KonsultasiSyariah.in

Konsultasi agama hanya akan dilayani apabila dikirim via email ke: alkhoirot@gmail.com

Subscribe Us

Do You Like Our Blog? So Get Our Next Hot And Awesome Article Directly Into Your Inbox...!!!

OR
Subscribe Our RSS Feed

Senin, 26 September 2016

Hukum Memilih Pemimpin Non-Muslim: Hasil Bahtsul Masail NU

NAHDHATUL ULAMA (NU) dalam Muktamarnya ke-11, di Banjarmasin, 19 Rabi’ulawwal 1355 H (9 Juni 1936 M), membahas satu masalah bertajuk: “Apakah Negara Kita Indonesia Negara Islam?” Ditanyakan, “Apakah nama negara kita menurut Syara’ agama Islam?” Jawabnya: “Sesungguhnya negara kita Indonesia dinamakan “Negara Islam” karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun pernah direbut oleh kaum penjajah kafir, tetapi nama Negara Islam tetap selamanya.” Muktamar juga memutuskan, bahwa wilayah Betawi (Jakarta) adalah “dar-al-Islam”, begitu juga sebagian besar wilayah Jawa.

Mengutip Kitab Bughyatul Mustarsyidin bab “Hudnah wal-Imamah” dijelaskan:

“Kullu mahalli qadara muslimun saakinun bihi… fii zamanin minal azmaani yashiiru daara Islaamin tajrii ‘alaihi ahkaamuhu fii dzaalika-az-zamaani wa-maa ba’dahu wa-in-qatha’a imtinaa’ul-musliiina bil-istilaa’il-kuffaari ‘alaihim wa-man’ihim fii-dukhuulihi wa-ikhraajihim minhu wa-hiina’idzin fa-tastamiituhu daara harbin shuuratan laa-hukman, fa-‘ulima anna ardha Bataawiy (Jakarta) bal wa-ghaalibu ardhi Jaawaa daara Islamin li-istilaa’il-muslimiina ‘alaihaa qablal-kuffaari.”(“Semua tempat dimana Muslim mampu untuk menempatinya pada suatu masa tertentu, maka ia menjadi daerah Islam (Dar-al-Islam.pen.) yang ditandai berlakunya syariat Islam pada masa itu. Sedangkan pada masa sesudahnya walaupun kekuasaan umat Islam telah terputus oleh penguasaan orang-orang kafir terhadap mereka, dan larangan mereka untuk memasukinya kembali atau pengusiran terhadap mereka, maka dalam kondisi semacam ini, penamaannya dengan “daerah perang” (dar-al-harb.pen.) hanya merupakan bentuk formalnya dan tidak hukumnya. Dengan demikian diketahui bahwa Tanah Betawi dan bahkan sebagian besar Tanah Jawa adalah “Daerah Islam” karena umat Islam pernah menguasainya sebelum penguasaan oleh orang-orang kafir.”)(Lihat buku “Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), terbitan LTN-NU Jawa Timur, cetakan ketiga, 2007, hlm.176-177).

PEMIMPIN NON MUSLIM

Dalam Muktamarnya ke-30 di PP Lirboyo Kediri, 21-27 November 1999, NU membahas permasalahan: “Bagaimana hukum orang Islam menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam?”

Jawabnya: “Orang Islam tidak boleh menguasakan urusan kenegaraan kepada orang non-Islam, kecuali dalam keadaan dharurat, yaitu:

(a) Dalam bidang-bidang yang tidak bisa ditangani sendiri oleh orang Islam secara langsung atau tidak langsung karena factor kemampuan,

(b) Dalam bidang-bidang yang ada orang Islam berkemampuan untuk menangani, tetapi terdapat indikasi kuat bahwa yang bersangkutan khianat,

(c) Sepanjang penguasaan urusan kenegaraan kepada non-Islam itu nyata membawa manfaat.

Catatan: Orang non-Islam yang dimaksud berasal dari kalangan ahlu dzimmah dan harus ada mekanisme kontrol yang efektif.

Dasar pengambilan (hukum tersebut): al-Quranul Karim, At-Tuhfah li-Ibni Hajar al-Haitsamiy juz IX, hlm 72, al-Syarwani ‘alat-Tuhfah juz IX, hlm. 72-73, al-Mahalli ‘alal-Minhaj juz IV, hlm.172, al-Ahkam as-Sulthaniyah li-Abil Hasan al-Mawardiy.

Secara lebih terperinci, berikut ini hujjah-hujjah yang mendasari para muktamirin mengambil keputusan tersebut (teks asli dalam bahasa Arab-nya tidak dikutip dalam tulisan ini):

(1) “Dan Allah SWT sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (QS an-Nisa’:141).

(2) Dalam Kitab At-Tuhfah li-Ibni Hajar al-Haitsamiy juz IX, hlm 72, disebutkan:
“Orang Islam tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir dzimmi atau lainnya kecuali jika sudah sangat terpaksa. Menurut dhahir pendapat mereka, bahwa meminta bantuan orang kafir tersebut tidak diperbolehkan walaupun dalam keadaan dharurat. Namun dalam titimmah disebutkan tentang kebolehan meminta bantuan tersebut jika memang darurat.”

(3) al-Syarwani ‘alat-Tuhfah juz IX, hlm. 72-73:
“Jika suatu kepentingan mengharuskan penyerahan sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan oleh orang lain dari kalangan umat Islam atau tampak adanya pengkhianatan pada si pelaksana dari kalangan umat Islam dan aman berada di kafir dzimmi, maka boleh menyerahkannya karena dharurat. Namun demikian, bagi pihak yang menyerahkan, harus ada pengawasan terhadap orang kafir tersebut dan mampu mencegahnya dari adanya gangguan terhadap siapa pun dari kalangan umat Islam.”

(4) al-Mahalli ‘alal-Minhaj juz IV, hlm.172:
“Orang Islam tidak boleh meminta bantuan kepada orang kafir, karena haram menguasakan orang kafir terhadap umat Islam kecuali karena dharurat.” (Lihat, Ibid, hlm. 551-552).

Referensi lain :

1. Al-Quran Al-Karim
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS: An-Nisaa Ayat: 141)

2. Tuhfah al-Muhtaj dan Hawasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 72

ولا يستعان عليهم بكافر ) ذمي أو غيره إلا إن اضطررنا لذلك
قول المتن: ولا يستعان إلخ) أي يحرم ذلك اه. سم, عبارة المغني والنهاية: (تنبيه) ظاهر كلامهم أن ذلك لا يجوز ولو دعت الضرورة إليه لكنه في التتمة صرح بجواز الاستعانة به أي الكافر عند الضرورة

3. awasyi al-Syarwani, Juz IX, h. 73

نعم ان قتضت المصلحة توليته في شىء لا يقوم به غيره من المسلمين او ظهر من المسلمين خيانة و امنت في ذمي فلا يبعد جواز توليته لضرورة القيام بمصلحة ما ولى فيه، و مع ذلك يجب على من ينصبه مراقبته و منعه من التعرض لاحد من المسلمين

4. Kanz al-Raghibin dan Hasyiyah al-Qulyubi, Jilid IV, h. 156
ولا يستعان عليهم بكافر) لأنه يحرم تسليطه على المسلمين
قوله: ولا يستعان) فيحرم إلا لضرورة

5. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 22
والوزارة على ضربين وزارة تـفويض ووزارة تـنـفيذ. اما وزارةالتـفويض فهى ان يستوزر الإسلام من يفوض اليه تدبـير الأمور برأيه وإمـضاء ها على اجتـهاده

6. Al-Ahkam al-Sulthaniyah, hal. 23
واما وزارة التـنـفيـذ فحكمها اضعـف وشروطها اقل لأن النـظر فيها مقـصور على رأي الإمام وتـدبـيره

Sumber : Ngaji.web.id
Read More...

Minggu, 25 September 2016

Hukum Memelihara Jenggot, Sunnah atau Mubah?

Hukum Memelihara Jenggot, Sunnah atau Mubah?

Di antara keutamaan mengaji kitab hadits adalah kita dapat melihat kehidupan Nabi Muhammad SAW secara utuh, mulai dari kehidupan beragama, sosial, budaya, bahkan bentuk fisiknya. Namun pertanyaannya, apakah semua bentuk kehidupan Nabi SAW itu mesti kita amalkan?

Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah” (Surat Al-Hasyar ayat 7). Sekilas ayat ini bermakna umum, artinya segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad harus diamalkan, baik yang bersifat duniawi maupun agama. Akan tetapi, menurut Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam kitabnya At-Turuqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah, ayat ini tidak berlaku umum, karena ada hadits yang mengkhususkan keumumannya.

Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi SAW berkata:

إنما أنا بشر، إذا أمرتكم بشيء من دينكم فخذوه به، وإذا أمرتكم بشيء من رأيي فإنما أنا بشر

Artinya, “Sesungguhnya aku seorang manusia. Bila aku memerintahkan sesuatu yang berkaitan dengan agama maka patuhilah, namun bila aku memerintahkan sesuatu yang berasal dari pendapatku, maka bagaimanapun aku juga seorang manusia,” (HR Muslim).

Berdasarkan hadits ini, Imam Muslim dalam Shahih Muslim memberi judul salah satu babnya dengan redaksi:

باب وجوب امتثال ما قاله شرعا دون ما ذكره من معايش الدنيا على سبيل الرأي

Artinya, “Kewajiban mengikuti perintah Rasul selama berkaitan dengan syariat, bukan sesuatu yang berkaitan dengan hal keduniawian yang berasal dari pendapat pribadi beliau.”

Dari kalimat ini dapat dipahami, tidak semua sesuatu yang berasal dari Nabi mesti diamalkan. Karena bagaimanapun beliau juga seorang manusia, yang memiliki pandangan pribadi, tinggal di sebuah komunitas yang memiliki sistem sosial dan budaya tersendiri. Maka dari itu, Kiai Ali menyimpulkan bahwa hadits yang mengandung unsur budaya Arab tidak wajib untuk diamalkan.

Kedudukan Jenggot
Sebagian orang menganggap bahwa jenggot identik dengan Islam. Sehingga ada kesan tidak sempurna keislaman seseorang bila tidak berjenggot. Karena mereka meyakini Nabi SAW berjenggot dan kita harus menirunya. Selain itu ada hadits yang bersumber dari Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW bersabda:

أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى

Artinya, “Potonglah kumismu dan biarkan jenggotmu panjang,” (HR Muslim).

Dalam hadits lain disebutkan:

خالفوا المشركين أحفوا الشوارب وأوفوا اللحى

Artinya, “Berbedalah dengan orang musyrik, potong kumismu dan biarkan jenggotmu panjang” (HR Muslim).

Hadits pertama mengindikasikan kewajiban memotong kumis dan memanjangkan jenggot. Sementara hadis kedua juga menyiratkan hal yang sama, namun di sana terdapat ‘illat atau alasan mengapa memanjangkan jenggot termasuk kesunahan.

Menurut Kiai Ali Mustafa, hadits tidak dapat dipahami sepotong-sepotong dan antara hadis dapat saling menafsirkan antara satu sama lainnya. Terlebih lagi, terkadang dalam satu tema yang sama, ada hadits yang diriwayatkan secara utuh dan ada yang tidak utuh. Karenanya, hadis yang redaksinya utuh seharusnya menjadi acuan untuk memahami hadis yang tidak utuh.

Dengan demikian, hadits kedua menjadi pedoman untuk memahami hadits pertama, karena redaksinya lebih lengkap. Implikasinya, aturan memanjangkan jenggot dan memotong kumis sangat terkait dengan anjuran mukhalafah lil musyrikin (berbeda dengan orang musyrik). Dalam pandangan Kiai Ali, yang menjadi perhatian utama dalam hadits ini adalah imbauan untuk berbeda dengan orang kafir, bukan aturan memanjangkan jenggotnya.

Akan tetapi perlu digarisbawahi, perintah Nabi SAW agar berbeda dengan orang kafir ini sangat terkait dengan konteks perperangan. Supaya bisa membedakan mana pasukan musuh dan umat Islam pada waktu perang, perlu diberikan simbol dan tanda pada masing-masing pasukan. Di antara tandanya adalah jenggot.

Karena itu, makna hadits ini tidak relevan dengan sendirinya pada masa sekarang. Dalam konteks dunia modern, jenggot tidak lagi menjadi simbol pembeda antara pasukan Muslim dan musuh. Selain itu, sebagian negara yang dihuni umat Islam, mereka dapat hidup berdampingan dengan orang non-Muslim. Sehingga tidak dibutuhkan lagi simbol pembeda antara orang Islam dengan non-Muslim.

Kiai Ali mengatakan:

ومع ذلك نحن نرى بأن ما يتعلق بالشعر من اللحية والشارب وشعر الرأس كل ذلك من باب لتقاليد والعادات وليس من باب الدين والعبادات

Artinya, “Maka dari itu, kami berpendapat bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan rambut, baik jenggot, kumis, dan rambut bagian dari budaya dan adat, bukan agama dan ibadah.

Menurut Kiai Ali, jenggot bukanlah bagian dari agama atau kesunahan, tetapi bagian dari budaya. Berjenggot atau tidak bukanlah standar keislaman. Silakan berjenggot, tapi jangan menganggap orang yang tidak berjenggot sebagai orang yang tidak mengikuti sunah Nabi. Wallahu a’lam.

Demikian, artikel tentang Hukum Memelihara Jenggot, Sunnah atau Mubah?

Sumber: NU.OR.ID
Read More...

Sabtu, 24 September 2016

Was-was Murtad

Was-was Murtad. ada perasaan dalam hati bahwa saya telah murtad karena berfikir tentang kufur atau murtad. Apakah itu hukumnya murtad?


فما يجول في الخاطر من كلمات الكفر وعباراته، وحديث النفس بها، أو ما يسميه السائل: الحديث الداخلي، لا تترتب عليه المؤاخذة، فضلا عن الحكم بالكفر، ما دام اعتقاد المرء صحيحا،

قال الملا علي قارئ في شرح الشفا: قال علماؤنا: إذا وجد تسعة وتسعون وجها تشير إلى تكفير مسلم ووجه واحد على إبقائه على إسلامه فينبغي للمفتي والقاضي أن يعملا بذلك الوجه، وهو مستفاد من قوله عليه السلام: ادرءوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم. انتهى.

قال النووي في المنهاج: الردة هي: قطع الإسلام بنية أو قول كفر أو فعل، سواء قاله استهزاء أو عنادا أو اعتقادا، فمن نفى الصانع أو الرسل أو كذب رسولا أو حلل محرما بالإجماع كالزنا وعكسه، أو نفى وجوب مجمع عليه أو عكسه، أو عزم على الكفر غدا أو تردد فيه كفر، والفعل المكفر ما تعمده استهزاء صريحا بالدين أو جحودا له كإلقاء مصحف بقاذورة وسجود لصنم أو شمس. انتهى

قال الشيخ مرعي الكرمي ـ رحمه الله ـ في دليل الطالب: المرتد وهو من كفر بعد إسلامه، ويحصل الكفر بأحد أربعة أمور: بالقول كسب الله تعالى ورسوله أو ملائكته، أو ادعاء النبوة، أو الشرك له تعالى، وبالفعل كالسجود للصنم ونحوه وكإلقاء المصحف في قاذورة، وبالاعتقاد كاعتقاده الشريك له تعالى أو أن الزنا أو الخمر حلال أو أن الخبز حرام ونحو ذلك مما أجمع عليه إجماعا قطعيا وبالشك في شيء من ذلك. انتهى.

ابن القيم في مدارج السالكين، فقال: فأول مراتبها: علم ومعرفة واعتقاد لصحة المشهود به وثبوته.

وثانيها: تكلمه بذلك ونطقه به، وإن لم يعلم به غيره، بل يتكلم به مع نفسه ويذكرها، وينطق بها أو يكتبها.

وثالثها: أن يعلم غيره بما شهد به، ويخبره به، ويبينه له.

ورابعها: أن يلزمه بمضمونها ويأمره به. اهـ.
Read More...

Perkara yang Menyebabkan Murtad Kufur

Perkara yang Menyebabkan Murtad kufur yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Muslim yang melakukan ini harus menyadari dan segera melakukan taubat dengan cara membaca dua kalimat syahadat dan memahami maknanya dan mohon ampun pada Allah

الأمور التي تقع بها الرِّدّة
يونس عبد الرب فاضل الطلول

المقدمة:

الحمد لله ربِّ العالمين، والصَّلاة والسَّلام على أشرف المرسلين، محمّد صلّى الله عليه وعلى آله وصحبه أجمعين.

