Rabu, 26 April 2017

Fatwa Ali Jumah Bolehnya Pemimpin Non-Muslim (1)

Fatwa Ali Jumah Bolehnya Pemimpin Non-Muslim (1)
Fatwa Ali Jumah, mufti Mesir, tentang Bolehnya Pemimpin Non-Muslim kafir untuk menjadi pemimpin di negara mayoritas muslim sebagai konsekuensi sistem demokrasi yang dianut

Dr. Ali Jumah, mufti negara Mesir, berfatwa bolehnya mengangkat pemimpin Kristen di Mesir. Ini sebagai jawaban atas pertanyaan salah satu warga akan hal itu dari sudut pandang syariah. Akan tetapi, itu disyaratkan terpenuhinya kompetensi sebagai standar pertama, bukan agama. Khususnya setelah ditiadakannya apa yang dalam sejarah disebut dengan "perjanjian dzimmah" yang berhenti pada tahun 1852 masehi di mana negara Mesir masuk pada sistem berbangsa yang baru.

pemimpin non-muslim

Ali Jumah berkata, bahwa Mesir berpenduduk mayoritas muslim. Namun di sana juga ada umat Kristiani dan Yahudi. Kaum Kristen dan Yahudi boleh masuk dalam ketentaraan. Konsekuensinya, maka boleh bagi mereka untuk mendapatkan hak-hak yang berlaku bagi seluruh warga negara. Karena, adanya sistem pemerintahan yang baru menyamakan seluruh warganya dalam segala hak dan kewajiban. Maka jadilah orang Kristen menjadi pemimpin dalam militer atau polisi atau provinsi (sebagai gubernur) atau kantor pemerintahan.


Ali Jumah menyatakan bahwa pemilihan pemimpin hendaknya berdasarkan pada "kompetensi, bukan berdasarkan agama". Apabila ada kemampun dan kompetensi untuk menempati suatu jabatan tertentu termasuk kepala negara maka boleh bagi setiap warga negara untuk maju dan mencalonkan dari dalam pemilihan presiden berdasarkan pada undang-undang yang meniadakan perbedaan berdasarkan pada agama.

Di samping itu, mufti Ali Jumah berkata, Ada dua hal terkait persoalan ini. Pertama, pemilih akan memilih calon muslim dalam pemilu yang bebas berdasarkan fakta bahwa mayoritas rakyat Mesir adalah muslim. Berdasarkan pada realitas di negara seperti Amerika Serikat di mana sepanjang sejarahnya tidak ada presiden AS dari golongan non-protestan, kecuali presiden John F. Kennedy yang berasal dari Katolik dan presiden yang sekarang Barack Obama yang berasal dari pemeluk Anglo Saxon.

Persoalan kedua, sebagaimana dikatakan mufti, terkait dengan hukum fikih. Karena sebagian orang tidak mau memberikan kekuasaan pada pemeluk Kristen di level kepemimpinan umum (ammah) (dengan alasan) sepanjang sejarah Islam seperti itulah yang terjadi. (namun) itu jelas dalam konteks Khilafah Al-Uzhma. Karena, Khilafah Uzhma adalah jabatan pengganti dari Rasulullah. Oleh karena itu, tidak boleh orang Kristen menjadi imam shalat, misalnya. Sebagaimana tidak bolehnya seorang muslim menjadi imam ibadah di gereja karena hal ini memerlukan syarat-syarat keimanan.

Teks asal:

أفتى الدكتور على جمعة مفتى الجمهورية بجواز تولي المسيحي منصب الرئاسة في مصر، ردًا على سؤال لأحد المواطنين حول مشروعية ذلك، لكن بشرط توافر الكفاءة التي اعتبرها المعيار الأول في الاختيار وليس الدين، خاصة بعد رفع ما عرف تاريخيًا بـ "عقد الذمة" الذي انتهى في عام 1852م ودخلت البلاد في طَور جديد من المواطنة.

وقال إن مصر تتميز بأن الغالبية العظمى الساحقة من سكانها هم من المسلمين، لكن يوجد هناك أيضًا مسيحيون باختلاف طوائفهم ومن اليهود أيضًا، وأصبح المسيحي يدخل الجيش واليهودي أيضًا، وبالتالي "يجوز له أن يتقدم بكل ما للمواطن ويأخذ حقوقه"، لأنه "مع وجود الدولة الحديثة تساوى الناس جميعا في الحقوق والواجبات فأصبح المسيحي يتولّى قيادة في الجيش أو الشرطة أو المحافظات أو في أي من دواوين الحكومة".

وأكد أنه ينبغي أن يكون الاختيار، بناء على "الكفاءة والكفاية وليس الدين"، مشيرًا إلى أنه "إذا كانت هناك كفاءة وكفاية لمنصب معين، وبما في ذلك رئيس الجمهورية فإنه يجوز لأي مواطن أن يتقدم ويترشح للانتخابات الرئاسية طبقًا للدستور الذي خلى عن التمييز بناء على العقيدة".

مع ذلك، قال المفتي إن هناك إشكاليتين تتعلقان بتلك المسألة، الأولى أن التصويت سيذهب للمرشح المسلم في الانتخاب الحر، بحكم أن أغلبية المصريين مسلمون، مدللاً على ذلك بأنه في دولة مثل الولايات المتحدة لم يصل عبر تاريخها رئيس إلى البيت الأبيض رئيس من خارج طائفة البروتستانت، باستثناء الرئيس الأسبق جون كينيدي، وكان من الكاثوليك، والرئيس الحالي باراك أوباما من الأنجلو ساكسون.

أما الإشكالية أخرى- كما يقول المفتي- فتتعلق بقضية الفقه، لأن البعض لا يريد أن يولي المسيحي ولاية عامة وهذا عبر التاريخ الإسلامي كان في الخلافة العظمى بدون شك، لأن الخلافة فيها خلافة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، لهذا لا يجوز أن يكون إمام الصلاة مسيحيا مثلا، كما لا يجوز أن يكون إمام الصلاة في الكنيسة مسلما لأن هذا يحتاج إلى شروط إيمانية.

المصدر

Kamis, 30 Maret 2017

GP Ansor: Boleh Memilih Pemimpin Non Muslim

GP Ansor: Boleh Memilih Pemimpin Non Muslim
HASIL BAHTSUL MASAIL KIAI MUDA PP GP ANSOR “KEPEMIMPINAN NON MUSLIM DI INDONESIA”

JAKARTA – Sehubungan dengan tren kehidupan keagamaan di Indonesia ini yang menunjukkanadanya gejala yang semakin intoleran dan menafikan kelompok lain, kami Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor merasa perlu untuk membahas tema kepemimpinan non-Muslim di Indonesia dalam Halaqah Bahtsul Masail yang diselenggarakan secara rutin.

Pilihan tema kali ini semata-mata karena kami meyakini bahwa Islam dan Indonesia itu suatu hal yang tidak bisa dipertentangkan dengan dalih apapun, termasuk kepentingan politik. Tema kali ini juga sebagai respon atas kegelisahan Gerakan Pemuda Ansor ketika melihat Islam dipolitisasi sedemikian berlebihan dan menghakimi pihak yang berbeda preferensi politiknya sebagai bukan Islam.

Lebih parah lagi, kegelisahan dan kekhawatiran yang kami rasakan ini muncul setelah melihat potret kontestasi politik di Jakarta tidak terkontrol dan cenderung ganas, dan bukan tidak mungkin dapat menyebar di daerah lain. Kecenderungan intoleransi sesama umat Islam semakin kasat mata dan tergambar dengan adanya spanduk di sejumlah masjid yang tidak menerima pengurusan jenazah Muslim bagi pemilih dan pendukung calon pemimpin non-Muslim.

Oleh karena itu, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menyatakan beberapa hal berikut:

Mengenai prinsip berbangsa dan bernegara, kami memandang bahwa dengan diterimanya NKRI, UUD 1945 dan Pancasila sebagai sebuah kesepakatan para pendiri bangsa, yang salah satunya adalah tokoh NU KH. Wahid Hasyim, maka sebagai warga NU, kami menerima sistem bernegara dan berbangsa dalam bingkai NKRI. Dan karena itu, produk turunan dari konsititusi itu sah dan mengikat bagi warga NU dan tentunya warga Indonesia pada umumnya.

Tentang terpilihnya non-Muslim di dalam kontestasi politik, berdasarkan konstitusi adalah sah jika seseorang non-Muslim terpilih sebagai kepala daerah. Dengan demikian keterpilihannya untuk mengemban amanah kenegaraan adalah juga sah dan mengikat, baik secara konstitusi maupun secara agama.

Sebagai warga negara yang beragama (dalam ranah pribadi) boleh memilih atau tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin formal pemerintahan. Karena kami melihat, hal ini sebagai persoalan yang masih dalam tataran khilafiyah (debatable), sehingga masingmasing pandangan yang menyatakan wajib memilih Muslim maupun boleh memilih non-Muslim sebagai kepala pemerintahan memiliki landasan dalam hukum Islam.

Karena itu, Halaqah Bahtsul Masail Kiai Muda GP Ansor menghimbau kepada umat Islam di Indonesia untuk meredakan ketegangan pada setiap kontestasi politik, karena hal tersebut dapat berpotensi memecah belah umat Islam dan NKRI. Dengan demikian, siapapun yang setuju atau tidak setuju, memiliki landasan hukum agama (fiqh) yang dapat dibenarkan. Namun dalam hal khilafiyah (debatable) hendaknya masing-masing tetap memegang teguh etika amar makruf dan tata krama perbedaan pendapat.

Menyikapi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini dimana muncul pandangan sebagian kelompok untuk tidak mensholatkan jenazah lawan politik, GP Ansor berpendapat bahwa ini merupakan cerminan sikap yang tidak Islami juga tidak Indonesianis. Bagi GP Ansor, setiap jenazah Muslim tetap wajib disholatkan. Untuk itu jika tindakan seperti ini terus berlanjut, GP Ansor menyediakan diri untuk mensholatkan jenazah tersebut, termasuk mentahlilkan selama 40 hari.

Jakarta, 13 Maret 2017

H. YAQUT CHOLIL QOUMAS
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor

Sumber: AnsorNews.com,

Baca juga:

- Hukum Pemimpin Non-Muslim (1): Fatwa Ali Jumah
- Hukum Pemimpin Non-Muslim (2): Dr. Mustafa Rasyid
- Hukum Pemimpin (3): Rami Rifat in-depth Analysis
- Hukum Pemimpin Non-Muslim (4): Pendapat Ulama Kontemporer (PKS Jateng)
- Hukum Pemimpin Non-Muslim (5): Menurut Madzhab Empat (Abdul Fattah bin Soleh Al-Yafi'i)
- Hukum Pemimpin Non-Muslim (6): Pendapat Ulama (NU.or.id)
- Hukum Pemimpin Non-Muslim (7): Hasil Bahtsul Masail NU
- Bahsul Masail GP Ansor: Boleh Memilih Pemimpin Non Muslim

***

Liputan media terkait hal ini:

1. Detik.com

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor menyelenggarakan Bahtsul Masail Kiai Muda bertema 'Kepemimpinan Non-Muslim di Indonesia'. Hasilnya, GP Ansor menyatakan setiap warga negara bebas menentukan pilihan politiknya dalam memilih pemimpin tanpa melihat latar belakang agama yang dianutnya.

Bahtsul Masail Kiai Muda GP Ansor ini diselenggarakan pada 11-12 Maret 2017 di Aula Iqbal Assegaf PP GP Ansor, Jakarta. Hasilnya disampaikan dalam keterangan pers yang dihadiri oleh Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, KH Abdul Ghofur Maimun Zubair (musohhih atau perumus), Dansatkornas Banser Alfa Isnaeni, dan salah satu Ketua GP Ansor Saleh Ramli.

"Terpilihnya non-muslim di dalam kontestasi politik, berdasarkan konstitusi, adalah sah jika seseorang non-muslim terpilih sebagai kepala daerah. Dengan demikian, keterpilihannya untuk mengemban amanah kenegaraan adalah juga sah dan mengikat, baik secara konstitusi maupun secara agama," kata KH Najib Bukhori, dalam keterangan tertulis, Minggu (12/3/2017).

Hasil ini nantinya akan disosialisasi ke seluruh Indonesia. Melalui Bahtsul Masail Kiai Muda ini, GP Ansor mengimbau umat Islam di Indonesia meredakan ketegangan dalam setiap kontestasi politik karena hal tersebut dapat berpotensi memecah belah umat Islam.

Sementara itu, Ketua Umum PP GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas menyoroti pemasangan spanduk penolakan pengurusan jenazah di masjid. Yaqut menilai kecenderungan intoleransi makin terlihat.

