Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Empat Jaringan Penyebar Hoax Medsos

Jakarta - Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipisiber) Bareskrim Polri mengungkap mekanisme kerja kelompok Muslim Cyber Army (MCA) dalam menyebarkan berita hoax dan ujaran kebencian. Ada 4 kelompok lain yang tergabung dalam jaringan besar ini.

Baca juga: Data dan Fakta Kasus Orang Gila Menyerang Ulama

"MCA United ini grup besar, kami identifikasi bahwa grup ini terbuka yang membernya ratusan ribu lebih dan admin 20 orang," ujar Dirtipisiber Bareskrim Polri Fadil Imran di Bareskrim Polri, Cideng, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (28/2/2018).

Fadil mengatakan jaringan pertama disebut sebagai grup MCA United yang bertugas menampung seluruh postingan member MCA yang jumlahnya ratusan ribu. Di dalam grup ini terdapat 20 admin yang memviralkan hoaks dan ujaran kebencian.

"MCA United sebagai wadah menampung postingan dari member MCA yang berisi akun berita video dan gambar yang ditujukan untuk disebarluaskan," kata Fadil.

Jaringan kedua bernama Cyber Moeslim Defeat Hoaks yang bertugas melakukan setting isu dan menyebarkan secara serentak ke sejumlah media massa. Ada sebanyak 145 member dalam jaringan tertutup ini.

"Jaringan tertutup ini bertugas sebagai wadah melakukan setting isu agar dapat memenangkan opini. Jaringan ini menyebarkan hoaks secara serentak dan bergelombang. Sedang kami dalami. Isunya misalnya adanya hoaks mengenai penculikan ulama dan penyerangan ulama oleh orang gila, isu adzan, PKI bangkit yang dibuat secara bertahap," ucap Fadil.

Jaringan ketiga bernama The Family Team yang merupakan kelompok inti dan rahasia. Grup ini berisi 9 admin yang merencakan seluruh mekanisme MCA.

"Inilah dapurnya MCA, " ungkap Fadil

Ke empat, MCA juga memiliki kelompok Tim sniper yang berjumlah 177 member untuk menyerang individu atau kelompok yang dianggap lawan. Selain itu, kelompok ini juga menyebarkan isu kontra narasi untuk menyerang balik individu atau kelompok lawan.

"Tugasnya mereka melakukan report akun yang dianggap sebagai lawan untuk dilakukan take down, atau menyebarkan virus agar lawan nggak bisa operasikan gadgetnya. Atau melakukan kontra narasi kepada kelompok yang teridentifikasi sebagai lawan. Mereka yang berperan sebagai tim sniper," tutur dia.

Seperti diketahui, Bareskrim Polri menangkap enam tersangka pelaku lainnya yakni ML (39) seorang karyawan yang ditangkap di Jakarta, RS (38) seorang karyawan yang ditangkap di Bali, RC yang ditangkap di Palu, dan Yus yang ditangkap di Sumedang dan Dosen UII, TAW (40) yang ditangkap di Yogyakarta.

Mereka dijerat pasal 45A ayat (2) Jo pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan/atau pasal Jo pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau pasal 33 UU ITE.

Sumber: Detik.com

***

TERKAIT

Anggota MCA Sebar Hoax, Begini Fakta Pembunuhan Pria Majalengka

Majalengka - TAW (40), dosen di Yogyakarta yang juga anggota Muslim Cyber Army (MCA), ditangkap setelah menyebar berita hoax muazin Majalengka dibunuh orang gila. Lalu seperti apa kebenaran kasusnya?

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Surya Fana mengatakan kasus pembunuhan terhadap korban bernama Bahro (ditulis TAW di Facebook Bahron) terjadi pada Kamis (15/2). Namun polisi memastikan Bahro bukan muazin dan pelaku bukan orang gila.

"Iya, korban bukan seorang muazin dan pelakunya bukan orang gila," ujar Umar via pesan singkat, Selasa (27/2/2018).

Umar mengatakan Bahro merupakan warga biasa yang tinggal di Blok Rebo RT 003 RW 002 Desa Sindang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka. Sementara itu, pelaku berjumlah tiga orang, yang merupakan pelaku tindak kriminal.