أمَّا بعد:

فإنَّ الله تعالى أَمَر عباده بأوامرَ متعددة، تحقق المصلحة لهم في الدنيا والآخرة، ومن هذه الأوامر: أن أمَرَهم بالالتزام بالإسلام، والاستمساك به، والثبات عليه إلى أن يأتي الموت. قال تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ﴾ [آل عمران: 102].

ونعمة الإسلام والعمل به، هي أفضل نعمةٍ في هذه الحياة؛ وذلك لما يتحقق فيها من مصالح عاجلة وآجلة، ولأنها تدوم لصاحبها إلى الآخرة، وتنجيه من الخسارة، قال تعالى: ﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾ [آل عمران: 85].

ومن شرائط الالتزام بالإسلام، والحفاظ على هذه النعمة العظيمة، عدم صدور اعتقادٍ أو قولٍ أو فعلٍ منافٍ له؛ لأن معنى الإسلام هو الاستسلام والخضوع لله تعالى وشرعه، وهذه الأمور التي تصدر من صاحبها، والتي هي منافية لما التزم به، دالَّةٌ على عدم الاستسلام والرضا بالدين الإسلامي، ولذلك فقد اعتبرها العلماء من الأمور التي تحصل بها الردة عن الدين.

فما هي هذه الاعتقادات والأقوال والأفعال التي تقع بها الردة؟

هذا ما أحببت أن أكتب فيه في هذا البحث المتواضع، والذي هو بعنوان: (الأمور التي تقع بها الرِّدّة).

وسيكون السير في هذا البحث على النحو التالي:

1. تعريف الرِّدة.

2. ممن تكون الردة؟

3. الأمور التي تقع بها الردة.

4. بم تثبت الردة؟

5. الخاتمة.

وهناك تكملة لهذا البحث في وقتٍ آخر للحديث عن أحكام الردة.

فأقول مستعيناً بالله، وهو حسبي ونعم الوكيل:

تعريف الردة:

أ: تعريف الرِّدة في اللغة:

الرِّدة في اللغة: هي الرجوع عن الشيء.

قال المناوي في التعاريف: "الردة لغةً: الرجوع عن الشيء إلى غيره"(1). وقال ابن منظور: "الردَّة عن الإِسلام، أَي الرجوع عنه، وارتدَّ فلان عن دينه: إِذا كفر بعد إِسلامه... والرِّدّة بالكسر: مصدر قولك: ردَّه يَرُدُّه رَدّاً ورِدَّة. والرِّدَّةُ: الاسم من الارتداد"(2). وبنحوه قال الفيروزآبادي(3)، والرازي(4)، والفيومي(5)، وغيرهم.

ب: تعريف الرِّدة في الشرع:

الرِّدة في الشَّرع: هي الكفر بعد الإسلام. قال الشربيني: الرِّدة هي "قطع استمرار الإسلام ودوامه"(6). على أن يكون هذا القطع طوعاً، أي باختياره من غير إكراهٍ عليه.(7) وبنحو هذا التعريف عرَّف الكاساني(8)، والقرافي(9) والخرشي(10) وابن قدامة(11) وابن عاشور(12) والشوكاني(13) وغيرهم(14). قال الله تعالى: ﴿وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾ [البقرة: 217].

وفي كلمة: (يرتدد) وهي صيغة مطاوعة: إشارة إلى أن هذا الرجوع عن الإسلام -إن قدر حصوله- لا يكون إلا عن محاولة من المشركين، فإنَّ من ذاق حلاوة الإيمان لا يسهل عليه رجوعه عنه، ومن عرف الحق لا يرجع عنه إلا بعناء.

وفي كلمة (عن دينه): لم يذكر الدِّين الذي يرجع إليه المرتد؛ إذ لا اعتبار بالدين المرجوع إليه، وإنما نيط الحكم بالارتداد عن الإسلام إلى أي دين.(15)

ممن تكون الردة؟

الردة المعتبرة شرعاً والتي يترتَّب عليها آثارها الشرعية، إنما تكون من مسلمٍ عاقلٍ بالغٍ مختار.

فقد نصَّ الحنفية على أن شرائط صحة الردة التي يترتب عليها آثارها ثلاثة:

1. العقل.

2. البلوغ، وقد اختُلف فيه في المذهب.

3. الطَّوع، فلا تصح ردة المكره على الردة إذا كان قلبه مطمئناً بالإيمان.(16) وبنحوه قال الخرشي المالكي(17)، وكذلك قال الشربيني الشافعي: "ويعتبر فيمن يصير مرتدا...أن يكون مكلَّفا مختاراً، وحينئذ لا تصح ردة صبي ولو مميزاً، ولا ردة مجنون، لعدم تكليفهما، فلا اعتداد بقولهما واعتقادهما"(18). وبمثله قال ابن قدامة(19)، وزاد: والأفضل للمكره على كلمة الكفر ألاَّ يقولها، لما روى خباب عن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- أنه قال: «كان الرجل فيمن قبلكم يحفر له في الأرض، فيجعل فيه، فيجاء بالمنشار فيوضع على رأسه فيشق باثنتين وما يصده ذلك عن دينه، ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه من عظم أو عصب وما يصده ذلك عن دينه»(20). وبنحو قول ابن قدامة، قال أبو النجا الحجاوي.(21)

وإذا كان العقل شرطاً لصحة الردة، فهل ردة السكران معتبرة، أم أنها غير معتبرة؟

اختلف الفقهاء في ردة السكران، فقال الحنفية(22) والمالكية(23) والحنابلة في إحدى روايتيهم(24): إن السكران الذي فقد الإدراك والتمييز، يعتبر مثل المجنون، فلا تصح ردته؛ لأن الردة تبنى على تبدل الاعتقاد، والسكران غير معتقدٍ لما يقول.

وقال الحنفية في إحدى روايتهم(25)، والشافعية(26)، والحنابلة في إحدى روايتيهم(27): إن السكران الذي تعدى بسكره، تعتبر ردَّتة صحيحة، وتطبَّق عليه أحكام المرتد.(28)

وإن كان بعض الفقهاء في هذه التصرفات التي تصدر من السكران وغيرها، يفرِّقون بين من كان عنده نوعٌ من العقل، وبين من كان سكره مطبق، فيلزمونه بآثار تصرفاته في الحالة الأولى، دون الأخرى، وهذا مسلك جيد.(29)

الأمور التي تقع بها الردة:

الردَّة تقع بأحدِ هذه الأمور:

1. إمَّا بالاعتقاد.

2. أو بالقول.

3. أو بالفعل.

وإليك بيان أقوال الفقهاء في تفصيل الاعتقادات والأقوال والأفعال التي تحصل بها الردة.

جاء في مختصر خليل للمالكية: أن الأمور التي يقع بها الردة، هي كفر المسلم بصريح، أو لفظ يقتضيه، أو فعل يتضمنه: كإلقاء مصحف بقذر، وشد زنّار، أو أنه جوزَّ اكتساب النبوة، أو ادَّعى أنه يصعد للسماء، أو يعانق الحور، أو استحَلَّ الحرام: كشرب الخمر.(30)

وجاء في مغني المحتاج للشافعية: أن الردة تحصل بأمور، وهي:

1. النية بالكفر، قال: ليدخل من عزم على الكفر في المستقبل، لكن قد انتقد عليه أصحابه في المذهب، فقالوا: ينبغي أن يكون التعبير بالعزم على الكفر، وليس بمجرد النية.

2. القول المكَفِّر، سواء قاله استهزاء أو عناداً أو اعتقاداً، لقوله تعالى: ﴿قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ} [التوبة: 65- 66].

ثم فصَّل الشربيني في القول المكفِّر، فقال: فمن نفى الصانع... أو نفى الرسل بأن قال لم يرسلهم الله، أو نفى نبوة نبي، أو ادعى نبوةً بعد نبينا -صلى الله عليه وسلم- أو صدَّق مدعيها، أو قال النبوة مكتسبة أو تنال رتبتها بصفاء القلوب، أو أوحي إلي ولم يدَّع نبوة، أو كذَّب رسولاً أو نبياً، أو سَبَّه، أو استخفّ به، أو باسمه، أو باسم الله، أو أمرِه، أو وعدِه، أو وعيده، أو جحد آية من القرآن مجمعاً على ثبوتها، أو زاد فيه آية معتقداً أنها منه، أو استخفّ بسنَّةٍ كما لو قيل له: كان النبي -صلى الله عليه وسلم- إذا أكل لعِق أصابعه الثلاثة(31)، فقال: ليس هذا بأدب، أو قيل له: قلِّم أظفارك فإنه سنَّة. فقال: لا أفعل، أو قال لو أمرني الله ورسوله بكذا لم أفعل، أو لو جعل الله القبلة هنا لم أصلِّ إليها، أو لو اتخذ الله فلانا نبياً لم أصدِّقه، ولو شهد عندي نبي بكذا أو ملك لم أقبله، أو قال إن كان ما قاله الأنبياء صدقاً نجونا أو لا أدري النبي أنسي أو جني،... أو صغَّر اسم الله تعالى، أو قال لا أدري ما الإيمان احتقاراً أو قال لمن حوقل لا حول: لا تغني من جوع. أو لو أوجب الله الصلاة عليّ مع مرضي هذا لظلمني، أو سمَّى الله على شرب خمرٍ أو زنا استخفافاً باسمه تعالى، أو لم يكفِّر من دان بغير الإسلام كالنصارى أو شك في كفرهم، أو حلَّلَ محرماً بالإجماع كالزنا، وعكسه بأن حرَّم حلالاً بالإجماع كالبيع والنكاح، أو نفى وجوب مجمعٍ عليه، كان نفي وجوب ركعة من الصلوات الخمس، أو عكسه بأن اعتقد وجوب ما ليس بواجب بالإجماع كزيادة ركعة من الصلاة المفروضة(32).

3. الفعل المكَفِّر.

ثم فصَّل الشربيني في الفعل المكفِّر، فقال: والفعل المكفر ما تعمده صاحبه استهزاء صريحاً بالدين أو جحوداً له كإلقاء مصحف بقاذورةٍ؛ لأنه صريحٌ في الاستخفاف بكلام الله تعالى والاستخفاف بالكلام استخفاف بالمتكلم، وكذلك سجود لصنم، أو سجود لشمس أو غيرها من المخلوقات.(33)

وقال ابن ضويان الحنبلي: ويحصل الكفر بأحدِ أربعة أمور:

1. القول: كسبِّ الله تعالى أو رسوله أو ملائكته؛ لأنه لا يسبُّه، إلا وهو جاحد به، أو ادَّعى النبوة، أو تصديق من ادَّعاها؛ لأن ذلك تكذيبٌ لله تعالى في قوله: ﴿وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ﴾ [الأحزاب: 40].

2. أو الشركة له تعالى، لقوله تعالى: ﴿إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِه﴾ [النساء: 48]. قلت: الشركة له تعالى: إمَّا أن يكون قولاً أو فعلاً أو اعتقاداً.

3. بالفعل: كالسجود للصنم ونحوه كشمسٍ وقمرٍ وشجرٍ وحجرٍ وقبرٍ؛ لأنه إشراك بالله تعالى، وكإلقاء المصحف في قاذورة، أو ادّعى اختلافه أو القدرة على مثله؛ لأن ذلك تكذيب له.

4. بالاعتقاد: كاعتقاد الشريك له تعالى، أو الصاحبة، أو الولد لقوله تعالى: ﴿مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ﴾ [المؤمنون: 91]. أو أنَّ الزنا والخمر حلال، أو أن الخبز حرام ونحو ذلك مما أجمَع عليه العلماء إجماعاً قطعياً؛ لأن ذلك معاندةٌ للإسلام وامتناعٌ من قبول أحكامه، ومخالفةٌ للكتاب والسنة وإجماع الأمة، وكذلك بالشك في تحريم الزنا والخمر، أو في حلِّ الخبز ونحوه، مما لا يجهله، لكونه نشأ بين المسلمين، أما إن كان يجهله مثله لحداثة عهده بالإسلام أو الإفاقة من جنون ونحوه: لم يكفَّر، فإن عرف حكمه ودليله، ثم أصرَّ على خلافه، فإنه يكفر؛ لأن أدلة هذه الأمور ظاهرة من كتاب الله وسنة رسوله، ولا يصدر إنكارها إلا من مكذبٍ لكتاب الله وسنة رسوله.(34)

وقال أبو النجا الحجاوي الحنبلي: "فمن أشرك بالله، أو جحد ربوبيته، أو وحدانيته، أو صفةً من صفاته، أو اتخذ له صاحبةً، أو ولداً، أو ادَّعى النبوة، أو صدَّق من ادَّعاها، أو جحد نبياً، أو كتاباً من كتب الله أو شيئاً منه، أو جحد الملائكة، أو البعث، أو سَبَّ الله، أو رسوله، أو استهزأ بالله، أو كتبه أو رسله،... أو جعل بينه وبين الله وسائط يتوكل عليهم ويدعوهم ويسألهم... أو سجد لصنمٍ أو شمسٍ أو قمر، أو أتى بقولٍ أو فعلٍ صريح في الاستهزاء بالدين، أو وُجِد منه امتهانُ القرآن، أو طلب تناقضه، أو دعوى أنه مختلف، أو مختلق، أو مقدور على مثله، أو إسقاط لحرمته، أو أنكر الإسلام أو الشهادتين أو أحدهما كفر... أو قذف النبي -صلى الله عليه وسلم- أو أُمَّه... أو سخِر بوعد الله أو بوعيده، أو لم يكفِّر من دان بغير الإسلام: كالنصارى، أو شكّ في كفرهم، أو صحَّح مذهبهم، أو قال قولاً يتوصل به إلى تضليل الأمة أو تكفير الصحابة"(35).

تقدَّم من أقوال الفقهاء، أنّ الردة قد تكون بإنكار المجمع عليه، فما هو ضابط منكر المجمع عليه، والذي تقع به الردة؟

قال السيوطي في الأشباه والنظائر: "ضابط منكر المجمع عليه أقسام: أحدها: ما نكفره قطعاً، وهو ما فيه نصٌّ وعُلم من الدين بالضرورة، بأن كان من أمور

الإسلام الظاهرة التي يشترك في معرفتها الخواص والعوام، كالصلاة والزكاة والصوم والحج وتحريم الزنا ونحوه.

الثاني: ما لا نكفره قطعاً، وهو مالا يعرفه إلا الخواص ولا نص فيه، كفساد الحج بالجماع قبل الوقوف.

الثالث: ما يكفر به على الأصح، وهو المشهور المنصوص عليه الذي لم يبلغ رتبة الضرورة كحل البيع وكذا غير المنصوص على ما صححه النووي.

الرابع: ما لا -أي مالا يكفر به- على الأصح، وهو ما فيه نص لكنه خفي غير مشهور، كاستحقاق بنت الابن السدس مع بنت الصلب"(36).

ولمزيدٍ من التفصيل في الاعتقادات والأقوال والأفعال التي تقع بها الردة يُنظر ما قاله الخرشي(37)، وابن قدامة (38)، وابن تيمية(39)، وغيرهم(40).

فهذه الأمور المتقدمة من الاعتقادات والأقوال والأفعال، تقع بها الردة، ويطبَّق على صاحبها أحكام المرتد، إلا أن هذه الأحكام لا تطبَّق إلا على من ثبتت عليه الردة، وتحققت فيه، فبم تثبت الردة؟ هذا ما سأختم به هذا البحث.

بم تثبت الرِّدَّة؟

الرِّدّة تثبت على صاحبها بأمرين اثنين:

1. الإقرار.

2. البيِّنة.

قال ابن قدامة: "وتثبت الردة بشيئين: الإقرار والبينة، فمتى شهد بالردة على المرتد من ثبتت الردة بشهادته فأنكر لم يسمع إنكاره واستتيب فإن تاب وإلا قتل، وحكي عن بعض أصحاب أبي حنيفة: أن إنكاره -أي المرتد- يكفي في الرجوع إلى الإسلام... وتقبل الشهادة على الردة من عدلين في قول أكثر أهل العلم"(41).