"Kecenderungan intoleransi sesama umat Islam semakin kasatmata dan tergambar dengan adanya spanduk di sejumlah masjid yang tidak menerima pengurusan keagamaan jenazah muslim bagi pemilih dan pendukung pemimpin non-muslim," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, KH Abdul Ghofur Maemun Zubair menegaskan bahwa jenazah setiap muslim wajib disalatkan. Dia menambahkan GP Ansor siap mensalatkan jenazah yang ditolak.

"Jika tindakan seperti ini terus berlanjut, GP Ansor menyediakan diri untuk mensalatkan jenazah tersebut, termasuk mentahlilkan selama 40 hari," ujarnya. (imk/bag)
Link

2. Liputan6

GP Ansor: Warga Non-Muslim Boleh Jadi Pemimpin

Gerakan Pemuda Ansor bersama Kiai Muda Indonesia menyatakan warga non-muslim diperbolehkan memimpin di Indonesia.

Pernyataan itu merupakan hasil forum resmi pembahasan masalah (bahtsul masail) tentang kepemimpinan non-muslim di Indonesia yang digelar GP Ansor selama dua hari.
"Maka warga NU menerima sistem bernegara dan berbangsa dalam NKRI. Karena itu produk turunan dari konstitusi juga sah dan mengikat bagi warga NU, tentunya bagi umat Islam. Hal ini sesuai dengan UUD 1945 dan Pancasila," kata Anggota Dewan Instruktur GP Ansor KH Najib Bukhori di Kantor Pusat GP Ansor, Jakarta Timur, Minggu (12/3/2017).

Dia juga menuturkan, jika pemimpin non-muslim terpilih dalam pilkada, hal itu sah dan mengikat karena sesuai dengan konstitusi.

"Jika seorang non-muslim terpilih sebagai kepala daerah maka keterpilihannya sah dan mengikat, baik secara konstitusi maupun agama," ujar Najib.

Menurut dia, setiap manusia memiliki pilihan masing-masing dan perbedaan pendapat tentunya sulit untuk dielakkan.

"Untuk meredakan ketegangan terkait pilkada yang berpotensi dapat memecah-belah umat Islam, siapa pun bebas untuk memilih sesuai landasan masing-masing," tandas Najib.

GP Ansor adalah badan otonom di bawah payung Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini didirikan pada 24 April 1934 di Banyuwangi, Jawa Timur.

Link

Rabu, 29 Maret 2017

Pemimpin Kafir yang Adil Lebih Baik dari Pemimpin Muslim yang Korup (2)

Pemimpin Kafir yang Adil Lebih Baik dari Pemimpin Muslim yang Korup
Pemimpin Kafir yang Adil Lebih Baik dari Pemimpin Muslim yang Korup (2) الحاكم الكافر العادل خيرٌ من المسلم الجائر

Baca: Pemimpin Kafir yang Adil Lebih Baik dari Pemimpin Muslim yang Korup (1)


***

قال النبي للمسلمين يوم الاستضعاف في مكة قال: "اذهبوا إلى الحبشة فإن فيها ملكاً لا يُظلم عنده أحد

_____________

لما فتح السلطان هولاكو بغداد في سنة ست وخمسين وستمائة أمر أن يستفتى العلماء أيهما أفضل: السلطان الكافر العادل أم السلطان المسلم الجائر ؟ ثم جمع العلماء بالمستنصرية لذلك ، فلما وقفوا على الفتيا أحجموا عن الجواب وكان رضيُّ الدين علي بن طاووس حاضراً هذا المجلس وكان مقدماً محترماً ، فلما رأى إحجامهم تناول الفتيا ووضع خطه فيها بتفضيل العادل الكافر على المسلم الجائر ، فوضع الناس خطوطهم بعده). (الآداب السلطانية لابن الطقطقي/2

_____________

هنالك قصة مشهورة ومؤثرة جدا في التاريخ الاسلامي،ولكن عدد كبير ان لم يسمعوا بها،فهم يمرون عليها مرور الكرام بدون اخذ العبرة والحكمة منها،والاستفادة من مدلولاتها الغنية التي تعبر عن واقع انساني ثابت لامتغير.


القصة بأختصار انه بعد احتلال هولاكو لمدينة بغداد عام 1258م وقتله لمايزيد عن مليون نفس فيها،توجه الى الجنوب فأحتل مدينة الحلة التي كانت ذات حاضرة علمية مشهورة حينها،فجمع في حضرته علمائها من كل الملل والنحل،وقيل ان الحدث كان في بغداد،المهم فسئلهم السؤال التالي:ايهما افضل الحاكم المسلم الجائر،ام الحاكم الكافر العادل؟.


وهنا احتار العلماء في الاجابة،ولا ادري سبب الحيرة هل من ان السؤال جديد عليهم ام من شيء آخر!،فمن غير المعقول ان العلماء الذين بحثوا في ادق المسائل واصعبها وفي شتى الفروع،ان يفوتهم هذا السؤال الهام او لايعيرون له اهمية.


عموما بقوا في حيرة من امرهم،حتى تقدم الصفوف عالم جليل وأحد كبار علماء الحلة وبغداد،وهو العلامة السيد ابن طاووس العلوي، فقال الحاكم الكافر العادل هو افضل من المسلم الجائر، وعندما سئل عن الدليل،فكانت اجابته عقلية،بأن لنا عدل الكافر العادل عندما يحكم وعليه وزر كفره لوحده،بينما لنا ظلم المسلم الجائر اذا حكم،وله لوحده اسلامه الذي يثاب عليه،وهو اسلام شكلي بالطبع...فكانت اجابته العقلانية العميقة سببا في توقيعه على الوثيقة المذكورة والتي عن طريقها تم حفظ دماء ماتبقى من الناس وعلى رأسهم العلماء الذين اخذوا يتسارعون في التوقيع وتأييد ما جاء بها.

_____________


قال ابن تيمية في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر تحقيق د.محمد السيد الجليند، ص48
وأمور الناس إنما تستقيم في الدنيا مع العدل الذي قد يكون فيه الاشتراك في بعض أنواع الإثم أكثر مما تستقيم مع الظلم في الحقوق، وإن لم تشترك في إثم. ولهذا قيل: " الله ينصر الدولة العادلة وإن كانت كافرة، ولا ينصر الدولة الظالمة ولو كانت مؤمنة

قال ابن كثير في النهاية:8/123: ( إن معاوية لما مرض مرضته التي هلك فيها دعا ابنه يزيد فقال: يا بني إني قد كفيتك الرحلة والترحال ووطأت لك الأشياء وذللت لك الأعداء ، وأخضعت لك أعناق العرب ، وإني لا أتخوف أن ينازعك هذا الأمر الذي أسسته إلا أربعة نفر: الحسين بن علي ، وعبد الله بن عمر ، وعبد الله بن الزبير ، وعبد الرحمن بن أبي بكر . فأما ابن عمر فهو رجل ثقة قد وقذته العبادة وإذا لم يبق أحد غيره بايعك ، وأما الحسين فإن أهل العراق خلفه ليدعونه حتى يخرجونه عليك فإن خرج فظفرت به فاصفح عنه فإن له رحماً ماسة وحقاً عظيماً . وأما ابن أبي بكر فهو رجل إن رأى أصحابه صنعوا شيئاً صنع مثله، ليست له همة إلا في النساء واللهو.

وأما الذي يجثم لك جثوم الأسد ويراوغك روغان الثعلب ، وإذا أمكنته فرصة وثب ، فذاك ابن الزبير ، فإن هو فعلها بك فقدرت عليه فقطعه إرْباً إرْباً ).

وفي تاريخ دمشق:10/256: (بشْرُ بن مروان بن الحكم كان إذا ضرب البعث(التجنيد) على أحد من جنده ثم وجده قد أخل بمركزه ، أقامه على كرسي ثم سمَّرَ يديه في الحائط ثم انتزع الكرسي من تحت رجليه فلا يزال يتشحط حتى يموت) !

وفي تاريخ الطبري:6/525: (كنت فيمن جاء إلى الرشيد بأخي رافع(أسيراً)قال فدخل عليه وهو على سرير مرتفع عن الأرض بقدر عظم الذراع ، وعليه فرش بقدر ذلك أو قال أكثر ، وفي يده مرآة ينظر إلى وجهه قال: فسمعته يقول: إنا لله وإنا إليه راجعون . ونظر إلى أخي رافع فقال: أما والله يا ابن اللخناء(القذرة)إني لأرجو أن لا يفوتني خامل يريد رافعاً كما لم تفتني! فقال له: يا أمير المؤمنين قد كنت لك حرباً وقد أظفرك الله بي فافعل ما يحب الله أكن لك سلماً ولعل الله أن يلين لك قلب رافع إذا علم أنك قد مننت عليَّ . فغضب وقال: والله لو لم يبق من أجلي إلا أن أحرك شفتي بكلمة لقلت: أقتلوه ! ثم دعا بقصاب فقال: لا تشحذ مداك أتركها على حالها(لاتحدَّ سكاكينك)وفَصِّلْ هذا الفاسق وعجِّل لايحضرن أجَلي وعضوان من أعضائه في جسمه ! ففصله حتى جعله أشلاء فقال: عُدَ أعضاءه فعددت له أعضاءه فإذا هي أربعة عشر عضواً ، فرفع يديه إلى السماء فقال: اللهم كما مكنتني من ثأرك وعدوك فبلغت فيه رضاك ، فمكني من أخيه ! ثم أغمي عليه وتفرق من حضره ثم مات من ساعته). (وغرر الخصائص/394 ، والنهاية:10/231)

وفي معجم البلدان: 4/447: ( أبو جعفر الكرخي...وكان أبو القاسم بن أبي عبد الله البريدي لما ملك البصرة صادره على مال أقرف به وسمر يديه في حائط وهو قائم على كرسي ، فلما سُمِّرت يداه بالمسأمير في الحائط نحَّى الكرسي من تحته وسلت أظافيره وضرب لحمه بالقضيب الفارسي) .

وفي شرح النهج: 18/270: (فاستأذن عليه جماعة من أهل البصرة منهم ابن المقفع فأدخل ابن المقفع قبلهم وعدل به إلى حجرة في دهليزه، وجلس غلامه بدابته ينتظره على باب سفيان ، فصادف ابن المقفع في تلك الحجرة سفيان بن معاوية وعنده غلمانه وتنور نار يسجر فقال له سفيان: أتذكر يوم قلت لي كذا؟! أمي مغتلمة إن لم أقتلك قتله لم يقتل بها أحد ! ثم قطع أعضاءه عضواً عضواً وألقاها في النار وهو ينظر إليها حتى أتى على جميع جسده ، ثم أطبق التنور عليه وخرج إلى الناس).

وفي أعيان الشيعة:1/28: (وفعل المنصور ببني الحسن السبط الأفاعيل فحملهم من المدينة إلى الهاشمية بالعراق مقيدين مغللين وحبسهم في سجن لا يعرفون فيه الليل من النهار، وإذا مات منهم واحد تركه معهم ، ثم هدم السجن عليهم). (راجع مروج الذهب:3/299 ، وابن الأثير:5/551)

_____________

الكافر العادل خير من الحاكم المسلم وظالم للآتي:

* لان الحكم يدوم مع الكفر ولا يدوم مع الظلم
* اذا كان الحاكم عادل سيحقق عدة نقاط قد يفتقدها الحاكم المسلم الكافر
* ان تامن على نفسك وعرضك ومالك
* ان تامن على مستقبلك
* يوفر لك الحرية التي قد يسلبها الظالم منك
* يقتص لك من ضالمك لياخذ لك حقك

الاسلام بعيد كل البعد عن الظلم فلا يوجد ابدا حاكم يستطيع الجمع بين الاثنين (الاسلام و الظلم) فلابد ان يتخلى عن واحده منهم فى سبيل الاخرى حتى و ان كان لم يعلنها.

الحاكم الكافر العادل .... ان كفره لنفسه وعدالته للجميــــــــــــع ...
بينما الحاكم الظالم المسلم : اسلامه لنفسه فقط وظلمه يقع على الجميع .....

فقد قال الرسول (ص) لصحابته عندما إشتد بهم الحال في مكة.
بما معناه ـ اذهبوا الى الحبشة فإن فيها حاكما عادلا لا يظلم عنده أحد..



