN SUKA dan santri Krapyak yang dianiaya FPI
Penuturan seorang pemimpin redaksi majalah kampus IAIN SUKA dan santri Krapyak yang dianiaya FPI

SY TERPAKSA BERCERITA :

Ramai soal FPI, sy terpaksa ikut bicara. Pada Agustus tahun 2000 (hari Senin) saya dan 2 orang teman redaktur Majalah Mahasiswa ARENA IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pernah dikeroyok oleh beberapa orang FPI yg menyerbu kampus saya itu.Saat itu sy Semester IX.

Rektor IAIN dan para pejabat kampus saat itu sedang rapat dengan kru Majalah ARENA untuk membahas penyerbuan FPI di hari Jumat sebelumnya. Saat kami sedang istirahat hendak sholat dhuhur, karena telah terdengar kumandang adzan, kami diserang FPI di dalam gedung rektorat.

Pasukan FPI berjumlah sekitar 50 orang, mobil jip berisi pedang dan celurit mereka bawa masuk halaman rektorat tanpa ijin.

Itu penyerbuan kedua setelah pada Jumat, FPI memukuli bbrp aktivis Korps Dakwah Islamiyah IAIN Sunan Kalijaga (Kordiska). Satu orang luka berat dan kantor majalah saya diobrak abrik. Satu uni CPU komputer milik kantor saya dicuri FPI. beberapa barang berharga juga hilang saat penyerbuan ini.

Unsur FPI Yogyakarta ada banyak macam. Saya kenal betul mereka, karena biasa bertemu di berbagai kesempatan. Ada anggota Majelis Mujahidin Indonesia, ada anggota Satgas PPP, anggota Gerakan Pemuda Ka'bah (GPK), Kokam Muhammadiyah, Laskar Jihad FKAWJ, dan ada yg mengaku Habib. Yg mengeroyok saya pun saya kenal, karena tinggal di dekat rumah kos saya.



Empat orang FPI menggelandang tangan saya dari lantai III dan sesampai di bawah mereka memukuli dan menendangi saya. Dua Satpam kampus yg berusaha melerai langsung didorong minggir.



Saya pun lantas disandera di pos Satpam, dijaga 3 orang FPI. Sementara puluhan lainnya mengejar teman2 saya yg hendak sholat berjamaah di masjid di Lantai II. Dua orang teman dipukul pakai tongkat kayu, satu orang bisa lari dan lolos.



Alhamdulillah, berkat lindungan Allah saya tidak apa-apa, tiada luka. Andai ada komando melawan saya saat itu cukup siap. Karena diam-diam di sekitar saya banyak berkumpul teman2 anggota Pencak Silat Pagar Nusa/CEPEDI, dan juga para pelatih Taekwondo.



Beberapa anggota Banser tanpa seragam juga sudah mendekat ke tempat saya disandera, ketika orang2 FPI terkonsentrasi bengok-bengok di luar pagar Kampus untuk berunjukrasa menuding kami sebagai antek komunis dan kaum tidak beragama.



"Mahasiswa IAIN telah menghina agama. Saat Jumatan malah ramai di bawah masjid. IAIN sarangnya komunis. Kami ingin memberantas maksiyat, dimulai dari IAIN!," teriak seorang FPI berjubah putih memakai pelantang (megaphone).



Suasana riuh, ramai sekali. Para wartawan yg datang diancam jika berani memberitakan. Warga kampus maupun orang pengguna jalan raya yg menonton dibentak disuruh menjauh dari lokasi FPI berdemo.



"Wartawan jangan ada yg memberitakan soal ini. Kalau sampai muncul, kami akan datang!," kata pemimpin lapangannya yg memakai kacamata hitam.



Benar saja, tak ada korang Yogya yg memuat peristiwa heboh itu. Hanya Jawa Pos Radar Jogja memberitakan ada teman saya hilang karena diculik (sebenarnya dia berhasil lolos dengan berganti baju, namun karena sampai sore tidak ada yg tahu, jadinya ditulis begitu).



Wakil Rektor III dengan bahasa isyarat mencegah kami melawan. Malah, beliau menyuruh saya ke rumah sakit untuk visum, agar bisa jadi laporan polisi. Setelah FPI puas memaki-maki mahasiswa dan institusi IAIN lalu bubar, sy pun diantar pegawai rektorat untuk periksa di rumah sakit Sarjito depan UGM.



Oleh dokter, mata kiri saya diperban karena ditemukan ada sejenis rambut yg menempel di kornea. Barangkali akibat sundulan kepada orang FPI yg mengeroyok saya. Namun saya tidak merasakan sakit. Alhamdulillah, sebatas untuk keperluan data visum.



Malam itu Kampus saya mencekam. FPI mengancam akan membakar kantor majalah saya yg berada persis di bawah masjid. PR III melarang mahasiswa beraktivitas di kampus malam itu, demi menghindari tingkah kalap FPI.



Kami berusaha mengumpulkan semua kru ARENA dan para pengurus Senat Mahasiswa (sekarang BEM) dan memilih mengungsi agar aman. Malam itu kami diungsikan di Kantor PWNU DIY. Namun diteror. ada beberapa sepeda motor mondar-mandir sambil membleyer2 gasnya keras2 di depan PWNU DIY.