إلا أن الفقهاء قد اختلفوا في الشهادة على شخص بالردة، هل تكون هذه الشهادة على وجه الإطلاق أم على وجه التفصيل؟ (42)

والصحيح -والله أعلم- أن الشهادة لا تقبل إلا مفصَّلة، نظراً لاختلاف المذاهب في التكفير، ولأن الحكم بالرِّدة عظيم، فيجب أن يحتاط له، وذلك من خلال استفسار الشاهد عن شهادته. قال الشربيني: "وتقبل الشهادة بالردة مطلقاً أي على وجه الإطلاق ويقضى بها من غير تفصيل؛ لأن الردة لخطرها لا يقدم الشاهد بها إلا عن بصيرة. وقيل: يجب التفصيل، أي استفسار الشاهد بها لاختلاف المذاهب في التكفير، والحكم بالردة عظيم فيحتاط له"(43).

وقال صاحب التاج والإكليل لمختصر خليل: "لا ينبغي أن تقبل الشهادة على الردة دون تفصيل لاختلاف المذاهب في التكفير"(44).

الخاتمة:

نسأل الله تعالى أن يعصمنا من الاعتقادات والأقوال والأفعال التي تقع بها الردِّة، ومن سائر الكبائر، وأن يتوفنا مسلمين.

والله تعالى أعلم, والحمد لله ربّ العالمين، وصلّى الله على نبيّنا محمّد، وعلى آله وصحبه وسلّم.

كتبه الفقير إلى عفو ربه/ يونس عبد الرب فاضل الطلول.

بتاريخ 20 شعبان 1428هـ الموافق 2/ 9/ 2007 م.

راجعه الفقير إلى عفو ربه العلي: علي بن عبد الرحمن بن علي دبيس.

______________________

(1) التعاريف 1/ 361.

(2) لسان العرب 3/ 172.

(3) القاموس المحيط 1/ 360.

(4) مختار الصحاح 1/ 267.

(5) المصباح المنير 1/ 224، وانظر: العين 8/ 7.

(6) مغني المحتاج 4/ 133.

(7) الروض المربع 1/ 681، الإقناع 4/ 297.

(8) بدائع الصنائع 6/ 117.

(9) شرح مختصر خليل للخرشي 23/ 92.

(10) شرح مختصر خليل للخرشي 23/ 92.

(11) الكافي في فقه ابن حنبل 4/ 59، الشرح الكبير 10/ 72.

(12) التحرير والتنوير 1/ 605.

(13) فتح القدير 1/ 331.

(14) زاد المستقنع 1/ 681، منار السبيل 2/ 272.

(15) انظر: التحرير والتنوير 1/ 603.

(16) انظر: بدائع الصنائع 6/ 117، وانظر: تحفة الملوك 1/ 195.

(17) شرح مختصر خليل للخرشي 23/ 92.

(18) مغني المحتاج 4/ 137، وانظر: الأم 6/ 226.

(19) الكافي في فقه ابن حنبل 4/ 59، وانظر: الشرح الكبير 10/ 85.

(20) انظر: الكافي في فقه ابن حنبل 4/ 59. والحديث في صحيح البخاري 3/ 1322، برقم: 3416.

(21) الإقناع 4/ 306.

(22) بدائع الصنائع 6/ 117.

(23) التاج والإكليل لمختصر خليل 12/ 73.

(24) الشرح الكبير 10/ 85.

(25) بدائع الصنائع 6/ 117.

(26) مغني المحتاج 4/ 133.

(27) الشرح الكبير 10/ 85.

(28) الفقه على المذاهب الأربعة 5/ 204.

(29) انظر: حاشية الصاوي على الشرح الصغير 10/ 373.

(30) مختصر خليل1/ 251.

(31) صحيح مسلم 3/ 1605، برقم: 2032.

(32) مغني المحتاج 4/ 134- 135.

(33) انظر: مغني المحتاج 4/ 136، وانظر: شرح مختصر خليل للخرشي 23/ 92.

(34) انظر: منار السبيل 2/ 272.

(35) الإقناع 4/ 297.

(36) الأشباه والنظائر 1/ 744.

(37) شرح مختصر خليل للخرشي 23/ 92.

(38) الكافي في فقه ابن حنبل 4/ 59، الشرح الكبير 10/ 73، العمدة 1/ 561.

(39) الفتاوى الكبرى 5/ 535.

(40) الإقناع 4/ 299، زاد المستقنع 1/ 681، الروض المربع 1/ 681.

(41) الشرح الكبير10/ 103.

(42) انظر: الأم 6/ 175، وانظر: نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج 25/ 451، وانظر: الشرح الكبير10/ 103.

(43) مغني المحتاج 4/ 138.

(44) التاج والإكليل لمختصر خليل 12/ 50.

المصدر
Read More...

Jumat, 23 September 2016

Orang Berkata Aku Kafir maka Kufur

ORANG BERKATA "AKU KAFIR" MAKA IA KUFUR MURTAD WALAUPUN ITU HANYA BERCANDA


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ [التوبة: 66].

قال ابن العربي رحمه الله: لا يخلو أن يكون ما قالوه من ذلك جداً أو هزلاً، وهو كيفما كان، كفر؛ فإن الهزل بالكفر كفر، لا خلاف فيه بين الأمة. فإن التحقيق أخو العلم والحق، والهزل أخو الباطل والجهل، فإذا حصل الاستهزاء بالله، أو بالرسول صلى الله عليه وسلم، أو بالدين من شخص عاقل، غير مكره، فإنه يكفر بذلك، ويعتبر ذلك ردة عن الإسلام...اهـ.

وقال النووي في المنهاج: الردة هي: قطع الإسلام بنية, أو قول كفر, أو فعل، سواء قاله استهزاء, أو عنادًا, أو اعتقادًا, فمن نفى الصانع, أو الرسل, أو كذب رسولًا, أو حلل محرمًا بالإجماع, كالزنا, وعكسه، أو نفى وجوب مجمع عليه, أو عكسه, أو عزم على الكفر غدًا, أو تردد فيه كفر, والفعل المكفر ما تعمده استهزاء صريحًا بالدين, أو جحودًا له, كإلقاء مصحف بقاذورة, وسجود لصنم أو شمس. انتهى.

وقال الزركشي في (المنثور): من تكلم بكلمة الكفر هازلا ولم يقصد الكفر، كفر. انتهـى.
وفي (البحر الرائق) لابن نجيم الحنفي: من تكلم بكلمة الكفر هازلا، أو لاعبا، كفر عند الكل، ولا اعتبار باعتقاده، كما صرح به قاضي خان في فتاواه. ومن تكلم بها مخطئا، أو مكرها، لا يكفر عند الكل، ومن تكلم بها عالما عامدا، كفر عند الكل. انتهـى.

قال الإمام الرملي في نهاية المحتاج: أو عزم على الكفر غدًا - مثلًا - أو تردد فيه أيفعله أو لا كفر. اهـ

وقال الإمام بدر الدين الزركشي في المنثور: لو نوى قطع الإسلام كفر بمجرد النية، وكذا لو عزم على الكفر غدًا كفر في الحال. اهـ

وقال الطرابلسي الحنفي في معين الحكام: إذا عزم على الكفر - ولو بعد مائة سنة - يكفر في الحال. اهـ

وفي الفتاوى الهندية: وإذا عزم على الكفر, ولو بعد مائة سنة, يكفر في الحال, كذا في الخلاصة. اهـ.

وجاء في إعلام الموقعين لابن القيم: الكلام محمول على معناه المفهوم منه عند الإطلاق, لا سيما الأحكام الشرعية التي علق الشارع بها أحكامها، فإن المتكلم عليه أن يقصد بتلك الألفاظ معانيها, والمستمع عليه أن يحملها على تلك المعاني، فإن لم يقصد المتكلم بها معانيها, بل تكلم بها غير قاصد لمعانيها, أو قاصدًا لغيرها أبطل الشارع عليه قصده, فإن كان هازلًا, أو لاعبًا لم يقصد المعنى ألزمه الشارع المعنى, كمن هزل بالكفر والطلاق والنكاح والرجعة....

والمكره على كلمة الكفر أتى بصريح كلمته ولم يكفر لعدم إرادته, بخلاف المستهزئ والهازل فإنه يلزمه الطلاق والكفر, وإن كان هازلًا؛ لأنه قاصد للتكلم باللفظ, وهزله لا يكون عذرًا له, بخلاف المكره والمخطئ والناسي فإنه معذور, مأمور بما يقوله, أو مأذون له فيه, والهازل غير مأذون له في الهزل بكلمة الكفر والعقود, فهو متكلم باللفظ, مريد له, ولم يصرفه عن معناه إكراه, ولا خطأ, ولا نسيان, ولا جهل, والهزل لم يجعله الله ورسوله عذرًا صارفًا, بل صاحبه أحق بالعقوبة، ألا ترى أن الله تعالى عذر المكره في تكلمه بكلمة الكفر إذا كان قلبه مطمئنًا بالإيمان, ولم يعذر الهازل, بل قال: "ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزئون * لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم" وكذلك رفع المؤاخذة على المخطئ والناسي ... انتهى.

MENOLAK KEWAJIBAN AGAMA YANG IJMAK ADALAH KUFUR


وقال النووي في روضة الطالبين: أطلق الإمام الرافعي القول بتكفير جاحد المجمع عليه، وليس هو على إطلاقه، بل من جحد مجمعا عليه فيه نص، وهو من أمور الإسلام الظاهرة التي يشترك في معرفتها الخواص والعوام، كالصلاة، أو الزكاة، أو الحج، أو تحريم الخمر، أو الزنا، ونحو ذلك، فهو كافر. ومن جحد مجمعا عليه لا يعرفه إلا الخواص كاستحقاق بنت الابن السدس مع بنت الصلب، وتحريم نكاح المعتدة، وكما إذا أجمع أهل عصر على حكم حادثة، فليس بكافر، للعذر، بل يعرف الصواب ليعتقده. ومن جحد مجمعا عليه ظاهرا لا نص فيه، ففي الحكم بتكفيره خلاف. اهـ.

وجاء في شرح الجلال المحلي على جمع الجوامع: جاحد المجمع عليه المعلوم من الدين بالضرورة ـ وهو ما يعرف منه الخواص والعوام من غير قبول للتشكيك، فالتحق بالضروريات، كوجوب الصلاة، والصوم، وحرمة الزنا، والخمر ـ كافر قطعا، لأن جحده يستلزم تكذيب النبي صلى الله عليه وسلم فيه
Read More...

Kamis, 22 September 2016

Hukum Adzan dan Baca Quran Berlagu

Hukum Adzan dan Baca Quran Berlagu: Melagukan adzan hukumnya makruh, sedangkan melagukan bacaan Al Quran hukumnya sunnah

MAKRUH MELAGUKAN ADZAN

يكره التغني بالأذان بحيث يكون على سبيل التطريب والتمديد الزائد في الحروف ، ما لم يغير المعنى ، فإن غير المعنى صار حراماً لا يصح معه الأذان .

روى ابن أبي شيبة (259) أَنَّ مُؤَذِّنًا أَذَّنَ فَطَرَّبَ فِي أَذَانِهِ ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ : أَذِّنْ أَذَانًا سَمْحًا وَإِلا فَاعْتَزِلْنَا .

ومعنى : " أَذَانًا سَمْحًا" أي : مِنْ غَيْرِ تَطْرِيبٍ وَلا لَحْنٍ . يُقَال أَسْمَحَ وَسَمَّحَ وَسَامَحَ إذَا سَاهَلَ فِي الأَمْرِ .

انظر : "المغرب" في لغة الفقه ، لأبي المكارم المطرزي الحنفي (ص 234) .

وجاء في "المدونة" (1/159) .

" وَكَانَ مَالِكٌ يَكْرَهُ التَّطْرِيبَ فِي الأَذَانِ كَرَاهِيَةً شَدِيدَةً " اهـ .

وقال الإمام الشافعي في "الأم" (1/107) .

" أُحِبُّ تَرْتِيلَ الأَذَانِ وَتَبَيُّنَهُ بِغَيْرِ تَمْطِيطٍ وَلا تَغَنٍّ فِي الْكَلامِ وَلا عَجَلَةٍ " اهـ .

وجاء في الموسوعة الفقهية (6/12) .

" وَاتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ التَّمْطِيطَ وَالتَّغَنِّيَ وَالتَّطْرِيبَ بِزِيَادَةِ حَرَكَةٍ أَوْ حَرْفٍ أَوْ مَدٍّ أَوْ غَيْرِهَا فِي الأَوَائِلِ وَالأَوَاخِرِ مَكْرُوهٌ , لِمُنَافَاةِ الْخُشُوعِ وَالْوَقَارِ . أَمَّا إذَا تَفَاحَشَ التَّغَنِّي وَالتَّطْرِيبُ بِحَيْثُ يُخِلُّ بِالْمَعْنَى فَإِنَّهُ يَحْرُمُ بِدُونِ خِلافٍ فِي ذَلِكَ . لِمَا رُوِيَ أَنَّ رَجُلا قَالَ لابْنِ عُمَرَ : إنِّي لأُحِبُّك فِي اللَّهِ . قَالَ : وَأَنَا أَبْغَضُك فِي اللَّهِ , إنَّك تَتَغَنَّى فِي أَذَانِك . قَالَ : حَمَّادٌ يَعْنِي التَّطْرِيبَ " اهـ .

SUNNAH MELAGUKAN AL QURAN


فإن التغني بالقرآن مأمور به شرعًا، فقد جاء في صحيح البخاري وغيره أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ليس منا من لم يتغنَّ بالقرآن.

أي يحسن به صوته كما جاء في بعض معاني الحديث

ومنها ما رواه البخاري و مسلم عن أبي هريرة -رضي الله عنه- أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "ما أذن الله ما أذن لنبي حسن الصوت يتغنى بالقرآن"

ومنها: ما رواه أحمد و أبو داود و النسائي و ابن ماجه و الدارمي عن البراء بن عازب أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "زينوا القرآن بأصواتكم"

ومنها: أن النبي صلى الله عليه وسلم لما سمع أبا موسى الأشعري يقرأ القرآن ويتغنى به ويحبره، قال: "لقد أوتيت مزماراً من مزامير آل داود" رواه البخاري و مسلم .

ما روي عن حذيفة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقرؤوا القرآن بلحون العرب وأصواتها وإياكم ولحون أهل العشق ولحون أهل الكتابين وسيجيء بعدي قوم يرجعون بالقرآن ترجع الغناء والنوح لا يجاوز حناجرهم مفتونة قلوبهم وقلوب الذين يعجبهم شأنهم. رواه البيهقي في شعب الإيمان والطبراني في معجمه الأوسط، وقال المناوي في التيسير: والحديث منكر.

قال المباركفوري في مرقاة المفاتيح: قوله: اقرؤا القرآن بلحون العرب. قال الجزري: اللحون والإلحان جمع لحن، وهو التطريب وترجيع الصوت وتحسين قراءة القرآن أو الشعر أو الغناء

(وأصواتها) أي ترنماتها الحسنة التي لا يختل معها شي من الحروف عن مخرجه لأن ذلك يضاعف النشاط قال القاري: وأصواتها عطف تفسيري أي بلا تكلف النغمات من المدات والحركات الطبيعة الساذجة عن التكلفات (وإياكم ولحون أهل العشق) أي أصحاب الفسق من المسلمين الذين يخرجون القرآن عن موضعه بالتمطيط بحيث يزيد أو ينقص حرفاً فإنه حرام إجماعاً... قيل: المراد بلحون أهل العشق ما يقرأ بها الرجل في مغازلة النساء في الأشعار برعاية القواعد الموسيقية والتكلف بها... (ولحون أهل الكتابين) أي التوراة والإنجيل وهم اليهود والنصارى وكانوا يقرؤن كتبهم نحواً من ذلك ويتكلفون لذلك ومن تشبه بقوم فهو منهم. قال في جامع الأصول: ويشبه أن يكون ما يفعله القراء في زماننا بين يدي الوعاظ وفي المجالس من اللحون الأعجمية التي يقرأون بها نهى عنه رسول الله صلى الله عليه وسلم (يرجعون) بالتشديد أي يرددون أصواتهم (بالقرآن) قال الجزري: الترجيع ترديد الحروف كقراءة النصارى (ترجيع الغناء) بالكسر والمد بمعنى النغمة أي كترجيع أهل الغناء (والنوح) بفتح النون أي وأهل النياحة. قال القاري: المراد ترديداً مخرجاً لها عن موضوعها إذ لم يتأت تلحينهم على أصول النغمات إلا بذلك. انتهى.