Jumat, 24 Maret 2017

Akidah Asy'ariah Ahlussunnah Wal Jamaah

Akidah Asy'ariah Ahlussunnah Wal Jamaah
Akidah Asy'ariah Ahlussunnah Wal Jamaah

Akidah Asy'ariah adalah akidah keimanan Ahlussunnah Wal Jamaah di samping akidah Maturidiyah. Akidah Asy'ariyah diikuti oleh para ulama fiqih madzhab empat. Adapun akidah lain, seperti akidah tauhid uluhiyah rububiyah asma was shifat buatan Ibnu Taimiyah yang dianut Wahabi Salafi bukanlah akidah ahlussunnah yang sebenarnya. Berikut ringkasan aqidah Aswaja Asy'ariah dan profil pendirinya yang bernama Abul Hasan Al-Asy'ari ( 260–324 H/874–936 M) keturunan dari Sahabat Abu Musa Al-Asy'ari.

أسهمت الأشعرية رفقة المذهب المالكي والتصوف السني في خلق انسجام مذهبي وعقدي في المغرب جنبه كثيرا من القلاقل والفتن التي كانت تقع في مناطق مختلفة من العالم الإسلامي بسبب الخلافات العقدية. وبرغم بروز اتجاهات عقدية غير أشعرية عند بعض علماء المغرب بعد القرن السادس الهجري؛ فإن التعبير عن الخلاف كان محصورا في السجال العلمي..

1- معنى العقيدة والالتزام بها

معنى العقيدة
العقيدة لغة من عَقَََََدَ يَعْقِد عقْدا. ومعاني هذه المادة في اللغة تفيد الإحكام والرسوخ والثبات. يقول ابن فارس في "معجم مقاييس اللغة": "العين والقاف والدال أصل واحد يدل على شَدٍّ وشدة وثوق"(1). واصطلاحا تطلق العقيدة على ما كُلِّف المسلم بالإيمان به والتصديق بأنه حق من مسائل الغيب. ويشمل هذا التكليف أركان الإيمان الواردة في حديث جبريل: أي الإيمان بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقدر خيره وشره(2). ووجه تسمية الإيمان بهذه الأركان عقيدة أنه مطلوب من المكلف أن يعقد عليها قلبه فلا يداخله فيها الشك بحال؛ إذ التردد في بعضها كالإيمان بالله أو بالرسل صلوات الله وسلامه عليهم أو إنكار البعض الآخر من غير شبهة تأويل كإنكار القضاء والقدر أصلا؛ كفر وضلال.

الالتزام بالعقيدة
وإذا كانت أركان الإيمان تشكل في مجموعها عقيدة المسلم؛ فإن الالتزام بهذه العقيدة يعني الحرص كل الحرص على تحقيق الانسجام بين مفرداتها وبين حياة المسلم بمختلف جوانبها وأبعادها.

ففي مجال الفكر والعلم تقتضي العقيدة مثلا أن يكون الوحي مصدرا من مصادر المعرفة المعتبرة سواء تعلق الأمر بالماضي الذي لم ندركه أو بالمستقبل الذي لا نعرفه. وفي مجال العبادات تقتضي العقيدة مثلا أن يحافظ المسلم على الصيغ التي حددها الوحي للشعائر طريقة ومقدارا وتوقيتا، وأن يستحضر –وهو يقوم بها- كل معاني التذلل والخشوع والمحبة نحو خالقه سبحانه وتعالى.

وفي مجال السلوك الشخصي والعلاقات الاجتماعية تقتضي العقيدة مثلا أن يتصرف المسلم انطلاقا من نظام من القيم لا يحيد عنه؛ كالصبر على المصائب والرضا بما قدر الله تعالى عليه مما لا يستطيع مدافعته، ونبذ الخيانة والكذب اللذين لا يتصور صدورهما من مؤمن حقيقي، وإطعام الجار الذي لا يجد ما يسد به رمقه.. وقد أشار النبي صلى الله عليه وسلم: «لا يومن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه»(3). ولذلك نجد كثيرا من نصوص الشرع تطلق على الأعمال اسم الإيمان؛ كقوله عز وجل مخاطبا الصحابة مطمئنا إياهم على قبول صلواتهم إلى بيت المقدس قبل تحويل القبلة: (وما كان الله ليضيع إيمانكم)(4). وفي الحديث الصحيح: «الإيمان بضع وسبعون –أو بضع وستون شعبة- فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق. والحياء شعبة من الإيمان»(5). يقول القاضي عياض –رحمه الله- «فقد أطلق الشرع على الأعمال إسم الإيمان؛ إذ هي منه وبها يتم»(6) .

2- أبو الحسن الأشعري
هو أبو الحسن علي بن إسماعيل بن أبي بشر؛ ينتهي نسبه إلى الصحابي الجليل أبي موسى الأشعري اليمني، ولد بالبصرة سنة 270هـ. تلقى في مستهل حياته العلمية ثقافة قرآنية وحديثية ولغوية واسعة، وعاش في شبابه في كنف أبي علي الجبائي شيخ المعتزلة في عصره، وتلقى علومه حتى صار نائبه وموضع ثقته. ولم يزل أبو الحسن يتزعم المعتزلة أربعين سنة.

ثم بدأ الأشعري يعيد النظر في أفكاره ويدرس ويستخير الله تعالى حتى اطمأنت نفسه، وأعلن البراءة من الاعتزال، وخط لنفسه منهجا جديدا يلجأ فيه إلى تأويل النصوص التي قد يفهم منها تشبيه الله بمخلوقاته بما يراه متفقا مع محكمات الشرع ومقتضيات العقل.

ونظرا لما امتاز به منهج الأشعري من وسطية واعتدال، وما طبع مناظراته ومؤلفاته من قوة الحجة، فقد وفقه الله لجمع كلمة المسلمين وتوحيد صفوفهم وإفحام الخصوم والمعاندين.

ففي قضية خلق القرآن –مثلا- وهي قضية أحدثت فتنة كبيرة في صفوف الأمة وقسمتها إلى فريقين “قال أبو الحسن الأشعري للفريق الأول: أنتم على حق إذا كنتم تقصدون بخلق القرآن اللفظ والتلاوة والرسم. وليس لكم مجال أن تنفوا الصفة القديمة القائمة به تعالى وهو الكلام، من غير لفظ ولا حرف ولا صوت. وقال للفريق الثاني: أنتم مصيبون إذا كان مقصودكم "بالقديم" الصفة القائمة بذات الباري “يعني الكلام النفسي- وليس لكم مجال أن تنكروا حدوث لفظ اللافظ وتلاوة القارئ.

وقد ظهرت حاجة الأمة إلى أبي الحسن الأشعري من خلال الأسئلة التي تواردت عليه من أقطار العالم فأجاب عنها؛ فطبق ذكره الآفاق. وقد استحق بما كتبه في نصرة السنة أن يسمى إمام أهل السنة، وأن يتفق الجمهور على أنه مجدد المائة الثالثة. وتجرد بعد ذلك أصحابه وأتباع مذهبه في العقيدة من المذاهب الفقهية الأربعة، ينشرون عقيدة أهل السنة والجماعة التي جمع الله عليها السواد الأعظم بعد فرقة وشتات وتمزق.

وقد خلف الأشعري مكتبة كبيرة في الدفاع عن السنة وشرح العقيدة. ولما أحس بقرب أجله دعا أحد جلسائه وقال له: أشهد علي أني لا أكفّر أحدا من أهل القبلة؛ لأن الكل يشيرون إلى معبود واحد؛ وإنما هذا كله اختلاف العبارات.
وتوفي “رحمه الله- سنة 324هـ، ودفن ببغداد، ونوجي على جنازته: "اليوم مات ناصر السنة".

3- أصول المذهب الأشعري
كان المجتمع الإسلامي في القرون الأولى المشهود لها بالخيرية منسجما من الناحية الثقافية والعقدية. لكن بعد دخول مجتمعات بأكملها تقريبا في الإسلام تحول الوضع؛ فهناك العجمة اللغوية، وهناك الرواسب الدينية السابقة على الإسلام، وهناك الجدل الحاد مع النصارى واليهود وغيرهم من الديانات والنحل. وهذه الطوائف أدركت أن من جوانب القوة في جدلها مع المسلمين إثارة دلالات الآيات المتشابهات، إما للتشكيك في صحة الإسلام بنسبة نصوصه إلى التناقض؛ أو بحمل معاني هذه النصوص على عقائد وقضايا موجودة في هذه الأديان. ويضاف إلى مثل هذه الشبهات التي تفتن العامة ضغط المعتزلة.

وفي هذه الفترة الدقيقة والحرجة من تاريخ المجتمعات الإسلامية في المشرق كان تحول أبي الحسن الأشعري إلى مذهب أهل السنة والجماعة..

ولم يكن إسهام الأشعري مجرد إبداع رجل متفرد في علمه وفي استيعاب الآراء الرائجة في عصره؛ بل كان كذلك ثمرة تطور مذهب أهل السنة والجماعة وهو ينتقل من مرحلة تجنب الخوض في دقائق علم العقيدة كالذات الإلهية إلى مرحلة الدفاع عن العقيدة الصحيحة بالأدلة والبراهين التي تناسب طبيعة التحدي العقدي والفكري في المجتمعات المسلمة، وخاصة تلك التي تأوي ديانات متعددة ومذاهب متصارعة. فقد كان الأشعري امتدادا لطائفة من أعلام أهل السنة الذين خلفوا الأئمة الأوائل كأبي حنيفة ومالك والشافعي وابن حنبل في تصديهم للإنحرافات العقدية ولكن بأسلوب يناسب التحديات الجديدة؛ ومن هؤلاء عبد الله بن سعيد بن كلاب (ت 240هـ) أول متكلم من أهل السنة يناقش المعتزلة بأسلوبهم، ومنهم أبو العباس أحمد بن عبد الرحمان القلانسي (ت حوالي 350هـ)...
ومع أن أتباع الأشعري من علماء كل عصر قد أضافوا تفصيلات وتدقيقات واختيارات إلى المذهب؛ فإن الأشاعرة يشتركون في الخصائص الآتية:

- احترام النصوص واعتبارها المصدر الرئيس للعقيدة. يقول الأشعري في "الإبانة عن أصول الديانة": «قولنا الذي نقول به وديانتنا التي ندين بها التمسك بكتاب ربنا عز وجل وبسنة نبينا صلى الله عليه وسلم، وما روي عن السادة الصحابة والتابعين وأئمة الحديث»(7) .

- حمل النصوص على ظاهرها مبدئيا، وعدم اللجوء إلى التأويل إلا إذا أوجبته ضرورة تنزيه الخالق عز وجل عما لا يليق به من الصفات.

- تأييد معاني العقيدة التي وردت بها النصوص الشرعية بالبرهان العقلي الذي يوظف كل ما يمكن أن ينصر العقيدة السنية كالمعطيات الكونية والطبيعية والمنطق والفلسفة وثقافة العصر عموما.

وقد أثمرت هذه الخصائص فكرا عقديا يقوم على الأصول التالية:
- إثبات صفات أزلية للباري عز وجل زائدة على الذات؛ كالعلم والقدرة والإرادة... وما جاء في القرآن والحديث الصحيح من الصفات الخبرية الموهمة لتشبيه الله بخلقه وتجسيمه كالاستواء على العرش، وإثبات الوجه واليد، يقع تأويله بما تدل عليه من السيطرة والقدرة والذات.
- القرآن “كلام الله- قديم باعتباره كلاما نفسيا قائما بذات الله تعالى، وهو صفة من صفات الله. أما الأصوات والحروف فهي حادثة.
- أفعال العباد خيرها وشرها من خلق الله؛ والإنسان يكتسبها بالقدرة التي خلقها الله فيه.
- رؤية الله بالأبصار ثابتة في الآخرة.
- مرتكب الكبيرة يظل مؤمنا؛ ولكنه يعاقب في الآخرة.
- الحوض والميزان والبرزخ والشفاعة حق.

4- الفكر الأشعري بالغرب الإسلامي
لم يكن الغرب الإسلامي بمعزل عن التحولات الفكرية التي تعرفها بلدان المشرق. كما أن علماء المشرق أنفسهم كانوا حريصين على أن تصل آراؤهم ومذاهبهم إلى مختلف ربوع العالم الإسلامي. وكانت بوابة الغرب الإسلامي ومعبر الآراء والمذاهب إليه تونس –أو إفريقية بتعبير القدماء- وخاصة حاضرة القيروان.