Umar menjelaskan kasus pembunuhan Bahro berawal saat tiga pelaku, yaitu R (40), S (40), dan JJ (44), yang telah ditangkap, merampok kediaman Bahro. Para pelaku mendapat informasi bahwa di rumah tersebut terdapat barang berharga.

"Tetapi, saat masuk ke dalam rumah, barang yang diincar tidak ditemukan. Karena sudah mencari tapi barang tidak ketemu, diduga tersangka meminta informasi dari pemilik rumah soal penyimpanan barang berharga itu," tuturnya.

Korban tidak memberitahukan tempat penyimpanan barang berharga tersebut. Hingga akhirnya pelaku menganiaya Bahro, yang mengakibatkan korban meninggal dunia di lokasi kejadian.

"Korban meninggal dunia dengan luka di wajah, ada lilitan lakban hitam di leher, pergelangan tangan kanan dan kiri serta kaki korban," katanya.

"Jadi tidak ada, informasi yang disebarkan dan diviralkan TAW tidak sesuai alias hoax," kata Umar.

Sumber: Detikcom

Selasa, 14 November 2017

Cara Merubah Password dan Username Speedy

Cara Merubah atau mengganti Password dan Username Wifi Speedy

MODEM TP LINK TP-LINK TD-W8951ND

1. Ketik IP adress modem atau 192.168.1.1 tekan enter,

2. Nama Pengguna masukkan admin (atau user); Sandi masukkan admin (atau user)

3. Di menu dashboard Speedy Anda, plilih menu Interface Setup > Wireless, geser kebawah untuk menemukan menu SSID.

4. Untuk mengganti nama (username) Wifi Speedy ubah pada kolom SSID ini.

5. Untuk mengubah password Speedy pilih kolom atau menu Pre-Shared Key.

6. Klik Save (bagian bawah). Selesai.


MODEM ZTE F609 Indihome

BAGI YANG USERNAME DAN PASSWORD MASIH DEFAULT (SETINGAN ASAL)

1. Sambungkan ponsel / komputer PC/Laptop ke jaringan Wi-Fi modem menggunakan kata sandi default (terdapat di bagian bawah modem). Setelah itu buka browser menggunakan Google Chrome, Mozilla Firefox, Internet Explorer / browser lainnya. Ketik 192.168.1.1 pada adress bar browser kemudian klik GO / tekan enter pada keyboard.

2. Login menggunakan username default "username : user (atau admin) dan password : user (atau admin)"

3. pada menu pengaturan, cari dan klik Administration > User Management

4. Untuk old password, isikan dengan password default/lama yang dalam hal ini adalah "admin" sebagai old passwornya. Lalu lanjutkan memasukkan password baru pada kolom "New Password dan Confirmed Password" kemudian klik submit di bagian bawah browser.

MERUBAH PASSWORD

1. Login ke modem kemudian cari dan klik "Network > WLAN > SSID Settings".

2. Pada bagian kanan menu, masukkan nama wifi pada kolom "SSID Name". Setelah itu lanjutkan mengklik "Submit" di bagian bawah menu.

3. Masih di menu yang sama, cari dan klik "Security". Kemudian isi kolom "WPA Passphrase" dengan password wifi anda. Setelah itu lanjutkan dengan mengklik "Confirm" untuk mengkonfirmasi password baru anda.

Kamis, 06 April 2017

How to enable widgets to display on mobile devices?

n Blogger, the view on desktop computers and mobile devices are show differently. By default, the template on mobile devices are stripped down and responsive. Not all sections or widgets displayed on desktop computers are available on mobile devices. Most widgets manually added to Blogger will not be view-able on mobile devices. Adsense added from Blogger's Adsense widgets are visible however their display regions are only on the top and bottom of the page. Google Adsense code if added to the blog using Blogger HTML/JavaScript widget, it won't display on mobile devices. In order to show widgets visible only on desktop to also show on mobile devices, including Google Adsense widgets, do the following changes.

How to enable widgets to display on mobile devices?

First, let's add a Blogger widget our self. Let's say we want to display a custom labels block.