قال ابن القيم في زاد المعاد: وفصل النزاع، أن يقال: التطريب والتغنِّي على وجهين، أحدهما: ما اقتضته الطبيعة، وسمحت به من غير تكلف ولا تمرين ولا تعليم، بل إذا خُلّي وطبعه، واسترسلت طبيعته، جاءت بذلك التطريب والتلحين، فذلك جائز، وإن أعان طبيعتَه بفضلِ تزيين وتحسين، كما قال أبو موسى الأشعري للنبي صلى الله عليه وسلم: لو علمت أنك تسمع لحبرته لك تحبيراً. والحزين ومَن هاجه الطرب، والحبُ والشوق لا يملك من نفسه دفعَ التحزين والتطريب في القراءة، ولكن النفوسَ تقبلُه وتستحليه لموافقته الطبع، وعدم التكلف والتصنع فيه، فهو مطبوع لا متطبِّع، وكَلفٌ لا متكلَف، فهذا هو الذي كان السلف يفعلونه ويستمعونه، وهو التغني الممدوح المحمود، وهو الذي يتأثر به التالي والسامعُ، وعلى هذا الوجه تُحمل أدلة أرباب هذا القول كلها.

الوجه الثاني: ما كان من ذلك صناعةً من الصنائع، وليس في الطبع السماحة به، بل لا يحصُل إلا بتكلُّف وتصنُّع وتمرُّن، كما يتعلم أصوات الغِناء بأنواع الألحان البسيطة، والمركبة على إيقاعات مخصوصة، وأوزانٍ مخترعة، لا تحصل إلا بالتعلُم والتكلف، فهذه هي التي كرهها السلفُ، وعابوها، وذمّوها، ومنعوا القراءةَ بها، وأنكروا على من قرأ بها، وأدلة أرباب هذا القول إنما تتناول هذا الوجه، وبهذا التفصيل يزول الاشتباهُ، ويتبين الصوابُ من غيره، وكلُّ من له علم بأحوال السلف، يعلم قطعاً أنهم بُرآء من القراءة بألحان الموسيقى المتكلفة، التي هي إيقاعات وحركات موزونة معدودة محدودة، وأنهم أتقى للّه من أن يقرؤوا بها، ويُسوّغوها، ويعلم قطعاً أنهم كانوا يقرأون بالتحزين والتطريب، ويحسِّنون أصواتَهم بالقرآن، ويقرؤونه بِشجىً تارة، وبِطَربِ تارة، وبِشوْق تارة، وهذا أمر مركوز في الطباع تقاضيه، ولم ينه عنه الشارع مع شدة تقاضي الطباع له، بل أرشد إليه وندب إليه، وأخبر عن استماع الله لمن قرأ به، وقال: ليس منا من لم يتغن بالقرآن. وفيه وجهان: أحدهما: أنه إخبار بالواقع الذي كلُّنا نفعله، والثاني: أنه نفي لهدي من لم يفعله عن هديه وطريقته صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اهـ.
Read More...

Rabu, 21 September 2016

Cara Masuk Islam Orang Kafir dan Murtad

Cara Masuk Islam Orang Kafir dan Murtad adalah dengan membaca dua kalimat syahadat dan meyakininya dalam hati

لا يحصل الإسلام إلا بالشهادتين

س: كثر في هذه الأيام السؤال عن كيفية الدخول في الإسلام، ما هو اللفظ المجزىء، مع بيان

ما يقال للأعجمي الذي لا يجيد إخراج "الحاء " في اسم النبي محمد، صلى الله عليه وسلم؟

الجواب:

إنَّ اللهَ تعالى قدْ بيّن في شرعهِ الذي أوحاهُ إلى سيّدنا محمدٍ صلى اللهُ عليهِ وسلّم طريقًا واضحًا للدخولِ في الإسلامِ وهوَ أنْ يقولَ الإنسانُ أشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وأشهدُ أنَّ محمدًا رسولُ اللهِ معَ اعتقادِ معنى هاتينِ الشهادتينِ جازمًا بقلبهِ، فمَن نطقَ بلسانهِ ولم يصدّقْ بقلبهِ فهوَ منافقٌ، لكننا نحكمُ بإسلامهِ لخفاءِ ما يُبطنُ علينا ونعاملهُ معاملةَ المسلمِ أخذًا بظاهرِ حالهِ وأما عندَ اللهِ فهوَ كافرٌ خالدٌ في النارِ إنْ ماتَ منْ غيرِ التوبةِ كما قالَ ربُّنا تباركَ وتعالى ﴿إنَّ المنافقينَ في الدَّركِ الأسفلِ منَ النارِ﴾ ومَن صدَّقَ بقلبهِ ولم يَنطقْ بلسانهِ فهوَ أيضًا كافرٌ عندَنا وعندَ اللهِ عزَّ وجلَّ.

قالَ النوويُّ في شرحه على مسلم: واتفق أهل السنة من المحدثين والفقهاء والمتكلمين على أن المؤمن الذي يحكم بأنه من أهل القبلة ولا يخلد في النار لا يكون إلا من اعتقد بقلبه دين الإسلام اعتقادًا جازمًا خاليًا من الشكوك ونطق بالشهادتين فإن اقتصر على إحداهما لم يكن من أهل القبلة أصلاً إلا إذا عجز عن النطق لخلل في لسانه أو لعدم التمكن منه لمعاجلة المنية أو لغير ذلك فإنه يكون مؤمنًا"اهـ.

وما تقدَّم لا يعني أنهُ يُشترطُ الإتيانُ بلفظِ " أشهدُ" لا غير بلْ نصَّ العلماءُ على أنَّ مَن نطقَ بمعنى الشهادتينِ صحَّ إسلامهُ وإن لم يأتِ بلفظِ أشهدُ. قالَ الحليميُّ في كتابه المنهاج: ولا خلاف أن الإيمان يصح بغير كلمة لا إله إلا الله حتى لو قال لا إله غير الله أو لا إله سوى الله أو ما عدا الله أو ما من إله إلا الله أو لا إله إلا الرحمن فكقوله لا إله إلا الله اﻫ وقالَ الأردبيليّ في الأنوارِ ويصح الإسلام بجميع اللغات اﻫ وقال وقوله أحمد أو أبو القاسم رسول الله كقوله محمد رسول الله اﻫ

وقال النووي الشافعي في الروضة:" وقال أي الشافعي في موضع إذا أتى بالشهادتين صار مسلما"اهـ وقال في كتاب الكفارات:" المذهب الذي قطع به الجمهور أن كلمتي الشهادتين لا بد منهما ولا يحصل الإسلام إلا بهما "اهـ

وكذلك توبة المرتد هي الإقلاع عن الكفر فورا والنطق بالشهادتين بقول أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله، ولا ينفعه قول أستغفر الله قبل الشهادتين، كما نقل الإجماع على ذلك الإمام المجتهد أبو بكر بن المنذر في كتابه الإجماع.

قال الفقيه الحنبلي منصور بن إدريس البهوتي في كشاف القناع عن متن الاقناع ما نصه: "وتوبة المرتد إسلامه بأن يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله … وهذا يثبت به إسلام الكافر الأصلي فكذا المرتد"اهـ

كلُّ هذا أخذهُ أهلُ العلمِ منْ نحوِ حديثِ رسولِ اللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ المتواترِ: أُمرتُ أنْ أقاتلَ الناسَ حتى يشهدُوا أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وأنَّ محمدًا رسولُ اللهِ اﻫ الحديثَ.

هذا هوَ الطريقُ الذي بيّنهُ اللهُ عزَّ وجلَّ للدخول في الإسلام ولم يرد في القرءان طريق غيره ولا ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم غيره ولا قال واحد من الصحابة ما يخالف ذلك ولا من التابعين ولا من أتباعهم ولا قال الأئمة المجتهدون كأبي حنيفة والأوزاعي ومالك والشافعي وأحمد وغيرهم ما يخالف هذا الكلام فمن ادعى أن هناك طريقا ءاخر للدخول في الإسلام يقوم على تحريف اسم الله أو اسم النبي صلى الله عليه وسلم فقد استدرك على الله وعلى الرسول وهو مطالَبٌ بالحجّةِ والبرهانِ كما قالَ اللهُ تعالى ﴿قلْ هاتوا بُرهانَكُم إنْ كنتُم صادقينَ﴾ وكما قالَ النبيُّ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ البيّنةُ على من ادعى اﻫ ولنْ يجدَ على ما قالَ برهانًا ولاسيما أنه لا يجوز ابتداع أسماء لم يأت بها الشرع ثم ادعاء أنها أسماء للنبي صلى الله عليه وسلم، قال الشبراملسيّ الشافعي قوله: فلا يجوز اختراع اسم أو وصف له تعالى ومثله النبي صلى الله عليه وسلم فلا يجوز لنا أن نسميه باسم لم يسمه به أبوه ولا سمى به نفسه كذا نقل عن سيرة الشامي ومراده بأبيه جده عبد المطلب لموت أبيه قبل ولادته اﻫ ونقله عنه الشروانيّ في حاشيته على التحفة وأقره. وقال في الفواكه الدواني من كتب المالكية: لأن أسماءه تعالى وكذا صفاته توقيفية على المختار من الخلاف بخلاف أسماء النبي صلى الله عليه وسلم فإنها توقيفية اتفاقا.اهـ

وإذا كان العلماء لم يصححوا الدخول في الإسلام بقول وأشهد أن طه أو المصطفى رسول الله فكيف باسم محرّف لم يرد وليس في معناه أدنى دلالة على النبي صلى الله عليه وسلم.

وأما الأعجميُّ الذي لم يتعوّدْ إخراجَ حرفِ الحاءِ صحيحًا وإنما يخرجهُ هاءً أو غيرَها منَ الحروفِ الأخرى فإنهُ إذا أرادَ الدخولَ في الإسلامِ ولم يحسنِ النطق بلفظ محمد صحيحًا يقال له قل أبو القاسم رسول الله ويعلّم أن المراد بأبي القاسم هو رسول الله محمد صلى الله عليه وسلم إن فُرض عدم معرفته بذلك فإن لم يحسن ذلك يُعلّم فإن عجز مع ذلك عن النطق بالاسم صحيحًا أو لم يوجد من يعلمه كانت حاله حالاً خاصة به مختلفة عن الحال المذكورة في أصل المسئلة بحيث لا يشترط منه الاتيان بالشهادة الثانية عندئذ ليكون مؤمنا عند الله تعالى، ولا يُحمل عليها الحكم العام.

هذا كله في الكافر إذا أراد الدخول في الإسلام وأما المسلم المولود بين أبوين مسلمين فلا يلزمه النطق بالشهادتين ليحكم بإسلامه وإذا حرّف اسم النبيّ صلى الله عليه وسلم أُرشِد إلى التلفظ به على الوجه الصحيح كما لو حرّف اسم الله تعالى.

ولا يخفى أن "أبا القاسم" مشهور كونه علمًا على النبيّ صلى الله عليه وسلم كمحمد وأحمد وقد صحت النصوص الدالة على ذلك بلا خلاف وانتشر ذلك بين المسلمين، روى مسلم عن جابر قال ولد لرجل منا غلام فسماه محمدا فقال له قومه لا ندعك تسمي باسم رسول الله صلى الله عليه وسلم فانطلق بابنه حامله على ظهره فأتى به النبي صلى الله عليه وسلم فقال يا رسول الله ولد لي غلام فسمّيته محمدا فقال لي قومي لا ندعك تسمي باسم رسول لله صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم تسمّوا باسمي ولا تكتنوا بكنيتي فإنما أنا قاسم أقسم بينكم، وروى ابن ماجه كان رسول الله صلى الله عليه وسلم بالبقيع فنادى رجل رجلا يا أبا القاسم فالتفت إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال إني لم أعنك فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم تسموا باسمي ولا تكنوا بكنيتي، وروى الشيخان وغيرهما عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال أنا محمد وأحمد اﻫ

ولا يخفى أيضًا أن أئمة المساجد الكثيرين وأساتذة المدارس الشرعية والمؤذنين المنتشرين في بلاد المسلمين كلها عربية وغير عربية كانوا وما زالوا يُقرئون القرءان ويدرّسونه ويؤمون في الصلاة ويعلمون قراءة الفاتحة ويؤذنون متلفظين بحرف الحاء صحيحًا في ذلك كله ويبيّنون سيرة رسول الله صلى الله عليه وسلم ويذكرون أسماءه وشمائله الشريفة في دروسهم وعظاتهم وخطبهم كما في ذكرى المولد وغيرها من المناسبات الدينية والاحتفالات العظيمة فمن أراد أن يتعلم اللفظ الصحيح فالباب واسع مفتوح أمامه والله الموفق وعليه التُّكلانُ.

ملاحظة مهمة: من جاء يريد الدخول في الإسلام قائلا: لقني كيف أدخل في الإسلام، يقال له فورا قل: أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله، باللغة التي يفهمها، ولا يجوز تأخيره، ولا يجوز أن يقال له: اغتسل ثم ارجع، أو اذهب فكر ثم ارجع، أو اقرأ هذا الكتاب ثم ارجع، نلقنك. ففي كفاية الأخيار لتقي الدين الحصني:" ولو قال شخص لخطيب أو واعظ أريد الإسلام فلقني كلمة الشهادة فقال اقعد حتى أفرغ وألقنك كفر في الحال"اهـ

COURTESY
Read More...

Selasa, 20 September 2016

Kesalahan Pembagian Tauhid Salafi Wahabi

Kesalahan Pembagian Tauhid Salafi Wahabi yg membagi tauhid menjadi tiga: uluhiyah, rububiyah, asma was shifat

نقض قاعدة تقسيم كلمة التوحيد
مجدي منصور

بسم الله الرحمن الرحيم
الرد على قاعدة تقسيم كلمة التوحيد

ـ اعلم أخى الكريم أن ذلك التقسيم الذى ابتدعه ابن تيمية هو أصل الأصول عند ابن تيمية ، ومن سار على دربه ونهج نهجه ، وهو معتمد جماعات التكفير ، وهو المرجع لدى كل أصحاب اللحى ـ إلا من رحم ربك ـ فى التفريق بين أمة الإسلام ، وقبل بيان كلام ابن تيمية العاطل الباطل :

ـ اعلم يا أخا العقل أن الحياة الجاهلية وقبل مبعث الرسول الخاتم محمد بن عبد الله  كانت ركاماً من العقائد الفاسدة والأفكار الزائغة والفلسفات المظلمة ، وكانت الجزيرة العربية تعج بكم هائل من العقائد والتصورات فى الإله ، ومن بينها ما نقلته عن الفرس وما تسرب إليها من العقائد اليهودية والنصرانية المحرفة ، فضلاً عن وثنيتها الخاصة .

ـ أقول : لقد بُعث رسول الله  وقد عمَّ الجهل والكفر أرجاء المعمورة ، فجاء رسول الله  بكلمة التوحيد ليخرج الناس من الظلمات إلى النور ، فقال لهم : قولوا لا إله إلا الله تفلحوا ، قولوا : لا إله إلا الله تدخلوا الجنة ، إلى غير ذلك من الأحاديث الكثيرة ، ثم خرج ابن تيمية على الناس ليقول لهم : إن ما جاء به محمد ـ كلمة التوحيد ـ وأن مجرد النطق بها لا يكفى العبد حتى يكون مسلماً ، بل عليه أن يأتى بمعنى التوحيد على حقيقته ، فكلمة التوحيد تنقسم إلى ثلاثة أقسام :

1 ـ توحيد الربوبية .

2 ـ توحيد الألوهية .

3 ـ توحيد الأسماء والصفات .

ـ أما عن توحيد الربوبية : فهو أن تعتقد بأن الرب هو الخالق البارئ المحيى المميت الرزاق .

ـ واعلموا أن هذا النوع من التوحيد ، توحيد الربوبية ـ قد اعترف به كفار الأمس ، قال تعالى : (وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ) (الزخرف:87) ، فلابد للعبد إذا أراد أن يكون مسلماً حقاً أن يأتى بنوعى التوحيد : الألوهية والاسماء والصفات ؛ إذ لا يكفيه مجرد الإتيان بالنوع الأول فقط .

ـ أما عن النوع الثالث من أنواع التوحيد فهو : توحيد الأسماء والصفات : وهو أن تعتقد أن لله تعالى أسماء حسنى وصفات علا ، تدعو الله تعالى بهذه الأسماء كلٌ بما يليق بموضوع الدعاء ، وأن تؤمن بصفات الله تعالى ، بلا تعطيل ولا تكييف ولا تأويل ولا تمثيل .