ومن أوائل الذين نشروا الأشعرية بالقيروان أبو إسحاق إبراهيم بن عبد الله الزبيدي المعروف بالقلانسي (ت 359هـ)(8). وقد كان ابن أبي زيد القيرواني على صلة علمية بأبي عبد الله بن مجاهد البصري (ت 370هـ) أحد تلامذة الإمام أبي الحسن الأشعري، حتى إن بعض المصادر جزمت بتحول ابن أبي زيد إلى المذهب الأشعري بعد كتابته لرسالته الشهيرة التي جاءت مقدمتها العقدية على مذهب السلف في تفويض معاني الصفات الإلهية وتجنب التشبيه والتأويل معا. وكان لتلاميذ الإمام أبي بكر الباقلاني (ت 403هـ) -وهو من أعلام المالكية والأشعرية في الآن نفسه- دور بالغ الأهمية في نشر الأشعرية بتونس. ومنهم أبو الحسن القابسي (ت 403هـ)؛ وأبو عمران الفاسي (ت 430هـ) الذي استقر بالقيروان بعد عودته من المشرق.

وفي الفترة نفسها تقريبا كان العلماء الذين عادوا من الرحلة إلى المشرق ينشرون الأشعرية في أقصى الغرب الإسلامي؛ أي في الأندلس. ومنهم الإمام أبو محمد عبد الله بن إبراهيم الأصيلي (ت 392هـ)، والمحدث أبو عمر الطلمنكي (ت 429هـ)، وأبو عمرو الداني المقرئ (ت 444هـ)، والقاضي أبو الوليد الباجي (ت 474هـ).
أما في المغرب الأقصى فقد احتاج انتشار الأشعرية إلى مدة أطول نسبيا لأسباب كثيرة؛ منها أن المغرب لم يعرف المذاهب العقدية غير السنية كالاعتزال والتشيع إلا في حدود ضيقة وفي مناطق محصورة؛ ولذلك لم تمس الحاجة عند العلماء إلى تبني الأشعرية في بيئة يقل فيها الخلاف العقدي، وكان يكفيهم موقف كبار العلماء من سلف الأمة .

5- انتشار الأشعرية بالمغرب إلى القرن السادس الهجري

ومن أبرز العلماء الذين نشروا الأشعرية في المغرب أبو بكر محمد بن الحسن المرادي الحضرمي القيرواني (ت 489هـ) صاحب "التجريد في علم الكلام"، وتلميذه أبو الحجاج يوسف بن موسى الضرير (ت 520هـ) شيخ القاضي عياض وصاحب أرجوزة وافية في العقيدة. ومنهم أبو عبد الله محمد بن خلف الإلبيري (ت 537هـ) صاحب "الأصول إلى معرفة الله والرسول" و"الرد على أبي الوليد بن رشد في مسألة الاستواء".

وظلت الأشعرية في عهد المرابطين حبيسة الأوساط العلمية؛ لأنهم كانوا شديدي التحفظ مما يمكن أن يزعزع الوحدة الدينية والمذهبية للمجتمع. وكانت نزعة المحافظة عند طائفة من العلماء المقربين من أمراء المرابطين وحرص طائفة أخرى على إرضائهم من أسباب هذا الوضع.

ومع الموحدين “الذين وظفوا قضايا العقيدة في نزع المشروعية من المرابطين واتهموهم بالتشبيه والتجسيم- ستعرف الأشعرية بالمغرب مرحلة مد عام وكاسح لتكامل الأدوار ما بين سلطة العلماء والسلطة السياسية. وبالإضافة إلى ما لقيته "مرشدة" ابن تومرت وكتاباته في الإعتقاد من احتفاء اتجه العلماء إلى دراسة وتدريس المصادر الحقيقية للمذهب الأشعري ككتاب "الإرشاد" لإمام الحرمين أبي المعالي الجويني. ومن أبرز علماء هذه الفترة أبو عمرو عثمان بن عبد الله السلالجي (ت 574هـ) الذي نبغ في علم العقيدة وكثر تلامذته الذين أخذوا عنه العقيدة الأشعرية حتى لقب بـــ"منقذ أهل فاس من التجسيم. وقد عرفت رسالته المختصرة "العقيدة البرهانية" انتشارا واسعا في المغرب، وأقبل عليها العلماء يشرحونها ويدرّّّسونها. وإذا كانت الأشعرية قد التحمت بالتدريج بالفقه المالكي منذ العصر الموحدي؛ فإن معظم أهل التصوف أيضا كانوا يميلون إلى المذهب الأشعري. وهذا الإلتحام بين المكونات الثلاثة للتدين في المغرب هو الذي سيلخصه لاحقا الفقيه عبد الواحد بن عاشر –وهو يوضح عمدة منظومته التعليمية "المرشد المعين على الضروري من علوم الدين"- قائلا:

في عقد الأشعري وفقه مالك وفي طريقة الجنيد السالك
وبقيت "البرهانية" و"مرشدة" ابن تومرت مهيمنتان على مجالس العلم بالمغرب إلى أن ألف العلامة محمد بن يوسف السنوسي (ت 895هـ) ضمن ما ألف في العقيدة رسالته "أم البراهين" أو "العقيدة الصغرى". فكتب لها الانتشار لصغر حجمها، وبعدها عن التعقيد. ظلت "أم البراهين" وشروح العلماء عليها مرجعا في علم العقيدة بالمغرب في حلقات الدرس إلى عهد قريب. ولم يكن يزاحمها على هذه المكانة إلا بعض المنظومات العقدية باللغة الأمازيغية التي كان بعض الفقهاء يؤلفونها لتكون مرجعا لطلبة منطقة سوس في بعض الزوايا.
وقد أسهمت الأشعرية رفقة المذهب المالكي والتصوف السني في خلق انسجام مذهبي وعقدي في المغرب جنبه كثيرا من القلاقل والفتن التي كانت تقع في مناطق مختلفة من العالم الإسلامي بسبب الخلافات العقدية. وبرغم بروز اتجاهات عقدية غير أشعرية عند بعض علماء المغرب بعد القرن السادس الهجري؛ فإن التعبير عن الخلاف كان محصورا في السجال العلمي. ولم تتحول الأشعرية إلى موضوع نقاش وأخذ ورد في المجتمع المغربي بل في الغرب الإسلامي عموما إلا بعد أن تعرضت لهجوم ممنهج في العقود الأخيرة...

الهوامش
(1)- انظر مادة عقد.
(2)- ظ. البخاري: كتاب الإيمان؛ باب سؤال جبريل النبي عن الإيمان والإسلام.
(3)- رواه الشيخان.
(4)- سورة البقرة الآية 143.
(5)- رواه مسلم في كتاب الإيمان باب بيان عدد شعب الإيمان... رقم 58. وفي رواية البخاري الإيمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من الإيمان. كتاب الإيمان. باب أمور الإيمان. رقم 9.
(6)- ظ. إكمال المعلم بفوائد مسلم 1/ 203. ط دار الوفاء: المنصورة. 1419هـ/ 1998م.
(7)- بتحقيق د. فوقية حسين.ط. دار الأنصار. الأولى. 1397هـ/1977م. ص 20.
(8)- أو 361هـ.

المصدر

Rabu, 22 Maret 2017

Jenggot itu Tradisi Bukan Syariah

Menurut fatwa Darul Ifta Mesir, Jenggot itu Tradisi Bukan Syariah

الإفتاء المصرية: إطلاق اللحية عادة وليس من الشرع
07 يناير 2013م

العربية.نت

أصدرت دار الإفتاء المصرية الاثنين فتوى توضح فيها أن حكم إطلاق اللحية أو حلقها من العادات، وليس من قبيل الشرعيات.

ويأتي نشر هذه الفتوى في ظل جدل آخر يهز الشارع المصري بخصوص قيام البعض بإطلاق فتاوى تحرم تهنئة المسيحيين بعيدهم.

وقالت دار الإفتاء المصرية في فتوى لها اليوم، نشرتها "اليوم السابع"، رداً على حكم إطلاق اللحية: إنه قد اختلف الفقهاء في حكم إطلاق اللحية للرجال قديماً، وحديثاً، فذهب فريق إلى أنها من سنة العادات، وليست من الأمور العبادية، وأن الأمر الوارد بإطلاقها وإعفائها وتوفيرها أمر إرشاد لا أمر وجوب أو استحباب، وهو ما ذهب إليه بعض العلماء المتأخرين.

ويضيف نص الفتوى أن الشيخ محمود شلتوت أورد في كتابه "الفتاوى" حيث قال: "والحَقُّ أن أمر اللباس والهيئات الشخصية -ومنها حلق اللحية- من العادات التي ينبغي أن ينزل المرء فيها على استحسان البيئة، فمن درجت بيئته على استحسان شيء منها كان عليه أن يساير بيئته، وكان خروجه عما أَلِف الناس فيها شذوذاً عن البيئة ومثله الشيخ محمد أبو زهرة في كتابه: "أصول الفقه"، حيث اختار أن إطلاق اللحية من أمور العادات وليس من قبيل الشرعيات.

وأضافت دار الإفتاء: على هذا جرى الأغلب من علماء الأزهر الشريف عملاً وهم نجوم الهدى للعالم، مشيرة إلى أن فريقاً ذهب، إلى أنها من سنن الندب، وهو مذهب الشافعية.

وبيّنت دار الإفتاء أنه من القواعد المقررة شرعاً: أنه إنما ينكَر فعل المتفق على تحريمه أو ترك المتفق على وجوبه، وأنه لا ينكَر المختلف فيه، وأن الخروج من الخلاف مستحب، وأن مَن ابتُلِى بشيء من ذلك فله أن يقلد مَن أجاز فعله من أهل العلم.

المصدر

Selasa, 21 Maret 2017

Hukum Belajar Sains: Kedokteran, Matematika, Pertanian

Hukum Belajar Sains: Kedokteran, Matematika, Pertanian
Hukum Belajar Sains: Kedokteran, Matematika, Pertanian, komputer, biologi, fisika, kimia dan lain-lain menurut syriah Islam

ثانياً: حكم تعلم الطب والاشتغال به

كذلك بعد أن أجمع العلماء على مشروعية تعلم الطب والاشتغال به، اختلفوا في حكمه على قولين، هما:

1. تعلم الطب والاشتغال بذلك والتخصص في أقسامه المختلفة من فروض الكفاية.

2. تعلم الطب والاشتغال به مستحب.

من قال بعدم فرضيته على الكفاية، وأدلتهم، وأقوالهم

ممن ذهب إلى أن علم الطب ليس من فروض الكفاية العلامة ابن القيم رحمه الله، حيث قال: (أما فرض الكفاية فلا أعلم فيه ضابطاً صحيحاً، فإن كل واحد يدخل في ذلك ما يظنه فرضاً، فيدخل بعض الناس في ذلك علم الطب، وعلم الحساب، وعلم الهندسة والمساحة، وبعضهم يزيد على ذلك علم أصول الصناعة كالفلاحة، والحياكة، والحدادة، والخياطة، ونحوها.. وكل ذلك هوس وخبط، فلا فرض إلا ما فرض الله ورسوله).

ثم علل لذلك بعلة عليلة، حيث سوى بين فرض الكفاية وفرض العين، قائلاً: (فيا سبحان الله هل فرض الله على كل مسلم أن يكون طبيباً، حجاماً، حاسباً، مهندساً، أوحائكاً، أوفلاحاً، أونجاراً، أوخياطاً؟ فإن فرض الكفاية كفرض العين في تعلقه بجميع المكلفين، وإنما يخالفه في سقوطه بفعل البعض.

إلى أن قال: فإن قال: المجموع فرض على المجموع، لم يكن قولك: إن كل واحد منها فرض كفاية صحيحاً، لأن فرض الكفاية يجب على العموم).51

فرض الكفاية فرض على الأمة في مجموعها، وليس على كل فرد فيها، فإذا قام به البعض سقط الفرض عن الباقين، وإذا احتاجت الأمة إليه ولم يقم به أحد من أفرادها أثمت جميعاً، لتباطئها وتقصيرها في أمر به قوام اثنين من الضرورات الخمس التي شرع الله جميع الشرائع للمحافظة عليها، وهما: النفس والعقل.

ولهذا فإن فرض الكفاية له تعلق بالجميع من ناحية، وبالفرد من ناحية أخرى، وبين الأمرين خصوص وعموم.

فعلى الفرد فهو واجب على من هو مهيأ له قادر عليه، وعلى العامة أن يحثوه على ذلك ويحضوه عليه، فإذا قصر المهيأ القادر على الواجب المعين عليه أثم، وإذا قصرت العامة في حمله على ذلك أثمت.