Login to Blogger and click click on Layout
Click "Add a gadget" and choose "Labels"
Instead of all, let's select only a few labels to show.
Save the widget.
Check whether it appears on desktop (it should).
Check whether it appeared on mobile (it won't).

To display Blogger widgets view-able on desktops to also appear on mobile devices, do the following:

1. While still logged in to Blogger, click on Template / Theme, and then on Edit HTML
2. From the "Jump To Widget", click on the widget you are interested in (the newly added widget will usually have a higher number. eg: HTML15).

We'll come to a code that looks like the one below:
b:widget id='Label1' locked='false' title='Categories' type='Label' visible='true'

To show this widget on mobile devices, just add "mobile='yes'' to the above line. So it now looks like:
b:widget id='Label1' locked='false' mobile='yes' title='Categories' type='Label' visible='true'

Kamis, 23 Oktober 2014

Pesantren And Kitab Kuning

Pesantren And Kitab Kuning: Maintenance And Continuation Of A Tradition Of Religious Learning
By Martin van Bruinessen

One of Indonesia's great traditions is that of Muslim religious learning as embodied in the Javanese pesantren and similar institutions in the outer islands and the Malay peninsula. The raison d'être of these institutions is the transmission of traditional Islam as laid down in scripture, i.e., classical texts of the various Islamic disciplines, together with commentaries, glosses and supercommentaries on these basic texts written over the ages. These works are collectively known, in Indonesia, as kitab kuning, ‘yellow books’, a name that they allegedly owe to the tinted paper on which the first Middle Eastern editions reaching Indonesia were printed. The corpus of classical texts accepted in the pesantren tradition is — in theory at least — conceptually closed; the relevant knowledge is thought to be a finite and bounded body. Although new works within the tradition continue to be written, these have to remain within strict boundaries and cannot pretend to offer more than summaries, explications or rearrangements of the same, unchangeable, body of knowledge. Even radical reinterpretations of the classical texts are not acceptable. The supposed rigidity of this tradition has come in for much criticism, both from unsympathetic foreign observers and from reformist and modernist Muslims themselves. In practice, however, the tradition appears to be much more flexible than the above sketch would suggest.

The pesantren (or pondok, surau, dayah, as it is called elsewhere) is not the only institution of Muslim religious education, and the tradition it embodies is only one out of several tendencies within Indonesian Islam. Modernist, reformist and fundamentalist currents emerged partly in opposition to it, and to some extent developed into rigid traditions themselves. My concern here is exclusively with the former, although a strict delimitation from the other currents — with which there has always been interaction — is not possible, and in recent years even a certain convergence is perceptible. Muhammadiyah, the major reformist organization, for
instance, now has its own pesantren, where besides its usual school curriculum, classical Van Bruinessen, Arabic texts are also taught (although a different selection from the classical corpus is made than in the traditional pesantren).[1] In the average pesantren, on the other hand, there has been a shift of emphasis within the traditional corpus of texts, apparently under the influence of modernism. Different Qur'anic exegeses (tafsir), the canonical collections of traditions (hadith)2 and the principles of jurisprudence (usul al-fiqh) receive much more attention than a century ago, in a development parallel to (and perhaps responsive to) the modernist ‘return to the Qur'an and hadith’. Books on fiqh (‘jurisprudence’ — the science of religious obligations) continue to constitute the vast majority of texts studied.

It seems best to delineate the Islamic tradition with which I am concerned here by enumerating its most important characteristics, while acknowledging that none of them represents a clearcut and unambiguous criterium, and that the boundaries with other currents are often fuzzy.

Delineating the tradition

Key elements of the tradition are the institution of the pesantren itself (the school with its core of resident students), and the crucial personalistic and charismatic role of the kyai (or ajengan, tuan guru, etc.) - charismatic in the full Weberian sense of the term. An attitude of reverent respect for, and unquestioning obedience to the kyai is one of the first values installed in every santri. This reverent attitude is extended to earlier generations of `ulama and, a fortiori, to the authors of the texts studied. It might even seem to the outside observer that this attitude is deemed more important than the acquisition of knowledge; but to the kyai it is an integral part of the knowledge (ilmu) to be acquired. Hasyim Asy`ari, the founding father of the Nahdlatul Ulama (NU), is known to have been a great admirer of Muhammad `Abduh's tafsir, but to have discouraged his students reading it; his objection was not to `Abduh's rationalism but to the contempt `Abduh showed for traditional `ulama.

