Senin, 10 Desember 2012

Ramahkah Orang Indonesia?

Tags

Oleh A. Fatih Syuhud*

- di buku2 bacaan sewaktu di s.d. kita sering membaca bahwa bangsa indonesia
itu bangsa yg ramah tamah;

- tahun lalu sewaktu saya berkunjung ke markas ppi india di new delhi, saya bertemu dg tamu warga negara england (of indian origin) yg baru masuk islam dan masuk islamnya di indonesia, tepatnya di bukit lawang, daerah danau toba, sumatra utara. namanya kumar yg setelah masuk islam menjadi qomaruddin. cerita singkatnya: dia sangat impressed dg keramah tamahan org indonesia, sehingga perjalanannya ke indonesia waktu itu yg rencananya cuma 15 hari menjadi
diperpanjang sampai enam bulan dan bahkan ingin jadi warga negara indonesia. dia sangat enjoy dg karakter org indo yg ramah, relax, dan suka canda. walau, menurut dia, sisi negatifnya juga ada yaitu org indo itu suka iri pada org yg berhasil

- di saudi arabia (mekkah dan madinah) org2 asing juga merasa terkesan dg sikap keramah dan easy-going orng indonesia sebagaimana pernah dikatang oleh sejumlah orang asing dari berbagai negara pada saya.

- di sisi lain kejadian2 yg hampir menghapus kesan keramah tamahan org indo itu juga tak kurang monumentalnya:

* mulai dari penggerebekan warga cina di medan, dan berpuncak pada perampokan dan pemerkosaan warga cina oleh pribumi di jakarta menjelang jatuhnya suharto;

* pembunuhan sadis dan pengusiran puluhan ribu suku madura oleh suku dayak di kalimantan beberapa bulan lalu;

* bentrokan di ambon yg berkecamuk antar muslim dan kristen;

* pengusiran besar2an warga non-aceh (terutama jawa) dari aceh sekitar dua tahun lalu;

* mudahnya kita menggunakan kekerasan fisik kalau tersinggung dalam kehidupan
keseharian;

fakta2 itu membuat saya jadi bertanya-tanya:

1- betulkah bangsa indonesia adalah bangsa yg ramah tamah? kalau iya mengapa mudah tersinggung, dan sering merefleksikan ketersinggungan itu dg bentrokan fisik antara individu bahkan tak jarang membesar menjadi antar suku?

2- apakah keramah tamahan kita itu merupakan keramah tamahan palsu? atau keramahan yg asli tapi blom matang (krn, kita bangsa dg peradaban yg masih muda) sehingga keramahan kita selalu menginginkan take-n-give serupa dari orang lain? dan bila kita tidak mendapatkannya menjadi marah dan kecewa yg berujud pada perilaku kekerasan?

3- apakah keramah tamahan kita itu sekadar penutup dan kedok dari sikap budaya kemalasan kita yg cenderung untuk enjoy, relax tapi ingin selalu enak in literal sense?

saya ingin membagi keresahan ini dg temen2 milis barangkali ada yg dapat berbagi info dan pencerahan pada saya.

*Ditulis 24 November 2002

Dapatkan buku-buku Islam karya A. Fatih Syuhud di sini. Konsultasi agama kirim via email: alkhoirot@gmail.com

This Is The Oldest Page

Kirim pertanyaan ke: alkhoirot@gmail.com
Dapatkan buku-buku Islam di sini!
EmoticonEmoticon