قال الإمام الشاطبي رحمه الله: (طلب الكفاية يقول العلماء بالأصول إنه متوجه على الجميع، لكن إذا قام به البعض سقط عن الباقين، وما قالوه صحيح من جهة كلي الطلب، وأما من جهة جزئيه ففيه تفصيل).52

قال الشيخ محمد عبد الله دراز موجهاً ومبيناً لمراد الشاطبي رحمهما الله: (أي باعتبار مجموعة فروض الكفايات، وإلا فهذا إنما يتوجه على بعض المكلفين المتأهلين للقيام به، ويتفرع على هذا إنه إذا لم يقم به أحد فإن الإثم لا يعم المكلفين بل يخص المتأهلين فقط، هذا مراده.. وهذا غير الخلاف بين الأصوليين في أنه متوجه على الكلي الإفرادي كمـا هو التحقيق، أوالمجموعي كما هو مقابله).53

استدل القائلون بعدم فرضية تعلم الطب البحت التجريبي بأن التداوي ليس واجباً عند الجمهور، وأن عدداً من الصحابة والسلف آثر الصبر على تعاطي الدواء، وأقروا على ذلك، كإقراره صلى الله عليه وسلم للجارية التي كانت تصرع، وهذه كلها حوادث عين لا ينبني عليها حكم عام يشمل جميع أفراد الأمة، بدليل عدم دخول عمر ومن معه في الطاعون عندما نزل بالشام، على الرغم من إصرار أبي عبيدة ومعاذ وغيرهما على البقاء فيه.

بداية الصفحة

القائلون بفرضية تعلم الطب التجريبي البحت بأقسامه المختلفة، بما في ذلك الجراحة وصناعة الدواء على الكفاية، وأدلتهم، وأقوالهم

ذهب العامة من أهل العلم المقتدى بهم قديماً وحديثاً إلى أن تعلم الطب التجريبي البحت بأقسامه المختلفة وتخصصاته المتنوعة، وما يتعلق به من التشخيص وصناعة الأدوية - لأن ما سوى ذلك من أنواع الطب كالطب النبوي والأدعية والرقى لا نزاع فيه – من فروض الكفاية.

منهم على سبيل المثال لا الحصر من يأتي:

الإمام الشافعي رحمه الله.

الإمام ابن الجوزي رحمه الله.

الإمام النووي رحمه الله.

إمام الحرمين ابن الجويني رحمه الله.

الإمام أبو إسحاق الإسفرائيني رحمه الله.

الإمام الغزالي رحمه الله.

الإمام عبد الرحمن أبو الفضل الشهير بطبيب السنة.

الإمام المازري رحمه الله.

الإمام محمد القرشي المعروف بابن الإخوة (648-729هـ) رحمه الله.

الإمام موفق الدين البغدادي المعروف بابن اللبَّاد المتوفى 629هـ رحمه الله.

الإمام السيوطي رحمه الله.

الشيخ محمد بن محمد المختار الشنقيطي حفظه الله.

السيد صديق بن حسن خان المتوفى 1307هـ رحمه الله.

الإمام الرافعي الشافعي رحمه الله.

ابن قدامة الحنبلي رحمه الله.

ابن الحاج المالكي رحمه الله.

الشيخ أبوبكر الجزائري.

بداية الصفحة

تعريف فرض الكفاية

في بداية الأمر لابد من تعريف فرض الكفاية.

قال السيوطي: (قال الرافعي وغيره: فروض الكفاية أمور كلية، تتعلق بها مصالح دينية أودنيوية، لا ينتظم الأمر إلا بحصولها، فطلب الشارع تحصيلها، لا تكليف واحد منها بعينه، بخلاف العين، وإذا قام به من فيه كفاية سقط الحرج عن الباقين، أوأزيد على من يسقط به، فالكل فرض، أوتعطل، ثم كل من قدر عليه إن علم به، وكذا إن لم يعلم، إذا كان قريباً منه، يليق به البحث والمراقبة، ويختلف بكبر البلد، وقد ينتهي خبره إلى سائر البلاد، فيجب عليهم، وللقائم به مزية على القائم بالعين لإسقاط الحرج عن المسلمين بخلافه).54

وقال صديق حسن خان معرفاً فرض الكفاية: (والعلوم التي هي فرض كفاية على المشهور كل علم لا يستغنى عنه في قوام أمر الدنيا وقانون الشرع، كفهم الكتاب والسنة وحفظهما من التحريفات، ومعرفة الاعتقاد بإقامة البرهان عليه، وإزالة الشبهة، ومعرفة الأوقات والفرائض، والأحكام الفرعية، وحفظ الأبدان55، والأخلاق، والسياسة، وكل ما يتوصل به إلى شيء من هذه كعلم اللغة، والتصريف، والنحو، والمعاني، والبيان).56

بداية الصفحة

متى يكون التهاون في فرض الكفاية أخطر من التهاون في فرض العين؟

في بعض الأحيان قد يكون التهاون في فرض الكفاية والتفريط في تركه والتواطؤ على ذلك أخطر وأضر على الأمة بأسرها من الفرض العين، ويظهر ذلك جلياً في تواطؤ المسلمين في هذا العصر على ترك الجهاد وترك الأمر والنهي، والتقاعس عن التقدم الصناعي والعسكري، الذي أضحى سبباً لذل الأمة واستكانتها وخضوعها للكفار، وتداعيهم عليها، لتعدي الضرر على الأمة كلها.

بل لقد ادعى بعض أهل العلم فضل بعض فروض الكفاية على فروض العين وإن لم يكن هناك تواطؤ وتقاعس عنها، منهم إمام الحرمين ووالده، والأستاذ أبو إسحاق الإسفرائيني وغيرهم.57

قال إمام الحرمين عبد الملك بن الجويني عن منزلة فروض الكفايات: (ثم الذي أراه أن القيام بما هو من فروض الكفايات أحرى بإحراز الدرجات، وأعلى في فنون القربات من فرائض الأعيان، فإن ما تعين على المتعبد المكلف لو تركه ولم يقابل أمر الشارع فيه بارتسام، اختص المأثم به، ولو أقامه فهو المثاب، ولو فرض تعطيل فرض من فروض الكفايات، لعم المأثم على الكافة على اختلاف الرتب والدرجات، فالقائم به كافٍ لنفسه، وكافة المخاطبين الحرجَ والعقابَ، وآمل أفضل الثواب، ولا يهون قدر من يحل محلَّ المسلمين أجمعين في القيام لمهمٍ من مهمات الدين).58

ويظهر ذلك جلياً أيضاً فيما نحن بصدده، فإذا عزف المسلمون عن تعلم الطب والتبحر فيه، واتكلوا على الكفار والمشركين في ذلك، اضطر كثير من المسلمين للذهـاب إليهم، والكفار لا يؤمن مكرهم، ولا يجوز تمكينهم من النظر لعـورات المسلمين نساءً ورجالاً إلا في حالات الضرورة.

قال ابن الحاج المالكي محذراً من الركون إلى الأطباء الكفار والاطمئنان إليهم: (وأشد مما تقدم في القبح وأشنع ما ارتكبه بعض الناس في هذا الزمان من معالجة الطبيب والكحال الكافرين اللذين لا يرجى منهما نصح ولا خير بل يقطع بغشهما وأذيتهما لمن ظفروا به من المسلمين، سيما إن كان المريض كبيراً في دينه أوعلمه، أوهما معاً، فإن القاعدة عندهم في دينهم أن من نصح منهم مسلماً فقد خرج عن دينه، وأن من استحل السبت فهو مهدر الدم عندهم حلال لهم سفك دمه).59

مما يدلك على صحة ما ذهب إليه ابن الحاج ما حُكِي عن الإمام المازري رحمه الله، حيث مرض مرضاً فلم يجدوا أحداً يداويه إلا يهودي كانت بينه وبينه مناظرات ومجادلات في الدين، فقال اليهودي: لولا شرف المهنة لقتلته؛ فحفزت هذه الكلمة الإمام المازري وشجعته على تعلم الطب، فكان يفتي فيه كما يفتي في الفقه، فينبغي على طائفة من المسلمين الأطباء أن يتخصصوا في كل مجالات الطب، حتى لا يحوجوا المسلمين للذهاب إلى الأطباء الكفار.

ومما يؤسف له أن بعض الأطباء الكفار معاملتهم أفضل بكثير من معاملة نفر من الأطباء المسلمين، مما يحدث فتنة للبعض تجعلهم بسبب ذلك يفضلون التداوي عند الطبيب الكافر مع وجود غيره من المسلمين، فلينتبه الأطباء المسلمون لذلك، وليحذروا أن يكونوا فتنة لإخوانهم المسلمين.

بداية الصفحة

الأدلة على أن تعلم الطب بفروعه المختلفة والتخصص في ذلك من فروض الكفاية

الأدلة على أن تعلم طائفة من المسلمين في أي بلد من بلادهم للطب، والتخصص في ذلك حسب حاجة أهل ذلك البلد، مع الحرص والالتزام بأحكام الشريعة وقواعدها، وعدم الإخلال بذلك، كثيرة منها:

أولاً: حاجة المسلمين لذلك، فقد مر أن اثنين من الضرورات الخمس – وهما النفس والعقل – التي جاءت جميع الشرائع للمحافظة عليها، في حاجة ماسة إلى تعلم الطب ودراسته والتخصص فيه، فما لا يتم الواجب إلا به وما لا تتم الحاجة الماسة إلا به فهو من فروض الكفاية.

ثانياً: أمره صلى الله عليه وسلم لبعض أهل البادية بالتداوي، فعن أسامة بن شريك رضي الله عنهما قال: "كنت عند النبي صلى الله عليه وسلم، وجاءت الأعراب فقالوا: يا رسول الله؟ أنتداوى؟ فقال: نعم، يا عباد الله، تداووا، فإن الله عز وجل لم يضع داءً إلا وضع له شفاء، غير داء واحد. قالوا: ما هو؟ قال: الهرم"60.

وأهل البادية قلة قليلة بالنسبة لأهل الحضر، وكذلك إصابتهم بالأمراض نادرة، فإذا أمروا بذلك فمن باب أولى أهل المدن والحواضر، فهم قوام الأمة، وابتلاهم الله بكثير من الأمراض الحادثة، فحاجتهم إلى التداوي لا تداني حاجة أهل البادية.

ثالثاً: أوجبت طائفة من أهل العلم التداوي أخذاً بالأحاديث التي أمرت بذلك، فما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب.

رابعاً: تعاطيه صلى الله عليه وسلم للدواء، وإحضار العديد من الأطباء له ولغيره من الصحابة دليل على أن تعلم الطب من فروض الكفايات.

خامساً: أمره لسعد بن أبي وقاص أن يأتي الحارث بن كلدة، وكان كافراً، دليل على حاجة المسلمين للأطباء وللتداوي ولو عند كافر، يوجب تعلم طائفة منهم لهذا العلم حتى يرفعوا عن الأمة الحرج.

سادساً: تعلم عدد من سلف هذه الأمة للطب، سيما الأئمة، دليل على حاجة المسلمين إليه، وهو دليل ضمني على اعتباره عندهم أنه من فروض الكفاية، منهم على سبيل المثال لا الحصر:

أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها.

الإمام الشافعي رحمه الله.

طبيب أهل السنة وهو عبد الرحمن أبو الفضل رحمه الله.

ابن تيمية رحمه الله.

ابن القيم رحمه الله.

الإمام الذهبي رحمه الله.

الإمام المازري رحمه الله.

ابن اللباد رحمه الله.

وغيرهم كثير.

سابعاً: إذا كان تعلم الحياكة والسباكة ونحوهما من فروض الكفاية، فمن باب أولى الطب.

بداية الصفحة

أقوال أهل العلم المقتدى بهم في أن تعلم الطب من فروض الكفاية

1. الإمام الشافعي رحمه الله

قال الربيع: قال الشافعي: (العلم علمان: علم الأديان وعلم الأبدان).61

وقال كذلك: (لا أعلم علماً بعد الحلال والحرام أنبل من الطب).62

روي عن بعض الأطباء في زمن الشافعي أنه قال: (ورد الشافعي مصر فذاكرني بالطب حتى ظننت أنه لا يحسن غيره).63

وقال حرملة: سمعت الشافعي يقول: (شيئان أغفلهما الناس: العربية والطب).64

وقال عنه الإمام موفق الدين البغدادي: (كان – أي الشافعي- مع عظمته في علم الشريعة، وبراعته في العربية، بصيراً بالطب).65

بداية الصفحة

2. الإمام النووي رحمه الله

قال: (وأما العلوم العقلية فمنها ما هو فرض كفاية كالطب والحساب المحتاج إليهما).66

بداية الصفحة

3. الإمام الغزالي رحمه الله

قال الغزالي: (فالعلوم التي ليست بشرعية تنقسم إلى ما هو محمود، وإلى ما هو مذموم، وإلى ما هو مباح، فالمحمود ما يرتبط به مصالح أمور الدنيا، كالطب والحساب، وذلك ينقسم إلى ما هو فرض كفاية، وإلى ما هو فضيلة وليس بفريضة، أما فرض الكفاية فهو علم لا يستغنى عنه في قوام أمور الدنيا كالطب، إذ هو ضروري في حاجة بقاء الأبدان، وكالحساب، فإنه ضروري في المعاملات، وقسمة الوصايا، والمواريث، وغيرها، وهذه هي العلوم التي لو خلا البلد عمن يقوم بها حرج أهل البلد، وإذا قام بها واحد كفى، وسقط الفرض عن الآخرين.