Although the material studied consists exclusively of written texts, their oral transmission is essential. These texts are read aloud by the kyai to a group of students, who have their own copies before them and may take notes on the proper vocalization and the kyai's explanations of grammatical niceties or the meanings of certain terms. Students may ask questions but these usually remain within the narrow context of the text itself; there are rarely if ever attempts to relate them to concrete, contemporary situations. The kyai rarely tries to discover whether the
students actually understand the texts on any but the linguistic level; elementary texts are memorized, the more advanced ones simply read from beginning to end. (In a small circle of pesantren graduates, however, there is now much talk of understanding the kitab in their historical and cultural context, and to look for their contemporary relevance). Perhaps the majority of pesantren now operate on the madrasah system, with graded classes, fixed curricula and diplomas, but many important pesantren still use the more traditional method where the student reads a few specific texts under the guidance of the kyai (together with other students of various ages). For each text read he receives, after completion, an ijaza or diploma (usually oral only), after which he may move on to another pesantren to study other texts — many kyai are known as specialists of a number of specific kitab. Beside their more or less specialist teachings to the students in the pesantren, many kyai also hold weekly pengajian umum for the general public, in which they discuss relatively simple texts.

The central intellectual contents of the tradition are inscribed within the parameters of Ash`ari doctrine (as mediated especially by Sanusi's works), the Shafi`i madhhab (with nominal acceptance of the other three Sunni madhhab), and the ethical and pietistic mysticism of Ghazali and related writers. The vast majority of the texts studied in the pesantren3 — including the most recent works added to the tradition — fall within these three categories or that of the ‘instrumental science’ of traditional Arabic grammar (nahw). In the last-named branch of learning, too, the cumbersome traditional method (see Drewes 1971) continues to be preferred over more modern approaches. Modern currents of Islam partly defined themselves in opposition to the ‘petrified’ madhhab and Ghazalian quietism, advocating the reopening of the gate of ijtihad (independent judgment on the basis of the original sources, Qur'an and hadith) and social and political activism instead. While to the pesantren tradition Ghazali represents the ideal pinnacle of scholarly and spiritual achievement, the fundamentalists have chosen Ibn Taymiyya as their culture hero (significantly, the latter's works are forbidden reading in many pesantren).[4] In practice, however, there is a considerable overlap of the texts read by ‘traditionalist’ and other `ulama.

Most kyai content themselves with teaching existing kitab kuning, but not a few have added works of their own to the tradition. There is a remarkable formal difference with the writing modernist and reformist `ulama: the latter write their works in (romanized) Indonesian (the reformist public reads works by Arabic authors also usually in Indonesian translations). To the ‘traditionalist’ `ulama, on the other hand, the Arabic language and script represent noble values in themselves; not only do they often write in Arabic,5 but when they write or translate in vernacular languages, they almost exclusively use the Arabic script. The script is a badge of identity that, better than most criteria, differentiates the ‘traditionalists’ from the other currents. Well over 500 different works by Indonesian traditional `ulama are currently in print, ranging from simple pious tracts through straightforward translations to sophisticated commentaries on classical texts.

The pesantren tradition is pervaded by a highly devotional and mystical attitude. Supererogatory prayers and the recital of litanies (dhikr, wird, ratib) complement the canonical obligations. Many kyai are moreover affiliated with a mystical order (tariqa) and teach their followers its specific devotions and mystical exercises. A quarter of the literary output of the traditional `ulama consists of mystical and devotional texts. The Prophet is highly venerated and the object of numerous prayers; even the most undeserving of (those claiming to be) his descendants is deemed worthy of the highest respect. Saints are similarly venerated, and their intercession is frequently invoked. Visits to the graves of saints and lesser kyai are an essential part of the annual cycle; most Javanese pesantren hold annual celebrations (khaul, Ar. hawl) on the anniversaries of the deaths of their founding kyai.