هذا هو التوحيد الذى جاء به محمد  من عند ربه ، وجاءت به الأنبياء قبله ، ومن اعترف بالنوع الأول فقط من التوحيد لم يدخل فى دائرة الإسلام .

ـ نقول : أولاً : أن هذا التقسيم باطل لم يأت به رسول الله  ، فلم يقل يوماً لمن جاءه مسلماً : عليك أن تعرف أن كلمة لا إله إلا الله ـ كلمة التوحيد ـ تنقسم إلى ثلاثة أقسام : ربوبية وألوهية وأسماء وصفات ، واعلم أن الكفار الذين أحاربهم قد جاءوا بالنوع الأول من التوحيد ، ولم يكفهم هذا للدخول فى دائرة الإسلام ، وعليك إذا أردت أن تكون مسلماً حقاً أن تأتى بالنوعين الأخرين : الألوهية والأسماء والصفات .. كل هذا لم يرد عن رسول الله  لا فى حديث صحيح ولا حسن ولا ضعيف ولا حتى موضوع .

ـ ثانياً : أن أول من ابتدع هذا التقسيم فى الدين هو ابن تيمية .

ـ ثالثاً : نشر ابن تيمية هذا المذهب الجديد سراً بين مريديه فلا يطلع عليه إلا من اعتقد معتقده .
سبب تقسيم كلمة التوحيد

ـ رابعاً : أما السبب الذى حدا بابن تيمية إلى ابتداع هذا التقسيم ، فنقول :
خرج ابن تيمية على الناس فوجدهم بين عامى أو صوفى أو أشعرى المذهب ، فرأى ابن تيمية أنه نبي الفقهاء والعلماء من لذن رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم وإلى قيام الساعة قد بُعث للناس ، وأن محمداً  قد خرج فى زمانه وقد عمَّ الكفر والجهل الناس ، فإن ذلك الحال هو نفس حال الناس زمن خروج ابن تيمية ،وإن كان محمداً  قد خرج على الناس بكلمة التوحيد ودعاهم إليها ، فإن اليوم قد نبذ الناس تلك الكلمة وعادوا إلى الشرك الأول والجاهلية الأولى ، وكما ابتعث الله تعالى محمداً ليخرج الناس من الظلمات ـ الكفر ـ إلى النور ـ فقد خرج ابن تيمية ليخرج الناس من النور ـ الإسلام ـ إلى الكفر ، فأنشأ هذا التقسيم المبتدع ليكفِّر به أمة محمد  ، كيف هذا ؟

تقدم أن ابن تيمية قد خرج على الناس فوجدهم بين صوفى واشعري أو عامى لا يدرى من دينه إلا القليل ـ كحال الناس اليوم وفى كل زمان ـ فأراد أن يكفِّر الصوفية ، فجاء النوع الثانى من التوحيد والذى ينص على أن تُصرف العبادات كلها لله تعالى كالذبح والنذر والاستغاثة والتوسل والدعاء ـ وهذه العبادات يصرفها الصوفية لله تعالى ، ويصرفونها لغيره من الأنبياء والصالحين ـ على زعمه ـ فلم يأتوا بالنوع الثانى من التوحيد على وجهه الصحيح ، فخرجوا من دائرة الإسلام .

ـ أما الأشاعرة المؤولة فهم يؤمنون بالصفات الواردة فى الكتاب والسنة ، إلا أن منهم صنف يؤلون اليد بالقدرة ، والوجه بالذات والساق بالشدة ، والنوع الثالث من التوحيد ينص على الإيمان بصفات الله تعالى بلا تعطيل ولا تكييف ولا تمثيل ولا تأويل، فخرجت هذا الطائفة من دائرة الإسلام إذا لم يأتوا بنص النوع الثالث من التوحيد على حقيقته .

أما العوام ، فلم يبذل ابن تيمية جهداً يُذكر فى إخراجهم من دائرة الإسلام ؛ إذ هم كفار بالفطرة ـ لاعترافهم بالنوع الأول من التوحيد ، توحيد الربوبية .

وهكذا خرجت الأمة الإسلامية كلها من الإسلام ، ولم يبق مسلماً على ظهر الأرض إلا ابن تيمية ومن ذهب مذهبه وانتحل نحلته .

ـ أما الرد عليه وإبطال ذلك التقسيم المزعوم فنقول وبالله تعال التوفيق والحول والقوة:
ـ أما عن توحيد الربوبية فهو ينص : على أن تعرف أن الرب تعالى هو الخالق الرازق المحي المميت ، أى أن الخلق والرزق والإحياء والإماتة هى من عمل الرب ، لا دخل للإله فيها ، إذا أن الإله هو الذى تصرف له العبادات ، وأن من يعترف بهذا النوع من النوع لا يكفيه فى دخول الإسلام ، والدليل قوله تعالى : "وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ) (الزخرف:87) .

تفنيد التقسيم :
ـ قلت : أولاً : لقد عمد ابن تيمية وأتباعه إلى الآيات التى نزلت فى الكافرين فجعلوها فى المؤمنين ، وهذا هو مذهب الخوارج ـ وهذا الأمر هام جداً فى الرد الذين حينما يستشهدون بالآيات التى نزلت فى الكافرين فيجعلونها فى المؤمنين ـ وهذا وحده كاف فى رد ذلك التقسيم المبتدع ، هذا وجه .

ـ الوجه الثانى : استشهاد ابن تيمية بالآية استشهاد فى غير موضعه ؛ ذلك أن لفظ الجلالة "الله" : ألوهية ، وليس ربوبية ، وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ" فكان الأولى به أن يأتينا بآية فيها إضافة الخلق إلى الرب ، فالآية كما تقدم فى غير موضعها ، ثم هى دليل عليه لا له ، كيف ؟ يوضحه الوجه الثالث:
الإله أيضاً يخلق : الوجه الثالث منه : أثبتت الآية التى استشهد بها ابن تيمية أن : الإله ـ توحيد الألوهية ـ يخلق ، فليس الخلق مختصاً بالربوبية دون الالوهية كما يدعون ، وذلك من قوله تعالى : (وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ) (الزخرف:87) فذكر الخلق ـ وهو على زعمه من خصائص الرب ، وأثبت أن الذى يخلق هو الإله : الله .

ـ الوجه الرابع : فى إثبات أن الإله يخلق ـ فليس الخلق من خصائص الرب دون الإله، كما زعم ابن تيمية ، قال تعالى : "ما اتخذ الله من ولد وما كان معه من إله إذاً لذهب كل إله بما خلق ولعلا بعضهم على بعض سبحان الله عما يصفون" (المؤمنون:91) وقال تعالى"الله خالق كل شئ" وقال تعالى :"هل من خالق غير الله "إلى غير ذلك من الآيات الكثيرة جداً فى كتاب الله تعالى لمن أراد التدبر والحق ، والتى تثبت أن الإله يخلق ، فليس الخلق نم خصائص توحيد الربوبية كما زعموا .

ـ لطيفة : ولا يفوتك يا أخا العقل ما فى قول المشركين كما حكاه القرآن الكريم"ولئن سألتهم من خلقهم ليقولون الله" من معرفتهم بالله تعالى وهو ما يسميه ابن تيمية بتوحيد الألوهية ، والذى يدعى أن المشركين ما كانوا يعرفون إلا توحيد الربوبية فقط ، فالآية ترد عليه خير رد لمن تأمل وعقل ، كما لا يفوتك قولهم فى الآية الأخرى "ولئن سألتهم من خلق السموات والأرض ليقولون خلقهن العزيز العليم" من معرفة أسماء الله تعالى ، ليرد أيضاً على ابن تيمية الذى يقول أنهم لم يعرفوا إى توحيد الربوبية ، فتأمل وافهم .

ـ ثم لا يفوتك أن معرفة كفار قريش لم تتوقف على أن الرب هو الخالق الرازق المحى المميت ـ كما زعم ابن تيمية ، وتأمل فى قول وعمل عبد المطلب وهو يطالب بإبله من أبرهة الحبشى ، فيقول له أبرهة : ظننتك جئت فى غير هذا ، أو تطالب بالكف عن البيت ، وليس مجرد رد الإبل ، فقال عبد المطلب : إن الإبل لى وأنا ربها ، أما البيت فله رب يحميه .

ـ فلم تتوقف معرفة عبد المطلب على أن الرب الخالق الرازق المحيى المميت فقط كما زعم ابن تيمية بأنهم كانوا مقرين بتوحيد الربوبية وهو كذا وكذا كما تقدم بيانه .

ـ زد عليه قول أبى طالب عند نقض الصحيفة والتى أكلتها الأرَضة فلم يبق فيها سوى "باسمك اللهم " ثم قول أبى طالب بعدها وقد ألجأ ظهره إلى الكعبة وقد تفرق القوم عنه بين مصدق بكلام الصادق المصدوق  فيما أخبر وبين متهمٍ له بالسحر ، قال ابو طالب بعد أن دخل هو ومن معه تحت أستار الكعبة : اللهم انصرنا على من ظلمنا وقطع أرحامنا واستحل ما يحرم عليه منا .

ـ ألا ينقض كل ذلك ما ابتدعه ابن تيمية من تقسيم وما اخترعه وسماه بتوحيد الربوبية الذى اعترف به كفار قريش بالأمس …الخ .

ـ زد على ما تقدم أنهم ليس كما زعم ابن تيمية لا يعرفون إلا توحيد الربوبية ـ الخلق والرزق والإحياء والإماتة ـ بعض ما نقل عن أبى طالب فى استسقاءه بالنبى  إلى الله تعالى ، كما نُقل عن قوله فى رسول الله  :
ألم تعلموا أنا وجدنا محمداً رسولاً كموسى صح ذلك فى الكتب

ـ ومن شعره أيضاً :
وشق له من اسمه ليجله فذو العرش محمود وهذا محمد
ـ نسب هذا البيت لأبى طالب الحافظ ابن حجر فى الإصابة ، وقيل : هو لحسان بن ثابت ، ولا مانع أن يكون لأبى طالب وأخذه حسان فضمه شعره .

ـ ومن شعره أيضاً يصف محمداً  :
حليم رشيد عاقل غير طائش يوالى إلهاً ليس عنه بغافل

ـ كما ورد عنه أيضاً أنه كان يقول : لن يخرج من الدنيا ظلوم حتى ينتقم الله منه وتصيبه عقوبة ، إلى أن هلك رجل ظلوم من أرض الشام ، ولم تصبه عقوبة ، فقيل لعبد المطلب فى ذلك ، ففكر وقال : والله إن وراء هذه الدار داراً يجزى فيها المحسن بإحسانه ويعاقب المسئ بإساءته ، فالظلوم شأنه أن تصيبه عقوبة ، فإن أخرج من الدنيا ولم تصبه عقوبة فهى معدة له فى الآخرة . الملل والنحل للشهرستانى (3\225)

ـ وهناك الكثير من الأمثلة التى تدلك على شرك المشركين ـ كفار قريش ـ فلم يكن بإنكارهم توحيد الألوهية والأسماء والصفات بعد أن أقروا بتوحيد الربوبية ، بل كان من شركهم : اتخاذ الإلهة مع الله تعالى "أجعل الألهة ألهاً واحداً" فلم يكن ليعبدوا إلهاً واحداً ، "قل لو كان فيهما ألهة إلا الله لفسدتا" ولهذا كانت دعوة النبى  إلى التوحيد وقول "لا إله إلا الله" ، وقولهم بأن لله تعالى الولد ، فعبدوا الأصنام ومنه : انكار البعث " أءذا متنا وكنا تراباً …" ومنها : الحسد للنبى  واختصاص الله تعالى بالرسالة استكباراً وعناداً " لو أنزل هذا القرآن على رجل من القريتين عظيم" ، وبسط هذا له موضع آخر .

العبادات تُصرف للرب وليست مختصة بالإله : الوجه الخامس : فى إثبات أن الرب تُصرف العبادات كالدعاء ، فإننا نجد أشهر آية فى القرآن والتى يحفظها الصغير قبل الكبير قال تعالى : وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ) (غافر:60) بل نقول لهم : ألم تقرءوا أول آيات سورة البقرة والتى يقول تعالى فيها : يا أيها الناس اعبدوا ربكم "

ـ وقال تعالى :(ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعاً وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ) (الأعراف:55) وقال تعالى عن إبراهيم عليه السلام أنه قال : (رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ) (البقرة:128) ـ وعن الصلاة قال تعالى : (يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ) (آل عمران:43) (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ) (الكوثر:2) .

ـ وعن العبادة قال تعالى : (يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ) (البقرة:21)

ـ وعن الاستغاثة : (إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلائِكَةِ مُرْدِفِينَ) (لأنفال:9)
ـ وعن الولاء والبراء فال تعالى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَاداً فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ) (الممتحنة:1)

ـ وعن الذبح قال تعالى : (فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ) (الكوثر:2) إلى غير ذلك الكثير والكثير من آيات القرآن العظيم .

ـ ثم نقول : رداً على الذين يقولون أن توحيد الربوبية لا يكفى العبد كي يكون مسلماً وأنه لم يزل فى دائرة الكفر ، نقول لهم : كيف رضى الله تعالى من عباده بتوحيد الربوبية ـ على ذلك التقسيم المبتدع ـ وهم فى ظهر أبيهم آدم فقال تعالى مخبراً : (وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ) (الأعراف:172).

ـ وأخبر رسول الله  أن الملائكة فى القبر ترضى من العبد بتوحيد الربوبية فقال  : أن العبد إذا وضع فى القبر جاءته الملائكة فيجلسانه ويسألانه : من ربك ، فإن قال : ربى الله ، قبلت منه قوله ـ توحيد الربوبية على زعمهم ـ ثم انتقلت إلى السؤال التالى.

ـ وتأمل رد العبد المسلم فى قبره بقوله "ربى الله" الموافق لكتاب ربه الذى بدأ بتلازم توحيد الربوبية والألوهية فى فاتحة الكتاب فى قوله تعالى "الحمد لله رب العالمين" .

ـ بل أن فرعون لم يفرق بين توحيد الربوبية حين قال "أنا ربكم الأعلى " وبين توحيد الألوهية حين قال " ما علمت لكم من إله غيرى .

ـ والمراد : أن الرب كما يخلق ، الإله أيضاً يخلق كما تقدم فى قوله تعالى : (وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ) (الزخرف:87) وقوله تعالى : (مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذاً لَذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ) (المؤمنون:91) .

ـ كما أن العبادة كما تُصرف للإله فهى أيضاَ تُصرف للرب ، كما تقدم فى الآيات السابقة وغيرها كثير .
ـ وهكذا دخل توحيد الربوبية فى توحيد الألوهية ، ولم يفرِّق بينهما القرآن لتلازمهما ، وعليه فهذا التقسيم ـ توحيد الربوبية والألوهية تقسيم باطل يرده القرآن والسنة الشريفة .

ـ ولو كان ذلك كذلك ـ أعنى أن الاعتراف توحيد الربوبية لا يكفى العبد فى دخول الإسلام وأنه لم يزل فى دائرة الكفر ـ فبأى شئ نفسر كفر اليهود والنصارى لما اتخذوا احبارهم ورهبانهم أرباباً من دون الله ، ولما قال فرعون للناس "ما علمت لكم من إله غيرى" وقال "أنا ربكم الأعلى" أخذه الله تعالى نكال الآخرة والأولى .

الاسماء والصفات :
نفى ابن تيمية التأويل عن السلف
ـ يقول ابن تيمية فى الفتاوى (6\394) : فلم أجد إلى ساعتى هذه عن أحدٍ من الصحابة أنه تأول شيئاً من آيات الصفات أو أحاديث الصفات بخلاف مقتضاها المفهوم المعروف .اهـ

ـ قلت : قال الحافظ فى فتح البارى(13\428) : وأما الساق فجاء عن ابن عباس فى قوله تعالى "يوم يُكشف عن ساق" قال : عن شدة من الأمر ، والعرب تقول : قامت الحرب على ساق : إذا اشتدت ، ومنه :
قد سن أصحابك ضرب الأعناق وقامت الحرب بنا على ساق
ـ وجاء عن أبى موسى الأشعرى  فى تفسيرها : عن نور عظيم ، قال ابن فورك : معناه ما يتجدد للمؤمنين من الفوائد والألطاف .