فلا يتعجب من قولنا إن الطب والحساب من فروض الكفايات، فإن أصول الصناعات أيضاً من فروض الكفايات كالفلاحة والحياكة والسياسة، بل الحجامة والخياطة، فإنه لو خلا البلد من الحجام67تسارع الهلاك إليهم، وحرجوا بتعريضهم أنفسهم للهلاك، فإن الذي أنزل الداء أنزل الدواء، وأرشد إلى استعماله، وأعد الأسباب لتعاطيه، فلا يجوز التعرض للهلاك بإهماله).68

بداية الصفحة

4. ابن الجوزي رحمه الله

بداية الصفحة

5. أحمد بن محمد بن عبد الرحمن بن قدامة المقدسي المتوفى 742هـ

قال ابن قدامة في اختصاره لمنهاج القاصدين لابن الجوزي: (وأما فرض الكفاية فهو كل علم لا يستغنى عنه في قوام أمور الدنيا، كالطب).69

بداية الصفحة

6. الوزير ابن هبيرةرحمه الله 70

قال ابن مفلح: (وذكر ابن هبيرة أن علم الحساب والطب والفلاحة فرض على الكفاية).71

بداية الصفحة

7. الإمام السيوطي رحمه الله

قال وهو يعدد في أنواع فروض الكفاية: (والطب، والحساب المحتاج إليه في المعاملات، والإرث، والوصايا، ونحوها).72

بداية الصفحة

8. صديق حسن خان رحمه الله المتوفى 1307هـ

قال وهو يعدد في فروض الكفاية: (والعلوم التي هي فروض كفاية على المشهور كل علم لا يستغنى عنه في قوام أمر الدنيا وقانون الشرع، كفهم الكتاب والسنة وحفظهما من التحريفات.. وحفظ الأبدان والأخلاق والسياسة).73

بداية الصفحة

9. الشيخ أبوبكر الجزائري

وقال الشيخ أبو بكر الجزائري: (العلوم الكونية، والتي تعرف أيضاً بالعلوم الطبيعية، وهي أنواع شتى منها: علم الكيمياء، وعلم النبات، وعلم الأحياء، والطب والصناعة.

ثم قال: فتعلم العلوم الكونية قد يكون واجباً كفائياً، بحيث إذا وجد في الأمة الإسلامية من يحسنه ويعلمه سقط الواجب عن باقي أفراد الأمة فلا يطالب به أحد، ولا يؤاخذ على تركه آخر، شأنه شأن سائر الواجبات الكفائية، وقد يكون واجباً عينياً في حال انعدام من يحسنه).84

بداية الصفحة

10. الشيخ الدكتور محمد بن محمد المختار الشنقيطي حفظه الله

قال بعد أن ذكر عدداً من أقوال الأئمة المقتدى بهم من أن تعلم الطب من فروض الكفاية: (وهذا الحكم الذي نص عليه فقهاء الإسلام – رحمهم الله – أي فرضية تعلم الطب وتعليمه على الكفاية – عام شامل للجراحة لاندراجها في الطب، وهي فرع من فروعه، والحاجة الموجودة إلى الطب التي بني عليها هذا الحكم موجودة في الجراحة أيضاً.

إلى أن قال: فتبين من هذا كله فرضية تعلم الطب والجراحة على وجه الكفاية، وأن الشريعة الإسلامية لا تمانع من ذلك، ولا عجب في هذا الحكم من الشريعة، وهذه العناية من فقهائها المتمثلة في ندبهم المسلمين إلى تعلم الطب وتعليمه وتطبيقه، فهو العلم الذي جعل الله فيه وفي تطبيقه المصالح والمنافع الجليلة).74

بداية الصفحة

هل هذا الحكم يشمل التخصص الدقيق لأقسام الطب وفروعه أم هو قاصر على الدراسة العامة له؟

قولان لأهل العلم:

1. هذا الحكم قاصر على دراسة الطب العامة.

2. هذا الحكم يشمل دراسة الطب العامة والدقيقة، لأن حاجة طائفة من المسلمين للتخصصات الدقيقة لا تقل عن حاجتهم للتخصص العام، فالتخصص في مجالات الطب المختلفة، والتعمق في الأبحاث العلمية التي تعين على ذلك، لا تقل أهميتها في هذا العصر الذي كثرت فيه الأمراض وتعددت وتعقدت عن دراسة المقدمات والقواعد العامة لهذا العلم، وهذا هو الراجح، والله أعلم.

قال الإمام الغزالي وهو من القائلين بأن التخصصات الدقيقة لا تدخل في فرض الكفاية: (وأما ما يعد فضيلة لا فريضة فالتعمق في دقائق الحساب، وحقائق الطب، وغير ذلك مما يستغنى عنه، ولكنه يفيد زيادة قوة في القدر المحتاج إليه)75، قلت: قوله: "مما يستغنى عنه"، فالتخصصات الدقيقة أصبح لا غنى عنها اليوم، وكذلك قوله: "ولكنه يفيد زيادة قوة في القدر المحتاج إليه"، ففيه إلماحة بالحاجة إليه، ومن ثم يدخل في فرض الكفاية، والله أعلم.

وقال الدكتور محمد بن محمد المختار الشنقيطي، وهو ممن يرى عدم الاقتصار على تعلم الطب العام: (فإذا كانت هذه الحاجة موجودة في البلدان الإسلامية، فإنه يتعين على ولاة أمورها تجنيد الأكفاء الأخيار من المسلمين لتعلم الطب وتعليمه وتطبيقه، ولا ينبغي لهم البقاء على هذه الحالة التي اتكلوا فيها على أعداء الإسلام من اليهود والنصارى وغيرهم، لما في ذلك من الأضرار الدينية والدنيوية الكثيرة التي لا تخفى).76

بداية الصفحة

فروض الكفاية تتأكد فرضيتها وتزداد أهميتها حسب حاجة المسلمين إليها

فروض الكفاية ليست بمستوى واحد، فتخصص طائفة من المسلمين في العلوم الشرعية والعربية، لقوله تعالى: "وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ"77، وكذلك جهاد الكفار الصائلين، وحماية الحدود والثغور، والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، في مقدمات فروض الكفاية، ثم يتدرج الأمر فيها حسب حاجة المسلمين إليها.

ولا ينبغي أن يخلو البلد أوالمدينة من أطباء يقومون بالواجب، أما إذا كثر عدد الأطباء وزاد عددهم على حاجة البلد، بينما كانت حاجة المسلمين للتخصصات الشرعية ماسة، تعين على طائفة من الطلاب الأخيار المبرزين تعلم العلوم الشرعية، سواء كان ذلك في الحلقات والدروس والدورات في المساجد أوغيرها، وهي الأفيد والأسرع في سد النقص، أوكان ذلك بالالتحاق بكليات الشريعة والعلوم الإسلامية والعربية المحتاج إليها، وإلا يكون المتقدمون لدراسة الطب والهندسة مع هذا القصور الواضح الفاضح آثمون.

وينبغي لولاة الأمر أن يراعوا هذا التوازن في حاجات مجتمعاتهم وبلادهم، ولا ينبغي لولاة الأمر من الوالدين ونحوهم أن يمنعوا أولادهم من ذلك، وإلا كانوا من المعاونين على الإثم والعدوان.

قال العلامة صديق حسن خان: (ثم إنه تختلف فروض الكفاية في التأكد وعدمه بحسب خلو الأعصار والأمصار من العلماء، فرب مصر78لا يوجد فيه من يقسم الفريضة إلا واحد أواثنين، ويوجد فيه عشرون فقيهاً، فيكون تعلم الحساب فيه آكد من أصول الفقه).79

وقال الغزالي لائماً فقهاء عصره بالتوسع في بعض فروع الفقه وإهمالهم لبعض أعمال القلوب التي تكون من فروض العين، وكذلك خلو بعض البلاد من الأطباء إلا من أهل الذمة: (ولو سئل فقيه عن معنى من هذه المعاني حتى عن الإخلاص مثلاً، أوعن التوكل، أوعن وجه الاحتراز من الرياء، لتوقف فيه مع أنه فرض عينه الذي في إهماله هلاكه في الآخرة، ولو سألته عن اللعان، والظهار، والسبق، والرمي، لسرد عليك مجلدات من التعريفات الدقيقة التي تنقضي الدهور ولا يحتاج إلى شيء منها، وإن احتيج لم تخل البلد عمن يقوم بها ويكفيه مؤونة التعب فيها، فلا يزال يتعب فيها ليلاً ونهاراً، وفي حفظه ودرسه يغفل عما هو مهم في نفسه في الدين، وإذا روجع فيه قال: اشتغلت به لأنه علم الدين وفرض الكفاية، ويُلبِّس على نفسه وعلى غيره في تعلمه، والفطن يعلم أنه لو كان من فرضه أداء حق الأمر في فرض الكفاية لقدم عليه فرض العين، بل قدم عليه كثير من فروض الكفايات، فكم من بلدة ليس فيها طبيب إلا من أهل الذمة، ولا يجوز قبول شهادتهم فيما يتعلق بالأطباء من أحكام الفقه، ثم لا نرى أحداً يشتغل به، ويتهارون على علم الفقه لا سيما الخلافيات والجدليات، والبلد مشحون من الفقهاء بمن يشتغل بالفتوى والجواب عن الواقع، فليت شعري كيف يرخص فقهاء الدين بالاشتغال في فرض كفاية قد قام به جماعة وإهمال ما لا قائم به؟ هل لهذا سبب إلا أن الطب ليس يتيسر الوصول به إلى الأوقاف، والوصايا، وحيازة مال الأيتام، وتقلد القضاء والحكومة، والتقدم به على الأقران، والتسلط به على الأعداء؟ هيهات هيهات، قد اندرس علم الدين بتلبس علماء السوء، فالله تعالى المستعان، وإليه الملاذ في أن يعيذنا من هذا الغرور الذي يسخط الرحمن ويضحك الشيطان).

المصدر

***

التنوع والتوازن بين المقررات التعليمية

يقرِّر ابن مفلح - رحمه الله تعالى - أنه ينبغي تعلم شتى فروع المعرفة، وعدم الاقتصار على جانب واحد من جوانب العلم والمعرفة، أو الاقتصار على الجانب الشرعي منها فقط، فأشار إلى أنه ينبغي التنوع بين العلوم المختلفة، بل إنه - رحمه الله - أوجب مبدأ التنوع والتوازن بين العلوم، وجعل ذلك من مهمة الآباء في بعض المواضع؛ قال - رحمه الله -: "وكان يقال: من تمام ما يجب للأبناء على الآباء تعليمُ الكتابة والحساب والسباحة"[1]، وأشار إلى هذا التنوع في موضع آخر، فقد نقل عن الحجاج أنه قال "لمعلم ولده: علِّم ولدي السباحة قبل أن تعلمهم الكتابة؛ فإنهم يجدون من يكتب عنهم، ولا يجدون من يسبح عنهم"[2]، وقد صرح - رحمه الله تعالى - بهذا التنوع فيما نقله عن ابن هبيرة أنه قال: "علم الحساب والطب والفلاحة فرض على الكفاية"[3]، ونقل أيضًا عن الغزالي في كتابه فاتحة العلم أنه قال: "علم الطب فرض كفاية، وإنه لا يجوز ترك المداواة، وقد قال حرملة: سمعت الشافعي يقول: شيئان أغفلهما الناس: العربية والطب، وقال الربيع: سمعت الشافعي يقول: العلم علمان: علم الأديان، وعلم الأبدان"[4].

فعِلم الأديان يختص بمعرفة الشرائع الإلهية المتلقاة عن طريق الوحي، أو ما تعبَّد به بعضُ البشر من عبادات لم ينزل بها الله من سلطان، كل هذه داخلة في علم الأديان، أما علم الأبدان فهو العلم الذي يعرف منه أحوال البدن الإنساني لعلاج الأمراض التي تعتريه بدنيًّا ونفسيّا، وحفظ الصحة عليها، وهاتان النعمتان محسود عليهما الإنسان؛ نعمة الأديان، ونعمة الأبدان، وقد أشار المصنف - رحمه الله - إلى هذين العلمين، وأنه ينبغي الاهتمام بهما، والتكامل بينهما، وهذا منطلق تربوي تنطلق منه التربية الإسلامية في تربية وتنشئة أفرادها، حيث التكامل بين متطلبات الروح والجسد، وهو يؤكد العلاقة الوطيدة بين هذين المطلبين اللذين لا يمكن للإنسان الاستغناء عن أحدهما.