A kyai's charisma is based on the belief in his spiritual powers and ability to bestow blessing due to his contact with the world unseen; he is generally believed to retain this ability beyond the grave. It is this attitude towards the dead that most sharply distinguishes traditional Islam from the modernists and fundamentalists, who hold that after death no communication is possible and who condemn all attempts to contact the dead as shirk, idolatry. To the traditionalists, on the other hand, it is an integral aspect of the essential concept of wasila, spiritual mediation. An unbroken chain from one's teacher, living or dead, through previous teachers and saints to the Prophet and hence to God is deemed necessary for salvation. (The same reasoning is responsible for the curious fact that a kyai's membership of NU is not considered to end upon his death, for that would imply that his wasila is cut off).[6]

The concept of an unbroken chain to the Prophet is central to the tradition, and is encountered in various aspects of it, as in the spiritual genealogy (silsila) of a tariqa[7] and the line of transmission (isnad) of hadith and of traditional texts in general.[8] The chain is a guarantee of the authenticity of the tradition. The numerous Hadrami sayyid (who have had a great influence on the formation of Indonesian traditional Islam) are the physical embodiments of such a chain; drops of the Prophet's own blood are thought to flow in them, which makes them superior to the rest of mankind. In somewhat different form we recognize the same concept in the preoccupation of many kyai with their own genealogies and in their claims, spurious or correct, of descent from the great Javanese saints or ruling houses.9 Modernists, of course, deny that heredity gives anyone claims to spiritual superiority.

The political ‘opportunism’ for which NU is often criticized by other committed Muslims is, in the case of many kyai, a conscious emulation of the Sunni tradition's political conservatism, which considers one hour of political chaos (fitna) worse than a century of tyranny. Political accommodation is almost a matter of principle in the Sunni tradition, not just one of expedience. All of NU's important political moves in the past, legitimated if not actually initiated by its body of leading legal scholars, the Majlis Syuriah, are based on solid references to kitab kuning10 — which proves that this theoretically closed corpus is not so rigid after all.

Read the complete story here (in pdf)

___________________

Endnote

1 Before Muhammadiyah's own pesantren, there were already several others with a definitely reformist orientation. The best known, but not the only one, is that of Gontor (Castles 1965). A summary survey of types of pesantren in East Java in the 1970's is given by Abdurrahman 1981.

2 Notably those of Bukhari and Muslim; the other four collections of ‘authentic’ (sahih) hadith are much less used. Non-canonical collections such as the Riyad as-salihin and the Bulugh al-maram, with their much heavier emphasis on devotional than on legalistic matters, are still more popular in the traditional milieu, but
these too were hardly studied a century ago.

3 A detailed survey of these works is given in van Bruinessen 1990.

4 On Ibn Taymiyya's place in the late medieval tradition and his engagement with Ash`arism, philosophy, mysticism and political theory, see Al-Azmeh 1986, passim; Hourani 1962:18-22; on his impact on later fundamentalism Sivan 1985. A generation ago, the NU still had a body of censors; they placed Ibn Taymiyya's works high on the index. Many kyai, in fact, own copies of some of his works, notably his Fatawa, but keep them locked away to protect their pupils from their influence. Like elsewhere, such a ban only acts as an invitation to the more intelligent santri to read these works in secret.

5 Out of the 500-odd kitab by Indonesian (and Malay) `ulama presently in print, almost 100 are in Arabic. Over 200 are in Malay and 150 in Javanese; the remainder are in Sundanese, Madurese and Acehnese.

6 Abdurrahman Wahid, personal communication.

7 In this case, there may be shortcuts in the chain. Numerous mystics have claimed spiritual initiation, in a dream or vision, by a predecessor long dead or even by the Prophet himself. The latter was the claim, for instance, of Ahmad Tijani, the North African founder of the tariqa Tijaniyya; it is a highly controversial claim,
and is rejected by many traditionalists. The former claim is more common (also among contemporary Javanese kyai); even the silsila of the quite orthodox Naqshbandiyya contains several ‘jumps’ across the generations due to such ruhani initiations.