ـ وروى الحافظ البيهقى فى الأسماء والصفات له (309) عن مجاهد فى تفسير قوله تعالى"فأينما تولوا فثمّ وجه الله" قال : قبلة الله ، فأينما كنتَ فى شرق أو غرب فلا توجهن إلا إليها .

ـ كما روى رحمه الله تعالى فى كتابه السابق الصفات (430) عن سفيان الثورى فى تفسير قوله تعالى "وهو معكم" قال : علمه .

ـ ونقل الإمام الزرقانى فى شرحه على موطأ الإمام مالك (2\35) رحمه الله تعالى ورضى عنه قوله فى حديث النزول : النزول راجع إلى أفعاله لا إلى ذاته ، بل ذلك عبارة عن مَلَكِهِ الذى ينزل بأمره ونهيه ، فالنزول حسى صفة الملَك المبعوث بذلك ، أو معنوى بمعنى لم يفعل ثم فعل ، فسمى ذلك نزولاً عن مرتبة إلى مرتبة فهى عربية صحيحة .اهـ

ـ وقد تأول الإمام البخارى فى صحيحه قول الله تعالى "كل شئ هالك إلا وجهه" أوّل الوجه هنا بالمُلك ، وذكر ذلك أيضاً عن سفيان الثورى فى تفسيره ، كما تأول قوله تعالى"آخذ بناصيتها" أوّلها بالملك أيضاً والسلطان .
ـ ترى هل كان الإمام البخارى معطلاً عندما تأول الآيات السابقة ،وهل كان الإمام أحمد بن حنبل الذى يدعى ابن تيمية أنه على مذهبه معطلاً عندما تأول المجئ ، وهل كان الإمام مالك إمام دار الهجرة معطلاً عندما تأول النزول ، أفيدونا يهديكم الله .

ـ وقال ابن كثير فى تفسير ـ آية آل عمران : "بل يداه مبسوطتان" ـ : أى بل هو الواسع الفضل الجزيل العطاء …اهـ

ـ وقال فى قوله تعالى"والسماء بنيناها بأيد" : أى بقوة .قاله ابن عباس ومجاهد وقتادة والثورى وغير واحد .اهـ

ـ وقال فى قوله تعالى "كل شئ هالك إلا وجهه" قال : إخبار بأنه الدائم الباقى الحى القيوم الذى تموت الخلائق ولا يموت كما قال تعالى" كل من عليها فانٍ ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام" فعبر بالوجه عن الذات وهكذا قوله ههنا "كل شئ هالك إلا وجهه" أى إلا إياه … ، وقال مجاهد والثورى : ألا ما أريد به وجهه ، وحكاه البخارى كالمقرر له .اهـ

ـ وقال فى قوله تعالى "ولتصنع على عينى" : قال أبو عمران الجوبنى : تربى بعين الله ، وقال قتادة :تغذى على عينى ، وقال معمر بن المثنى : بحيث أرى ، وقال عبد الرحمن بن زيد بن اسلم : يعنى أجعله فى بيت الملك ينعم ويترف وغذاؤه عندهم غذاء الملك فتلك الصنعة .اهـ

ـ وقال فى قوله تعالى" واصنع الفلك بأعيننا "أى بمرأى منا .اهـ

ـ وقال فى قوله تعالى " واصطنعتك لنفسى " أى : كما أريد وأشاء .اهـ

ـ وقال فى قوله تعالى" يوم يُكشف عن ساق " عن ابن عباس  : قال : هو يوم القيامة يوم كرب وشدة ، وعنه أيضاً : حين يُكشف الأمر وتبدو الأعمال وكشفه دخول الآخرة وكشف الأمر عنه وكذا روى عن الضحاك وغيره عن ابن عباس ،وعن مجاهد : قال : شدة الأمر وجده ، وعن أبى بردة بن أبى موسى عن أبيه عن النبى  قال "يوم يُكشف عن ساق" يعنى عن نور عظيم يخرون له سجداً .اهـ

ـ وقال فى قوله تعالى " إن الذين يبايعونك إنما يبايعون الله يد الله فوق أيديهم " قال :أى هو حاضر معهم يسمع أقوالهم ويرى مكانهم ويعلم ضمائرهم وظواهرهم ، فهو تعالى هو المبايع بواسطة رسول الله  . اهـ

ـ ونختم هذا المبحث ـ ورود المجاز والتأويل وصرف اللفظ عن ظاهره خلافاً لابن تيمية ـ بما ينقض كلام ابن تيمية الحنبلى ، بما ورد عن الإمام أحمد ما أورده صاحب البحر المحيط (2\182) وصاحب شرح الكوكب المنير الإمام ابن النجار الفتوحى الحنبلى (1\191) فى قوله تعالى " إننى معكما اسمع وأرى " قال الإمام أحمد بن حنبل : هذا من مجاز اللغة ، يقول الرجل : سنجرى عليك رزقك ،إنّا نشتغل بك .اهـ

ـ وروى الإمام البيهقى فى الأسماء والصفات (235) عن الإمام أحمد فى تفسير قوله تعالى "وجاء ربك " قال : إنما يأتى قدرته ، وإنما القرآن أمثال ومواعظ .وقال البيهقى : هذا إسناد لا غبار عليه ، وقد نقل هذا ابن كثير فى البداية والنهاية (10\327) .

ـ تنبيه : إنما لم يكثر النقل عن الإمام أحمد رحمه تعالى أو غيره من أهل العلم سلفاً الكثير من التأويل لقلة الحاجة أو كثرتها حسب ما يفشو فى المجتمع من انحراف عن طريق الجادة إلى التبشيه والتجسيم .
ـ وعليه فإذا ثبت عندنا أن بعض الصحابة قال بالتأويل ، ثم تبعهم الأئمة الإجلاء من الأشاعرة وغيرهم ، بطل ذلك النوع الثالث من التقسيم . والحمد لله رب العالمين

ـ شبهة والرد عليها : قد يقول البعض أن هذا التقسيم هو من باب التعليم وليس تقسيماً عقائدياً .

ـ الجواب : إن أقوالكم وأعمالكم بل ومؤلفاتكم تشهد عليكم أن ابن تيمية وأنتم من بعده تعملون بهذا التقسيم عقائدياً ، وعليه فالناس جميعاً عندكم كفار لأنهم قد اعترفوا بالنوع الأول من التوحيد دون النوع الثانى والثالث ، فكل متوسل ومستغيث بالنبى  أو أحد من أهل بيته أو أحد من الأولياء والصالحين فهو فى عداد الكفار المشركين ، وكل متأول لآيات الصفات فهو جهمى معطل ضال مضل أو كافر مشرك عندكم .

ـ شبهة أخرى : قد يقول البعض منتحلاً الأعذار لشيخه ابن تيمية : نحن نقر بما فى كتب الشيخ من هذه الكلمات ، إلا أنكم لم تفهموا أن ذلك كان من الشيخ فى معرض كلامه ورده على الفلاسفة ، فلا يؤاخذ بتلك الكلمات .

ـ الجواب : هذا انتحال باطل ، وتزوير وتدليس ، فلم يكن ما نقلناه من تقسيم التوحيد وغيره من النصوص فى كل مواضع الكتاب رداً من ابن تيمية على فلاسفة أو غيرهم ، إنما كانت فى معرض تقريره عقيدة المسلمين ـ على زعمه ـ رداً على الفتاوى التى كانت تأتيه من كل بلاد الدنيا ـ على زعمه وزعمكم ـ كالفتوى الحموية والعقيدة الواسطية والأصفهانية وغير هذا مما تقدم بيانه والنقل منه .

المصدر
Read More...

Senin, 19 September 2016

Arabi Tabani: Sesatnya Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah

Arabi Tabani: Sesatnya Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah


الفصل الثانى

فى توحيد الألوهية وتوحيد الربوبية
الشيخ العربى التبانى

توحيد الألوهية وتوحيد الربوبية الذى اخترعه ابن تيمية وزعم أن جميع فرق المسلمين من المتكلمين عبدوا الله لجهلهم توحيد الألوهية ولم يعرفوا من التوحيد إلا توحيد الربوبية وهو الإقرار بأن الله خالق كل شئ وزعم أن هذا اعترف به المشركون ، فكفّر به جميع المسلمين وقلده فيه محمد بن عبد الوهاب كما قلده فى غيره ، ولم يطلع عليه العلماء المعاصرون له والمتأخرون عنه الرادون عليه رداً سديداً فى كثير من شواذه ، ولو اطلعوا عليه لرشقوه بسهام علومهم الصائبة . وقد كتب فيه العلامة المرحوم السيد أحمد بن زينى دحلان المتوفى سنة أربع وثلاثمائة وألف فى رسالته ( الدرر السنية فى الرد على الوهابية ) نبذة وكتب فيه العلامة الشيخ إبراهيم السمنودى المنصورى المتوفى سنة أربع عشرة وثلاثمائة وألف فى كتابه ( سعادة الدارين فى الرد على الفرقتين الوهابية والظاهرية ) كلاماً جيداً .

وكتب فيه العلامة المرحوم الشيخ سلامة العزامى المتوفى سنة ست وسبعين وثلاثمائة وألف فى كتابه ( البراهين الساطعة فى رد بعض البدع الشائعة ) كلاماً نفيساً نصه : ( بيان أن منشأ الشبه الجهل بمعنى الإيمان والعبادة شرعاً ) فاعلم أن الإيمان هو التصديق بما علم مجئ النبـى صلى الله عليه وسلم به واشتهر بين الخاصة والعامة اشتهاراً يلحقه بالضروريات ، وأن الكفر – نعوذ بالله منه – هو إنكار شئ من ذلك بعد أن يعلم المنكر أن النبى صلى الله تعالى عليه وسلم جاء به ، وأن معنى العبادة شرعاً هو الاتيان بأقصى الخضوع قلباً وقالباً ، فهى إذن نوعان قلبية وقالبية ؛ فالقلبية هى اعتقاد الربوبية أو خصيصة من خصائصها كالاستقلال بالنفع أو الضر ونفوذ المشيئة لا محالة لمن اعتقد فيه ذلك ، والقالبية هى الإتيان بأنواع الخضوع الظاهرية من قيام وركوع وسجود وغيرها مع ذلك الاعتقاد القلبى فإن أتى بواحد منها بدون ذلك الاعتقاد لم يكن ذلك الخضوع عبادة شرعاً ولو كان سجوداً ، وإنما قال العلماء بكفر من سجد للصنم ، لأنه أمارة على ذلك الاعتقاد لا لأنه كفر من حيث ذاته ، إذ لو كان لذاته كفراً لما حل فى شريعة قط فإنه حينئذ يكون من الفحشاء والله لا يأمر بالفحشاء .

وقد كان السجود لغير الله عز وجل على وجه التحية والتكريم مشروعاً فى الشرائع السابقة وإنما حرم فى هذه الشريعة ، فمن فعله لأحد تحية وإعظاماً من غير أن يعتقد فيه الربوبية كان آثماً بذلك السجود ، ولا يكون به كافـراً إلا إذا قارنه اعتقاد الربوبية للمسجود له ، ويرشدك إلى ذلك قوله عز وجل فى يعقوب نبى الله وامرأته وبنيه حين دخلوا على يوسف : ( وَخَرُّواْ لَهُ سُجَّداً ) .

قال ابن كثير فى تفسيرها : أى سجد له أبواه وإخوته الباقون وكانوا أحد عشر رجلاً ، وقد كان هذا سائغاً فى شرائعهم إذا سلموا على الكبير يسجدون له ، ولم يزل هذا جائزاً من لدن آدم إلى شريعة عيسى عليه الصلاة والسلام ، فحرم هذا فى هذه الملة إهـ .

المقصود منه ، ويوضح لك ذلك أيضاً أمره عز وجل الملائكة بالسجود لآدم ، فكان سجودهم له عليه الصلاة والسلام عبادة للآمر عز وجل ، وإكراماً لآدم عليه الصلاة والسلام .

بيـان خطـأ من قـال من الملاحـدة
أن تعظيم الكعبة والحجر الأسود من الوثنية وجهل من قال بعدم التلازم بين توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية وعدم كفاية الأول فى النجاة

ومن هذا تعلم أن تعظيم البيت بالطواف حوله ، وتعظيم الحجر الأسود بإستلامه وتقبيله والسجود عليه ليس عبادة شرعاً للبيت ولا للحجر وإنما هو عبادة للآمر بذلك عز وجل الذى اعتقد الطائف ربوبيته سبحانه ، فليس كل تعظيم الشئ عبادة له شـرعاً حتى يكون شركاً ، بل منه ما يكون واجباً ومندوباً إذا كان مأموراً به أو مرغباً فيه ، ومنه ما يكون مكروهاً أو محرماً ، ومنه ما يكون مباحاً ، ولا يكون التعظيم لشئ شركاً حتى يقارنه اعتقاد ربوبية ذلك الشئ أو خصيصة من خصائصها له ، فكل من عظم شيئاً فلا يعتبر فى الشرع عابداً له إلا إذا اعتقد فيه ذلك الاعتقاد .

وقد استقر فى عقول بنى آدم ما داموا على سلامة الفطرة أن من ثبت له الربوبية فهو للعبادة مستحق ، ومن انتفت عنه الربوبية فهو غير مستحق للعبادة ، فثبوت الربوبية ، واستحقاق العبادة متلازمان فيما شرع الله فى شرائعه وفيما وضع فى عقول الناس ، وعلى أساس اعتقاد الشركة فى الربوبية بنى المشركون استحقاق العبادة لمن اعتقدوهم أرباباً من دون الله تعالى سبحانه ، ومتى انهدم هذا الأساس من نفوسهم تبعه ما بنى عليه من استحقاق غيره للعبادة ، ولا يسلم المشرك بإنفراد الله تعالى باستحقاق العبادة حتى يسلم بإنفراده عز وجل بالربوبية ، وما دام فى نفسه اعتقاد الربوبية لغيره عز وجل استتبع ذلك اعتقاده فى هذا الغير الاستحقاق للعبادة ، ولذلك كان من الواضح عند أولى الألباب أن توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية متلازمان لا ينفك أحدهما عن الآخر فى الوجود وفى الاعتقاد ، فمن اعترف بأنه لا رب إلا الله كان معترفاً بأنه لا يستحق العبادة غيره ، ومن أقر بأنه لا يستحق العبادة غيره كان مذعناً بأنه لا رب سواه ، وهذا الثانى هو معنى ( لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) فى قلب جميع المسلمين.

ولذلك نرى القرآن فى كثير من المواضع يكتفى بأحدهما عن الآخر ، ويرتب اللوازم المستحيلة على انتفاء أى واحد منهما ، ليستدل بانتفائها على ثبوتـه فانظر إلى قـوله تعالى : ( لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ) ، وقوله تعالى : ( وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ إِذاً لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ ) حيث عبر بالإله ولم يعبر بالرب .

وكذلك فى الميثاق الأول قال سبحانه : ( أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ) ولم يقل بإلهكم ، واستفاض عن رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم : أن الملكين يقولان للميت فى قبره ( من ربك ) ؟ ويكتفيان بالسؤال عن توحيد الربوبية ويكون جوابه بقوله : ( الله ربى ) كافياً ، ولا يقولان له إنما اعترفت بتوحيد الربوبية وليس توحيد الربوبية كافياً فى الإيمان .

وهذا خليل الله إبراهيم عليه الصلاة والسلام يقول لذلك الجبار ( رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِـي وَيُمِيتُ ) ، فيجادله بأنه كذلك يحيى ويميت إلى أن حاجه خليل الله بما يكذب دعوى ربوبيته فتندحض دعوى استحقاقه العبادة . وفيما حكى الله عن فرعون أنه قال مرة : ( مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي ) ، ومرة أخرى : ( أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى ) .