وكذلك أشار ابن مفلح - رحمه الله - في موضع آخر إلى التنوع والتوازن في المقررات، فقال - رحمه الله -: "ومنها تعليم الكتاب والسنَّة وسائر العلوم الشرعية وما يتعلق بها من حساب ونحوه بشرطه"[5]، وقال أيضًا في موضع آخر: "وذكر ابن هبيرة - رحمه الله - أن علم الطب فرض على الكفاية، وهذا غريب في المذهب"[6]، وكل ما سبق ذكره يشير إلى التنوع والتوازن بين المقررات.

وقد نقل - رحمه الله - عن أحمد في المسند: "أن عروة كان يقول لعائشة: "يا أمتاه، لا أعجب من فِقهك، أقول: زوجة رسول الله صلى الله عليه وسلم وابنة أبي بكر، ولا أعجب من عِلمك بالشِّعر وأيام الناس، أقول: ابنة أبي بكر، وكان أعلمَ الناس أو من أعلمِ الناس، ولكن أعجب من علمك بالطب، كيف هو؟ ومن أين هو؟ قال: فضربت على منكبيه، وقالت: أي عُرَيَّة، إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يسقم عند آخر عمره، وكانت تقدَمُ عليه وفود العرب من كل وجه، فكانت تنعت له الأنعات، وكنت أعالجها؛ فمن ثَم علمتُ"[7]، وهذه الرواية تبين اهتمام الصحابة رضوان الله عليهم بالطب، وهذا واضح فيما نقله ابن مفلح - رحمه الله - عن عائشة رضي الله عنها، ويتضح في هذه الرواية التنوعُ والتوازن بين العلوم عند عائشة - رضي الله عنها.

[1] (المرجع السابق): ج2. ص84.

[2] (المرجع السابق): ج2. ص85.

[3] (المرجع السابق): ج2. ص483.

[4] المقدسي، محمد بن مفلح المقدسي. الآداب الشرعية. (مرجع سابق). ج2. ص484.

[5] (المرجع السابق): ج4. ص211.

[6] (المرجع السابق): ج4. ص212.

[7] المقدسي، محمد بن مفلح المقدسي. الآداب الشرعية. (مرجع سابق). ج2. ص484 - 485.

رابط الموضوع:

***

يقول ابن عرفه: ومعرفة ما يجب من الحق لكل ذي حق في التركة يتوقف على علم الحساب. اهـ

وقد اشتهر بعض العلماء بتفوقهم في هذا الفن منهم الحسن بن زياد من أصحاب أبي حنيفة.

يقول الإمام السرخسي عنه: وقد كان له من البراعة في علم الحساب ما لم يكن لغيره من أصحاب أبي حنيفة.

هذا واعتبر العالم الوزير ابن هبيرة أن تعلم علم الحساب كغيره من علوم الطب والزراعة من فروض الكفاية، كما ذكر ذلك عنه ابن مفلح في الآداب الشرعية، فقال: وذكر ابن هبيرة أن علم الحساب والطب والفلاحة فرض على الكفاية. اهـ

Senin, 20 Maret 2017

Hukum Cerai Istri Hamil

Hukum Cerai Istri Hamil
Hukum Cerai Istri Hamil halal atau haram? Kalau haram, apakah talaknya sah atau terjadi? Bagaimana pendapat madzhab empat dalam hal ini?

حكم طلاق الحامل

تعريف الطلاق لغة واصطلاحًا

الطلاق لغة: الطالق: الناقة يحل عنها عقالها وترسل في المرعى، وأطلقت الأسير أي خليته. قال ابن منظور: طلاق النساء لمعنيين : "أحدهما حل عقدة النكاح، والآخر: بمعنى التخلية والإرسال"([1]).

والطلاق في الاصطلاح: حل عقد النكاح بلفظ الطلاق ونحوه([2]).

حكم طلاق الحامل

وليس في حكم طلاق الحامل خلاف كبير بين الفقهاء، والأقوال في ذل كما يلي:

القول الأول: إن طلاق الحامل حرام، إذا كانت تحيض مع الحمل. وبه قال بعض المالكية منهم القاضي أبو الحسن، وهو قول أبي إسحاق من الشافعية ([3]).

القول الثاني: إنه جائز. وبه قال أكثر العلماء ومنهم الأئمة الأربعة ([4]).

أدلة أصحاب القول الأول:

نظر القائلون بهذا القول إلى الحيض أثناء الحمل، فقاسوا الطلاق فيه على الطلاق في الحيض في غير حمل، وهو محرم بإجماع العلماء، لقوله r في حديث ابن عمر لما طلق زوجته وهي حائض: (مره فليراجعها. ثم ليتركها حتى تطهر ثم تحيض ثم تطهر. ثم إن شاء أمسك بعد، وإن شاء طلق قبل أن يمس. فتلك العدة التي أمر الله عز وجل أن يطلَّق لها النساء ) ([5]).

واستدل أصحاب القول الثاني بما يلي:

1- حديث ابن عمر، أنه طلّق امرأته وهي حائض فذكر ذلك عمر للنبي r فقال: "مره فليراجعها ثم ليطلقها طاهرًا أو حاملاً".

2- قال الإمام أحمد: أذهب إلى حديث سالم عن أبيه: (ثم ليطلقها طاهرًا أو حاملاً). فأمره بالطلاق في الطهر أو في الحمل ([6]).

وقال الخطابي: "في الحديث بيان أنه إذا طلقها وهي حامل فهو طلاق للسنة، ويطلقها في أي وقت شاء في الحمل، وهو قول عامة العلماء" ([7]).

3- لأن الحامل التي استبان حملها قد دخل زوجها على بصيرة حين طلقها، فلا يخاف ظهور أمر يتجدد به الندم. وهو الحمل، وليست بمرتابة؛ لعدم اشتباه وجه العدة عليها. وأما إن طلق الحامل التي لم يستبن حملها ظنًا أنها غير حامل ثم ظهر حملها ربما ندم على ذلك ([8]).

سبق البيان أن الحامل لا تحيض، وما تراه من دم هو دم فساد وعلة، وأن أدلة القائلين بأن الحامل تحيض محتملة غير قاطعة، وما كان كذلك فلا يجوز أن يُبنى عليه حكم شرعي، لأن الحكم الشرعي يبنى على الدليل وليس الظن والاحتمال.

الراجح:

بعد استعراض أدلة أصحاب القول الثالث، وهو قول عامة الفقهاء يتبين أنه القول الراجح، سيما وأنه قد ورد في طلاقها حديث صحيح عند الإمام مسلم: (ثم ليطلقها طاهرًا أو حاملاً)، وهي زيادة من ثقة ([9])، فهي مقبولة، مع ضعف أدلة المخالفين، التي لا تصلح ليقوم عليها الحكم بمنع طلاق الحامل.

المراجع

([1]) ابن منظور، لسان العرب: (10/ 226).

([2]) الشربيني، مغني المحتاج: (4/455). وابن قدامة، المغني: (7/ 96).

([3]) سليمان بن خلف الباجي "المنتقى شرح موطأ مالك". الناشر: دار الكتاب العربي: (4/ 96).

([4]) وابن الهمام، شرح فتح القدير: (3/ 478). والدسوقي، حاشية الدسوقي: (2/ 363). والشربيني: مغني المحتاج: (4/499). والبهوتي، كشاف القناع: (5/242).

([5]) صحيح مسلم: كتاب الطلاق، باب تحريم طلاق الحائض بغير رضاها: (2/ 1093).

([6]) صحيح مسلم: كتاب الطلاق، باب تحريم طلاق الحائض بغير رضاها: (2/ 1095). قال الشوكاني، رواه الجماعة إلا البخاري، الشوكاني، نيل الأوطار: (6/249).

([7]) الخطابي، معالم السنن (مع سنن أبي داود): (2/ 634). وانظر سنن الترمذي: (3/ 479).

([8]) ابن الهمام شرح فتح القدير: (3/478). وابن قدامة، المغني: (7/ 105).

([9]) انظر، ابن حجر: تقريب التهذيب: (ص 492).

المصدر

Islam tapi bukan Muslim, Muslim tapi tidak Islam

Islam tapi bukan Muslim, Muslim tapi tidak Islam
Islam Tanpa Muslim, Muslim tanpa Islam

Muhammad Abduh (1849-1905 M), seorang ulama pembaharu asal Mesir, saat mengunjungi Eropa membuat komentar yang kontroversial: “Saya melihat di Eropa Islam tanpa umat muslim. Sedangkan di negeri kita, saya melihat umat muslim tanpa Islam.” Menurut Hasan Al-Attar, perkataan Muhammad Abduh ini timbul setelah ia melihat secara langsung bahwa di negara-negara Eropa penduduknya saling menghormati satu sama lain, berinteraksi dengan amanah dan kejujuran, saling membantu apabila terjadi musibah yang menimpa tanpa melihat pada asal usul, bahasa, warna kulit dan agamanya orang yang ditolong. Dari sini, Abduh membandingkan akhlak umat Islam dan masyarakat Eropa. Ia menemukan bahwa bangsa Eropa yang Kristen berakhlak dengan akhlak Islam dalam gaya hidup, perilaku dan berinteraksi. Sedangkan umat Islam sangat jauh dari akhlak Islam. Ironisnya ucapan Muhammad Abduh ini masih relevan sampai hari ini.


إسلام بلا مسلمين ومسلمون بلا إسلام
حسن العطار

قال الشيخ محمد عبده عندما زار أوروبا قولا مشهورا لا يزال إلى يومنا هذا يردده الكثير من المسلمين : "رأيت في أوروبا إسلاما بلا مسلمين وفي بلدنا مسلمين بلا إسلام". وما دعى الشيخ إلى قوله هذا، هو أنه لفت نظره أن الناس في تلك البلدان يحترمون الآخرين، ويتعاملون معهم بأمانة وصدق، ويتعاطفون معهم إذا نزلت بهم نازلة أو حلت بهم كارثة ويحاولون مساعدتهم على تجاوزها، بغض النظر عن أصولهم وأديانهم ولغاتهم وألوانهم. أخذ الشيخ يفكر في هذا الموضوع، وعقد مقارنة سريعة بين أخلاق المسلمين وأخلاق الأوروبيين، فوجد ان الأوروبيين المسيحيين يتخلقون بأخلاق الإسلام في سلوكهم وأعمالهم ومعاملاتهم، على حين أن المسلمين بعيدون كل البعد عن أخلاق دينهم، فقال قولته المشهورة التي لا زالت كما هي حتى اليوم. ولكم بعض القصص الحقيقية كما رواها لي أصحابها التي تؤكد حسن أخلاقهم.

القصة الأولى:

في خضم التوتر والأحداث المتتالية التي خلفها حادث احتجاز الرهائن في مدينة سيدني الأسترالية في منتصف شهر ديسمبر من العالم المنصرم، وبعد ما ترددت الأنباء ان المسلح الذي يحتجز الرهائن في مقهى سيدني ربما يكون مسلما. لاحظت المواطنة الأسترالية "راشيل جاكوبس" ان المرأة المسلمة الجالسة الى جوارها في محطة القطار قد قامت بنزع حجابها بصمت، فطالبتها راشيل ان تبقي حجابها عليها قائلة: "أنا سوف أركب معك". وعند نزولهما في المحطة المطلوبة قامت المرأة المسلمة – كما توقعت راشيل – بنزع حجابها مرة ثانية في صمت وسارت في طريقها، فركضت راشيل وراءها في محطة القطار حتى وصلت اليها وقالت لها: "ضعيه مرة أخرى أنا سأمشي معك"، عندها بكت المرأة المسلمة وقامت بإحتضان راشيل لمدة دقيقة ثم انصرفت لوحدها. على ضوء هذه الحادثة انتشرت على الهاشتاغ حملة للتضامن مع المسلمين في جميع أنحاء أستراليا تحت عنوان “I will ride with you” أو "أنا سأركب معك" تهدف إلى إشعار المسلمين بأنهم في مأمن من ردود الأفعال المحتملة.