8 Indicative of the importance attached to isnad is a book by the leading Indonesian ulama in Mecca, Shaykh Yasin of Padang (the director of the traditionalist school Dar al-`Ulum there), which lists nothing but the
classical kitab he is allowed to teach, with for each the name of the master under which he studied it and the entire preceding isnad up to the author (al-Padani 1402). For earlier examples of this sort of work see Vajda 1983.

9 The well-known Madurese Kyai As'ad Syamsul Arifin of Situbondo (East Java), NU's ', eminence grise, has recently constructed an intricate family tree showing most Madurese kyai to be descendants of the wali Sunan Giri. Hasyim Asy'ari and Wahab Hasbullah, two of the founders of NU, traced their pedigree to Jaka Tingkir,
who according to tradition was a son of Brawijaya VI and became the first Muslim ruler of Pajang (Aboebakar 1957:41-2).

Kamis, 02 Januari 2014

Cara Mengaktifkan Tulisan Arab di Windows XP Office 2007

SETELAN CONTROL PANEL

1. Settings -> klik: Regional and Languages
2. Klik Languanges -> Details
3. Settings -> Add -> Arabic (101 atau 102) -> Ok

PERUBAHAN SETELAN KUNCI

1. Settings -> klik: Regional and Languages
2. Klik Languanges -> Details
3. Settings -> key Settings
4. Change Key Sequence
5. Beri tanda tik pada "Switch input languages" dan "Switch keyboard layouts
6. Beri tanda tik pada CTRL (Bukan Left ALT)
7. Klik OK

Sabtu, 09 November 2013

Periksa Google Cache

Cara memeriksa alamat situs atau url posting di Google Cache:

- http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:[alamat url anda tanpa "http://"]

Contoh:

Periksa Google Cache situs

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:www.alkhoirot.net

Periksa Google Cache URL halaman

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:www.alkhoirot.net/2011/07/konsultasi-agama-islam.html

Rabu, 16 Oktober 2013

Fase Pendidikan Anak Sejak Baru Lahir

Oleh: Ratih Zulhaqi

Berbicara tentang tahap tumbuh-kembang anak terbagi menjadi beberapa fase. Pertama, usia anak 0 bulan sampai 2 tahun. Ini adalah fase paling membutuhkan stimulasi motorik, karena pada fase ini anak akan banyak melalui kemampuan-kemampuan motorik kasar, seperti tengkurap, duduk, merangkak dan berjalan.

Namun, selain stimulasi difokuskan pada perkembangan motorik anak, orang tua juga perlu memberikan stimulasi awal bahasa. Setelah 2 tahun, fase menuju fokus stimulus bahasa dengan tujuan interaksi dan komunikasi sebagai persiapan menuju usia 3 tahun, yaitu fase interaksi dan sosialisasi. Pada fase ini, anak sudah mengerti keberadaan teman.

Memasuki usia 4 tahun, anak berada dalam usia kemandirian. Di sini anak mulai diperkenalkan aturan kemandirian dan tanggung jawab, misalnya memakai sepatu dan makan sendiri. Sedangkan pada usia 5 tahun, anak dipersiapkan memasuki sekolah dasar, tetapi tidak bersifat memaksa.

Fase berikutnya adalah usia 6 tahun, yaitu usia anak mulai melakukan pendidikan formal. Pada usia ini sudah ada aturan yang jelas, yaitu belajar di dalam kelas dan tidak lagi banyak main-main walaupun masih ada sisi bermainnya.

Belum saatnya

Kondisi yang terjadi di Indonesia, khususnya di Jakarta, saat ini adalah banyaknya anak usia taman kanak-kanak (TK) sudah diajarkan membaca, menulis dan berhitung (calistung). Tentunya, jika hal ini dipaksakan, tidak akan efektif dan pasti akan ada efeknya mengingat anak pada usia prasekolah akan optimal jika diberi stimulasi atau rangsangan motorik dan bahasa sesuai fase tumbuhkembang anak.