وبالجملة فقد أومأ القرآن العظيم والسنة المستفيضة إلى أن تلازم توحيد الربوبية والألوهية مما قرره رب العالمين ، واكتفى سبحانه من عباده بإحدهما عن صاحبه لوجود هذا التلازم ، والملائكة المقربون ، وفهم الناس هذا التلازم حتى الفراعنة الكافرون ، فما هذا الذى يفتريه أولئك المبتدعة الخراصون ، فيرمون المسلمين بأنهم قائلون بتوحيد الربوبية دون توحيد العبادة وأنه لا يكفيهم ذلك فى إخراجهم من الكفر وإدخالهم فى الإسلام حتى تحقن دماؤهم ؟ بل يستبيحون ذبح المسلم المسالم لهم وهو يقول : " لا إله إلا الله " ويقولون فيه أنه ما اعترف بتوحيد الألوهية ، وإنما يعنى توحيد الربوبية وهو غير كاف ، فلا يقبلون ما دل عليه صريح كلامه ، ويرفضون الاكتفاء بما اكتفى به الله من عبده يوم الميثاق الأول ، وارتضته ملائكته حين يسأل العبد فى قـبره من الاعتراف بتوحيد الربوبية ، حيث كان مستلزماً لتوحيد الألوهية ، وكان التصريح بما يفيد أحدهما تصريحاً بما يدل على الآخر ، فالناطق بلا إله إلا الله معترف بالتوحيد لله فى ألوهيته وربوبيته جميعاً ، والقائل ربى الله معترف بكلا التوحيدين جميعاً .

والآن ألفـت نظرك أيها المحقق إلى قوله تعالى : ( إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا .. ) الآية وهى فى موضعين من كتاب الله تعالى ولم يقل إلهنا ، وقول رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم لمن سأله عن وصية جامعة : ( قل ربى الله ثم استقم ) ، ولم يقل إلهى بكفاية توحيد الربوبية فى النجاة والفوز لاستلزامه توحيد الألوهية بشهادة الله ورسوله . وإلى قوله تعالى : ( وَإِلَـهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ ) ، وقول رسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم : ( أمرت أن أقاتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله ) .

وإلى قوله صلى الله عليه وسلم لأسامة بن زيد حين قتل من قال لا إله إلا الله إذ أهوى إليه بالسيف ظنه قالها تعوذاً ، والقرائن قوية على هذا الظن كما يعلم من تفصيل القصة ، ( يا أسامة أقتلته بعد أن قال لا إله إلا الله أشققت عن قلبه حتى تعلم أقالها أم لا ؟) ولم يعتذر أسامة بأنه إنما عنى توحيد الربوبية ، وهو غير كاف فى الدخول فى الإسلام وحقن الدم به ولم يعن توحيد العبادة ، ففى ذلك كله وغيره مما لم نذكره أبين البيان . لأن القول بأحد التوحيدين قول بالآخر ، وإنما جر هذا المبتدع ومن انخدع بأباطيله هذه أنه لم يحقق معنى العبادة شرعاً كما يدل عليه استقراء موارد هذه اللفظة فى كلام الله تعالى ورسوله صلى الله تعالى عليه وسلم ، فظن أن التوسل برسول الله صلى الله تعالى عليه وسلم وسائر الصالحين والاستغاثة بهم مع استقرار القلب على أنهم أسباب لا استقلال لهم بنفع ولا ضر وليس لهم من الربوبية شئ ولكن الله جعلهم مفاتيح لخيره ومنابع لبره وسحباً يمطر منها على عباده أنواع خيره ، ظن أن ذلك وما إليه من الشرك المخرج عن الملة .

ومن أرفقه التوفيق وفارقه الخذلان ونظر فى المسألة نظر الباحث المنصف علم يقيناً لا تخالطه ريبة أن مسمى العبادة شرعاً لا يدخل فيه شئ مما عده من توسل واستغاثة وغيرهما ، بل لا يشتبه بالعبادة أصلاً فإن كل ما يدل على التعظيم لا يكون من العبادة إلا إذا اقترن به اعتقاد الربوبية لذلك المعظم أو صفة من صفاتها الخاصة بها . ألا ترى الجندى يقوم بين يدى رئيسه ساعة وساعات احتراماً له وتأدباً معه فلا يكون هذا القيام عبادة للرئيس شرعاً ولا لغة ، ويقوم المصلى بين يدى ربه فى صلاة بضع دقائق أو بعضهها قدر ما يقرأ الفاتحة فيكون هذا القيام عبادة شرعاً ، وسر ذلك أن هذا القيام وإن قلت مسافته مقترن باعتقاد القائم ربوبية من قام له ، ولا يقارن ذاك القيام هذا الاعتقاد إهـ .
نص كلام ابن تيمية
فى توحيد الألوهية وتوحيد الربوبية فى كتبه فى أربعة مواضع

وقد اطلعت على كلام ابن تيمية فى توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية مفرق فى أربعة مواضع من كتبه أذكره كله ليراه القراء ثم أبطله :
(1)- قـال فى الجزء الأول من فتاواه ص 219 فى تفسير قوله صلى الله تعالى عليه وسلم : ( ولا ينفع ذا الجد منك الجد ) والمعنى أن صاحب الجد لا ينفعه منك جده ، أى لا ينجيه ويخلصه منك جده وإنما ينجيه الإيمان والعمل الصالح ، والجد هو الغنى وهو العظمة وهو المال ، ( إلى أن قال ) فبين فى هذا الحديث أصلين عظيمين أحدهما توحيد الربوبية وهو أن لا معطى لما منع الله ولا مانع لما أعطاه ولا يتوكل إلا عليه ولا يسأل إلا هو . والثانى توحيد الإلهية وهو بيان ما ينفع وما لا ينفع وأنه ليس كل من أعطى مالاً أو دنيا أو رئاسة كان ذلك نافعاً له عند الله منجياً له من عذابه ، فإن الله تعالى يعطى الدنيا من يحب ومن لا يحب ولا يعطى الإيمان إلا من يحب ( إلى أن قال ) : وتوحيد الإلهية أن يعبد الله ولا يشرك به شيئاً فيطيعه ويطيع رسله ويفعل ما يحبه ويرضاه ، وأما توحيد الربوبية فيدخل ما قدره وقضاه ، وإن لم يكن مما أمـر به وأوجبه وأرضاه ، والعبد مأمور بأن يعبد الله ويفعل ما أمر به وهو توحيد الإلهية ويستغفر الله على ذلك وهو توحيد له فيقول : ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) إهـ .

(2)- وقـال فى الجزء الثانى من فتاواه ص 275 : فإن المقصود هنا بيان حال العبد المحض لله تعالى الذى يعبده ويستعينه فيعمل له ويستعينه ، ويحقق قـوله : ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) ، توحيد الألوهية وتوحيد الربوبية وإن كانت الإلهية تتضمن الربوبية والربوبية تستلزم الإلهية فإن أحدهما إذا تضمن الآخر عند الانفراد لم يمنع أن يختص بمعناه عند الاقتران كما فى قوله : ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ إلخ) ، فجمع بين الإسمين فإن الإله هو المعبود الذى يستحق أن يعبد ، والرب هو الذى يرب عبده إهـ .

(3)- وقال فى الجزء الثانى من منهاج السنة ص 62 بعد ثرثرة ذم فيها جميع فرق المسلمين من المتكلمين مصرحاً بأنهم عبدوا غير الله لجهلهم توحيد الألوهية وإثبات حقائق أسماء الله ، ما نصه : فإنهم قصروا عن معرفة الأدلة العقلية التى ذكرها الله فى كتابه فعدلوا عنها إلى طرق أخرى مبتدعة فيها من الباطل ما لأجله خرجوا عن بعض الحق المشترك بينهم وبين غيرهم ، ودخلوا فى بعض الباطل المبدع ، وأخرجوا من التوحيد ما هو منه كتوحيد الإلهية ، وإثبات حقائق أسماء الله وصفاته ، ولم يعرفوا من التوحيد إلا توحيد الربوبية ، وهو الإقرار بأن الله خالق كل شئ وهذا التوحيد كان يقر به المشركون الذين قال الله عنهم : ( وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ) ، وقال تعالى : ( قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ، الآيات ) .

وقال عنهم : ( وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ ) ، فالطائفة من السلف تقول لهم من خلق السموات والأرض فيقولون الله ، وهم مع ذلك يعبدون غيره ، وإنما التوحيد الذى أمر الله به العباد هو توحيد الألوهية المتضمن توحيد الربوبية ، بأن يعبدوا الله ولا يشركوا به شيئاً فيكون الدين كله لله إهـ .

(4)- وقـال فى رسـالة أهـل الصفة ص 34 : توحيد الربوبية وحده لا ينفى الكفر ولا يكفى إهـ .

أقول : قد لبَس ابن تيمية فى تآليفه على العامة وأشباههم من المتفقهة كثيراً بالسلف الصالح والكتاب والسنة لترويج هواه فى سوقهم ولكنه فى هذا الكلام صرح بهواه ولم يلصقه بهما ولا بالسلف وإنى بحول الله وتوفيقه أكيل له بصاعه الذى لبس به على البسطاء كيلاً حقيقياً وافياً ، مبرهناً فأقول كلامه هذا فى الأربعة المواضع باطل باثنين وثلاثين وجهاً .

الوجـه الأول

الأول : لم يقل الإمام احمد بن حنبل الذى انتسب إليه كذباً لأصحابه : إن التوحيد قسمان : توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية ، وأن من لم يعرف توحيد الألوهية لا تعتبر معرفته لتوحيد الربوبية لأن هذا يعرفه المشركون ، وهذه عقيدة الإمام أحمد مدونة فى مصنفات أتباعه فى مناقبه لابن الجوزى وفى غيره ليس فيه هذا الهذيان .

الوجـه الثانى

الثـانى : لم يقـل أى واحد من أتباع التابعين لأصحابه أن التوحيد قسمان : توحيد الربوبيـة وتوحيد الألوهية ، وأن من لم يعرف توحيد الألوهية لا يعتد بمعرفته لتوحيد الربوبية ، فلو اجتمع معه الثقلان على إثباته عن أى واحد منهم لا يستطيعون .
الوجـه الثالث

الثـالث : لم يقل أى واحد من التابعين لأصحابه أن التوحيد ينقسم إلى توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية ، فلو اجتمع معه الثقلان على إثباته عن أى واحد منهم لا يستطيعون .

الوجـه الرابـع

الرابـع : لم يقل أى صحابى من أصحاب النبى صلى الله تعالى عليه وسلم ورضى عنهم أن التوحيد ينقسم إلى توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية وأن من لم يعرف توحيد الألوهية لا يعتد بمعرفته لتوحيد الربوبية لأن هذا يعرفه المشركون ، وإنى أتحدى كل من له إلمام بالعلم أن ينقل لنا هذا التقسيم المخترع عنهم ولو برواية واهية .

الوجـه الخامس

الخامس : لم يأت فى سنة النبى صلى الله تعالى عليه وسلم الواسعة التى هى بيان لكتاب الله عز وجل من صحاح وسنن ومسانيد ومعاجم ، أن النبى صلى الله تعالى عليه وسلم كان يقول لأصحابه ويعلمهم أن التوحيد ينقسم إلى توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية ، وأن من لم يعرف توحيد الألوهية لا يعتد بمعرفته لتوحيد الربوبية ، لأن هذا يعرفه المشركون ، فلو اجتمع معه الثقلان على إثبات هذا الهذيان عن النبى صلى الله تعالى عليه وسلم بإسناد ولو واهياً لا يستطيعون .

الوجـه السادس

السادس : بل كتب السنة طافحة بأن دعوته صلى الله عليه وسلم الناس إلى الله كانت إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله وخلع عبادة الأوثان ، ومن أشهرها حديث معاذ بن جنبل لما أرسله النبى صلى الله تعالى عليه وسلم إلى اليمن فقال له : ( ادعهم إلى شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله فإن هم أطاعوا لذلك فأخبرهم أن عليهم خمس صلوات فى اليوم والليلة – الحديث ) ، وروى الخمسة وصححه ابن حبان أنه صلى الله عليه وسلم أخبره أعرابى برؤية الهلال ، فأمر بالصيام ولم يسأله النبى صلى الله عليه وسلم إلا عن الإقرار بالشهادتين ، وكان اللازم على هذيانه هذا أن يدعو النبى صلى الله تعالى عليه وسلم جميع الناس إلى توحيد الألوهية الذى جهلوه وأما توحيد الربوبية فقد عرفوه ويقول لمعاذ إدعهم إلى توحيد الألوهية ، ويقول للأعرابى الذى رأى هلال رمضان هل تعرف توحيد الألوهية ؟.

الوجـه السابع

السابع : لم يأمر الله فى كتابه العزيز الذى لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه عباده بتوحيد الألوهية ، ولم يقل لهم أن من لم يعرفه لا يعتد بمعرفته لتوحيد الربوبية ، بل أمر وهو :

الوجـه الثامن

الثامن : بكلمة التوحيد مطلقة ، قال الله تبارك وتعالى مخاطباً نبيه صلى الله تعالى عليه وسلم ( فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ) وهكذا جميع آيات التوحيد المذكورة فى القرآن مع سورة الإخلاص التى تعدل ثلث القرآن .

الوجـه التاسع

التاسع : يلزم على هذا الهذيان على الله تبارك وتعالى لعباده حيث عرفوا كلهم توحيد الربوبيـة ولم يعرفوا توحيد الألوهيـة – أن يبينه لهم ولا يضلهم ولا يعذبهم على جهلهم نصف التوحيد ولا يقول لهم : ( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً ) نعوذ بالله من زلقات اللسان وفساد الجنان .

الإله هو الرب ، والرب هو الإله
الوجه العاشر

العاشر : الإله هو الرب ، والرب هو الإله فهما متلازمان يقع كل منهما فى موضع الآخر ، وكتاب الله تعالى طافح بذلك ، وكذلك سنته عليه الصلاة والسلام ، قال الله تبارك وتعالى : ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ ) ، وكان اللازم = على زعمه = حيث كانوا يعرفـون توحيد الربوبيـة ولا يعرفـون توحيد الألوهية أن يقول الله : ( اعبدوا إلهكم ) ، وقال الله تعالى : ( أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَآجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رِبِّهِ – الآية ) ، وكان اللازم = على زعمه = حيث كان النمرود . يعرف توحيد الربوبية ويجهل توحيد الألوهية أن يقول الله تعالى : ( ألم تر إلى الذى حاج إبراهيم فى إلهه ) وكان اللازم = على زعمه = أن يقول الله فى قوله تعالى : ( يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ ) اتقوا إلهكم.
وكان اللازم = على زعمه = أن يقول الله فى قوله تعالى : ( إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَن يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ ) ، هل يستطيع إلهك ، وكان اللازم = على زعمه = أن يقول الله فى قوله تعالى : ( ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِم يَعْدِلُونَ ) ثم الذين كفروا بإلههم يعدلون لأن الرب يعرفونه ، وهو شئ كثير فى القرآن .

الوجه الحادى عشر

الحادى عشر : يلزم = على زعمه = عدم تبيين الذى لا ينطق عن الهوى محمد صلى الله تعالى عليه وسلم للناس فى دعوته لهم إلى الله تبـارك وتعالى توحيد الألوهيـة الذى جهلوه وعدم تبيينه صلى الله عليه وسلم لهم ذلك ، لا يخلو من أن يكون جهلاً له أو كتماناً ، وكلاهما مستحيل فى حقـه صلى الله تعالى عليه وسلم وكفر ، نعـوذ بالله من زلقـات اللسان وفساد الجـنان .

الوجه الثانى عشر

الثانى عشر : زعمه أن المشركين يعرفون توحيد الربوبية ، أى يعرفون أن الرب هو الخالق الرازق المحيى المميت غير صحيح فى مشركى العرب وحدهم فضلاً عن مشركى جميع الأمم ، وقد أخبر الله عنهم فى آيات كثيرة بأنهم انكروا البعث أشد الإنكار وأنهم ما يهلكهم إلا الدهر ، مرور الزمان ، وقد اشتهر ذلك فى أشعارهم .

قال أحدهم : ( أشاب الصغير وأفنى الكبير كر الغداة ومر العشى ) ، واشتهر قولهم : ( أرحام تدفع وأرض تبلع ) ، أيقول عاقل فى هؤلاء مع هذا الكفر أنهم يعرفون توحيد الربوبية ؟ ، ولو سلم أنهم يقرون بتوحيد الربوبية فإن مجرد الإقرار به لا يسمى توحيداً عند علماء الإسلام ، ولو كان الإقرار بالربوبية توحيداً = كما زعم = لكان تصديق عتاة قريش النبى صلى الله تعالى عليه وسلم وتكذيبهم بآيات الله تعالى توحيداً ولا يقول بهذا عاقل .