القصة الثانية:

حكى لي صديق عن إبنته التي كانت تواصل دراستها العليا في الطب في الولايات المتحدة قبل أحداث 11 سبتمبر 2011م، حيث كانت تشتري حاجياتها المعيشية من السوبر ماركت القريبة من مكان سكنها وكان يتم التعامل معها دائما بإحترام. بعد أحداث الحادي عشر من سبتمبر، وفي أول زيارة لها لشراء بعض حاجياتها شعرت أن المسئولة في السوبر ماركت لم تعاملها بطريقة محترمة وكانت تنظر لها بريبة وشك. حز هذا التصرف في نفسها، وللتخفيف من حزنها أخبرت زميلتها الأمريكية بما حدث لها. قالت لها زميلتها الأمريكية هذا سلوك سيئ وتصرف غير قانوني وضد حقوق الإنسان، ولا بد من رفع شكوى ضدها عند الإدارة. قالت لزميلتها لا داعي لخلق مشكلة لها وأنا قد صفحت عنها. لم تقتنع الزميلة بذلك، وكتبت شكوى (نيابة عنها) ضد المسئولة وسلمتها مباشرة لإدارة السوبر ماركت. بعد أيام قليلة إختفت تلك المسئولة من السوبر ماركت ولم تعد تراها.

القصة الثالثة:

حدثت إلى كاتب هذه السطور، خلال زيارتي للولايات المتحدة عام 1984م، أي قبل 30 سنة بالتمام والكمال. القصة تحتوي على ثلاثة مواقف:

الأول: طلبت من موظفة الفندق المسئولة أن تحجز لي تذكرة في أحد مسارح برود واي (Broad Way) في مدينة نيو يورك، وفي المساء ذهبت وأستلمت التذكرة من عند موظفة الإستقبال وطلبت منها أن تطلب لي سيارة أجرة لتوصيلي إلى المسرح. قالت: سيدي، المسرح ليس بعيدا من هنا وبإمكانك الذهاب سيرا على الأقدام، المسافة لا تتعدى السير لمدة 10 دقائق. في الواقع أنا كنت خائفا أن أمشي لوحدي ليلا، ولكني كنت محرجا أن اعترف لها بذلك. خرجت من بهو الفندق وطلبت من البواب أن يطلب لي سيارة الأجرة، وعندما وصلت سألني السائق عن العنوان فلما أعطيته إياه، قال لي: سيدي، لا يستحق أن تستقل سيارة أجرة، إذهب سيرا على الأقدام فالمسرح على بعد 10 دقائق من هنا، واشار إلى الطريق الذي يؤدي إلى منطقة المسارح. وقع في يدي، ليس هناك خيارا غير السير على الأقدام، كان الطريق سهلا والوقت لم يتعدى العشر دقائق.

الثاني: كنت مسافرا من نيو يورك إلى واشنطن (العاصمة)، وبعد إقلاع الطائرة بدقائق قامت إحدى المضيفات بالمرور على المسافرين للتأكد من صحة تذاكرهم. ولما جاء دوري وأعطيتها تذكرتي، رأيتها تدقق فيها ثم سالتني: سيدي، من أين إشتريت هذه التذكرة؟ قلت لها من وكيل الشركة في البحرين، هل من مشكلة؟ قالت نعم، لقد أخذوا منك مبلغا أكثر من السعر الحقيقي. قلت لها وما بإمكاني أن أفعل الآن، حلالا عليهم. قالت لا، أعطني عنوانك، سوف نتكفل نحن بهذا الموضوع مع شركة الطيران ليرجعوا لك الفرق. أعطيتها العنوان بعد أن شكرتها، وبعد حوالي أسبوعين إستلمت شيكا بالمبلغ من الشركة.

الثالث: دخلت مطعما في مدينة هنو لولو بجزيرة هاواي لتناول الغداء، ولما جاءت النادلة تسألني عن طلبي، قلت لها أريد سلطة ثم الوجبة الرئيسية. قالت لي سيدي: هذا كثير عليك، لن تستطيع أكل واحد منهم كاملا عوضا عن الإثنين، إختر أحدهما. نظرت لها بإستغراب وأنا لا أكاد أصدق أذني، قلت في نفسي سأطلب السلطة لأتأكد من صدقها، قلت لها أعطيني السلطة. لما احضرت صحن السلطة الكبير والمملوء، أكلت حتى شبعت وبقي حوالي الثلث. بعدها طلبت الفاتورة، جاءت النادلة وسلمتني الفاتورة، ولما رأت صحن السلطة لا زال به حوالي الثلث، إبتسمت وقالت سيدي: هل كنت على حق؟ قلت لها وأنا أسترجع الموقفين السابقين: أنتم دائما على حق.

أليس الصدق والأمانة والتعاطف مع الناس في وقت الشدائد والمحن من مكارم الأخلاق التي حض عليها الإسلام؟ قولوا لي إذا بربكم:

هل حدث أن ذهب أحدكم إلى مطعم سواء في بلده أو أي بلد عربي أو إسلامي لوحده أو مع عائلته أو مع أصدقاءه، وبعد أن قدمتم طلبكم بأنواع الطعام الذي ترغبون فيه، قال لكم النادل ناصحا: سيداتي وسادتي، أعتقد أنكم طلبتم أكثر من حاجتكم، لما لا تعيدون النظر في طلبكم؟ طبعا هذا لم يحدث ولن يحدث.

هل حدث أن طلب أحد منكم من سائق أجرة - في بلد عربي أو إسلامي غير بلده - أن يوصله إلى مكان ما، فنصحه السائق بالذهاب سيرا على الأقدام لأن المكان المطلوب قريب جدا.؟ أبدا، كل ما يفعله سائق الأجرة هو أن يدور بك في شوارع المدينة لمدة هو يقررها حسب المبلغ الذي يريد أخذه منك، ثم يوصلك إلى المكان القريب المطلوب. وبعد فترة قصيرة من إقامتك في المدينة تكتشف أن ذاك المكان كان قريبا من مكان سكنك.

كم من مرة حدثت زلازل وأعاصير وفيضانات في بلدان غير إسلامية، قتلت المئات من البشر، وشردت الآخرين، ودمرت منازلهم وأملاكهم. هل سمعتم من خطباء المساجد يوم الجمعة من دعى الله – جلت قدرته وعلا شأنه – أن يرحم الموتى منهم، ويخفف المصائب والمصاعب على الأحياء منهم؟ أبدا، هؤلاء البشر - في نظر أكثر خطبائنا إن لم يكن كلهم - لا يجوز الترحم عليهم لأنهم غير مسلمين، وان ما حدث لهم هو عقاب من الله بسبب كفرهم وكثرة معاصيهم. كم من العمال الأجانب وخدم المنازل ( الحلقة الضعيفة) الذين يعملون في بلداننا، يتعرضون إلى الإساءة بشكل يومي أمام أعيننا، ولا نفعل شيئا لحمايتهم.

بعد هذا ألا يحق لنا أن نتساءل: هل تنطبق علينا الآية الكريمة: "كنتم خير أمة اخرجت للناس". ليس عيبا أن نتعلم أخلاق الإسلام من غير المسلمين، فأخلاق الإسلام هي الأخلاق التي جاءت بها كل الأديان السماوية للبشرية جمعاء.

من أقوال الرسول (صلى الله عليه وآله وصحبه): إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق. ويقول كذلك: إرحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء. ومن أقوال الإمام علي (عليه السلام): قل الصدق حيث يضرك على الكذب حيث ينفعك.

المصدر

Sabtu, 18 Maret 2017

Membunuh Nyamuk dengan Raket Listrik

Membunuh Nyamuk dengan Raket Listrik
Membunuh Nyamuk dengan Raket Listrik

Berbagai macam cara telah diupayakan untuk menghindar dari gangguna nyamuk mulai dari obat nyamuk bakar, obat nyamuk elektrik, memakai selambu, memakai lotion anti nyamuk dan lain sebagainya. Demikianlah usaha manusia membebaskan diri dari gangguan nyamuk hingga muncul alat pengusir nyamuk yang ekstrem yaitu raket listrik.

Raket listrik (raket charge) merupakan salah satu alat pembunuh nyamuk yang memanfaatkan aliran listrik dalam jejaring rakter tersebut. Sehingga ketika nyamuk tersentuh raket secara otomatis akan hangus dan mati terbakar. Hal ini sangatlah ironis, karena Rasulullah saw melarang membunuh makhluk bernyawa dengan cara membakarnya.

Nabi saw. pernah memberi peringatan kepada para sahabatnya agar tidak membunuh dengan cara membakar, dalam hadits diterangkan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ :بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْثٍ فَقَالَ إِنْ وَجَدْتُمْ فُلَانًا وَفُلَانًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَرَدْنَا الْخُرُوجَ إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلَانًا وَفُلَانًا وَإِنَّ النَّارَ لَا يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللَّهُ فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا


Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata : Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam mengutus kami dalam satu sariyah lalu Beliau berkata : " jika kalian menemukan fulan dan fulan maka bakarlah keduanya dengan api, kemudian ketika kami hendak berangkat Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam berkat : "sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar fulan dan fulan, sesungguhnya api tidak pantas untuk menyiksa dengannya kecuali Allah, maka jika kalian menemukan mereka bunuhlah mereka berdua" HR Bukhari.

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Dari Ikrimah berkata : telah dihadapkan kepada Ali radhallahu anhu orang-orang zindiq lalu beliau membakar mereka, namun berita tersebut sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhu lalu beliau berkata : " seandainya aku, tentu aku akan membakar mereka karena Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam melarangnya dalam sabda beliau : "janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah" tapi tentulah aku akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam : " barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah".


ما أخرج البزّار في مسنده عن عثمان بن حبّان قال : " كنت عند أمّ الدّرداء رضي الله عنها ، فأخذت برغوثاً فألقيته في النّار ، فقالت : سمعت أبا الدّرداء يقول : قال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم : لا يعذّب بالنّار إلاّ ربّ النّار ".

Dikeluarkan oleh Al-Bazzar dalam musnadnya dari Utsman bin Hibban berkata: ketika itu aku ditempat Ummu Darda' radhiallahu anha, lalu aku mengambil seekor kutu lalu aku melemparkannya kedalam api, maka beliau berkata : aku mendengar Abu Darda' berkata: Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam bersabda : " tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Robbnya api".

Walaupun secara leterlek hadits di atas menunjukkan larangan membunuh manusia dengan membakar, tetapi hadits tersebut juga menjadi dalil tidak diperbolehkannya membunuh makhluk apapun (termasuk hewan) dengan cara membakarnya. Karena hal itu dianggap tidak menghormati ciptaan Allah swt.

Adapun membunuh nyamuk dengan raket listrik, maka perlu keterangan lebih rinci. Apakah aliran listrik (setrum) itu bisa disamakan dengan api atau tidak? Jika aliran lsitrik itu dianggap sama dengan api dalam hal memiliki kemampuan membakar, maka hukum menggunakan raket lsitrik untuk membunuh nyamuk tentunya dilarang. Sebagaimana keadaan nyamuk yang hangus ketika menempel pada jaring raket.

Akan tetapi jika aliran listrik dianggap beda dengan api, maka boleh-boleh saja menggunakan raket listrik untuk membasmi nyamuk. Buktinya raket listrik tidak dapat membakar kertas yang ada di atas jaring raket. Maka membunuh nyamuk dengan raket listrik tidak bisa disamakan dengan membakarnya.

Di sisi lain, kita dibolehkan membakar binatang yang sudah mati. Berdasarkan riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, pernah membakar tikus setelah beliau membunuhnya. (Majma’ Az-Zawaid, 6:271)

Syeikh Hamid bin Abdullah Al-'Ali ketika ditanya apakah boleh membunuh nyamuk dengan alat yang ada arus listriknya? Lalu beliau menjawab: tidak mengapa karena nyamuk mati sebelum terbakar.

Meski demikian perlu dicatat, bahwa aliran listrik yang terdapat dalam raket itu memang kecil sehingga tidak mampu membakar kertas, tetapi bagi hewan sekecil nyamuk tentunya aliran listrik itu adalah bahaya besar baginya. Sebagaimana arus pendek dalam aliran listrik yang dapat menyebabkan rumah dan bangunan terbakar.

Yang perlu difahami dalam konteks ini adalah bagaimana manusia menaruh rasa hormat kepada sesama makhluk ciptaan-Nya yang tercermin dalam cara membunuh mereka. Terutama pada proses pembunuhan itu sendiri yang dilakukan secapat mungkin sehingga dapat meminimalisir rasa sakit. Bukankah larangan membakar dalam membunuh itu dikarenakan adanya rasa sakit yang terlalu berkepanjangan ketika terbakar? Wallahu a’lam bis showab. (Pen. Fuad H/Red. Ulil H)

Sumber: NU.or.id dan lainnya.