Faktanya, tidak akan ada bedanya antara anak yang bisa membaca pada umur 4 tahun dengan anak bisa membaca di usia 6 tahun. Hal itu tidak lantas membuat anak umur 4 tahun ini menjadi superior. Justru, biarkan mereka bisa pada saatnya, karena di situlah keindahannya. Sebaiknya lakukan stimulasi sesuai dengan usia anak, namun hal ini dikembalikan pada pola asuh yang diterapkan orangtua.

Saat ini banyak ditemukan kasus efek dari anak diperkenalkan calistung pada usia dini. Misalnya, anak mogok sekolah, cepat merasa bosan, dan kurang konsentrasi belajar.

Anak belum mempunyai kesiapan mental walau secara daya pikir anak usia 3 tahun pun bisa untuk diajari membaca dengan penuh semangat. Idealnya, kembalikan hak anak kepada situasi yang sesuai dengan kondisi psikis anak, yaitu jika memang seharusnya membaca itu diajarkan di kelas 1 SD.

Perlu atau tidak anak mengikuti kegiatan prasekolah disesuaikan dengan kondisi dan keadaan, seperti dimana tempat anak itu tinggal, maupun ada tidak seseorang yang memberikan stimulasi.

Anak yang tinggal di lingkungan yang banyak anak kecil seusianya dan mereka bisa bermain, tidak perlu ikut prasekolah seperti kelompok bermain atau TK A. Sementara, TK B agak penting karena cenderung memberi pengenalan dan pesiapan untuk memasuki SD.

Kondisinya saat ini, banyak orang tua yang bekerja dan tidak mempunyai banyak waktu untuk mengajari anaknya, sehingga mereka memasukkan anaknya ke institusi yang sifatnya lembaga seperti TK.

Mengenai bentuk penguasaan bahasa, diperbolehkan selama anak sudah memegang satu bahasa yang sudah dikuasai. Namun, sebaiknya orangtua fokus terlebih dahulu mengajarkan anak satu bahasa utama, kemudian diperkenalkan dengan bahasa lainnya seperti bahasa Arab, Inggris, ataupun bahasa daerah. Jika memang anak belum bisa, dapat kembali berkomunikasi menggunakan bahasa ibu.

Kecerdasan bahasa memang penting. Namun, harus ada bahasa yang total dikuasai terlebih dahulu sebagai pegangan.

Problematika anak

Masalah anak yang paling umum ditemui adalah konsentrasi sebagai kemampuan dasar yang harus dimiliki ketika anak memasuki SD. IQ tinggi, tetapi jika konsentrasinya rendah, maka prestasinya pun tidak akan menonjol di sekolah.

Selanjutnya, mengenai hal taat aturan. Anak-anak membutuhkan latihan yang diberikan sejak usia 3 tahun agar mereka terbiasa dengan aturan. Jadi, ketika di SD mereka di kelas tahu saat harus diam dan tidak mengobrol, karena mereka terbiasa dengan aturan. Jika tidak terbiasa, maka mereka akan selalu melanggar aturan.

Masalah lain adalah kesulitan belajar. Tetapi, ini bentuknya lebih organis karena menyangkut gangguan pada fungsi otak. Anak yang mempunyai masalah ini dapat diatasi dengan perlakuan yang sesuai dengan diagnosisnya.

Hal lainnya adalah adanya kelas akselerasi. Ada beberapa kasus yang ditemui ketika anak 15 tahun sudah menginjak kelas 3 SMA, ternyata anak itu mulai menyadari dan mempertanyakan kapan waktu bermainnya. Di sisi lain, anak tersebut terlihat lebih "anak-anak" dibandingkan teman sekolahnya. Usia dan pola pikir si anak berbeda dengan teman-temannya.

Anak di lingkungan demikian sering merasa tertekan dan menjadi korban kekerasan. Walau bedanya hanya 3 tahun lebih muda dari usia normal kelas 3 SMA (17-18 tahun), namun anak itu merasa beban ketika dianggap sebagai orang dewasa.

Selanjutnya, sekolah rumah atau homeschooling, juga mempunyai efek positif dan negatif untuk anak. Positifnya, keamanan anak terjamin dan terpantau dalam jangkauan pengamatan orangtua. Anak juga fleksibel dalam waktu belajar, dan lebih mendapat perhatian oleh gurunya.