قال الله تعالى : ( فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللّهِ يَجْحَدُونَ ) ولو كان الإقرار بالربوبية توحيداً = كما زعم = لكان علم عاد بالخالق لهم مع تكذيبهم آياته ورسوله هوداً عليه الصلاة والسلام لما هددهم بالعذاب توحيداً ، زاجراً لهم عن قولهم : ( مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ ) ، ولا يقول بهذا عاقل ، أيقول عاقل فى فرعون الذى قال : ( أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى ) وقال : ( يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرِي ) وقال لملأه : ( إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ ) ، لما أجابه موسى عليه الصلاة والسلام عن سؤاله عن حقيقة رب العالمين قائلاً هو : ( رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إن كُنتُم مُّوقِنِينَ ) ، و ( رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ ) ، أنه يعرف توحيد الربوبية ، أيقول عاقل فى النمرود بن كنعان الذى ادعى الربوبية وحاج خليل الله عليه الصلاة والسلام فى ربه وزعم أنه يحيى ويميت ، أنه يعرف توحيد الربوبية ؟، أيقول عاقل فى الدهريين المنكرين وجود الإله وفى الثنوية المنكرين وجود إله واحد وفى الوثنية القائلين بكثرة الأرباب والألهة وفى التناسخية وفى المزدكية والخرمية والبابية والماركسية ، ويدعى فى هذه الطوائف الضالة كلها أنها تعرف توحيد الربوبية ؟، وكثير من سكان المعمورة دهريون طبائعيون إباحيون ملاحدة ينكرون وجود الرب ، حتى من كان منهم متديناً بالمسيحية واليهودية كأهل أوروبا انسلخ أكثرهم منهما إلى الإلحاد والإباحة ولا زال الإلحاد والإباحة منتشرين فى الأرض من بعد نوح عليه الصلاة والسلام ، وعليهما أكثر سكان الربع العامر الآن .

الوجه الثالث عشر

الثالث عشر : قوله فى تفسير قوله صلى الله تعالى عليه وسلم : ( ولا ينفع ذا الجد منك الجد ) ، فبين فى هذا الحديث أصلين عظيمين أحدهما : توحيد الربوبية والثانى توحيد الإلهية ، كذب مكشوف يجوز على الأغبياء ، ولا يخلو فاعل بين من كونه النبى صلى الله تعالى عليه وسلم ، بيَّن أن التوحيد ينقسم إلى توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية ، أو الحديث نفسه بيَّن نفسه ، أو فهمه من الحديث ذلك ، ولا شك أنه كذب مكشوف فى الأول والثانى قطعاً فإن النبـى صلى الله تعالى عليه وسلم لم يبين فى هذا الحديث أصلين عظيمين إلى آخر الهذيان ، ولا الحديث بيَن ذلك ، فانحصر فاعل بيَن فى فهمه ، وكان الواجب عليه للعامة وأشباههم التصريح بفهمه ، بأن يقول لهم فهمت من هذا الحديث أصلين عظيمين إلخ ... ولا يلبس عليهم بهذا الهراء ، وباقى كلامه هنا ثرثرة لا تحتاج إلى تعليق .


الوجه الرابع عشر

الرابع عشر : يقال فى قوله فى الموضع الثانى ( وإن كانت الإلهية تتضمن الربوبية والربوبية تستلزم الإلهية ) هل قال الإمام أحمد بن حنبل الذى يقدسه عند عرضه هذا الكلام ؟.

الوجه الخامس عشر

الخامس عشر : هل قاله أحد من أتباع التابعين رحمهم الله تعالى ؟.

الوجه السادس عشر

السادس عشر : هل قاله أحد من التابعين رحمهم الله تعالى ؟.

الوجه السابع عشر

السادس عشر : هل قاله أحد من الصحابة رضوان الله عليهم ؟.

الوجه الثامن عشر

السادس عشر : هل قاله النبى صلى الله تعالى عليه وسلم ؟.

الوجه التاسع عشر

السادس عشر : هل قاله الله تبارك وتعالى فى كتابه العزيز ؟.

كتاب فى تحريم علم المنطق
الوجه العشرون

العشرون : التضمن والالتزام من علم المنطق ، وهو قد ألف كتاباً فى تحريمه ، فقد صدق من قال فيه : أنه لا يدرى ما يقول ، وهو كثير التناقض فى كلامه ولا يشعر .

الوجه الحادى والعشرون

الحادى والعشرون : يقال للمفتونين به وضحوا لنا هذا الكلام : ( وإن كانت الإلهية تتضمن الربوبية والربوبية تستلزم الإلهية ، فإن أحدهما إذا تضمن الآخر عند الانفراد لم يمنع أن يختص بمعناه عند الاقتران كما فى قوله : قل أعوذ برب الناس إلخ . وهل كان السلف الصالح الذين يلبس بهم على البسطاء يقولون هذا الهذيان ويعلمونه تلامذتهم ؟ ، وهل قاله علماء الإسلام والمفسرون ؟ .

الوجه الثانى والعشرون

الثانى والعشرون : قوله فى الموضع الثالث ( فإنهم قصروا عن معرفة الأدلة العقلية التى ذكرها الله فى كتابه ) ، دعوى كاذبة مقلوبة عليه فيقال له : إنما المقصر عن معرفة الأدلة العقلية التى ذكرها الله تعالى فى كتابه أنت وأشياخك المجسمة ، مبنية على إعجابه بنفسه وتأليهه وإزدرائه علماء الإسـلام ، وكل مائق يمكنه أن يقول : إن الناس كلهم مخطئون أو أن المتكلمين جميعاً قصروا عن معرفة الأدلة العقلية إلخ ... ، لأن الثرثرة لا ضريبـة عليها ، ولكن هل يضمن لهذره الصواب دائماً ؟ وكل من تصفح تآليفه يجد إعجابه برأيه وإزدراءه للعلماء ماثلين أمام عينه فى كل صفحة ، والإعجاب واحتقار عباد الله من أوليات إبليس .

الوجه الثالث والعشرون

الثالث والعشرون : يقال له فى قوله ( فعدلوا عنها إلى طرق أخرى مبتدعة ) ، من أين لك أن علماء الإسلام كلهم عدلوا عن الأدلة العقلية التى ذكرها الله تعالى فى كتابه إلى طرق أخرى مبتدعة ، ومشيت أنت وحدك عليها فعصمت من الطرق المبتدعة ؟، أبنص صريح من كتاب الله تعالى أو من سنة نبيه صلى الله تعالى عليه وسلم ؟ ، فلو استظهر بالثقلين على أن يجد فيهما ما يصوب رأيه ويخطئ علماء الإسلام ، لم يظفر بذلك .

الوجه الرابع والعشرون

الرابع والعشرون : قوله ( فيها من الباطل ما لأجله خرجوا عن بعض الحق المشترك بينهم وبين غيرهم ودخلوا فى بعض الباطل المبتدع وأخرجوا من التوحيد ما هو منه كتوحيد الإلهية وإثبات حقائق أسماء الله وصفاته ) ، كلام معمى ملبس فاسد مشتمل على خمسة أوجه كلها فاسدة :

( الأول ) " فيها " أى فى الطرق التى ابتدعها علماء الإسلام – على زعمه = من الباطل أى الكفر ومن للتبعيض أى بعض الكفر ، ما أى الذى لأجله خرجوا عن بعض الحق المشترك بينهم وبين غيرهم ، أى خرجوا عن توحيد الألوهية وتوحيد الأسماء والصفات اللذين هما مع توحيد الربوبية مجموع الحق المشترك بينهم يعنى جميع المسلمين ، وبين غيرهم يعنى نفسه ، ودخلوا فى بعض الباطل المبتدع ، أى دخلوا فى بعض الكفر المبتدع ، ( وأخرجوا من التوحيد ما هو منه كتوحيد الإلهية وإثبات حقائق أسماء الله وصفاته ) ، أى أخرجوا هذين القسمين من مجموع التوحيد الذى هو توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية وتوحيد الأسماء والصفات ، وقد قلده محمد بن عبد الوهاب فى هذا الموضع أيضاً ، فقسم التوحيد فى بعض رسائله إلى ثلاثة أقسام ، وتقدم فى الموضع الأول والثانى والرابع من كلامه ما يدل صريحاً على أن التوحيد ينقسم إلى قسمين فقط : توحيد الربوبية وتوحيد الألوهية ، فليتأمل الألباء هذا الخبط .

( الثانى ) : الحق معنى من المعانى لا يصح تبعيضه والباطل كذلك ، فتقويم كلامه هذا = على مقتضى زعمه = أن يقول : علماء الإسلام قاطبة خرجوا عن الحق الذى هو الإيمان ، ودخلوا فى الباطل الذى هو الكفر ، أى كفروا ، والعياذ بالله ، وماذا بعد الحق إلا الضلال ، ولم يقل عاقل من المسلمين أن الإيمان والكفر يتجزآن لذاتهما ، فقد كفر المسلمين فى أول هذا الكلام ، وليس تكفيرهم بالتعبير بلفظ بعض فى وسطه ، وصرح بتكفيرهم فى آخره كما سأحلله .

( الثالث ) : قوله : ( خرجوا عن بعض الحق المشترك بينهم وبين غيرهم ) كلام يضحك من المجانين قبل العقلاء ، لأن معناه توحيد الألوهية وتوحيد الأسماء والصفات بضاعة مشتركة بينه وبين علماء الإسلام فخرجوا هم عن هذه الشركة باختيارهم وتركوها له خالصة .

( الرابع ) : وهو أشد فساداً مما قبله قوله : ( وأخرجوا من التوحيد ما هو منه كتوحيد الألوهية وإثبات حقائق أسماء الله وصفاته ) ، فإنه يدل على أن علماء الإسلام كلهم يعرفون أقسام التوحيد الثلاثة حق المعرفة ، ومع ذلك أخرجوا منه قسمين عمداً وهما : توحيد الألوهية وتوحيد الأسماء والصفات ، وأبقوا لأنفسهم توحيد الربوبية الذى أقر به المشركون .
( الخامس ) قوله : ( وإثبات حقائق أسماء الله وصفاته ) تلبيس فاسد فإن الله تبارك وتعالى لم يكلف عباده بمعرفة ( إثبات حقائق أسماء الله وصفاته ) ، ورسوله المبعوث رحمة للعالمين لم يأمر الناس لما دعاهم إلى الله بذلك ، وإنما أمر الله عباده أن يعبده ولا يشركوا به شيئاً ، وأمرنا تعالى أن ندعوه باسمائه الحسنى ولم يأمرنا بإثبات حقائقها ، وأمرنا باتباع نبيه صلى الله تعالى عليه وسلم فى جميع ما أتانا به من الأوامر واجتناب ما نهانا عنه ، وسلفنا الصالح الصحابة وأتباعهم وأتباع أتباعهم لما نشروا محاسن الدين الإسلامى على المعمورة لم يأمروا الناس بإثبات حقائق أسماء الله وصفاته ، ومن شك فى هذا أو كابر فليبرز لنا نقلاً صحيحاً عنهم يدل لهذيانه هذا ، ومقصوده به حقائق صفات الله فقط ، لأنه يعتقد فى ظواهر القرآن والسنة المتشابهة أنها صفات لله حقيقية ، فيقول : أنه تعالى استوى على عرشه حقيقة ، وفوق العرش حقيقة ، تقليداً لسلفه المجسمة ، وقد تقدم رد ابن الجوزى عليهم بأن تسميتها صفات بدعة لم يقلها النبى صلى الله تعالى عليه وسلم ولا لأصحابه ، فأسماء الله تعالى مقحم بين المضاف والمضاف إليه .

الوجه الخامس والعشرون

الخامس والعشرون : قوله ( ولم يعرفوا من التوحيد إلا توحيد الربوبية وهو الإقرار بأن الله تعالى خـالق كل شئ ، وهذا التوحيد كان يقـر به المشركون الذين قـال الله عنهم : ( وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ) وقال تعالى : ( قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ – الآيات ) وقال عنهم ( وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ ) ، صريح فى تكفير المتكلمين ، متناول أيضاً للصحابة فمن بعدهم إلى يوم القيامة إلا من قال برأيه ، وقد صح عنه عليه الصلاة والسلام أنه قال : ( أمرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ( أى ومحمد رسول الله ) فإذا قالوها عصموا منى دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله ) ، وصح عنه أيضاً أنه قـال ( من صلى صلاتنا واستقبل قبلتنا فهو المسلم الذى له ما لنا وعليه ما علينا ) ، وصح عنه أيضاً أنه قـال لمولاه أسامة بن زيد رضى الله عنهما : ( أقتلته بعد ما قال لا إله إلا الله ) فقال يا رسول الله إنما قالها خوفاً من السيف فقال له ( فهلا شققت عن قلبه حتى تعلم أنه قالها لذلك ) ، وصح عنه أيضاً أنه قال : ( إنى لم أومر أن أنقب عن قلوب الناس ولا لأشق بطونهم ) ، وصح عنه أيضاً أنه قال : ( إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما ) . ودلت نصوص الشريعة المستفيضة على أن الكفر أمر باطنى لا يعلمه إلا الله فالحكم به على واحد من المسلمين خطير جداً ، فكيف الحكم به على الأمة الإسلامية كلها ؟ ، فهذا لا يتفوه به إلا من نزع من قلبه مخافة المنتقم الجبار ، فقد برهن بهذا الكلام ، على أنه مقتد بأسلافه الحروريين الذين كفَروا كثيراً من سادات المسلمين الصحابة رضوان الله عليهم والأمة الإسلامية جمعاء إلا من وافقهم على هواهم ، ولذلك جاء فى الصحيح عن ابن عمر رضى الله عنهما أنه قال فيهم : ( هم شرار الخلق عمدوا إلى آيات نزلت فى الكفار فحملوها على المؤمنين ) ، فهو فى المائة الثامنة مجدد الربوع البالية يحمل الآيات الواردة فى الكفار على المؤمنين كما حملها عليهم أسلافه كلاب النار ، فالذى قال من العلماء أنه كفر ابن عربى وابن الفارض وابن سبعين فقط ، والذى قال منهم أنه طعن فى الشريف أبى الحسن الشاذلى ، والذى قال أنه طعن فى رجال الصوفية جميعاً ، والذى قال أنه كفر إمام الحرمين أبا المعالى الجوينى وتلميذه أبا حامد الغزالى ، كلهم صادقون ، لأن كلاًّ منهم اطلع على قبيحة من قبائحه المدسوسة المفرقة فى كتبه ورسائله ، ولم يطلعوا على كلامه هذا ولو اطلعوا عليه لتحققوا أنه كفر الأمة الإسلامية جمعاء ، متكلمين وفقهاء ومحدثين وصوفية ، فى مقدمتها سلفها الصالح والصحابة والتابعون وأتباعهم رضوان الله عليهم .

فإن قيل : منطوق كلامه فى حكمه بالشرك خاص بفرق المتكلمين فكيف عممته فى الأمة الإسلامية كلها ، فادعيت أنه متناول للصحابة والتابعين وأتباعهم وللفقهاء والمحدثين والصوفية ؟. قلت : الصحابة وعلماء التابعين وأتباعهم ومن بعدهم من علماء المسلمين كلهم متكلمون ، والدليل عليه عشرة أوجه :

( الأول ) علم الكلام علم قرآنى فإنه مبسوط فى كلام الله تعالى بذكر الإلهيات والنبويات والسمعيات والثلاثة مجموعة ، مع ذكر ما يتوقف عليه وجود الصانع من حدوث العالم المشار إليه بخلق السموات والأرض والنفوس وغيرها والإشارة إلى مذاهب المبطلين والطبائعيين وإنكار ذلك عليهم والجواب عن شبه المبطلين المنكرين لشئ من ذلك ، إمكاناً أو وجوداً ، كقوله تعالى : ( كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ) ، وقوله تعالى : ( قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ ) ، وقوله تعالى : ( الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَاراً ) ، وذكر حجج إبراهيم وغيره من الأنبياء عليهم الصلاة والسلام وحكم لقمان وغير ذلك مما يطول ذكره ، وتكلم فيه النبى صلى الله عليه وسلم كإبطاله اعتقاد الأعراب فى الأنواء وفى العدوى وفى جوابه للأشعريين عن سؤالهم عن أول هذا الأمر ، قال ( كان الله ولم يكن شئ غيره - إلى آخر الحديث ) وغير ذلك ، وهو كسائر العلوم مركوز فى طباع الصحابة الناصعة الصافية ، ولاتفاقهم جميعاً فى العقيدة الإسلامية لم يحتاجوا إلى الكلام فيه رضوان الله تعالى عليهم أجمعين ...."

Read More...

Buku Islam Terbitan Al-Khoirot