Mengingat saat itu saya masih tercatat sebagai santri Ponpes Krapyak (KTA santri saya masih hidup-hehe), saya dkk pun dipindah ke kantor pondok. Ternyata di pondok saya sudah ada tokoh GPK yg bilang ke kyai dan para ustad pondok saya, bahwa dia akan menjamin keselamatan kami.



Kami tahu itu omongan bulshit alias bohong. Wong dia ada di sekitar kampus kami saat penyerbuan. Omongan itu hanya untuk menghindari konflik dengan Pondok saya. Sebab jika sampai semua santri Ponpes Al-Munawir ngamuk, FPI saya jamin habis malam itu juga. Jumlah santri saat itu jika digabung dengan Yayasan Ali Maksum ada 6.000 santri (putra & putri).



Karena kami mengantuk, "para korban" kemudian tidur di tempat kos milik teman, di dekat pondok. Selasa malam, saya dkk ke Jakarta untuk melapor ke Komisi untuk orang hilang dan korban kekerasan (Kontras) di kantor YLBHI Jakarta. Kami bertemu langsung dengan pak Munir (allahu yarhamuh-beliau ini dibunuh militer kala SBY hendak naik jadi presiden di tahun 2004).



Oleh Kontras, kami pun diajak bersaksi di Mabes Polri, lalu diundangkan wartawan TV untuk mewawancarai. agar tersiar ke seluruh Indonesia. Indosiar dan ANTV menyiarkan wajah saya yg saat itu sebelah mata saya diperban, dalam berita siang hari.



Keluarga saya di Rembang menontonnya dan sangat kuatir dengan keadaan saya. Namun kakak saya yg ketua GP Ansor tingkat kecamatan menenangkan ibu saya bahwa tidak akan terjadi apa-apa dengan saya di Mabes Polri itu.Saya pun sempat dibawa ke kantor KOmnas HAM untuk bersaksi atas kejadian kekerasan oleh FPI itu.



Setelah muncul jadi berita nasional, barulah saya dipanggil Polda DIY untuk menjadi saksi atas laporan tindakan kriminal FPI itu. tapi payah, pemeriksasan di Polda cuma main-main. Saya beri banyak data dan saya semangat berbicara, petugas polisi santai saja.



Baru sejam bicara sudah diajak makan mie ayam. Lalu begitu ada adzan dhuhur, diajak jamaah. sudah sholatnya dibuat lama, wiridannya juga luamaaaaaa...... (pikir saya ini polisi apa kyai?..) usai jamaah dhuhur, si polisi rokok-rokok dulu lalu mengajak saya makan siang. payah, sejam lebih hanya untuk istirahat.



Besoknya saya malas datang lagi untuk melanjutkan pemeriksaan, karena saya tahu, tak satupun orang FPI dipanggil atau ditahan. Konstelasi politiknya waktu itu jelas, FPI dibekingi para jenderal, dan polisi di Mabes Polri memberitahu saya siapa saja nama jendral TNI AD beking FPI (waktu itu).



Sya masih punya kliping berita terkati peristiwa yg saya alami itu.



SAHABAT, tahukah Anda, mengapa kampus saya diserbu?Saya jelaskan di YLBHI/Kontras, Mabes Polri maupun KOMNAS HAM, dan pernyataan ini pernah dikirim lewat fax ke semua media nasional waktu itu.



1. Saat itu adalah masa panas-panasnya politik di pusat. Presiden Abdurrahman Wahid sedang didesak untuk mundur. Tokoh2 pro Amien Rais membuat pernyataan: Gus Dur=Agustus Mundur. Waktu itu Amien Rais dan kelompok klandestein orde baru sedang gencar mengggalang kekuatan untuk menghabisis kekuatan Gus Dur. dan Kami, para aktivis IAIN adalah dedengkot PMII. Anda tahu, PMII adalah badan otonom milik NU, tentu saja menjadi pendukung Gus Dur. jadi, partai PPP, ormas Muhammadiyah, dan lain-lainnya yg secara politik anti Gus Dur waktu itu, ikut bergabung dalam FPI yg programnya menghabisi pendukung Gus Dur. Anda tahu juga, betapa kerasnya FPI jika memaki-maki Gus Dur.



2. di Jogja, NU tidak mayoritas. sehingga kekuatan NU yg lemah, yaitu PMII, gampang dihabisii. maka sasaran FPI yg mudah untuk menjatuhkan GUs Dur adalah dengan membuat kocar-kacir barisan PMII. Pola ini mirip dengan kudeta Soeharto atas Presiden Soekarno. dengan dukungan intelijen Amerika, CIA, TNI AD dipimpin SOeharto menghabisis seluruh pendukung Soekarno dalam arti fisik maupun politik. PKI difitnah sebagai pemberontak lalu dibasmi. Sedangkan NU disingkirkan secara politik. Dimusuhi melalui operasi buldoser Ali Mutopo.



3. Karena pendukung Gus Dur adalah NU, maka semua yg terkait NU harus digembosi, dihabisi. FPI menggunakan jargon Islam, sehinggga akan terjadi "Islam melawan NU". ini digunakan FPI untuk mencari dukungan dari kaum wahabi, yg dalam peta politik ada di Muhamamdiyah, MMI, Laskar Jihad, dll



link : https://www.facebook.com/groups/gusdurian/permalink/10150694659645465/
LihatTutupKomentar