Namun, tentu, ada sisi negatifnya. Kesempatan mereka untuk bersosialisasi dan belajar berbagi terbilang rendah, termasuk kemampuan dalam hal yang sifatnya pertemanan lebih sedikit. Walaupun kebanyakan pertimbangan sekolah rumah itu masalah fleksibelitas waktu belajar, anak-anak secara tidak langsung didukung untuk "tidak bertanggung jawab" terhadap yang mereka lakukan.

Misalnya, anak-anak yang berprofesi sebagai artis, mereka tidak harus bekerja di usianya. Hal ini erat kaitannya dengan eksplorasi anak sehingga tidak benar terlepas dari apapun tujuannya.

Pemerintah sudah menetapkan usia wajib belajar. Jadi, minimal sampai anak menyelesaikan usia wajib belajar, mereka tidak diwajibkan untuk bekerja. Fokus mereka adalah di belajar. Tidak menjadi masalah jika sekolah rumah tujuannya untuk alasan keamanan. Tetapi, jika tujuannya untuk anak bekerja, itu jelas tidak dibenarkan.

Gambaran Ideal

Generasi emas adalah generasi yang optimal, tanggap, serta mendapatkan stimulasi sesuai perkembangan dan kemampuannya, baik perkembangan fisik maupun psikisnya. Tidak akan efektif jika memberikan stimulasi tidak sesuai usianya.

Contohnya, ketika orangtua berkomunikasi dengan anak terkait dengan stimulasi bahasa, anak tidak hanya diminta membaca buku cerita sementara orang tua mendengarkan. Tetapi, sebaiknya orangtua berkomunikasi secara efektif, misalnya membacakan cerita dengan mimik, gerak, sehingga anak lebih tertarik dengan bacaannya.

Idealnya, tentu saja, kemampuan anak harus sesuai dengan umurnya. Kondisi sekarang, ketika pelajaran kelas 1 SD sudah sudah diajarkan pada prasekolah, pada akhirnya akan membentuk generasi drilling, bukan generasi emas lagi.

Peran guru (prasekolah) adalah memperkenalkan sesuatu kepada anak dan menjadi jembatan. Hal ini mengingat, bahwa usia prasekolah tahap berfikirnya adalah tahap konkrit, dimana segala sesuatu itu harus ada contohnya. Misalnya, memberi contoh kerapihan, cara menyusun buku, membereskan mainan, dan lain sebagainya. Selain itu, guru juga perlu memahami usia perkembangan anak sebagai pedoman untuk membuat kurikulum.

Berbagi Saran

Jangan lupa, dalam hal parenting, ajari anak dengan konsekuensi, bukan dengan hukuman atau marah-marah. Misal, aturannya mandi dahulu baru menonton televisi. Konsekuensi yang ada adalah jika tidak mandi, tidak akan mendapatkan menonton televisi.

Orangtua pun semestinya mengetahui tahap tumbuhkembang anak. Jangan pernah menutup telinga terhadap hal-hal yang sifatnya baik dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Selain itu, pengenalan budaya sejak dini sangat penting karena sangat mendukung pengembangan motorik, seperti tarian daerah. Selain itu, seni drama juga dapat merangsang kemampuan berkomunikasi atau bermain peran. Anak terbiasa dilatih mengasah kemampuan individu, termasuk berkomunikasi dengan lingkungan. Seni pahat dan seni batik pun dapat melatih ketelitian dan konsentrasi.

Bagi pemerintah, perlu kiranya memberi sanksi yang tegas kepada sekolah yang tidak mengindahkan aturan batasan pengajaran. Usia dini tidak seharusnya menguasai calistung hanya karena sekolah mengejar faktor ekonomi. Untuk itu, mulailah disadari, bahwa hak anak harus diperhatikan. Biarkanlah mereka tumbuh dan menikmati masa anak-anaknya yang sesuai dengan usianya. (ARIFAH)

Penulis adalah psikolog anak di Klinik Terpadu, Universitas Indonesia
Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2013/10/14/1618542/Ingat.Efeknya.Biarkan.Anak.Tumbuh.Sesuai.Usianya.